BREAKING NEWS
latest

Advertisement
Showing posts with label Berita. Show all posts
Showing posts with label Berita. Show all posts

TAHUKAH ANDA Tentang Bahasa Aljamiado ?



Sebagaimana kita ketahui, munculnya bahasa Jawi dan Pegon di Nusantara (ialah bahasa melayu dan

jawa yang ditulis dengan aksara Arab) sejak abad ke-17, seperti dalam naskah-naskah Islam yang ditulis oleh Nuruddin ar-Raniry (w.1658), dan Abdurrauf as-Singkili (w.1693) merupakan suatu bentuk proses transmisi ilmu dari bahasa asing ke bahasa lokal yang digunakan oleh masyarakat, terlepas dari beberapa tuduhan yang dilemparkan bahwa hal ini adalah motif semangat anti-Arab.

Secara aksiologi, apakah tujuan bahasa-bahasa ini ditulis di Nusantara selain memberikan kemudahan bagi masyarakatnya untuk mempelajari Islam? Adakah dasar dan landasan lain yang menyatakan bahwa bahasa ini harus diterapkan? Sementara, saya hanya menemukan penggunaan bahasa Aljamiado di Spanyol-Islam dulu yang praktiknya hampir sama seperti bahasa Jawi dan Pegon di Nusantara.

Bahasa Aljamiado -dibaca: al-khamiado- (Bahasa Arab: اللغة الخميادية), adalah bahasa sehari-sehari bangsa Moriscos dan ditulis dalam manuskrip-manuskrip islam di Spanyol dengan memakai bahasa Arab untuk mentranskripsikan bahasa-bahasa Eropa, khususnya bahasa Romansa, seperti: Mozarabik, Portugis, Spanyol, dan Ladino. (Historia de España musulmana. Chejne, A.G, 1993)

Opening leaf of the text with Latin note and text in Aljamiado
University of Cambridge digital library

Sejak pemaksaan murtad kaum muslim di Spanyol oleh inkuisisi setelah berakhirnya kekuasaan Islam di Granada, pendeta Kardinal Ximenez de Cisneros awalnya menarik buku-buku Arab dari peredaran, yakni buku-buku tentang Islam, dengan cara membakarnya di lapangan utama Granada. Granada menjadi medan api unggun tempat pembakaran naskah-naskah Arab ketika itu. Umat muslim (Moriscos) yang secara terpaksa dibaptis oleh orang-orang Kristen pun mulai takut dan khawatir dalam menggunakan bahasa Al-Quran. Kalau ketahuan, pastinya mereka akan merasakan akibat buruknya. Dalam kondisi keterpaksaan inilah, akhirnya muncul bahasa Aljamiado, mereka menggunakan bahasa Romawi tetapi ditulis menggunakan aksara Arab. Sehingga siapapun yang bisa berbahasa Arab tapi tidak mengerti bahasa Romawi pasti tidak akan bisa membaca manuskrip-manuskrip berbahasa Aljamiado, layaknya Jawi dan Pegon.

Sebuah kumpulan naskah dan manuskrip berbahasa Aljamiado semacam itu ditemukan di bawah lantai sebuah rumah tua di Aragon, tempat naskah ini disembunyikan oleh para perwira yang menjalankan inkuisisi. Naskah-naskah itu adalah "Manuscritos drabes y aljamiados de la Biblioteca de la Junta". (A.R. Nykl, A Compendium of Aljamiado Literature, Paris, 1928).

Di bawah ini adalah salah satu contoh naskah bahasa Aljamiado yang sudah ditranskripsikan ke dalam bahasa latin), berupa lirik pujian atas Nabi Muhammad SAW. dalam perayaan kelahirannya (maulid Nabi) yang berasal dari abad ke-17.

...
Señyor, fes tu assalá sobr’él,
i fesnos amar con-él,
sácanos en su tropel,
jus la señya de Muḥammad.

Façed assalá de conçençia
sobre la luz de la creyençia
e sillaldo con revenençia
i dad a’ççalám sobre Muḥammad.

Tu palabra llegará luego,
e-será reçebido tu ruego,
e-abrás a’ççalám entrego,
esos son los fejos de Muḥammad.

Quien quiera buena ventura,
i -alcançar grada de altūra
porponga en la noje escūra
l-a||alá sobre Muḥammad.

El-es cunbre de la nobleza,
corona de gran riqueza,
cunplimiento de leal alteza,
estas son figuras de Muḥammad.

De su olor fue ell-almiçke de grada,
relunbró la luna aclarada,
e naçyó la rosa onrada
de la sudor de Muḥammad.

Señyor de la grada graçyosa,
d-él naçyó la çençia acuçiosa,
cabdillo dell-alumma preçiosa,
este es nuestro annabī Muḥammad.

A Edam e a Nūḥ fue adelantado,
i a Ibrāhīm i a Içmāʿīl el degollado,
i con ʿĪçā fue albiçreyado,
en todo s-adelantó Muḥammad.

