BREAKING NEWS
latest

Advertisement

Fobia Islam dan Reconquista

Beberapa tahun lalu saat isu-isu terorisme menyebar di kalangan masyarakat Eropa, istilah ini muncul dan mulai memarak. Perlu diketahui, praktik dari istilah tersebut sudah terlebih dahulu menyembul sejak penaklukkan Islam hingga runtuhnya Eropa yang berakhir pada praktik kristenisasi dan expulsion dari Andalusia.

Peristiwa Pasca Reconquista:
Tahun 1491

Dikeluarkannya Perjanjian Granada, yang menjanjikan kebebasan beragama Islam maupun Yahudi oleh Ratu Isabel dan suaminya Raja Ferdinand II. Saat itu masyarakat Muslim, Kristen dan Yahudi hidup damai berdampingan di Granada.

Tidak bertahan lama, isu-isu islamophobia dan judephobia muncul, sampai akhirnya janji tersebut dibatalkan.

Raja Ferdinand membuat inkuisisi Spanyol (Institusi Pengadilan Gereja yang memerintahkan kristenisasi seluruh penduduknya demi memelihara ortodoksi Katolik di Spanyol).

Tahun 1492

Ferdinand dan Isabel mengeluarkan Dekrit Alhambra yang memerintahkan seluruh Yahudi untuk meninggalkan tanah Spanyol, namun banyak dari mereka yang memilih untuk menetap meski harus berpindah keyakinan.

Sedangkan umat muslim ketika itu masih diberikan toleransi untuk menjalankan aktivitas ibadahnya seperti biasa karena terikat perjanjian yang dibuat oleh Muhammad XII, raja terakhir Kerajaan Islam di Granada saat ia menyerahkan kunci istana (kekuasaannya) kepada penguasa Kristen. Perpindahan agama umat Yahudi ke Kristen saat itu disebut dengan istilah "conversos".

Sinopsis Novel "Dari Sabang Sampai Maroko"



KATEGORI BUKU:
Novel

JUDUL BUKU:
Dari Sabang Sampai Maroko

TEMA:

Perjalanan dan Percintaan

GENRE:
Travelling, Romance, History

PENULIS:
Azhari Mulyana

EDITOR:

Iis Tentia Agustin

PENYUNTING DAN PENATA LETAK:

Tim CV Jejak

DESAIN SAMPUL:

Innamul Hassan

PENERBIT:

CV Jejak (Jejak Publisher)

JUMLAH HALAMAN:

270 Halaman

DIMENSI:

13 x 19 cm

ISBN:

978-602-61595-7-1



SINOPSIS :

Novel “Dari Sabang Sampai Maroko” bercerita tentang perjuangan Hafaz Aliandi menembus kuliah ke Mesir yang berakhir batal karena konflik melanda negeri nabi Musa. Karena itu, Hafaz memutuskan untuk berlabuh ke tanah Jawa. Hafaz bertemu dengan Aurelia, gadis anggun yang menjadi cinta pertamanya di tanah rantau. Setelah setahun menetap, dilema pun melanda relung hati Hafaz ketika datang sebuah kesempatan untuk mengejar cita, bak segan bergalah hanyut serantau, Hafaz pun kembali berusaha hingga akhirnya lulus beasiswa ke negeri matahari terbenam Maroko. Kebahagiaan itu mengakibatkan cintanya dengan Aurel pun harus berakhir dengan perihnya perpisahan bagai bunga yang sesaat mekar kemudian sirna saat musim gugur tiba.


12 Tahun Tsunami Aceh

Kata meututô lidah meugrak-grak..
Meupat keu haba hana deuh rupa..
Ulon meupakee leukat roh teumeunak..
Kepada Allah ta lakee ampon dosa..

Lam thon 2016 nyoe, umu maken tuha, hana pat ta mita donya yang jeut bri hate puah, maken ta mita maken na, tapi ridha bak Allah hana tom ta rasa.
Nyan keuh donya yang ka tôe ngen uroe akhee. 12 thon Tsunami ka geubri, peu keuh na yang jra?
Termasok ulon tuan yang mantoeng lee that desya.

Musibah Allah troh hana jeut ta teurka, siap keuh geutanyo menuju alam baka?
Di akhe donya nyo, buet salah ka biasa, yang beutoi pih ji anggap gura. Islam cuma deuh bak abah, tapi hatee dan buet geutanyoe saban lagee awak kaphee.

Yang leubeh that ta sayang ureung-ureung yang hana meuphom geu kheun keu awak Aceh nyoe sebagoe ureung pubuet dosa sampoe musibah hana leupah dari Allah Ta'ala. Leubeh gôt lagee nyan, ta iem mantong sira lakee ampon bak Allah, karena deungon musibah nyoe Allah maken geusayang tanyoe geubri keu tanyoe kesempatan nak ta ubah mandum buet dan tingkah laku yang jiôh dari syariat.

