BREAKING NEWS
latest

Advertisement
Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts

KRL Mind Blowing

Manusia berlalu-lalang mengejar kesibukannya. Hampir tiap detik jejak sepatu dan sandal memenuhi ubin stasiun KRL Pondok Cina, tidak pernah sepi.
Pagi itu, Hafaz pertama kali menginjakkan kaki kota Depok. Ia memberanikan diri mengambil rute metro lintas jabodetabek itu menuju ke kontrakan kak Lisa di Cilandak.


"Mbak, aku mau beli tiket KRL, boleh tahu apa saja opsinya?" 


"Harga kartunya 30.000 mas, sudah termasuk saldo 10.000." tegas mbak petugas loket pembelian tiket KRL.


"Loh, tidak ada kah tiket untuk sekali naik atau satu hari saja?"


Hafaz bingung, dalam benakknya masih membandingkan KRL dengan metro di kota Paris atau Amsterdam. Memang, di Paris tiket metro bisa dibeli sesuai durasi per jam ataupun per 24 jam.


"Tidak ada mas, sudah habis. Tersisa kartu member saja yang bisa diisi ulang."


Tanpa berpikir panjang Hafaz lalu mengambil dua lembar kertas sejumlah 30.000 dan memberikannya kepada petugas loket. Toh, ia berpikir akan menetap lama di sana dan bukan sebagai turis. Namun sesekali ia masih bertanya-tanya bagaimana kalau memang turis mencoba eksplor Jakarta menggunakan KRL, tidakkah ia rugi jika kartunya nanti terpaksa dibuang dan tak terpakai lagi saat kembali ke negara asalnya?


Cukup sampai di situ, Hafaz lalu berjalan dan check in kartu KRL, ia masih mencari-cari petunjuk arah karena ada dua jalur kereta yang melewati stasiun itu: kereta tujuan Bogor, dan tujuan Jakarta Kota.


Setelah menemukan sign board itu, ia berharap-harap agar tidak keliru. Tiga menit kemudian terdengar bunyi nada melodi yang menandakan sebuah kereta akan melintas. Hafaz melihat ke kanan dan kiri, ternyata yang akan datang ialah kereta tujuan Jakarta Utara, tepat seperti yang dikehendakinya.


Setelah kereta berhenti sempurna, ia pun bergegas masuk ke salah satu pintu, Minggu pagi itu gerbong kereta tak begitu ramai seperti hari-hari biasa. Hanya buruh dan karyawan kantor dan mungkin mahasiswa yang memadati metro itu setiap hari aktif, dengan harga hanya 3.000,- jauh lebih murah dibanding transportasi lain.


Hafaz memperhatikan sekitar, nyaris tak satupun dari mereka yang tidak memakai kerudung. Dengan cueknya Hafaz lalu memasangkan headset ke telinga dan memutar lagu Hati-Hati di Jalan by Tulus. Terkejut ia saat melihat seorang wanita berkerudung di sebelahnya mencolek pundak Hafaz.


"Mas, ini gerbong khusus wanita."


Seketika wajah Hafaz memerah malu: "Oh ya??"


Lalu ia perhatikan kembali penghuni gerbong sekitarnya, dan benar tidak ada satupun lelaki didalam kecuali dirinya. Lalu wanita yang berdiri di depan Hafaz mengarahkan Hafaz untuk berpindah ke gerbong sebelah. Ia kemudian mengantongi headset dan handphone, lalu berjalan ke arah pintu gerbong sebelah dengan santai agar tidak membuat kecurigaan, meski semua penghuni gerbong wanita itu sudah curiga dan memperhatikannya.


Dalam sekejap saja, keringat mengucur ke seluruh tubuh Hafaz.

Ia pun bertanya-tanya, mengapa ada gerbong khusus wanita? Ia pun menerka jawabannya, mungkin karena Indonesia negara mayoritas muslim, sudah benar tindakan pemerintah untuk memfasilitasi gerbong khusus wanita demi meminimalisir terjadinya pelecehan seksual. Metro setiap negara boleh sama, tapi kebijakannya wajar berbeda. Hafaz yakin, dimana bumi berpijak disitu langit dijunjung, meski kerap sekali ia menaiki metro di Amsterdam, Paris dan Turki, tapi tetap harus banyak bertanya-tanya saat hendak menaikinya kembali di Indonesia.


Stasiun Pondok Cina,

Minggu, 4 September 2022

19800 Detik Menuju Koln (Chapter 2)


            Aku melihat satu persatu penumpang berdiri mengenakan ransel dan memperbaiki pakaiannya yang lusuh. Masih dengan perasaan bimbang aku mengikuti langkah mereka keluar dari bus Eurolines ini. Saat menginjakkan kaki di terminal Koln aku melihat keramaian manusia yang berlalu-lalang. Beberapa bus besar tampak terpakir berderet di sekitar terminal menurunkan penumpang. Mataku kembali menangkap pesona keindahan kota ini dengan Katedral megahnya yang menjulang tinggi.

            Aku kembali melangkahkan kaki menjauh dari bus. Sejenak aku berhenti dan memperhatikan satu persatu bule yang lewat. Begitu padat. Mataku mencari-cari sosok berjilbab di sekitarnya, namun nihil. Aku tidak mengenal satupun dari mereka. Hatiku terus berharap kak Sari berada di tempatku menunggu saat ini. Sesekali aku melihat fotonya yang sempat aku download dari facebook sebelum berangkat tadi pagi.