De qu-enpeçó la su venida
la tierra estaba ascureçida,
e luego fue esclareçida,
i clareó con la luz de Muḥammad.

Como enpeçó la creyençia,
luego cayó la descreyençia,
Asām i toda su pertenençia,
aclaró de la luz de Muḥammad.

Los almalakes deçendían,
todas muy alegres vinían,
las alḥurras así fazían,
albriçyando con ti yā Muḥammad!

Los lugares todos poblaste,
con dereja razón que mostraste,
los assayṭānes apedreaste,
éste es el secreto de Muḥammad.

Vino con-alunbramiento onrado,
i con addīn muy ensalçado,
e caminó muy dereçado,
ture la guiaçion de Muḥammad.

Quién contará sus maravillas,
como de la pluvya las sus gotillas,
e dones de grandes valías
que fueron dados a Muḥammad?

Ay partida de la guía,
qu’averdadeçe su mesajería!
Llamólo la corça de día:
Defiéndime yā Muḥammad!

Yo é dos fijos en cría,
Dísome ell-uno: Ve todavía
all-arraçul sin miedo, fía
en la segurança de Muḥammad.

El gemer del tronco deseyado
con palabras ubo fablado.
Tornó ell-oŸo a su estado.
El camello fabló a Muḥammad.

Testemonyó la criaūra
que del juizyo él-era la fermosūra.
Fízole sonbra la nube escūra,
las palomas acosieron a Muḥammad.

Soldó la luna depués que fendió,
ell-espalda fabló e cayó,
de la palma luego comyó,
como la plantó Muḥammad.

Ell-awa d’entre sus dedos
manó como manaderos.
Un puñyo fartó a mil fanbrientos,
Como bendiso en-ella Muḥammad.

Del-alfaḍīla del-Alqur’an onrado,
siete aleyas de al^amdu preçyado
abarcan muy gran dictado,
todo por la onra de Muḥammad.

El día de la gran tristeza
publicars-á la su nobleza.
Dirá el rey de la alteza:
Demanda i dart-é yā Muḥammad!

Alça la cabeça mi privado,
i ruégame por tu amado.
Aquel día todo ell-alfonsado
tienen feguza en Muḥammad,

de qu-asentará el mejorado
En-alganna, en-alto grado,
a donde graçya ell-onrado,
a los qu-alegraron a Muḥammad.

Salrá con albiçra i riḍwān,
con alḥurras i wildān,
con plateles de rayān,
al reçebimiento de Muḥammad.

Los alminbares de los annabíes,
e los alkurçies de los alwalíes,
e las sillas de los taqíes,
çerc-al-alminbar de Muḥammad.

En los alcáçares de las alturas
con muy graçyosas alḥuras,
e de muy nobles feguras,
para los amigos de Muḥammad.

El Señyor noble llamando:
Warneçed mi-siervos coronando,
qu-ellos son los de mi bando
Pues no contraryaron a Muḥammad.

Lo que les prometieron fallaron,
e todo cuanto desearon
en-alganna para siempre los graçiaron,
que son alumma de Muḥammad.

Qu-él-es mi castillo i mi warda,
e sus amores la mi alfarda,
aunque mujo se me tarda,
ayúdome con ti yā Muḥammad!

Que mi presona es mujo dura,
non reçibe castigadura,
yo é miedo, avergonçadura,
sey mi abogado, yā Muḥammad!

Que en mi dijo i en mi fejo
tengo yo gran despejo,
apiade Allah elmi derejo
i déme ell-amor de Muḥammad.

Aquí alabo los tus grados;
lonbraré a l-aṣṣiḥāba onrados,
qu’ellos fueron los alabados
pues ayudaron a Muḥammad.

Apiade Allah el cuerpo dell-alimām
Abī Bakr y ʿUmar i ʿUzmān
i ʿAlī ell-alabado tanbién,
mienbro de los mienbros de Muḥammad.

Bendiçyon sea sobre albatūl,
i sobre los dos fijos ʿadūl,
i sobre las mujeres del-arraçūl,
i toda l- aṣṣiḥāba de Muḥammad








Bataille de Poitiers, Batas Penaklukkan Muslim Di Eropa Barat




Gibbon serta para sejarawan lain meyakini jika seandainya umat Islam dibawah komando seorang tabiin 'Abdurrahman bin Abdullah el-Ghafiqi memenangkan pertempuran melawan pasukan bersenjata Franka dibawah pimpinan Charles Martel, maka saat ini kita bisa melihat masjid-masjid berdiri megah di Paris, London, juga negara Eropa lain, bukan malah Katedral. Begitu juga Al-Quran akan ditelaah di Oxford dan pusat-pusat pembelajaran lainnya.