Bek ta balah gob yang sabee tudoh-tudoh geutanyoe, tapi leubeh get ta eu droe teuh peu ka beutoi di mata Allah peu gohlom, karena Allah lah yang nilai geutanyo jroh pu han, kon awaknyan yang galak kheun-kheun keu gob.

Dalam kesempatan nyoe, ulon lakee meu'ah keu ban bandum syeedara dan kerabat yg pernah saket hate ataupun beungeh kerana buet lon yang hana jroh, atau kata-kata lon yang salah bak geulunyung droneuh. Neu cok mantong peu-peu yang get dari lon, karena yg get nyan dari Allah, dan yg hana get dari lon pribadi.

Salam Aceh lon sayang, neu peu jioh bala dari bumoe lon yg tercinta nyoe ya Allah...

Akhir Hidup Sang Penakluk Andalusia

Banyak yang menuliskan tentang kisah Thariq bin Ziyad pada saat ia membuka Spanyol-Islam ratusan tahun yang lalu, tapi hanya sedikit periwayatan sejarah yang menceritakan tentang akhir hidup sang penakluk, di sini saya akan memaparkan beberapa sumber referensi terkait, dan ternyata ada ibrah penting yang bisa diambil.

Profesor sejarah Universitas New York, David Levering Lewis menyebutkan bahwa setelah beberapa saat menjadi gubernur Spanyol-Islam, Thariq bin Ziyad dipanggil kembali oleh Khalifah Al-Walid ke Damaskus. Ia berangkat bersama Musa bin Nushair pada 714 Masehi. Lalu setahun setelahnya sang khalifah wafat dan digantikan oleh Sulaiman bin Abdul Malik.

Saat menjabat sebagai khalifah, Sulaiman sempat akan mengangkat kembali Thariq menjadi gubernur Andalus, namun gagal karena adanya desas-desus yang menggambarkan bahwa rakyat Andalus sangat taat terhadap Thariq, dan hal itu bisa membahayakan kedudukan khalifah. Akhirnya sang Khalifah membatalkan rencananya tersebut.

Jadi jika dibandingkan politik pemerintahan pada masa kerajaan Islam dulu dengan sekarang tidaklah jauh berbeda. Sosok yang dianggap baik dan mumpuni pasti tidak akan diangkat menjadi pemimpin, takut nanti rakyatnya akan terlalu fanatik terhadapnya. Jadi kasus-kasus seperti ini bukanlah sesuatu yang baru, melainkan sudah berlangsung berabad-abad lamanya, ya itulah fakta sejarah berkata, dan sudah menjadi tradisi dalam kehidupan. Bagaimana cara mengubahnya? Rasa iri dan dengki pasti akan selalu muncul dalam benak manusia.

Sementara tahun-tahun akhir hidup Thariq bin Ziyad masih penuh misteri karena sedikit yang meriwayatkannya. Alwi Alatas menyatakan bahwa Thariq wafat enam tahun setelah kepulangannya ke Damaskus, yaitu pada tahun 720 Masehi.

Sedangkan penaklukkan di Andalus dilanjutkan oleh putra Musa bin Nushair bernama Abdul ‘Aziz yang menjadi ‘amir pertama Spanyol-Islam dan terus berlanjut dari masa ke masa hingga akhirnya militer muslim berhasil menjangkau seluruh wilayah Spanyol, Prancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia.

Umat islam pun mulai membangun dan mempercantik lagi bangunan dan kota-kota di Spanyol. Banyak masjid dibangun, pepohonan dan bunga-bunga juga diimpor dari Timur. Tidak hanya itu, mencapai masa kejayaannya, Andalusia bahkan menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan dengan beribukota di Kordoba.

Dalam dunia Islam, Kordoba merupakan salah satu pusat budaya yang maju. Populasi kekhalifahan Kordoba ini pun mencapai 500.000 jiwa dan saat itu mengalahkan Konstantinopel sebagai kota terbesar dalam hal jumlah maupun kemakmuran penduduk di Eropa.

MAROKO Menutup Seluruh Yayasan Sekolah Fathullah Ghulen

Pihak berwenang Maroko mengatakan akan menutup semua kelompok, sekolah dan yayasan yang memiliki jaringan dengan Fathullah Ghulen dalam jangka waktu satu bulan ini, diantaranya yaitu  "Mehmed Al-Fatih" dan "Al-Khidmah". Hal itu diduga karena adanya kaitan dengan percobaan kudeta yang terjadi beberapa bulan lalu di Ankara, Turki.

Sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri Maroko telah memberi peringatan kepada beberapa yayasan untuk tidak menyebarkan ideologi-ideologi yang tidak kompatibel dengan unsur-unsur pendidikan dan agama di Maroko. Akan tetapi mereka tidak mengindahkan peringatan tersebut, bahkan dikatakan mereka menyusupkan beberapa materi pelajaran yang memiliki pengaruh pemikiran dan
intelektual Fathullah Ghulen.

Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan memutuskan untuk menutup semua yayasan tsb dalam rangka untuk memperbaiki kompatibilitas dengan persyaratan hukum dan kurikulum yang berlaku. Pihak kementerian juga berencana akan mendaftarkan semua siswa yang bersekolah di sekolah itu pada lembaga pendidikan lainnya.

Sementara, yayasan "Mehmed Al-Fatih" di Maroko sudah berdiri sejak tahun 1993 dan memiliki delapan cabang di beberapa kota seperti Tangier, Casablanca, Fez, Tetouan dan El-jadida. Metode pengajaran pada yayasan tsb 90% nya dibentuk oleh pemerintahan Maroko, dan mendatangkan para pengajar dari Turki untuk mengisi silabus perkuliahan pada jenjang sarjana. Sistem belajar mengajar di sekolah tsb seluruhnya menggunakan Bahasa Inggris.

Diketahui, lembaga pendidikan tsb memiliki siswa berjumlah 2500 siswa, mulai tingkatan SD hingga tingkat menengah. 2.470 diantaranya ialah mahasiswa Maroko dan sisanya Turki.

Liputan: Aljazeera

Burka Dilarang di Maroko?

Pemerintah Maroko melarang produksi dan penjualan burka. Surat pemberitahuan larangan memproduksi dan menjual burka dikirim ke para pedagang dan pengusaha awal pekan ini. Mereka diharuskan mematuhi aturan itu dalam tempo 48 jam setelah menerima surat tersebut.

Tidak ada penjelasan resmi tentang alasan larangan memproduksi dan menjual burka di Maroko.

"Kami telah mengambil langkah untuk melarang impor sepenuhnya, termasuk memproduksi dan menjual garmen ini di seluruh kota di kerajaan ini," kata seorang pejabat senior pemerintah Maroko
seperti dikutip dari Telegraph, 12 Januari 2017.

Pada umumnya hanya segelintir perempuan Maroko yang menggunakan burka yang menutupi seluruh tubuh mereka hingga wajah mereka.

Umumnya perempuan Maroko mengenakan jilbab atau nikab yang hanya menutupi kepala.
Seperti diketahui, Maroko merupakan destinasi wisata internasional yang dikunjungi sekitar 600 ribu turis asal Inggris setiap tahun.

Raja Maroko, Mohammed VI telah menyatakan dirinya penganut Islam moderat. Ia pun bersumpah akan memberangus terorisme di negaranya.

"Mereka yang ikut terorisme atas nama Islam, mereka bukan Muslim," kata Raja Mohammed VI.

Liputan: Tempo

Akhirnya...! Maroko Pulang Kampung Setelah 33 Tahun

African Union Summit yang diselenggarakan di Addis Ababa, Etiopia, pada 22-31 Januari 2017, menghasilkan beberapa keputusan mengejutkan. Salah satu diantaranya adalah kembali bergabungnya Maroko ke dalam organisasi yang kini menaungi 55 negara di kawasan Afrika tersebut.

Seperti diketahui, bahwa Maroko adalah satu-satunya negeri Afrika yang bukan merupakan anggota Uni Afrika. Maroko keluar pada tahun 1984 sebagai bentuk protes karena Uni Afrika mengakui kemerdekaan wilayah Sahara Barat yang didirikan oleh Aljazair dan Polisario yang padahal masih dipersengketakan. Maroko tetap mengklaim Sahara Barat, dan Sahara Barat masih tetap menjadi anggota Uni Afrika.

Menurut saluran TV Maroko Medi1 TV, sempat terjadi perdebatan sengit di antara kelompok negara pro dan kontra terhadap permintaan Maroko menjadi anggota AU. Aljazair dan Afrika Selatan berusaha keras mencegah Maroko bersatu kembali dengan keluarga di Afrika.

Perdebatan keras berlangsung dalam sesi pertemuan tertutup hari Senin, 30 Januari lalu.

"Maroko sekarang menjadi anggota penuh Uni Afrika. Ada perdebatan yang sangat panjang, tapi 39 dari 54 negara menyetujui kembalinya Maroko, bahkan bila persoalan Sahara Barat tetap," kata Presiden Senegal Macky Sall kepada wartawan.

Sementara status Sahara Barat saat ini masih tetap menjadi pemerintahan tersendiri dan juga masih menjadi anggota Uni Afrika.

"Maroko telah diterima untuk kembali bergabung dengan Uni Afrika dan menjadi anggota ke-55 dari organisasi kawasan Afrika ini. Keputusan ini dibuat dengan adanya kesepakatan bahwa Sahara Barat juga tetap menjadi anggota Uni Afrika," ujar Lamine Baali, Duta Besar Sahara Barat untuk Ethiopia dan Uni Afrika.