            Aku mencoba mengikuti orang-orang sekitar. Namun aku bingung, mereka menuju ke berbagai arah, pastinya memiliki tujuan masing-masing. Tapi kebanyakan mereka memasuki sebuah gedung luas yang berada tepat di sebelah katedral. Aku meyakinkan diri dan terus melangkah, berharap bisa menemukan jaringan wifi.

            Tiba di dalam gedung, aku terus bergerak sambil sesekali menatap layar hp mencari jaringan. Karena wifi yang tersedia begitu banyak lalu aku mencoba mengkoneksikannya satu persatu. Alhamdulillah tersambung. Aku langsung menghubungi kak Sari. Sebelumnya aku melihat beberapa pesan yang dikirimkan olehnya menanyakan keberadaanku.

            “Halo, kakak di mana?” tanpa basa-basi aku langsung menanyakan keberadaannya karena cemas sendirian.

            “Kakak nungguin di luar dari tadi, kamu di mana?”

            “Aku di dalam gedung dekat terminal kak, kelihatannya kayak stasiun gitu, ada jadwal keberangkatannya.”

            Aku mencoba menjelaskan tempat di mana aku berada. Setelah memperhatikan seisi gedung, aku meyakini tempat luas ini ialah sebuah stasiun kereta api meskipun gerbong keretanya tidak terlihat olehku.

“Iya itu Köln Hauptbahnhof dek! Stasiun sentral kota Koln. Ya sudah, tunggu di situ kakak nyusul ya!” ujar kak Sari.

             Tidak lama, tampak sosok wanita Asia berjilbab biru berjalan memasuki area gedung ini. Postur tubuh dan wajahnya mirip dengan foto yang aku download, benar dugaanku bahwa wanita itu adalah kak Sari. Aku langsung menghampirinya.

“Azhar?!” tanyanya.

“Iya…! Saya Azhari. Kak Sari kan?? Salam kenal kak, hehe.” tanyaku balik. Aku merasa lega bertemu dengannya karena sedari tadi aku hanya merasa bagai anak hilang di negeri Nazi.

“Iya Zhar, kakak sudah lama nunggu di luar tadi, mungkin karena ramai jadi ngga kelihatan ya, hehehe.. gimana perjalanannya? Seru kan?! Sudah jadi anak Belanda ya sekarang haha.

Hahaha, ya begitulah kira-kira kak, tadi sempat diperiksa dua kali di perbatasan sama polisi Jerman. Biasanya memang begitu ya kak?” tanyaku penasaran.

Stasiun Hauptbahnhof terlihat sesak dipadati penumpang dari berbagai ras. Sambil berbincang-bincang, aku mengikuti langkah kak Sari menuju Katedral Koln.
            “Iya Jerman memang lebih ketat dibandingkan negara lain dek, tapi ngga ada masalah kan? Orang Jerman juga banyak yang tahu tentang Indonesia kok. Oh ya, ngga capek kan Zhar, kita jalan-jalan sekarang aja mumpung kakak lagi weekend.”

            Tidak lama, aku dan kak Sari sampai ke Katedral Koln, ikonnya kota ini. Sambil berjalan aku selalu menengadah ke atas karena saking tinggi dan megahnya. Dipandang dari sisi keagamaan, seorang muslim sepertiku tidak pantas memuji-muji tempat ibadah umat kafir ini. Tapi aku sama sekali tidak memujinya, hanya saja arsitektur bangunan dan usianya yang tua mengingatkanku akan sejarah dulu. Aku membayangkan bagaimana jika dahulu umat Islam dibawah komando seorang tabi'in 'Abdurrahman bin Abdullah el-Ghafiqi memenangkan pertempuran melawan pasukan bersenjata Franka dibawah pimpinan Charles Martel, pastinya yang saat ini aku lihat bukanlah katedral, melainkan masjid-masjid megah di tanah Eropa. Namun sayangnya, umat islam tidak memenangkan pertempuran itu. Bahkan karena kezaliman penguasanya, mereka harus terusir dari tanah Andalus atau yang kita kenal sebagai negara Spanyol saat ini. Mereka diberikan pilihan agar masuk ke dalam agama kristen ataupun diusir dari bumi Eropa, banyak juga dari mereka yang dibunuh.

“Zhar! Kamu mikirin apa kok serius banget lihat katedralnya?! Sudah, ayo jangan lama-lama, nanti kamu i’tikafnya di masjid saja jangan di sini, hahaha.” tegur kak Sari.

“Kita ke mana lagi kak?” tanyaku penasaran.
            “Sudah jangan banyak tanya, ikut saja!”
           
           
            Aku hanya tersenyum dan menghampiri langkah kak Sari. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, akhirnya sampailah ke sebuah jembatan besar yang aku lihat saat di bus. Aku memperhatikan kerangka baja jembatan ini yang berumur tua dan masih kokoh. Jembatan ini dibangun sebagai lalu lintas kereta untuk menyeberangi sebuah sungai b    esar di kota Koln. Di sebelah deretan rel kereta juga terdapat lintasan kecil untuk pejalan kaki. Mataku menyorot sebuah kapal besar dan panjang sedang melewati bawah jembatan. Kapal itu membawa tumpukan aspal. Beberapa kapal besar lainnya juga ikut berlayar di sungai ini. Saat menoleh ke sebelah kiri, tiba-tiba aku tertegun lalu menghentikan langkah. Beberapa turis berambut pirang sedang membidik kameranya ke arah pagar yang dipenuhi oleh jutaan gembok.

