BREAKING NEWS
latest

Advertisement
Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Banu Al-Bāji Al-Ishbīlī; Scholars of the Hadith School of Seville



KATEGORI BUKU:
Ilmu Hadits

JUDUL BUKU:

بنو الباجي الإشبيلي من أعلام مدرسة الحديث في إشبيلية

Banu Al-Bāji Al-Ishbīlī; Scholars of the Hadith School of Seville


TEMA:

Periwayatan Hadith di kota Seville, Andalusia-Spanyol

GENRE:
Islamic Studies, The Science of Hadith, History

PENULIS:
Azhari Mulyana

PENERBIT:
Dar al Athar for Publishing and Distribution, Cairo, Egypt, 2023

JUMLAH HALAMAN:

144 Halaman

ISBN:

978-977-741-189-9



Abstract :

When the matter in Andalusia had stabilized, the Muslim Scholars came from the East, Egypt and Kairouan. They are the reciters, voyagers, writers, and linguists, but Muhadith is rare. Their endeavors were not clearly shown until Baqi ibn Makhlad and Muhammad ibn Waddah came. Therefore, Andalusia became a House of Hadith. Although the revival of Hadith had spread to all of the cities and villages in Andalusia, the capital city and province had the biggest contributions, and the most important contribution was Seville, which is one of the most famous Andalusian cities participating in the development of the scientific movement. Seville was the capital of the state of Bani Abbad. Many of the Seville scholars had a great interest in the Sunnah of the Prophet; their endeavors subserve the noble Prophet’s Sunnah, and it is the role of the Bani al-Bāji of Seville. Many colleagues have conducted the scientific and the continuation of their chain of transmission from the predecessor, until the collapse of Andalusia. In this research, the researcher used the historical method, which is represented in a brief introduction to the Muhadith in Seville and Bani al-Bāji, and their writings in Hadith towards various mechanisms of description and analysis to give a clear description of the scientific surroundings of this family.

Keywords: Seville, Scholars of Hadith, The School of Hadith, Bani al-Bāji.


Keluarga Ilmiah Andalusia: Dalam Studi Onomastik-Biografis al-Andalus


Familias andalusíes begitu mewarnai kehidupan keilmuwan di kota-kota Andalus, ketika Islam telah menyebar ke seluruh Andalusia, Allah membukakan pintu hati rakyatnya, menggantikan kesombongan dengan pemahaman dan kebajikan, sehingga sekelompok orang Andalusia menerima berbagai pengetahuan Islam seperti ilmu tafsir, hadist, fikih, ushul fikih, dll.,


Setelah menjadi ulama, mereka mewarisi ilmunya kepada anak dan cucu, diurutkan dari kakek kepada ayah, ayah kepada anak, anak kepada cucu, dst., hingga berabad-abad.


Silsilah keilmuwan pendahulu ini kemudian disebut "Familias andalusíes (Bahasa Arab: البيوتات العلمية الأندلسية)" atau "Keluarga Ilmiah Andalusia" muncul di Cordoba, Seville, Granada, dan kota-kota terkenal lainnya di Spanyol Islam.


Contoh keluarga Andalusia dalam studi onomastik-biografis, seperti los Banū ´Ațiyya di Granada, atau keluarga ’Ațiyya, yang tiba di Andalus pada saat penaklukan, dan beberapa anggota keluarganya kemudian menjadi tokoh terkemuka di wilayah Granada di bidang budaya dan agama.


Tokoh terpenting dalam Bani Keluarga Ațiyya adalah Abū Bakr Gālib bin  'Abd al-Raḥmān (440-517 / 1049-1124), seorang penyair dan budayawan, dan putranya Abū Muḥammad Abd al-Haqq (480-541 / 1088-1147), adalah seorang hakim, penyair, dan ahli tafsir yang kita kenal dengan Ibnu ’Ațiyya.


Contoh lain seperti: Banu Qasi, Beni al Ahmar, Banu Hud, Banu Sid Buna, Banu Almanzor, Bani Meruán, Banu ’Āshim al-Tsaqafi,Bani Birzal, Banu Aflah, Banu Shumadih, Banu Baji, dll.