Raja Maroko, Muhammad VI menghadiri langsung acara KTT Afrika yang dilaksanakan selama sepuluh hari di Etiopia. KTT tersebut berlangsung seiring dengan pemilihan ketua Uni Afrika baru untuk satu tahun mendatang.

"Afrika adalah benua dan rumahku. Akhirnya aku kembali ke rumah dan betapa bangganya aku bisa bertemu kalian lagi. Aku sangat merindukan kalian semua." tegas Raja Maroko, Muhammad VI menggunakan bahasa Prancis.

Sumber:
-VOA
-BBC
-Aljazeera

Kecemburuan Politik Dan Kekuasaan, Saudara Kandung Rela Dibunuh, Lumrahkah?

Saat ini dunia sedang disibukkan oleh berita kematian saudara tiri sang penguasa Korea Utara, ialah King Jong Nam yang kabarnya diracuni oleh assassin dari pihak pemerintahan Pyongyang. Entah benar atau salah tuduhan tersebut, pastinya Korut hingga saat ini menolak tuduhan itu dan menuntut pihak pemerintahan Malaysia untuk tidak mengotopsi jenazah dan segera memulangkannya kepada mereka.

Dugaan pembunuhan yang melibatkan pemerintahan Kim Jong Un sebagai aktor dibalik itu didukung kuat oleh beberapa negara terutama Korea Selatan. Bahkan tidak hanya King Jong Nam (saudara se-ayah Kim Jong Un), Jenderal Jang Song Thaek (paman Kim Jong Un), dan beberapa pejabat pemerintahan lain juga dieksekusi olehnya karena dianggap kontra dan menjadi ancaman bagi pemerintahan sang adik. Oleh sebab itulah King Jom Nam tidak menetap di Korut selama adiknya menjabat. Namun pada akhirnya, ia berhasil dibunuh dengan cara diracun dengan zat kimia VX oleh beberapa intelijen Korut saat berada di bandara Kuala Lumpur Malaysia beberapa waktu lalu. Termasuk salah satu pembunuh yang diduga ikut bergabung dengan agen rahasia Korut ialah bernama Siti Aisyah asal Indonesia, sungguh memalukan mungkin menurut beberapa kalangan. Tapi jangan terburu-buru untuk menjudge seseorang, pak Jusuf Kalla sendiri masih membela Siti Aisyah karena diduga ia terikut jebakan dari Korut. Bisa menjadi pelajaran bagi seluruh warga Indonesia untuk tetap berhati-hati dengan tawaran asing yang menggiurkan.

VX sendiri merupakan gas syaraf mematikan yang pernah diciptakan manusia. Satu tetesan ke kulit sudah cukup memberikan gangguan fatal pada sistem syaraf, seperti diungkapkan oleh Council on Foreign Relations. Karena itulah PBB mengklasifikasikan VX tersebut sebagai senjata pemusnah massal, dan hanya digunakan dalam perang kimia.

Dilihat dari konflik politik Korut saat ini, peristiwa seperti itu bukanlah yang pertama kalinya terjadi dalam suatu tatanan kekuasaan, melainkan sudah ada sejak masa kekuasaan Umayah di Spanyol-Islam. Pada abad-abad terakhir kepemimpinan, Spanyol-Islam telah dikuasai oleh raja ('amir) yang tidak merepresentasikan tradisi terbaik dari pemerintahan sebelumnya. Mereka bahkan tidak mampu menyelesaikan berbagai kesulitan yang lazim muncul menyertai naiknya seseorang menuju singgasana, yang menurut kebiasaan dinasti muslim, diwariskan kepada anak yang tertua atau yang paling cakap.

Al-Mundzir, ialah 'amir yang menjabat sejak tahun 886 Masehi menggantikan sang ayah, Muhammad I (wafat 886 M). Setelah dua tahun berkuasa, Al-Mundzir diracun oleh adiknya sendiri, yaitu Abdillah. Namun racun yang digunakan tidaklah begitu mematikan seperti VX yang dipakai oleh agen rahasia Korut saat ini. Beberapa riwayat juga menyebutkan bahwa kematiannya adalah karena sebab kecemburuan politik oleh saudara kandungnya sendiri. Dan akhirnya Abdillah, sang adik yang diktator kala itu meneruskan kekuasaan Al-Mundzir mengikuti sistem monarki.

Sedikit berbeda memang dengan kasus pembunuhan Kim Jong Nam yang menjadi target sang adik yang telah menjadi penguasa, sedangkan Al-Mundzir dibunuh ketika berkuasa. Pada intinya adalah sama, yaitu politik dan kekuasaan tidak memandang status kekeluargaan.

Mencermati Keserupaan Persaingan Dunia (Era Modern - Pascaklasik)

Ketegangan yang terjadi antara Timur dan Barat dunia kini semakin memuncak, hal itu dipicu oleh isu-isu sensitif menyangkut kecanggihan beberapa negara super power yang menjadi motif timbulnya perang dunia ketiga.