Merenungi tujuh hari perlawanan sengit bangsa Arab saat ekspansi ke daratan Prancis pada Oktober 732 Masehi lalu, yang berakhir dengan kekalahan dan penarikan pasukan Muslim setelah pemimpinnya, Abdurrahman el-Ghafiqi terbunuh. Pertempuran ini kemudian dikenal dengan "Battaille de Poitiers" (Bahasa Arab: معركة بلاط الشهداءatau معركة بواتييه), yang berlokasi di wilayah Moussais la Bataille, tengah-tengah negara Prancis, 300km dari kota Paris.

Masjid Kota Carmona Yang Diubah Menjadi Gereja



MASJID CARMONA, ialah termasuk salah satu masjid di Andalus yang dirampas dan dikonversi menjadi gereja (sekarang bernama: Church of Santa Maria).


Masjid ini berada di kota Carmona (30km dari Seville dan 90km dari Cordoba) yang pernah dikuasai oleh Banu Birzal atau Birzalides, salah satu Dinasti Thawaif bersuku Berber di Andalus abad ke-11M., kemudian beralih ke Dinasti Banu Abbad atau Abbadid, sampai diambil alih oleh Murabithun.


Setelah kota Carmona direbut oleh Fernando III pada tahun 1247, masjid pun dialihfungsikan menjadi gereja dan masih aktif sampai sekarang.




Konversi Hagia Sophia, Langkah Kosokbali Masjid Agung Seville Menjadi Katedral


Pada 1171-1172 M, Khalifah Abu Yaqub Yusuf bin Abdul Mu'min (w. 1184) dari Dinasti Almohad memerintahkan pembangunan masjid agung baru untuk kota Seville, Spanyol di ujung Selatan kota.


Sejak masa pemerintahan Dinasti Almovarid tahun 1091, Seville telah menjadi kota yang sangat sibuk dan sebagai pusat dari banyak bidang kehidupan, mulai dari keagamaan, ilmu pengetahuan, ekonomi, hingga budaya.


Tak heran, banyak kitab-kitab biografi ulama Andalus seperti "Fihrist ibn Khair al-Isybili" sering menyebutkan adanya kegiatan pengajian dan transfer ilmu agama, serta banyak ulama hadits yang mengambil sanadnya di kota dan masjid ini.


Minaret masjid Seville bergaya almohad yang dikenal dengan nama Giralda itu pada mulanya dibangun persis seperti menara Koutubia di Marrakech dan menara Hassan di Rabat, sedangkan tingginya melebihi kedua masjid tersebut, bahkan melebihi tinggi menara masjid Cordoba.


Hingga kota Seville direbut oleh pasukan Kristen pimpinan Ferdinand III dari Kastila di tahun 1248, masjid itu dikonversi menjadi katedral gotik kota. Orientasinya diubah, ruang-ruangnya dipartisi dan didekorasi agar sesuai dengan praktik ibadah Kristen.


Masjid yang sebelumnya bernama Masjid Agung Seville (Bahasa Arab: جامع إشبيلية الأعظم) pun berubah nama menjadi The Cathedral of Saint Mary, atau akrab dikenal Cathedral of Seville.


Mulai tahun 1434, bangunan ini direnovasi hingga menjadi bangunan paling megah dan besar, seperti yang masyhur di kalangan masyakarat Seville bahwa seorang anggota katedral pernah berkata: "Hagamos una Iglesia tan hermosa y tan grandiosa que los que la vieren labrada nos tengan por locos", artinya: "Mari kita bangun sebuah gereja yang begitu indah dan megah sehingga mereka yang melihatnya menganggap bahwa kita gila".


Pembangunan pun dilakukan sampai berubah menjadi katedral terbesar di dunia, saat itu mengalahkan Hagia Sophia di Istanbul.


Mencermati kontroversi yang sedang bergaung saat ini terkait konversi Hagia Sophia menjadi masjid, hal itu bukan lah kasus perdana, Eropa sendiri menjadi saksi bisu peristiwa alihfungsi ratusan gereja menjadi masjid sebab sepi pengunjung pemeluknya sendiri, justru kalau berdalih bahwa Hagia Sophia adalah milik umat kristiani dan tidak layak untuk diubah fungsi menjadi masjid, sampai-sampai keuskupan AS menetapkan tanggal 24 Juli sebagai hari berkabung akibat konversi tersebut, maka peristiwa menyedihkan yang terjadi di Andalus dapat menjatuhkan dan membungkam argumen mereka. Ribuan masjid milik umat muslim Spanyol yang dialihfungsikan menjadi gereja dan katedral oleh penguasa Katolik, tapi umat Islam hanya tutup mulut dan menerima takdir siklus sejarah. Diantaranya kemudian diubah menjadi museum seperti masjid Cordoba, sementara banyak lainnya masih aktif berstatus gereja gotik seperti Cathedral of Saint Mary, bekas masjid agung kota Seville. Sebab itu menurut hemat penulis, politik dan penguasa akan selalu berperan dalam kepentingan negaranya, dan yang pasti tidak layak bagi awam berkomentar tanpa landasan, karena sentimen agama akan selalu dikedepankan oleh oknum-oknum internal maupun eksternal yang mengintervensi.