             “Kak, itu apa? Kok banyak gembok gitu digantung-gantung?” tanyaku heran.

            “Itu kata orang-orang gembok cinta dek, orang sini memasang sepasang gembok dengan kekasihnya di tempat-tempat indah seperti ini lalu kuncinya mereka buang bersama-sama. Katanya sih biar cinta mereka terkunci dan akan menjadi abadi. Salah satu cara mengekspresikan cinta yang dipercaya oleh penduduk sini. Kamu percaya? Buktikan aja Zhar, nanti kakak beli gemboknya,hahaha."


            “Hahaha… kok bisa ya bangsa Eropa yang berpikir modern juga percaya dengan hal-hal begituan?!” tanyaku sambil menggelengkan kepala.

“Oh ya kak, aku sebenarnya ke Jerman mau lihat bekas-bekas Nazi dulu, kan negara ini dikenal dengan Adolf Hitler dan Nazinya, tapi dari tadi kok aku belum nemu ya, bahkan gedung-gedung yang aku lihat sekarang beda dengan yang aku bayangkan. Malah kota ini terlihat modern gitu?!”


“Iya Koln memang kotanya sudah lebih modern dek, habis ini kita ke Brühl, di sana ada istana yang masih terlihat klasik, terus kita ke Bonn, kan kakak tinggal di Bonn.”



Loh, kakak bukannya tinggal di sini? Bonn itu di mana?” tanyaku bingung.


“Bonn itu ngga jauh dari sini kok, cuma naik kereta saja sekitar setengah jam sampai, kalau Brühl itu sebelum kota Bonn. Di Bonn nanti kamu bisa lihat rumahnya Beethoven, musisi Eropa terkenal, alun-alunnya, terus kita ke museum, dan terakhir nanti singgah di kampus kakak sebelum ke rumah.”

“Kakak tinggal sendiri di Bonn?”

“Iya dek, kakak tinggal di asrama, tapi nanti kamu nginap di rumah bang Zuhra kok, dia anak Aceh juga. Nanti kita ketemuan di kampus biar kamu kenal.” jawab kak Sari. “Oh ya, di sini kamu hati-hati sebut-sebut tentang Nazi atau Adolf Hitler dek.”

           “Loh, memangnya kenapa kak?” tanyaku penasaran. (BERSAMBUNG)

19800 Detik Menuju Koln (Chapter 1)





2 Agustus 2015. Bus Eurolines tujuan Jerman terus melaju kencang. Jalanan dipadati kendaraan namun tetap tertib mengikuti kelok aspal hitam. Transportasi lintas negara berupa bus adalah pilihan utama bagi mereka yang ingin melancong di Eropa. Selain terbilang murah, juga cukup nyaman, terutama bagiku sebagai masyarakat kelas bawah. Pagi itu, tepat pukul 07.45 aku berangkat dari kota Amsterdam dan hendak menziarahi negara Hitler. Ya, negara Jerman, siapa yang tidak mengenal salah satu negara super power di dunia. Bahkan setiap kali kita mendengar nama negara itu disebut, sekilas kita langsung terbayang dengan Nazinya. Well, memang sejarah Nazi dan Adolf Hitler yang hampir menguasai dunia itu nyaris membekas di seluruh pikiran umat manusia. Tapi itu hanyalah pikiran mereka yang belum pernah ke Jerman saat ini. Why?? Simak saja dulu ceritanya, hehehe.

           Jerman.. Jerman.. Jerman.. kata-kata yang selalu aku sebutkan di sepanjang perjalanan. Perjalanan sekitar empat jam dari Amsterdam cukup membosankan bagiku. Aku perhatikan sekeliling, sepasang bule duduk tepat di deretan bangku sebelahku. Mereka juga asyik menyaksikan pemandangan sepanjang jalan. Aku coba memahami bahasa yang mereka lafalkan. Bahasa Inggris. Kemungkinan mereka ialah bule asal Amerika ataupun penduduk pribumi Belanda. Di belakang aku duduk terdengar suara parau lelaki tua sedang bercanda tawa dengan istrinya. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Dugaanku mereka berbicara menggunakan bahasa Jerman. Karena aku duduk di kursi terdepan aku tidak berani menoleh ke arah mereka maupun ke penumpang lainnya di bangku belakang karena takut jadi pusat perhatian. Sementara aku hanya ditemani oleh ransel besar di sebelahku.


           Setelah melalui sekitar dua jam perjalanan, tiba-tiba bus yang aku tumpangi berhenti. Dua lelaki berpakaian rompi hitam dengan senjata laras panjang masuk ke dalam bus melalui pintu depan. Aku melihat punggungnya tertulis polizei. Pikiranku langsung menebak bahwa mereka adalah polisi Jerman. Tapi apa yang akan dilakukannya? Mungkinkah mereka hendak menumpangi bus ini?


           Sopir bus mempersilahkan kedua polisi itu menghampiri penumpang. Aku tertegun saat si polisi menghampiriku karena duduk paling muka.  Awalnya aku tidak memahami apa yang diucapkannya. Tapi setelah kembali mendengarkan kata-kata paspor yang ia ucapkan, aku langsung merogoh saku dan menunjukkan tanda pengenal itu kepadanya. Setelah melihatnya, paspor itu dikembalikan kepadaku, lalu ia menghampiri penumpang lain dan meminta hal serupa.