Persaingan seperti ini ternyata sudah ada sejak permulaan abad ke-10 lalu, dimana Dinasti Umayyah masih membentangkan sayapnya di Barat menyaingi kekhalifahan Dinasti Abbasiyah yang baru bangkit di Timur dan berpusat di Baghdad-Irak.

Selama kekuasaan Abdur Rahman bin Muawiyah atau dikenal dengan Abdur Rahman I, lalu dilanjutkan oleh Abdur Rahman II, hingga Abdur Rahman III, mereka berhasil memprakarsai gerakan intelektual yang membuat Spanyol-Islam menjadi salah satu pusat kebudayaan di dunia.
Islam ketika itu berjaya di Andalus, Eropa sejak abad ke-9 hingga 11 Masehi.

Melihat realita yang terjadi pada abad modern ini, ada beberapa perbedaan dan juga kesamaan yang bisa kita cerna. Amerika terus berupaya menguasai dunia dengan keilmuannya dalam bidang teknologi, begitu juga di Timur, China ikut merespon kesombongan Negeri Paman Sam dan bekerja sama dengan Rusia dalam menemukan teknologi nuklir tandingannya.

Sangat disayangkan jika peristiwa dahsyat alias perang nuklir itu terjadi. Tidak hanya pemicu dan target yang menjadi sasaran, melainkan juga berimbas kepada negara-negara kecil lain yang sedang mengalami masa pubertas.

Yang biasa terjadi adalah diciptakannya virus, lalu pihak seberang menciptakan antivirus. Sedangkan yang terjadi saat ini malah mereka membuat virus tandingan yang lebih hebat. Pertanyaannya, adakah tokoh yang membuat antivirus untuk menangkal semua kehebatan virus itu? Saya pikir, manusia sudah mengambil tindakan yang tidak logis adanya. Haruskah saya dan Anda-Anda berimigrasi ke planet sebelah?

Adapun perbedaan yang terjadi bahwa seribu tahun silam persaingan intelektual di dunia diperankan oleh umat islam, sedangkan sekarang mereka yang menjadi tokoh utama. Ke mana aktor-aktor cendekiawan muslim saat ini?

19800 Detik Menuju Koln (Chapter 2)


            Aku melihat satu persatu penumpang berdiri mengenakan ransel dan memperbaiki pakaiannya yang lusuh. Masih dengan perasaan bimbang aku mengikuti langkah mereka keluar dari bus Eurolines ini. Saat menginjakkan kaki di terminal Koln aku melihat keramaian manusia yang berlalu-lalang. Beberapa bus besar tampak terpakir berderet di sekitar terminal menurunkan penumpang. Mataku kembali menangkap pesona keindahan kota ini dengan Katedral megahnya yang menjulang tinggi.

            Aku kembali melangkahkan kaki menjauh dari bus. Sejenak aku berhenti dan memperhatikan satu persatu bule yang lewat. Begitu padat. Mataku mencari-cari sosok berjilbab di sekitarnya, namun nihil. Aku tidak mengenal satupun dari mereka. Hatiku terus berharap kak Sari berada di tempatku menunggu saat ini. Sesekali aku melihat fotonya yang sempat aku download dari facebook sebelum berangkat tadi pagi.

            Aku mencoba mengikuti orang-orang sekitar. Namun aku bingung, mereka menuju ke berbagai arah, pastinya memiliki tujuan masing-masing. Tapi kebanyakan mereka memasuki sebuah gedung luas yang berada tepat di sebelah katedral. Aku meyakinkan diri dan terus melangkah, berharap bisa menemukan jaringan wifi.

            Tiba di dalam gedung, aku terus bergerak sambil sesekali menatap layar hp mencari jaringan. Karena wifi yang tersedia begitu banyak lalu aku mencoba mengkoneksikannya satu persatu. Alhamdulillah tersambung. Aku langsung menghubungi kak Sari. Sebelumnya aku melihat beberapa pesan yang dikirimkan olehnya menanyakan keberadaanku.

            “Halo, kakak di mana?” tanpa basa-basi aku langsung menanyakan keberadaannya karena cemas sendirian.

            “Kakak nungguin di luar dari tadi, kamu di mana?”

            “Aku di dalam gedung dekat terminal kak, kelihatannya kayak stasiun gitu, ada jadwal keberangkatannya.”

            Aku mencoba menjelaskan tempat di mana aku berada. Setelah memperhatikan seisi gedung, aku meyakini tempat luas ini ialah sebuah stasiun kereta api meskipun gerbong keretanya tidak terlihat olehku.

“Iya itu Köln Hauptbahnhof dek! Stasiun sentral kota Koln. Ya sudah, tunggu di situ kakak nyusul ya!” ujar kak Sari.

             Tidak lama, tampak sosok wanita Asia berjilbab biru berjalan memasuki area gedung ini. Postur tubuh dan wajahnya mirip dengan foto yang aku download, benar dugaanku bahwa wanita itu adalah kak Sari. Aku langsung menghampirinya.