Gérard de Crémone, Penerjemah 80 Buku Sains Berbahasa Arab Aset Berharga Andalus ke Dalam Bahasa Latin


Sekolah Penerjemah Toledo (Bahasa Spanyol: Escuela de Traductores de Toledo) adalah sebuah lembaga atau yayasan bagi kelompok cendekiawan yang didirikan selama abad ke-12 dan ke-13 Masehi oleh Raimundo de Sauvetat, uskup agung di kota Toledo (طليطلة baca: thulaithulah) untuk bekerja sama dalam menerjemahkan banyak karya filosofis dan ilmiah dari Bahasa Arab Klasik.

Pada awal abad ke-12 M., sains Eropa sangat tertinggal dari sains Arab, dan produksi teks-teks yang ditulis dalam bahasa Arab oleh para sarjana Andalusia menyebar ke kota-kota utara Spanyol termasuk ke Toledo. Ilmu pengetahuan Arab sejak akhir abad ke-8 telah diuntungkan dengan kekayaan literatur Yunani yang mereka temui ketika menaklukkan Damaskus dan kota-kota lain di Mesir, Suriah dan Irak. Di antara teks-teks tersebut adalah karya-karya ilmiah milik Ptolemy, sejumlah karya filosofis Aristoteles dan Plato, beragam karya tentang geometri oleh Euclid dan tentang obat-obatan oleh Galen. Ilmu pengetahuan Arab juga mendapat manfaat dari berbagai kontak dan pertukaran keilmuwan dengan Kekaisaran Bizantium, para cendekiawan dan ahli matematika dari India dan Persia. Utamanya, karya-karya medis dan filsafat Ibn Sina (Avicenna) dan Ibn Rushd (Averroes) yang telah memegang pengaruh besar terhadap filsafat dan teologi Eropa abad ke-12 dan ke-13.

Banyak penerjemah bekerja di Toledo dan teks-teks terjemahan mereka menyebar ke berbagai universitas di Italia dan Prancis kala itu. Pusat terjemahan ditempatkan di Katedral Toledo yang terdapat dalam gambar di bawah ini:

 

Photo: Katedral Toledo, yang menjadi rumah bagi Sekolah Terjemahan Toledo pada pertengahan abad ke-12.


 

Salah seorang penerjemah yang dikreditkan sebagai salah satu penerjemah terkemuka pada akhir abad ke-12 asal Italia adalah Gérard de Crémone. Ia tiba di Toledo pada tahun 1167, konon untuk menemukan salinan Ptolemy Almagest, katalog pengetahuan ilmiah Yunani kuno. Pada saat kedatangan, ia awalnya harus mengandalkan Mozarabs (Bahasa Arab: مستعرب, orang Kristen zimi yang pernah hidup dan berintegrasi dengan budaya Arab dibawah pemerintahan penguasa Muslim) dan Yahudi untuk menerjemahkan buku-buku yang ia cari, sebab ia tidak tahu Bahasa Arab. Namun, lambat laun ia dapat menguasai bahasa Arab dan mulai menyusun hingga menerjemahkan banyak literatur Arab ke dalam bahasa Latin. Diketahui, ia telah menerjemahkan lebih dari 80 buku berbahasa Arab tentang sains. 

 

Di antara banyak terjemahannya adalah sebagai berikut:

1.    Almagest karya Ptolemy, ialah sebuah risalah astronomi yang mengemukakan gerakan kompleks bintang-bintang dan lintasan planet

2.    Analisis Posterior (Posterior Analytics), Fisika, the Heavens and the World, Generation and Corruption, dan Meteorologi karya Aristoteles

3.   Aljabar dan Almucabala, teori matematika karya Al-Khawarizmi

4.  Tentang Pengukuran Lingkaran (the Measurement of the Circle) karya Archimedes

5.    Elemen Geometri karya Euclid

6.    Elementa astronomica karya Jabir ibn Aflah

7.    Optik karya Al-Kindi

8.    Elements of Astronomy on the Celestial Motionstentang astronomi karya Al-Farghani

9.    Klasifikasi Ilmu Pengetahuan (Classification of the Sciences) karya Al-Farabi

10. Kimia dan Medis karya al-Razi (Rhazes)

11. Liber ad Almansorem, Liber Divisionum, Pengantar dalam medicinam, De egritudinibus iuncturarum, Antidotarium dan Practica puerorum karya al-Razi (Rhazes)

12. De elementis dan De definitionibus karya Isaac Israeli ben Solomon, seorang filsuf Yahudi

13. Al-Tasrif as Chirurgia karya Al-Zahrawi (Abulcasis)

14. The Canon of Medicine as Liber Canonis karya Ibnu Sina (Avicenna), dll.


Referensi:

de Navarre, Marguerite. 1894 (1558). The Heptameron of the Tales. Vol. 1 of 5. London: The Society of EnglishBibliophilists. http://www.gutenberg.org/files/17701/17701-h/17701-h.htm.