Lihatlah bagaimana masjid agung kota ini dikonversi, sampai-sampai tidak berbekas dan menghilangkan rekam bentuk aslinya:






Gérard de Crémone, Penerjemah 80 Buku Sains Berbahasa Arab Aset Berharga Andalus ke Dalam Bahasa Latin


Sekolah Penerjemah Toledo (Bahasa Spanyol: Escuela de Traductores de Toledo) adalah sebuah lembaga atau yayasan bagi kelompok cendekiawan yang didirikan selama abad ke-12 dan ke-13 Masehi oleh Raimundo de Sauvetat, uskup agung di kota Toledo (طليطلة baca: thulaithulah) untuk bekerja sama dalam menerjemahkan banyak karya filosofis dan ilmiah dari Bahasa Arab Klasik.

Pada awal abad ke-12 M., sains Eropa sangat tertinggal dari sains Arab, dan produksi teks-teks yang ditulis dalam bahasa Arab oleh para sarjana Andalusia menyebar ke kota-kota utara Spanyol termasuk ke Toledo. Ilmu pengetahuan Arab sejak akhir abad ke-8 telah diuntungkan dengan kekayaan literatur Yunani yang mereka temui ketika menaklukkan Damaskus dan kota-kota lain di Mesir, Suriah dan Irak. Di antara teks-teks tersebut adalah karya-karya ilmiah milik Ptolemy, sejumlah karya filosofis Aristoteles dan Plato, beragam karya tentang geometri oleh Euclid dan tentang obat-obatan oleh Galen. Ilmu pengetahuan Arab juga mendapat manfaat dari berbagai kontak dan pertukaran keilmuwan dengan Kekaisaran Bizantium, para cendekiawan dan ahli matematika dari India dan Persia. Utamanya, karya-karya medis dan filsafat Ibn Sina (Avicenna) dan Ibn Rushd (Averroes) yang telah memegang pengaruh besar terhadap filsafat dan teologi Eropa abad ke-12 dan ke-13.

Banyak penerjemah bekerja di Toledo dan teks-teks terjemahan mereka menyebar ke berbagai universitas di Italia dan Prancis kala itu. Pusat terjemahan ditempatkan di Katedral Toledo yang terdapat dalam gambar di bawah ini:

 

Photo: Katedral Toledo, yang menjadi rumah bagi Sekolah Terjemahan Toledo pada pertengahan abad ke-12.


 

Salah seorang penerjemah yang dikreditkan sebagai salah satu penerjemah terkemuka pada akhir abad ke-12 asal Italia adalah Gérard de Crémone. Ia tiba di Toledo pada tahun 1167, konon untuk menemukan salinan Ptolemy Almagest, katalog pengetahuan ilmiah Yunani kuno. Pada saat kedatangan, ia awalnya harus mengandalkan Mozarabs (Bahasa Arab: مستعرب, orang Kristen zimi yang pernah hidup dan berintegrasi dengan budaya Arab dibawah pemerintahan penguasa Muslim) dan Yahudi untuk menerjemahkan buku-buku yang ia cari, sebab ia tidak tahu Bahasa Arab. Namun, lambat laun ia dapat menguasai bahasa Arab dan mulai menyusun hingga menerjemahkan banyak literatur Arab ke dalam bahasa Latin. Diketahui, ia telah menerjemahkan lebih dari 80 buku berbahasa Arab tentang sains. 

 

Di antara banyak terjemahannya adalah sebagai berikut:

1.    Almagest karya Ptolemy, ialah sebuah risalah astronomi yang mengemukakan gerakan kompleks bintang-bintang dan lintasan planet

2.    Analisis Posterior (Posterior Analytics), Fisika, the Heavens and the World, Generation and Corruption, dan Meteorologi karya Aristoteles

3.   Aljabar dan Almucabala, teori matematika karya Al-Khawarizmi

4.  Tentang Pengukuran Lingkaran (the Measurement of the Circle) karya Archimedes

5.    Elemen Geometri karya Euclid

6.    Elementa astronomica karya Jabir ibn Aflah

7.    Optik karya Al-Kindi

8.    Elements of Astronomy on the Celestial Motionstentang astronomi karya Al-Farghani

9.    Klasifikasi Ilmu Pengetahuan (Classification of the Sciences) karya Al-Farabi

10. Kimia dan Medis karya al-Razi (Rhazes)

11. Liber ad Almansorem, Liber Divisionum, Pengantar dalam medicinam, De egritudinibus iuncturarum, Antidotarium dan Practica puerorum karya al-Razi (Rhazes)

12. De elementis dan De definitionibus karya Isaac Israeli ben Solomon, seorang filsuf Yahudi

13. Al-Tasrif as Chirurgia karya Al-Zahrawi (Abulcasis)

14. The Canon of Medicine as Liber Canonis karya Ibnu Sina (Avicenna), dll.


Referensi:

de Navarre, Marguerite. 1894 (1558). The Heptameron of the Tales. Vol. 1 of 5. London: The Society of EnglishBibliophilists. http://www.gutenberg.org/files/17701/17701-h/17701-h.htm.