“Azhar?!” tanyanya.

“Iya…! Saya Azhari. Kak Sari kan?? Salam kenal kak, hehe.” tanyaku balik. Aku merasa lega bertemu dengannya karena sedari tadi aku hanya merasa bagai anak hilang di negeri Nazi.

“Iya Zhar, kakak sudah lama nunggu di luar tadi, mungkin karena ramai jadi ngga kelihatan ya, hehehe.. gimana perjalanannya? Seru kan?! Sudah jadi anak Belanda ya sekarang haha.

Hahaha, ya begitulah kira-kira kak, tadi sempat diperiksa dua kali di perbatasan sama polisi Jerman. Biasanya memang begitu ya kak?” tanyaku penasaran.

Stasiun Hauptbahnhof terlihat sesak dipadati penumpang dari berbagai ras. Sambil berbincang-bincang, aku mengikuti langkah kak Sari menuju Katedral Koln.
            “Iya Jerman memang lebih ketat dibandingkan negara lain dek, tapi ngga ada masalah kan? Orang Jerman juga banyak yang tahu tentang Indonesia kok. Oh ya, ngga capek kan Zhar, kita jalan-jalan sekarang aja mumpung kakak lagi weekend.”

            Tidak lama, aku dan kak Sari sampai ke Katedral Koln, ikonnya kota ini. Sambil berjalan aku selalu menengadah ke atas karena saking tinggi dan megahnya. Dipandang dari sisi keagamaan, seorang muslim sepertiku tidak pantas memuji-muji tempat ibadah umat kafir ini. Tapi aku sama sekali tidak memujinya, hanya saja arsitektur bangunan dan usianya yang tua mengingatkanku akan sejarah dulu. Aku membayangkan bagaimana jika dahulu umat Islam dibawah komando seorang tabi'in 'Abdurrahman bin Abdullah el-Ghafiqi memenangkan pertempuran melawan pasukan bersenjata Franka dibawah pimpinan Charles Martel, pastinya yang saat ini aku lihat bukanlah katedral, melainkan masjid-masjid megah di tanah Eropa. Namun sayangnya, umat islam tidak memenangkan pertempuran itu. Bahkan karena kezaliman penguasanya, mereka harus terusir dari tanah Andalus atau yang kita kenal sebagai negara Spanyol saat ini. Mereka diberikan pilihan agar masuk ke dalam agama kristen ataupun diusir dari bumi Eropa, banyak juga dari mereka yang dibunuh.

“Zhar! Kamu mikirin apa kok serius banget lihat katedralnya?! Sudah, ayo jangan lama-lama, nanti kamu i’tikafnya di masjid saja jangan di sini, hahaha.” tegur kak Sari.

“Kita ke mana lagi kak?” tanyaku penasaran.
            “Sudah jangan banyak tanya, ikut saja!”
           
           
            Aku hanya tersenyum dan menghampiri langkah kak Sari. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, akhirnya sampailah ke sebuah jembatan besar yang aku lihat saat di bus. Aku memperhatikan kerangka baja jembatan ini yang berumur tua dan masih kokoh. Jembatan ini dibangun sebagai lalu lintas kereta untuk menyeberangi sebuah sungai b    esar di kota Koln. Di sebelah deretan rel kereta juga terdapat lintasan kecil untuk pejalan kaki. Mataku menyorot sebuah kapal besar dan panjang sedang melewati bawah jembatan. Kapal itu membawa tumpukan aspal. Beberapa kapal besar lainnya juga ikut berlayar di sungai ini. Saat menoleh ke sebelah kiri, tiba-tiba aku tertegun lalu menghentikan langkah. Beberapa turis berambut pirang sedang membidik kameranya ke arah pagar yang dipenuhi oleh jutaan gembok.

             “Kak, itu apa? Kok banyak gembok gitu digantung-gantung?” tanyaku heran.

            “Itu kata orang-orang gembok cinta dek, orang sini memasang sepasang gembok dengan kekasihnya di tempat-tempat indah seperti ini lalu kuncinya mereka buang bersama-sama. Katanya sih biar cinta mereka terkunci dan akan menjadi abadi. Salah satu cara mengekspresikan cinta yang dipercaya oleh penduduk sini. Kamu percaya? Buktikan aja Zhar, nanti kakak beli gemboknya,hahaha."


            “Hahaha… kok bisa ya bangsa Eropa yang berpikir modern juga percaya dengan hal-hal begituan?!” tanyaku sambil menggelengkan kepala.

“Oh ya kak, aku sebenarnya ke Jerman mau lihat bekas-bekas Nazi dulu, kan negara ini dikenal dengan Adolf Hitler dan Nazinya, tapi dari tadi kok aku belum nemu ya, bahkan gedung-gedung yang aku lihat sekarang beda dengan yang aku bayangkan. Malah kota ini terlihat modern gitu?!”