           Setelah selesai pemeriksaan, sopir kembali menjalankan busnya. Aku sedikit tenang. Setiap orang yang ditanyakan sesuatu oleh polisi pasti merasa sedikit gugup, terlebih polisi negara asing dengan bahasa yang tidak kita pahami. Aku gugup karena takut tidak bisa memenuhi permintaannya.


           Tidak lama setelah itu, bus kembali berhenti. Aku kembali penasaran lalu melihat kea rah luar jendela. Dari seberang jalan terlihat beberapa mobil dan truk juga berjalan pelan lalu berhenti mengikuti perintah seorang polisi. Penumpang lain juga tampak bingung dan merasa cemas. Lagi-lagi dua polisi masuk ke dalam bus. Seorang lelaki bertubuh besar dengan rompi tebal menghampiri penumpang di bangku seberang kanan, sedangkan bule cantik berambut pirang menghampiriku dan meminta izin memeriksa ransel besar milikku. Aku mengizinkannya. Ia juga meminta pasporku, dengan segera aku merogohkan saku dan memberikannya. Sempat ia melihat ke arahku: “Indonesia?” tanyanya sembari tersenyum.


Aku yang semula khawatir menjadi sedikit tenang melihat senyuman itu, pertanda tidak terjadi apa-apa.

           “Yes, I am, madam.” jawabku membalas senyumannya.

           “Selamat datang ke Jerman.” ucap si bule dengan logat khasnya mengejutkanku. Serontak aku tercengang. Ternyata polwan cantik itu bisa berbahasa Indonesia. Aku tidak tahu apakah benar-benar bisa ataukah hanya sekedar tahu sapaan-sapaan singkat seperti itu. Lalu ia menghampiri penumpang di belakangku. Sementara lelaki bertubuh besar masih memeriksa ransel penumpang di bangku seberang. Satu persatu barang bawaannya dibuka dan diperhatikan dengan seksama. Entah apa yang ia cari, pastinya sesuatu yang terlarang. Memang sih, sebelumnya aku pernah mendapatkan kabar kalau Jerman adalah negara yang sangat ketat dan sering terjadi razia polisi di wilayah perbatasannya terutama menyangkut tentang barang-barang terlarang alias narkoba. Kemungkinan besar sama seperti yang ku alami saat itu. Namun beruntung tidak ada penumpang yang mecurigakan di dalam bus yang aku tumpangi itu, dan bus pun kembali berjalan tenang.

Aku melihat jam tangan. Waktu menunjukkan tepat pukul 11.45, berarti lima belas menit lagi aku sampai di terminal kota Koln seperti yang tertera di tiket bus. Aku kembali menoleh ke arah luar jendela. Tiba-tiba mataku terbelalak dan dimanjakan oleh sebuah bangunan tinggi nan tua yang berdiri kokoh dari kejauhan. Bangunan dengan arsitektur khas katedral Eropa itu begitu unik, sama seperti di foto-foto internet yang aku lihat. Tidak jauh darinya tampak jembatan lengkung dan besar yang juga terlihat sangat indah. Aku sudah tidak sabar hendak menghampirinya. Menyadari akan tiba di tempat tujuan aku langsung mengambil handphone ingin mengabari kak Sari. Oh ya, kak Sari adalah salah satu mahasiswi Ph.D di Jerman yang juga serumpun denganku berasal dari Aceh. Aku tidak kenal dengannya karena tidak pernah bertemu langsung, hanya saja aku mendapatkan kontak beliau dari facebook karena aku belum pernah mengunjungi negara Nazi, kebetulan beliau sedang tidak ada kegiatan dan bisa menemaniku jalan-jalan.

          
Aku kaget. Jaringan di hpku roaming.Gimana aku mau hubungi kak Sari??” ujar hatiku bingung. Awalnya aku mengira akan bisa mengakses jaringan sinyal apapun selagi masih berada di wilayah Uni Eropa seperti halnya bus ini. Tapi ternyata dugaanku salah. Aku kembali merenung memikirkan solusi. “Udah pigi sendirian, ngga ada satupun orang yang aku kenal, bahasa Jerman juga aku ngga ngerti, ditambah hp juga ngga ada sinyal, duh!!” aku mengoceh sendiri di dalam bus.

           Tiba-tiba bus mulai berjalan pelan lalu memasuki terminal besar. Mataku kembali terbelalak saat menoleh keluar. Ternyata, terminal Koln itu berada tepat di sebelah Katedral yang aku lihat dari jauh tadi. Aku terperangah melihat ketinggian bangunannya. Sejenak aku mulai melupakan keluhanku akan jaringan telepon itu.

           Sebelumnya aku sempat mencari tahu seperti apa panorama kota Koln. Saat searching, lagi-lagi yang muncul adalah berupa katedral dan jembatan, aku mengira bangunan unik itu ialah ikonnya kota Koln. Akupun tertarik melihat arsitektur bangunannya. Di internet juga aku melihat bangunan kuno itu bernama Köln Dom, yaitu sebuah katedral yang dibangun pada abad ke-13 Masehi. Koln Dom saat ini juga menjadi salah satu situs warisan budaya dunia UNESCO di Eropa sehingga menjadikannya daya tarik bagi banyak turis yang berkunjung ke kota ini.
Sie haben Sir angekommen. Willkommen zu Koln.” ucap sopir bus mengejutkanku yang sedang melamun. (BERSAMBUNG)