IBNU FIRNAS, Bapak Penerbangan dan Pencipta Teori Ornithopter Dari Andalus


        Pada awal abad ke-9 M., seorang sarjana Muslim bernama ‘Abbas Ibn Firnas memelopori studi penerbangan. Ibnu Firnas menemukan alat peluncur yang berhasil mengudara selama beberapa saat. Meskipun ia terluka parah saat pendaratan buruk, ia berhasil memelopori teori tentang struktur ornithopter yang merupakan komponen penting untuk stabilitas pesawat selama pendaratan. Artikel ini mengungkap sejarah awal penerbangan mulai dari periode awal zaman keemasan Islam hingga abad ke-20 Masehi yang telah menyaksikan upaya Barat dalam memperkenalkan mesin di pesawat terbang. Penemuan ornithopter oleh ‘Abbas Ibn Firnas telah mengilhami Barat untuk lebih mengembangkan teknologi penerbangan sehingga memengaruhi metode penerbangan modern. Karena itu, tentu saja Ibnu Firnas harus diakui sebagai 'bapak bidang penerbangan' dan aviator pertama di dunia karena kontribusinya yang tak ternilai bagi bidang kontemporer teknologi penerbangan dunia.

 

Latar Belakang Ibnu Firnas

Abu al-Qasim ‘Abbas Ibnu Firnas Ibnu Wardus, juga dikenal sebagai Ibnu Firnas, adalah keturunan Berber yang lahir pada 810 M di Izn-Ran Onda atau sekarang dikenal kota Ronda, Spanyol (The Encyclopaedia of Islam, 1986). Meskipun Ibn Firnas adalah penduduk asli Ronda, ia bermigrasi ke Cordoba untuk mengejar pengetahuan. Hasratnya akan pengetahuan membuatnya meninggalkan kampung halamannya. 

Selain itu, Ibnu Firnas juga telah melakukan perjalanan ke Irak untuk beberapa waktu sebelum kembali ke rumah (Mahayudin Yahaya, 1986). Seperti yang diketahui secara umum, kota Baghdad, terkenal dengan pusat pengetahuannya, yaitu Dar al-Hikmah, yang merupakan rumah bagi sejumlah besar ilmuwan, ilmuwan, penulis, penyair, seniman dan pengrajin Islam (Cavendish, M., 2011). Di sanalah Ibnu Firnas mempelajari berbagai pengetahuan dan menguasai banyak studi seperti astrologi, astronomi, teknik dan musik.

Semangat Ibnu Firnas sejak masa kanak-kanaknya dengan ilmu fisika, kimia, astronomi, dan sastra menarik perhatian pangeran Umayyah, Abdul Rahman II sehingga membuka pintu istananya agar Ibnu Firnas dapat mengajar para pangeran. Disebutkan bahwa ia telah mengajar di istana selama lebih dari 30 tahun.

         Sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa Ibnu Firnas wafat pada tahun 887 M di era pemerintahan al-Mundhir (al-Maqqari, Ahmed Ibn Muhammed, 1840).

 

Pelopor di Bidang Penerbangan

Banyak sumber menyatakan bahwa ‘Abbas Ibn Firnas adalah orang pertama yang terbang (Palencia, Angel K., 1945; Hitti, P.K., 1964). Fakta ini juga diakui oleh seorang sarjana Barat, Phillip K. Hitti, yang mempelajari dunia Arab. Dalam bukunya yang berjudul “History of the Arabs: From the Early Times to the Present”, ia menyatakan bahwa: "Ibnu Firnas adalah orang pertama dalam sejarah yang melakukan upaya ilmiah untuk terbang".

Sejauh kontribusi Ibnu Firnas dalam penerbangan, jelas bahwa ia mulai menciptakan perangkat terbang yang memungkinkannya terbang dari satu tempat ke tempat lain pada 875 M. Perangkat terbang ini, terbuat dari sutra dan bulu elang, mengharuskannya untuk berada di tempat yang lebih tinggi untuk lepaslandas, lalu ia pun berhasil terbang selama sepuluh menit meski setelah itu jatuh dan merusak luncurannya. Akibatnya, Ibn Firnas mengalami cedera punggung yang parah dan patah kakiSebab usia yang lanjut, dan kegagalan menyembuhkan kaki yang patah, mencegahnya mengulangi percobaan untuk ketiga kalinya.

