BREAKING NEWS
latest

Advertisement
Showing posts with label Hadith. Show all posts
Showing posts with label Hadith. Show all posts

Banu Al-Bāji Al-Ishbīlī; Scholars of the Hadith School of Seville



KATEGORI BUKU:
Ilmu Hadits

JUDUL BUKU:

بنو الباجي الإشبيلي من أعلام مدرسة الحديث في إشبيلية

Banu Al-Bāji Al-Ishbīlī; Scholars of the Hadith School of Seville


TEMA:

Periwayatan Hadith di kota Seville, Andalusia-Spanyol

GENRE:
Islamic Studies, The Science of Hadith, History

PENULIS:
Azhari Mulyana

PENERBIT:
Dar al Athar for Publishing and Distribution, Cairo, Egypt, 2023

JUMLAH HALAMAN:

144 Halaman

ISBN:

978-977-741-189-9



Abstract :

When the matter in Andalusia had stabilized, the Muslim Scholars came from the East, Egypt and Kairouan. They are the reciters, voyagers, writers, and linguists, but Muhadith is rare. Their endeavors were not clearly shown until Baqi ibn Makhlad and Muhammad ibn Waddah came. Therefore, Andalusia became a House of Hadith. Although the revival of Hadith had spread to all of the cities and villages in Andalusia, the capital city and province had the biggest contributions, and the most important contribution was Seville, which is one of the most famous Andalusian cities participating in the development of the scientific movement. Seville was the capital of the state of Bani Abbad. Many of the Seville scholars had a great interest in the Sunnah of the Prophet; their endeavors subserve the noble Prophet’s Sunnah, and it is the role of the Bani al-Bāji of Seville. Many colleagues have conducted the scientific and the continuation of their chain of transmission from the predecessor, until the collapse of Andalusia. In this research, the researcher used the historical method, which is represented in a brief introduction to the Muhadith in Seville and Bani al-Bāji, and their writings in Hadith towards various mechanisms of description and analysis to give a clear description of the scientific surroundings of this family.

Keywords: Seville, Scholars of Hadith, The School of Hadith, Bani al-Bāji.


Ibn Waddah dan Baqi ibn Makhlad al-Qurtuby, Pemrakarsa Madrasah Hadits di Andalus


Begitu kentalnya praktik hukum yurisprudensi Islam (fikih) dengan haluan mazhab Maliki di Maroko dan Andalus, itu karena sejarahnya kitab Muwatha' karya Imam Malik lebih dulu masuk ke wilayah Gharb Islam ini. Bahkan, kitab-kitab sunnah terkemuka pedoman kedua setelah Al-Quran seperti Shahih Bukhari datang belakangan. Bukan karena masyarakat dan ulamanya tidak peduli, tetapi karena Imam Malik sudah mewanti-wanti untuk tidak berkecimpung lebih dalam tentang persoalan riwayat, agar tidak bercampur antara hadits satu dengan yang lain. Tidak hanya itu, kecondongan mereka dalam bidang fikih terutama fikih Maliki lebih kuat kala itu.


Namun, bukan berarti menolak, justru ketika Ibn Waddah al-Qurtuby (w. 286H /899M) kembali ke Andalus setelah rihlah panjangnya dalam mendalami sanad-sanad hadits di masyriq (Timur), ia dianggap berhasil membuka arah baru keilmuan Islam di Andalus, banyak masyarakat yang mendengarkan hadits dan mengambil sanad darinya, ia bersama Baqi ibn Makhlad al-Qurtuby (w. 276H /889M) sebagai orang pertama yang membawa substansi ilmu hadits kemudian dijuluki sebagai pemrakarsa Madrasah Hadits di Andalus.


Baqi ibn Makhlad al-Qurtuby kembali ke Andalus dengan membawa sanad hadits dari gurunya, Abu Bakr ibn Abi Syaibah. Ia pun mengajarkan dan menjelaskan pentingnya disiplin ilmu hadits secarah riwayah ataupun dirayah. Dengan begitu, ia telah berhasil membuat transisi dalam sejarah Andalus yang mulanya mempelajari hukum Maliki ke mempelajari hadits.


Tapi, tidak sedikit juga diantara mereka yang fanatik buta menentang masuknya kajian hadits di Andalus, seperti perkataannya seorang ahli fikih Andalusia bernama Asbagh ibn Khalil al-Qurtuby (w. 273H):

 لأن يكون في تابوتي رأس خنزير أحب إلي من أن يكون فيه مسند ابن أبي شيبة, artinya: "Aku lebih suka peti matiku diisi kepala babi ketimbang kitabnya (musnad) Ibn Abi Syaibah"


Beberapa dekade setelah itu, banyak ulama Andalus yang juga tertarik untuk mempelajari hadits dan mengambil sanad langsung ke banyak perawi di Timur, diantara mereka yang masyhur adalah: Muhammad ibn Yahya ibn Zakaria ibn Barthal al-Qurtuby, Abdullah al-Juhany at-Thulaithuli, dan Abdullah ibn Ibrahim ibn Muhammad al-Ashili. Mereka bertiga lah yang dianggap pertama kali membawa dan menyebarkan kitab Shahih Bukhari di Andalus.


Saat ini, di beberapa kampus kita sering menjumpai sebagian dosen atau bahkan ulama hadits yang cenderung menempatkan kitab al-Muwatha' karya Imam Malik sebagai kitab hadits pertama dalam jajaran al-Kutub as-Sittah, alias kitab tershahih di dunia setelah Al-Quran. Wajar, karena sejarahnya mereka lebih dulu mengenal kitab tersebut sebelum munculnya kitab Shahih Bukhari di Maroko dan Andalus.



Referensi:

Housaisin, Abdelhadi. Madzhāhir an-Nahdhah al-Hadītsiyyah fī 'ahdi Ya'kūb al-Manshūr al-Muwahhidī, jilid 1, 1983.


al-Yahshubi, Al Qadi 'Iyâd. Tartīb al-Madārik, jilid 3 dan 4, Rabat, 1983.


Rustum, Zainal Abidin. As-Shahīhān fî al-Andalus min al-Qarn al-Khāmis ila al-Qarn at-Tsāmin al-Hijri, Lebanon, 2010.