“Iya Koln memang kotanya sudah lebih modern dek, habis ini kita ke Brühl, di sana ada istana yang masih terlihat klasik, terus kita ke Bonn, kan kakak tinggal di Bonn.”



Loh, kakak bukannya tinggal di sini? Bonn itu di mana?” tanyaku bingung.


“Bonn itu ngga jauh dari sini kok, cuma naik kereta saja sekitar setengah jam sampai, kalau Brühl itu sebelum kota Bonn. Di Bonn nanti kamu bisa lihat rumahnya Beethoven, musisi Eropa terkenal, alun-alunnya, terus kita ke museum, dan terakhir nanti singgah di kampus kakak sebelum ke rumah.”

“Kakak tinggal sendiri di Bonn?”

“Iya dek, kakak tinggal di asrama, tapi nanti kamu nginap di rumah bang Zuhra kok, dia anak Aceh juga. Nanti kita ketemuan di kampus biar kamu kenal.” jawab kak Sari. “Oh ya, di sini kamu hati-hati sebut-sebut tentang Nazi atau Adolf Hitler dek.”

           “Loh, memangnya kenapa kak?” tanyaku penasaran. (BERSAMBUNG)

19800 Detik Menuju Koln (Chapter 1)





2 Agustus 2015. Bus Eurolines tujuan Jerman terus melaju kencang. Jalanan dipadati kendaraan namun tetap tertib mengikuti kelok aspal hitam. Transportasi lintas negara berupa bus adalah pilihan utama bagi mereka yang ingin melancong di Eropa. Selain terbilang murah, juga cukup nyaman, terutama bagiku sebagai masyarakat kelas bawah. Pagi itu, tepat pukul 07.45 aku berangkat dari kota Amsterdam dan hendak menziarahi negara Hitler. Ya, negara Jerman, siapa yang tidak mengenal salah satu negara super power di dunia. Bahkan setiap kali kita mendengar nama negara itu disebut, sekilas kita langsung terbayang dengan Nazinya. Well, memang sejarah Nazi dan Adolf Hitler yang hampir menguasai dunia itu nyaris membekas di seluruh pikiran umat manusia. Tapi itu hanyalah pikiran mereka yang belum pernah ke Jerman saat ini. Why?? Simak saja dulu ceritanya, hehehe.

           Jerman.. Jerman.. Jerman.. kata-kata yang selalu aku sebutkan di sepanjang perjalanan. Perjalanan sekitar empat jam dari Amsterdam cukup membosankan bagiku. Aku perhatikan sekeliling, sepasang bule duduk tepat di deretan bangku sebelahku. Mereka juga asyik menyaksikan pemandangan sepanjang jalan. Aku coba memahami bahasa yang mereka lafalkan. Bahasa Inggris. Kemungkinan mereka ialah bule asal Amerika ataupun penduduk pribumi Belanda. Di belakang aku duduk terdengar suara parau lelaki tua sedang bercanda tawa dengan istrinya. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Dugaanku mereka berbicara menggunakan bahasa Jerman. Karena aku duduk di kursi terdepan aku tidak berani menoleh ke arah mereka maupun ke penumpang lainnya di bangku belakang karena takut jadi pusat perhatian. Sementara aku hanya ditemani oleh ransel besar di sebelahku.


           Setelah melalui sekitar dua jam perjalanan, tiba-tiba bus yang aku tumpangi berhenti. Dua lelaki berpakaian rompi hitam dengan senjata laras panjang masuk ke dalam bus melalui pintu depan. Aku melihat punggungnya tertulis polizei. Pikiranku langsung menebak bahwa mereka adalah polisi Jerman. Tapi apa yang akan dilakukannya? Mungkinkah mereka hendak menumpangi bus ini?


           Sopir bus mempersilahkan kedua polisi itu menghampiri penumpang. Aku tertegun saat si polisi menghampiriku karena duduk paling muka.  Awalnya aku tidak memahami apa yang diucapkannya. Tapi setelah kembali mendengarkan kata-kata paspor yang ia ucapkan, aku langsung merogoh saku dan menunjukkan tanda pengenal itu kepadanya. Setelah melihatnya, paspor itu dikembalikan kepadaku, lalu ia menghampiri penumpang lain dan meminta hal serupa.


           Setelah selesai pemeriksaan, sopir kembali menjalankan busnya. Aku sedikit tenang. Setiap orang yang ditanyakan sesuatu oleh polisi pasti merasa sedikit gugup, terlebih polisi negara asing dengan bahasa yang tidak kita pahami. Aku gugup karena takut tidak bisa memenuhi permintaannya.