 

Teori Ornithopter

Setelah kecelakaan saat percobaan penerbangan, Ibnu Firnas menyadari bahwa struktur ujung ekor adalah bagian penting untuk mendarat, dan ini mirip dengan bagaimana seekor burung menggunakan ekor untuk mengurangi kecepatannya. Struktur ini kemudian dinamai ornithopter oleh da Vinci (Scholz, M.P., 2007). Ornithopter adalah teori yang didirikan oleh Ibnu Firnas menggunakan glider (replika pesawat untuk uji coba) pertama kalinya setelah upaya meluncurkan dirinya sendiri. Teori ini dikonfirmasi dalam naskah yang ditulis oleh Roger Bacon, menguraikan tentang ekor yang dikenal sebagai ornithopter. Pada tahun 1260 M, Bacon menulis artikel yang menyebutkan bahwa salah satu metode untuk terbang adalah dengan menggunakan ornithopter. Diketahui, bahwa Bacon belajar di Cordoba, tempat bersejarah yang juga merupakan tempat Ibn Firnas berusaha terbang. Penjelasan Bacon dalam tulisannya tentang ornithopter bisa saja didasarkan pada naskah Ibn Firnas di Spanyol yang telah hilang tanpa jejak. Hilangnya bukti kuat yang menyebutkan Ibn Firnas sebagai pelopor dalam studi penerbangan menghalangi dunia untuk mengakui kontribusinya di ornithopter selama berabad-abad (White, L.J., 1961).

Jelas bahwa upayanya telah membuka pintu untuk studi penerbangan sementara mengungkapkan konsep ornithopter sebagai komponen pesawat vital dalam menjaga stabilitas saat mendarat. Pentingnya karya Ibnu Firnas memberi dampak besar bagi dunia, terutama di bidang studi penerbangan. Saat ini, semua pesawat modern dan canggih mendarat dengan struktur back-end terlebih dahulu. Sayangnya, luncuran Ibnu Firnas tidak memiliki ekor di punggungnya sehingga penerbangannya berakhir dengan tragis.

 

Kontinuitas Usaha Dalam Bidang Penerbangan

Setelah Ibnu Firnas meninggal dunia pada 887, banyak Muslim dan non-Muslim meneruskan upaya dalam bidang penerbangan. Diantaranya adalah Al-Juhari asal Turki, ia membuat sayap dari kayu dan tali pada 1007 M, lalu mencoba meluncur terbang dari menara Masjid Ulu setinggi 1.002 kaki. Namun, upayanya gagal dan mengakibatkan kecelakaan fatal.

Setelah itu, pada abad ke 11 M., seorang biarawan asal Malmesbury, Eilmer berusaha meluncur dari ketinggian 1.000 kaki. Upayanya dianggap sukses karena ia terbang dengan ketinggian 600 kaki. Namun, ia lupa menggunakan ekor saat mendarat, dan kegagalannya karena tidak mengambil pelajaran dari upaya Ibnu Firnas ini mengakibatkan kecelakaan parah dengan cedera dua kaki patah.

 

Penerbangan di Era Renaisans

Melihat kegagalan yang dialami oleh Al-Juhari dan Eilmer, upaya serupa dihentikan untuk sementara waktu. Namun percobaan yang menantang itu muncul kembali selama era Renaisans, lebih kurang 600 tahun setelah kematian Ibnu Firnas, terutama ketika Leonardo da Vinci menghasilkan beberapa sketsa mesin terbang. Sarjana Italia ini hanya berhasil membuat sketsa beberapa mesin terbang tetapi tidak dapat membuktikan bahwa perangkat itu dapat terbang atau tidak, karena ia belum pernah mencoba menerbangkannya.

Pada abad ke-19 M., yaitu 900 tahun setelah kematian Ibnu Firnas, ada upaya untuk terbang menggunakan sayap besar seperti yang dirancang oleh da Vinci di Eropa. Di antaranya adalah usaha seorang insinyur Jerman, Otto Lilienthal. Ia adalah seorang peluncur yang luar biasa saat itu. Lilienthal mempelajari beberapa aspek penerbangan seperti gaya angkat dari permukaan bumi, bentuk sayap, dan perbedaannya yang akan menghasilkan tekanan berbeda yang merupakan faktor penting bagi stabilitas penerbangan. Namun, selama upaya penerbangannya pada tahun 1896, angin tiba-tiba bertiup kencang dan ia tidak dapat mengendalikan luncurannya sehingga jatuh di daerah perbukitan Berlin. Karena kemalangan ini ia meninggal pada hari berikutnya.

Meluncur tanpa mesin berhasil diperluas lebih lanjut oleh Wright bersaudara sampai penemuan pesawat bertenaga mesin yang terbang 260 meter. Dua orang kakak beradik, Orville Wright (w. 1948) dan Wilbur Wright (w. 1912) dikenal hingga hari ini karena upaya pertama mereka untuk terbang pada tanggal 1 Desember 1903. Sejak itu, mereka dihargai atas desain dan perancangan pesawat terbang efektif untuk pertama kali. Kunci Wilbur Wright untuk ini adalah dengan mempelajari bagaimana burung terbang mirip dengan apa yang telah dilakukan Ibnu Firnas 1.000 tahun yang lalu. Wright menyadari bahwa seekor burung menjaga kestabilannya di udara atau ketika berbelok ke kiri atau kanan dengan mengubah posisi sayapnya. Sebelum membangun pesawat, Wright bersaudara menggunakan glider untuk menghindari kecelakaan.