O.. Te We Amsterdam

 Semoga dimudahkan Segala urusannya sahabat Azhari Mulyana dan temen-temen yg lain bisa menyusul juga insya Allah, Muhammad Fahruddin Al Mustofa ada rencana mau ke Turki, Fuad Casa ada rencana ke Yaman bang wan Afifuddin Azmi ada plan ke England hehe.”
Rasa haru, bahagia dan sedih mengelabui hatiku saat itu. Peluang yang mereka impikan tidak seberuntung aku yang mendaptkan. Doa mereka mengiringi setiap langkahku. Teringat akan pepatah berkata gantunglah impianmu setinggi langit. Terkadang kalimat ini bisa menjadi kenyataan, terkadang juga sebaliknya. Semua ini berawal dari sebuah harapan kecil.
15 Juni 2015 lalu, tepatnya pukul 00.00 waktu Maroko aku mempersiapkan segala perlengkapan yang aku butuhkan selama dua bulan penuh di Eropa nanti, baik itu baju, celana, sepatu, dan lain-lain. Oh ya Al-Quran juga pastinya. Mungkin orang lain menuduh aku ini ceroboh dan terlalu santai. Tapi tidak menurutku. Mungkin karena kebiasaan yah makanya aku tidak terlalu sesibuk orang lain yang ingin bepergian. Orang lain mungkin tidak percaya, tapi inilah diriku sejak kelas 6 SD dulu aku sudah sering bepergian baik itu menginap atau tidak, sehari, tiga hari, seminggu bahkan sebulan. Jadi selama lebih kurang 8 tahun belakangan ini yang namanya packing tidak asing lagi di telingaku. So, aku hanya butuh waktu enam saja untuk packing jika memang itu untuk keperluan berhari-hari.
Oh ya, sedikit flash back, sehari sebelum aku dan kang Mamah berangkat ke Eropa, kami sempat singgah ke Rabat (ibukota Maroko). Ketika itu sebut saja pak Bowo salah seorang karyawan KBRI yang juga sesepuh PCINU Maroko dan putra sulungnya kebetulan sedang ulang tahun. Jadi beliau berhajat untuk mengadakan tasyakuran ulang tahunnya sekaligus dengan walimatus safar keberangkatan kami sebagai utusan PCINU Maroko. Mungkin tidak bisa kusebutkan satu per satu siapa saja yang ikut hadir dalam jamuan tersebut, tapi aku masih bisa membayangkan keseluruhan acara itu. Pastinya temen-temen PCINU hadir ketika itu khususnya yang berdomisili di Rabat karena yang lain masih mengikuti ujian akhir. Tapi ada juga beberapa yang ikut hadir meskipun jauh dari Rabat demi menyukseskan acara ini. Biasa lah, ga ada loh ga rame hahaha.
Tak kalah meriahnya acara ini disambut langsung oleh pak Dubes Maroko yaitu bapak Endang Syamsuri beserta Bu Ella Syamsuri serta asisten pribadinya. Terus acaranya ngapain yah? Haha. Biasalah, tasyakuran atau bancaan menurut versi Jawa itu artinya makan-makan. Ada satu lagi istilah rujakan yaitu ngumpul-ngumpul bareng juga hampir sama dengan tasyakuran tapi bukan makan nasi, melainkan rujak buah-buahan dengan bumbu kacangnya yang pedas. *sekilas pengalaman pribadi di Malang :D. Sedangkan di daerah asalku lahir Aceh acara seperti tasyakuran ini dikenal dengan kenduri.
Nah, acara walimatus safar ini dirangkai sedemikian rupa setengah resmi yaitu adanya pembawa acara, kemudian diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh aku sendiri, kemudian dilanjutkan dengan kata-kata walimah yang diwakili oleh kang Mamah kerabat saya yang akan ke Eropa. Tak lupa nasehat-nasehat yang disampaikan oleh pak Dubes, lalu ditutup dengan makan-makan. Kebetulan mbak Nur istrinya pak Bowo sudah mempersiapkan semua makanannya khusus untuk acara hari itu. Keluarga beliau memang senang ngumpul-ngumpul bareng jadi beliau sudah biasa mempersiapkan acara seperti itu. Doa-doa yang dipimpin Ust. Alfian Iqbal Zahasfan ketika itu masih meraung-raung di telingaku. Diantaranya keberkahan usia yang punya hajat juga doa keselamatan dan kelancaran dakwah kami ke Eropa. Doa-doa mereka orang sholeh inilah yang mengantarkan kami sampai ke Amsterdam, Belanda untuk ekspansi Islam ahlussunnah non wahabi beberapa bulan yang lalu :D.
Saat itu kang Mamah yang tinggal di Marrakesh sudah packing semua barang-barangnya yang akan dibawa. Tapi aku masih belum terpikir sedikitpun, padahal besok pagi aku berangkat, haha.
“Ya Allah, kamu santai banget belum siapin apa-apa.”
“Jujur, aku orang yang paling santai soal packing-packing barang, itupun udah telat banget, tapi ternyata ada yang lebih santai dari aku.” tegur kang Mamah.