           Tidak lama setelah itu, bus kembali berhenti. Aku kembali penasaran lalu melihat kea rah luar jendela. Dari seberang jalan terlihat beberapa mobil dan truk juga berjalan pelan lalu berhenti mengikuti perintah seorang polisi. Penumpang lain juga tampak bingung dan merasa cemas. Lagi-lagi dua polisi masuk ke dalam bus. Seorang lelaki bertubuh besar dengan rompi tebal menghampiri penumpang di bangku seberang kanan, sedangkan bule cantik berambut pirang menghampiriku dan meminta izin memeriksa ransel besar milikku. Aku mengizinkannya. Ia juga meminta pasporku, dengan segera aku merogohkan saku dan memberikannya. Sempat ia melihat ke arahku: “Indonesia?” tanyanya sembari tersenyum.


Aku yang semula khawatir menjadi sedikit tenang melihat senyuman itu, pertanda tidak terjadi apa-apa.

           “Yes, I am, madam.” jawabku membalas senyumannya.

           “Selamat datang ke Jerman.” ucap si bule dengan logat khasnya mengejutkanku. Serontak aku tercengang. Ternyata polwan cantik itu bisa berbahasa Indonesia. Aku tidak tahu apakah benar-benar bisa ataukah hanya sekedar tahu sapaan-sapaan singkat seperti itu. Lalu ia menghampiri penumpang di belakangku. Sementara lelaki bertubuh besar masih memeriksa ransel penumpang di bangku seberang. Satu persatu barang bawaannya dibuka dan diperhatikan dengan seksama. Entah apa yang ia cari, pastinya sesuatu yang terlarang. Memang sih, sebelumnya aku pernah mendapatkan kabar kalau Jerman adalah negara yang sangat ketat dan sering terjadi razia polisi di wilayah perbatasannya terutama menyangkut tentang barang-barang terlarang alias narkoba. Kemungkinan besar sama seperti yang ku alami saat itu. Namun beruntung tidak ada penumpang yang mecurigakan di dalam bus yang aku tumpangi itu, dan bus pun kembali berjalan tenang.

Aku melihat jam tangan. Waktu menunjukkan tepat pukul 11.45, berarti lima belas menit lagi aku sampai di terminal kota Koln seperti yang tertera di tiket bus. Aku kembali menoleh ke arah luar jendela. Tiba-tiba mataku terbelalak dan dimanjakan oleh sebuah bangunan tinggi nan tua yang berdiri kokoh dari kejauhan. Bangunan dengan arsitektur khas katedral Eropa itu begitu unik, sama seperti di foto-foto internet yang aku lihat. Tidak jauh darinya tampak jembatan lengkung dan besar yang juga terlihat sangat indah. Aku sudah tidak sabar hendak menghampirinya. Menyadari akan tiba di tempat tujuan aku langsung mengambil handphone ingin mengabari kak Sari. Oh ya, kak Sari adalah salah satu mahasiswi Ph.D di Jerman yang juga serumpun denganku berasal dari Aceh. Aku tidak kenal dengannya karena tidak pernah bertemu langsung, hanya saja aku mendapatkan kontak beliau dari facebook karena aku belum pernah mengunjungi negara Nazi, kebetulan beliau sedang tidak ada kegiatan dan bisa menemaniku jalan-jalan.

          
Aku kaget. Jaringan di hpku roaming.Gimana aku mau hubungi kak Sari??” ujar hatiku bingung. Awalnya aku mengira akan bisa mengakses jaringan sinyal apapun selagi masih berada di wilayah Uni Eropa seperti halnya bus ini. Tapi ternyata dugaanku salah. Aku kembali merenung memikirkan solusi. “Udah pigi sendirian, ngga ada satupun orang yang aku kenal, bahasa Jerman juga aku ngga ngerti, ditambah hp juga ngga ada sinyal, duh!!” aku mengoceh sendiri di dalam bus.

           Tiba-tiba bus mulai berjalan pelan lalu memasuki terminal besar. Mataku kembali terbelalak saat menoleh keluar. Ternyata, terminal Koln itu berada tepat di sebelah Katedral yang aku lihat dari jauh tadi. Aku terperangah melihat ketinggian bangunannya. Sejenak aku mulai melupakan keluhanku akan jaringan telepon itu.

           Sebelumnya aku sempat mencari tahu seperti apa panorama kota Koln. Saat searching, lagi-lagi yang muncul adalah berupa katedral dan jembatan, aku mengira bangunan unik itu ialah ikonnya kota Koln. Akupun tertarik melihat arsitektur bangunannya. Di internet juga aku melihat bangunan kuno itu bernama Köln Dom, yaitu sebuah katedral yang dibangun pada abad ke-13 Masehi. Koln Dom saat ini juga menjadi salah satu situs warisan budaya dunia UNESCO di Eropa sehingga menjadikannya daya tarik bagi banyak turis yang berkunjung ke kota ini.
Sie haben Sir angekommen. Willkommen zu Koln.” ucap sopir bus mengejutkanku yang sedang melamun. (BERSAMBUNG)