Pada tahun 1908 Masehi, Wright bersaudara berdemonstrasi melakukan penerbangan di Prancis (Anderson, J.D., 2004) dan demonstrasi itu disaksikan oleh publik. Setahun kemudian, bidang penerbangan terus dikembangkan oleh Henri Farman dan Louis Bleriot. Keberhasilan demi keberhasilan telah dicapai melalui pengamatan dan analisis pada konsep penerbangan sambil melakukan perbaikan pada struktur pesawat sebelumnya. Dengan demikian, sejumlah penemuan alat terbang telah ditemukan seperti jet, roket dan pesawat ruang angkasa.

Dengan begitu, upaya Ibnu Firnas untuk terbang hingga melahirkan konsep ornithopter sebagai komponen utama dalam menjaga stabilitas penerbangan adalah dedikasi terbaik dari tokoh Andalusia yang telah menginspirasi Barat dan dunia modern, namun menjadi sejarah yang dilupakan oleh banyak kalangan yang khususnya anti Islam.

 

 

 

 

Referensi

al-Hassani, Salim T.S., 2006. 1001 Inventions: Muslim Heritage in Our World. Manchester: Foundation of Science, Technology and Civilization. 

al-Maqqari, Ahmed Ibn Muhammed, 1840. The history of the Mohammedan dynasties in Spain. London: Oriental Translation Library of the British Museum. 

al-Shahawi, Salah ‘Abd al-Sattar, 2011. Ibn Firnas: Awwal ra’id fada’ fi al-tarikh. http://www.hiramagazine.com /archives/title/555 

Anderson, J.D., 2004. Inventing Flight: The Wright Brothers & Their Predecessors. Baltimore: The John Hopkins University Press. 

Cavendish, M., 2011. Illustrated Dictionary of the Muslim World. New York: Marshall Cavendish Corp.

Hitti, Philip K., 1964. History of the Arabs: From the Earliest Times to the Present. London: Macmillan & Co. Ltd.

Mahayudin Yahaya, 1986. Ensiklopedia Sejarah Islam. Vol. 1. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia Press.

Maimun Aqsha Lubis. 2010. Tamadun Islam dan Peradaban Dunia. Bangi: Penerbit Awal Hijrah Sdn. Bhd. Masood, Ehsan. 2009. Sciences and Islam: A History. London: Icon Book Ltd.

Palencia, Angel G., 1945. Historia de la Literatura Arábigo-Española. Edisi 2, terjemah Husein Mu’nis: Tarikh al-Fikr al-Andalusi, (Cairo: Maktabah at-Tsaqafah ad-Diniyah, 2008).

Samsu Adabi Mamat, 2000. Ibn Firnas: Idea penerbangan pertama dunia Islam. Prosiding Seminar Ketokohan Cendekiawan Islam, pp. 108-116.

Scholz, M.P., 2007. Advanced NXT: The Da Vinci Inventions Book. New York: Apress.

The Encyclopaedia of Islam, 1986. Vol. 1. Leidin: E.J. Brill.

White, L.J., 1961. Eilmer of Malmesbury, an Eleventh Century aviator: A case study of technological innovation, its context and tradition. Technology and Culture, 2(2): 97-111.

“Atazir”, Selendang Kebanggaan Wanita Berber Afrika Utara


Di bidang dekorasi dan mode, sudah menjadi tradisi bagi wanita desa Jijel, Aljazair mengenakan selendang yang dibalut ke tubuh mereka. Hal ini diutarakan oleh beberapa penduduk Djurdjura dan Béjaia,merupakan dua kota terakhir di Aljazair yang mayoritas penduduknya adalah suku Amazigh.
Dalam Bahasa Amazigh, mereka menyebutnya “Atazir” (Bahasa Arab: الفوطة atau المنديل atau المنشفة), yaitu selembar kain yang dikenakan wanita dengan melilitkannya di tubuh mereka dari pinggang ke kaki, biasanya diwarnai dengan garis-garis vertikal paralel baik merah dan putih, atau merah dan hitam, atau putih dan merah, kadang-kadang putih dan biru. Pakaian itu dilengkapi ikat pinggang lebar melilit di sekeliling pinggang yang disebut “kurziyah”, dan setiap wanita dimahkotai dengan topi simpul rajut berwarna digantung di kepala, mereka menyebutnya “syasyiyah”.
Tapi, sejauh ini kebanyakan orang Aljazair tidak menyadari bahwa kostum tersebut  juga ditemukan di Andalus dan termasuk diantara mode yang disukai oleh para wanita Andalusia, terutama wanita-wanita pedesaan, lalu dibawa selama berimigrasi ke Pantai Barat Daya Mediterania; yaitu dari Maroko sampai ke Tunisia, melalui Aljazair.
Sampai saat ini, kostum atazir masih dipakai di kota-kota Maroko bagian Utara, dimana wilayah tersebut masih dihuni oleh keturunan bangsa Moor, seperti kota Tetouan, Chefchaouen, dan wilayah Jebala, termasuk suku Beni Ydder misalnya, setidaknya mereka masih memproduksi dan memasarkannya di daerah tersebut.
Ketika kita melihat wanita Chefchouan Maroko dengan kostum ini, kita akan menemukan kesamaan dengan para wanita di Djurdjura, Béjaia dan Jijel beberapa dekade yang lalu, termasuk juga di pulau Djerba dan wilayah Tunisia secara umum, yang masih tetap membekas jejak dan pengaruh budaya Andalusia, lebih karena kemiripan dalam mode berpakaian mereka, dari Samudera Atlantik hingga ke Teluk Sidra.