Mulai saat itu aku terpancing gelisah karena teguran itu haha. Maklum lah, aku orang yang terlalu patuh dengan teguran. Tanpa pikir panjang malam semakin gelap aku langsung bertekad terjun ke Casablanca tempat aku tinggal dengan bis kota. Jarak antar ibukota dengan Casa sekitar satu jam setengah. Dan beruntung jam sebelas malam itu aku bisa langsung naik bis terakhir meskipun telat tapi alhamdulillah yang penting sampai.
Saat tiba di rumah pukul 00.00 GMT malam itu aku langsung bergegas mengumpulkan barang-barang yang akan ku bawa. Sempat bingung berapa baju yang akan aku bawa? Lagi-lagi pikiran itu muncul disaat aku sedang packing. Mungkin aku membawa baju lebih banyak buat persiapan dua bulan. Sekitar tiga jam setelah mengumpulkan baju-baju, celana, juga sempat menyetrika beberapa pakaian yang habis aku cuci, lalu aku menyusunnya dengan rapi dalam sebuah koper sedang sederhana tapi kuat loh. Ya itu karena pilihan bunda, pasti pilihan terbaik hehe. Koper itu pertama sekali aku gunakan ketika hendak kuliah ke Malang, tak disangka ia jadi teman setiaku hingga ke Maroko bahkan ke Eropa.
Selesai sudah waktu lima jam buat packing terus aku sholat subuh dan kemudian tumbang di atas kasur. Tak lupa aku menyetel jam alarm untuk membangunkanku. Wah, nikmatnya tidur setelah beraktifitas ya seperti ini. Penasaran guys? Coba aja sendiri haha. Biasanya, aku tidak bisa tidur semalaman jika hendak bepergian, terlalu banyak yang aku pikirkan dan bayangkan, terlebih tempat itu yang belum pernah aku singgahi. Namun kali ini berbeda, persiapan dan istirahat yang terasa kurang cukup untukku hingga membuat diriku seakan remuk dan mata ingin memejam. Mungkin karena bayangan-bayangan eropa itu telah bosan menari-nari dipikiranku jadi sudah aku anggap biasa haha. Ya seperti itulah perasaan seorang anak desa Sungai Pauh asal Aceh ini yang tumbuh dari keluarga sederhana.
Tepat pukul 08.00 pagi aku terbangun karena tidak sanggup mendengar jeritan alarm di telingaku. Mata terbuka pikiran sadar dan jantung berdetak kencang. Aku langsung bangun dan mandi. Lagi-lagi, yang ada di pikiranku hanyalah bayang-bayang Eropa. Begitu gilanya pikiran dan perasaanku saat itu bahkan ketika mandi aku memandangi seluruh isi kamar mandi di rumahku dan berniat membedakannya dengan di Eropa haha. Mungkin ini hal biasa bagi yang pernah mengalaminya, tapi hal pertama yang aku alami, karena aku belum pernah bepergian sejauh dan seindah ini. Belum berangkat menuju Eropa saja diriku sudah merasa seperti di Eropa, sangking bahagianya. Alhamdulillah ya Allah, aku telah menjaga ayat-ayatMu sehingga Engkau memberikan kenikmatan ini di luar kemampuanku.
“Bismillahirrahmanirrahim.”
“Ku langkahkan kaki ini seraya memohon kepadaMu ya Rabb, berilah perlindunganmu untukku menempuh perjalanan ini. Aku berangkat karenaMu, atas izinMu dan untukMu ya Allah. Berilah pertolongan kepadaku dalam mengemban amanahMu yang mulia ini. Sungguh aku sangat hina di hadapanMu, aku tidak mampu melaksanakan perintahMu ini karena aku belum pantas. Tapi mereka mempercayakan amanah ini untukku, berilah kemampuan untukku agar bisa bertanggung jawab dalam menyebarkan syari’atMu ini.” ucap hatiku saat hendak berangkat menuju bandara Muhammad V, Casablanca.
Temen-temen mengantarkanku hingga ke bandara saat itu. Ya, teman yang telah setahun setia tinggal bersamaku. Rawut wajah mereka penuh harapan dan do’a agar bisa menyusulku. Tiada kata yang bisa kuucapkan melainkan doa yang keluar dari bibirku agar mereka juga bisa menyusulku suatu hari nanti. Kebanggaan mereka terhadapku itu tampak saat kesetiaan mereka hingga melambaikan tangan terakhir saat aku dan kang Mamah akan menuju ruang pemeriksaan bandara. Setelah itu mulailah mereka satu persatu mengupdate status di media sosial berisi doa untukku dan harapan mereka agar bisa menyusul.
Uniknya, sebelum itu Fahruddin salah satu temanku sempat menitipkan sesuatu yang sangat berharga sebelum aku menuju bandara. Pastinya sesuatu yang sangat berharga baginya. Dengan tenang ia berkata :
“Azhari, ini ada sesuatu tolong dibawa ya, nanti sampek ke Belanda tolong tarok di tempat yang kira-kira menurut kamu paling indah. Kalo bisa disembunyikan ya biar ngga hilang, saya cuma berharap suatu saat nanti saya bisa ambil lagi barang ini di tempat itu. Sebelumnya terima kasih banget ya Azhari. Doakan saya juga bisa segera menyusul.”
Masya Allah, ketika itu sekejap hatiku tersentuh melihatnya yang begitu menginginkan untuk pergi ke Eropa juga sama sepertiku. Fahruddin ialah salah satu temanku yang sangat ambisius ingin jalan-jalan ke Eropa. Sangking ambisiusnya ia pernah mengajak aku dan teman-teman lain untuk iuran per bulan menyisakan uang jajan agar kami bisa sama-sama liburan ke Eropa minimal ke Turki di akhir tahun 2015.
Siapa yang tidak mengimpi-impikan bisa jalan-jalan ke luar negeri?! Jangankan ke Eropa yang begitu indah, ke Malaysia sebagai tetangga kita pun rasa bahagia itu akan muncul, apalagi bisa menjelajahi beberapa negara lainnya seperti Eropa?!
Sembari mengambil barang itu, “Insya Allah din, aku liat dulu kira-kira di mana nanti bisa aku tarok dan aman. Sip, semoga ada kesempatan dan bisa nyusul amin.” jawabku.
~Bismillah...
150615HV575012'05CMN`AMS
~
            Sesaat sebelum terbang, aku sempat update status di facebook. Maklumlah anak zaman sekarang ada sesuatu pastinya ngadu ke facebook haha. Gapapa deh, karena jarang diupdate, ya ga masalah kan sesekali bikin pusing yang baca dengan kode-kode seperti itu. Aku pecahkan di sini yah kodenya :D. 150615 itu artinya tanggal keberangkatanku yakni 15 Juni 2015 lalu, HV5750 itu  adalah nomor flight (penerbangan), kebetulan ketika itu kami naik pesawat transavia, pesawat kecil dan murah. Seingat aku sih kita dibelikan tiket PP (pulang-pergi) seharga €300 (tiga ratus euro) atau sekitar 4,5 juta. Sedangkan 12`05 adalah waktu keberangkatan yakni pukul 12.05 siang, CMN itu Casablanca dan AMS adalah Amsterdam, karena kami berangkat via bandara Muhammad V Casablanca menuju bandara Schipol, Amsterdam.
Kemudian setelah masuk ruang check in dan urusan bagasi telah selesai semua aku dan kang Mamah terus berjalan menuju ruang tunggu. Di ruang pemeriksaan terakhir tiba-tiba seorang satpam Maroko bertanya dengan Bahasa Prancis :
“Bonjour Monsieur ! Puis-je savoir, combien vous apporter de l’argent?” tanya si satpam.
Bingung yah? Haha. Aku juga masih gagal paham dengan bahasa resmi kedua Maroko ini :D. Soalnya aku baru tau tentang hitung-hitung angka, mengenal huruf abjad dan beberapa vocab sayur-sayuran dan buah-buahan yang aku pelajari di ekstrakurikuler kampus haha. Maklum masih bingung ketika ada yang bertanya dengan bahasa ini. Melihat kami saling memandang satu sama lain mengisyaratkan ketidakpahaman lalu si satpam menjelaskan dengan bahasa isyarat dan pastinya satu kata yang ia tau dalam bahasa Inggris yaitu money..money..
Agar tidak ketinggalan pesawat karena sikap isyarat aneh si satpam satu ini akhirnya kami mengaku bisa bahasa Arab dan bertanya apa yang ia maksudkan. Terkadang di satu sisi kami sering ngerjain orang Maroko yang menganggap asing kami seperti itu karena menganggap tidak bisa berbahasa Arab. Haha.
Jadi ketika itu aku telah menghabiskan semua uang dirham yang aku punya karena tau bahwa kegiatan ini full dibiayai oleh PPME (Persatuan Pemuda Muslim Eropa) Al-Ikhlas Amsterdam yang merekrut kami untuk bertugas di sana selama Ramadhan. Terakhir aku menggunakan uang dirham ketika membayar ongkos taksi menuju ke bandara tadi. Dan ternyata nasib yang sama terjadi pada kang Mamah. Lantas kami terdiam sejenak ketika satpam itu menanyakan tentang money.
(Pengalaman adalah guru yang terbaik). Mungkin kata-kata ini yang cocok jadi pelajaran untuk kami tentunya. Aku hanya terus berpikir apa tujuannya menanyakan jumlah uang yang kami bawa. Tidak berpikir panjang kami terlanjur jujur dengan apa yang ada bahwa kami tidak memiliki uang sepeser pun.
Dengan heran si satpam Maroko keturunan Spanyol ini terus memaksa kami untuk menjawab dengan jujur. Tapi apalah daya kami memang tidak membawa sedikit pun uang ketika itu. Aku ingat dia menyebutkan empat mata uang (euro, dollar, poundsterling, dirham)  tapi kami malah tetap geleng-geleng kepala menandakan nihil.
(Ini bocah mau ke Eropa kok ga bawa uang ya?! Mau ngemis di sana??!) Mungkin seperti itulah firasat si satpam untuk kami hahaha. Setelah letih bertanya dan terus memaksa akhirnya kami diloloskan menuju ruang tunggu untuk masuk ke cabin pesawat.
Setelah mencari tau dan bertanya-tanya ke beberapa teman yang sudah berpengalaman menjelajah dengan kapal terbang ternyata tujuan si satpam hanyalah memeriksa para penumpang pesawat agar tidak membawa uang nominal yang berlebihan. Aku tidak begitu paham peraturan penerbangan tentang hal itu, akan tetapi memang ada batasan tertentu kepada setiap penumpang agar tidak membawa uang nominal dengan jumlah yang melebihi ketentuan yang telah ditetapkan.