Kostum wanita Granada beberapa abad yang lalu
Foto wanita Albania awal abad ke-20 Masehi
Kostum yang dipakai wanita Aljazair
Foto Wanita Beni Ydder Maroko
Dipercaya foto tsb ialah
            wanita Kurdi dari Turki

MENGENAL Istilah Islam Andalus


 Sebagaimana yang tercatat dalam riwayat sejarah, lebih kurang 8 abad lamanya Islam pernah membentangkan sayap kekuasaan hingga semenanjung Iberia, yaitu mulai 711 M hingga 1492 M. Panji Islam berkibar di bumi Eropa, bahkan negara Spanyol yang kita kenal sekarang pernah melantunkan azan lima kali sehari di setiap masjid sudut kotanya. Peradaban yang maju dan berkembang awalnya disebabkan penaklukkan oleh umat Islam yang terdiri dari bangsa Arab dan Berber Afrika Utara. Tidak hanya itu, masa pendudukan kedua bangsa tersebut dalam waktu yang sangat lama di semenanjung Iberia memberi dampak perubahan istilah negara yang dimunculkan, yaitu Andalus.

Asal-usul Kata “Andalus” Dalam Riwayat Sejarah
Ada beberapa istilah yang disebutkan oleh sejarawan terdahulu untuk menyebut wilayah Spanyol atau semenanjung Iberia. Sejarawan Kristen menamakannya “Hispania” atau “Spania”, yang dimaksud adalah wilayah sebagian semenanjung Iberia baik yang tunduk kepada pemerintahan umat Islam Moor ataupun yang sudah terlepas dan direbut kembali oleh Kristen.
Sedangkan sejarawan Arab menyebut wilayah semenanjung Iberia yang tunduk kepada pemerintahan Islam dengan nama “بلاد الأندلس atau “Negeri Andalus”. Dengan begitu, jelas ketika berlangsung masa reconquista (perebutan kembali) oleh Kristen Spanyol, satu per satu wilayah Andalus telah berhasil direbut hingga menyisakan satu dinasti kecil di kota Granada pada akhir abad ke-15 M, maka hanya kota itu saja yang disebut dengan istilah Andalus.
Sebaliknya, sangat jarang sejarawan dan ahli geografi muslim menamakannya dengan istilah “Hispania”, kalaupun ada, maka yang dimaksudkan adalah hanya beberapa wilayah berikut: Portugal, Castilla, Navarre, dan Aragon.
Bagaimanapun, penggunaan istilah Andalus telah terjadi sejak awal penaklukkan yang dilakukan oleh bangsa Arab, yaitu saat mereka menemukan kepingan logam dinar pada 716 M, logam itu dipahat dua sisi, ialah sisi depan ditulis dengan Bahasa Latin yang bermakna “Dicetak di Hispania”, dan dalam makna yang sama di sisi belakang logam tersebut ditulis dengan Bahasa Arab “ضرب في الأندلس”.
Selain itu, penggunaan lafaz Andalusia tidak hanya mengacu pada wilayah yang dikuasai oleh umat Islam pada masa silam, melainkan dipakai juga hingga sekarang dengan sebutan “Andalucia”, yaitu sebutan untuk wilayah Selatan Spanyol: Granada, Malaga, Cordoba, Sevilla, Almeria, Jaén, Huelva dan Càdiz.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penyebutan lafaz Andalus sebagaimana yang sering disebutkan oleh bangsa Arab dari berbagai kalangan adalah wilayah semenanjung Iberia dibawah kendali Islam, dan orang Andalus ialah umat muslim yang hidup dan tinggal di daerah manapun di Sanyol, baik di Barat, Extremadura, Aragon bawah, maupun Levante.





Referensi:
  1. R. Menéndez Pidal: España del Cid, (Madrid: Espasa-Calpe S.A., 1967), hal. 72-3.
  2. E. Lévi Provençal: Historya de España; terj. Ali Abderrauf al-Bamba, Tarikh Isbaniyya al-Islamiyah, ed. 3, (Madrid, 1967), hal. 78.
  3. I. de Las Cagigas: Al-Andalus (unos datos y una pregunta), jilid IV, (1936), hal. 205.