Sketsa Indah Negeri Senja Maroko

Maroko adalah negara islam yang berada di Afrika Utara dan berbatasan langsung dengan Spanyol yang hanya dipisahkan oleh selat Gibraltar.

Sampai saat ini negara dengan sebutan maghrib (negeri matahari terbenam) ini tidak begitu masyhur di kalangan masyarakat Indonesia, malah kebanyakan mereka mengira negara ini terletak di Timur Tengah seperti negara-negara Arab pada umumnya.

Berbeda dengan negara lain, Maroko sebagai negara kerajaan memiliki dua ibukota negara yaitu Rabat sebagai ibukota administrasi dan Casablanca sebagai ibukota industri. Tidak heran kalau kedua kota ini terlihat lebih ramai dan padat penduduknya, sehingga membuat suhu udara keduanya sedikit lebih tinggi saat musim dingin dibandingkan kota lain disebabkan oleh polusi. Kami sering menyebut kedua kota ini sebagai 'Jakartanya Maroko'.

Menariknya, istana raja bisa kita dapati di setiap kota di Maroko tidak seperti Indonesia yang hanya menempatkan istana presiden hanya di ibukota negara atau tempat tertentu saja.
Casablanca yang menjadi tempat rantauan saya mewujudkan impian saat ini juga memiliki keunikan tersendiri dibandingkan kota-kota lain yang berada di Maroko.
Secara etimologi 'Casablanca' berasal dari bahasa Perancis yang mengandung arti Rumah Putih atau Ad-darul Baidha' (dalam bahasa Arab).

Menurut pendapat sebagian masyarakat Maroko, dinamakan dengan Casablanca karena kebanyakan gedung-gedung dan bangunan di kota ini berwarna putih, sehingga tampak lebih bersih dan rapi.
Sabtu pekan lalu saya menuju kotanya Casablanca atau dikenal dengan medina. Kota dengan tempat saya tinggal lumayan jauh dan harus ditempuh dengan bus kota sebagai transportasi yang sangat relevan untuk masyarakat ekonomi kelas bawah. Masing-masing nomor bus di kota ini sesuai dengan jalur yang ditujunya. Dan biasanya saya menumpangi bus nomor 22 untuk menuju ke kota. Bisa juga naik petit taksi (taksi kecil), namun harganya terjangkau sangat tinggi untuk menempuh jarak yang jauh.

Hal ini berbeda dengan Indonesia yang bisa mengakses transportasi dengan mudah.
Kalau berbicara soal sepeda motor (warga Aceh menyebutnya kereta), di Maroko tidak banyak yang memiliki kendaraan ini. Toh kalaupun ada, motor di sini sudah tidak layak pakai.
Sampai di kota, terlihat begitu membekas sisa-sisa jajahan Prancis di negara ini. Bangunan, cafe, restaurant dan lainnya tampak seperti di Prancis, bahkan segala bentuk tulisan yang kita temukan menggunakan bahasa Prancis dan sedikit sekali menggunakan bahasa Arab. Begitu kentalnya akulturasi budaya eropa di maroko membuat masyarakat maroko tidak canggung ketika diajak berkomunikasi dgn bngsa eropa.

Tidak hanya itu, kabarnya bus kota yang sering saya tumpangi merupakan buangan Prancis, maka tidak heran ketika melihatnya saya teringat bus Kopaja yang pernah saya tumpangi di Jakarta karena keduanya tidak jauh berbeda.

Casablanca merupakan kota yang paling mewah di Maroko. Sangking mewahnya apapun yang diperdagangkan di sini sangatlah mahal dibandingkan dengan kota lain. Meskipun begitu, kerajaan Maroko sangat memperhatikan masyarakatnya yang tinggal di pelosok desa atau jauh dari kota-kota besar, sehingga semakin jauh suatu daerah dari kota besar, barang yang diperjualbelikan semakin murah. Begitu juga sebaliknya, barang-barang yang diperjualbelikan di kota-kota besar seperti kota Casa ini ternilai mahal. Hal ini sangatlah berbanding terbalik dengan yang terjadi di Indonesia.
Di kota ini juga terdapat suq qadim (pasar tua) yang terkesan masih sangat kental aroma khas Arabnya.  Mulai dari pernak-pernik khas Maroko, lukisan-lukisan Arab kuno, alat-alat musik tradisional, hingga pakaian, makanan dan buah-buahan serta alat teknologi juga banyak diperdagangkan. Tidak hanya orang Maroko, tetapi juga orang Afrika berkulit hitam banyak yang berjualan di tempat ini.

Namun jika Anda mengunjungi pasar ini pada pagi hari, tidak Anda temukan satu orangpun yang berjualan. Karena kebiasaan orang-orang Maroko keluar dari rumah mereka alias beraktifitas pada menjelang senja atau ba'da ashar.

Ketika itulah saya merasa sangat nyaman dan tenteram duduk di tengah keramaian kota yang sejuk nan indah ini. Terlebih ketika tramway (kereta lintas kota) melewati keramaian ini, menjadikan alun-alun kota ini sebagai daya tarik bagi tourist (wisatawan asing) untuk mengabadikan perjalanan mereka dengan berfoto. Dari arah lain terlihat anak-anak asyik bermain dan berlari-lari ke sana kemari, para remaja juga tidak kalah asyiknya ketika memainkan papan skateboard mereka, orang tua pun kelihatan fresh dan santai, sebagian mereka ada yang sambil meneguk secangkir kopi di cafe-cafe merenungkan dunia, banyak orang duduk-duduk bersantai menikmati suasana senja.
Kebiasaan-kebiasaan seperti inilah yang membuat negara seribu benteng ini dijuluki negeri senja.

http://aceh.tribunnews.com/2015/01/31/sketsa-indah-negeri-senja
https://www.islampos.com/sketsa-indah-negeri-senja-160464/

Profil Penulis :
AZHARI MULYANA, Mahasiswa S1 jurusan Dirasat Islamiyah Faculté des lettres et sciences humaines Université Hassan II, Casablanca, Maroko.
Alumnus MAS Ulumul Qur'an Langsa, Aceh angkatan 2013.