IBNU FIRNAS, Bapak Penerbangan dan Pencipta Teori Ornithopter Dari Andalus


        Pada awal abad ke-9 M., seorang sarjana Muslim bernama ‘Abbas Ibn Firnas memelopori studi penerbangan. Ibnu Firnas menemukan alat peluncur yang berhasil mengudara selama beberapa saat. Meskipun ia terluka parah saat pendaratan buruk, ia berhasil memelopori teori tentang struktur ornithopter yang merupakan komponen penting untuk stabilitas pesawat selama pendaratan. Artikel ini mengungkap sejarah awal penerbangan mulai dari periode awal zaman keemasan Islam hingga abad ke-20 Masehi yang telah menyaksikan upaya Barat dalam memperkenalkan mesin di pesawat terbang. Penemuan ornithopter oleh ‘Abbas Ibn Firnas telah mengilhami Barat untuk lebih mengembangkan teknologi penerbangan sehingga memengaruhi metode penerbangan modern. Karena itu, tentu saja Ibnu Firnas harus diakui sebagai 'bapak bidang penerbangan' dan aviator pertama di dunia karena kontribusinya yang tak ternilai bagi bidang kontemporer teknologi penerbangan dunia.

 

Latar Belakang Ibnu Firnas

Abu al-Qasim ‘Abbas Ibnu Firnas Ibnu Wardus, juga dikenal sebagai Ibnu Firnas, adalah keturunan Berber yang lahir pada 810 M di Izn-Ran Onda atau sekarang dikenal kota Ronda, Spanyol (The Encyclopaedia of Islam, 1986). Meskipun Ibn Firnas adalah penduduk asli Ronda, ia bermigrasi ke Cordoba untuk mengejar pengetahuan. Hasratnya akan pengetahuan membuatnya meninggalkan kampung halamannya. 

Selain itu, Ibnu Firnas juga telah melakukan perjalanan ke Irak untuk beberapa waktu sebelum kembali ke rumah (Mahayudin Yahaya, 1986). Seperti yang diketahui secara umum, kota Baghdad, terkenal dengan pusat pengetahuannya, yaitu Dar al-Hikmah, yang merupakan rumah bagi sejumlah besar ilmuwan, ilmuwan, penulis, penyair, seniman dan pengrajin Islam (Cavendish, M., 2011). Di sanalah Ibnu Firnas mempelajari berbagai pengetahuan dan menguasai banyak studi seperti astrologi, astronomi, teknik dan musik.

Semangat Ibnu Firnas sejak masa kanak-kanaknya dengan ilmu fisika, kimia, astronomi, dan sastra menarik perhatian pangeran Umayyah, Abdul Rahman II sehingga membuka pintu istananya agar Ibnu Firnas dapat mengajar para pangeran. Disebutkan bahwa ia telah mengajar di istana selama lebih dari 30 tahun.

         Sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa Ibnu Firnas wafat pada tahun 887 M di era pemerintahan al-Mundhir (al-Maqqari, Ahmed Ibn Muhammed, 1840).

 

Pelopor di Bidang Penerbangan

Banyak sumber menyatakan bahwa ‘Abbas Ibn Firnas adalah orang pertama yang terbang (Palencia, Angel K., 1945; Hitti, P.K., 1964). Fakta ini juga diakui oleh seorang sarjana Barat, Phillip K. Hitti, yang mempelajari dunia Arab. Dalam bukunya yang berjudul “History of the Arabs: From the Early Times to the Present”, ia menyatakan bahwa: "Ibnu Firnas adalah orang pertama dalam sejarah yang melakukan upaya ilmiah untuk terbang".

Sejauh kontribusi Ibnu Firnas dalam penerbangan, jelas bahwa ia mulai menciptakan perangkat terbang yang memungkinkannya terbang dari satu tempat ke tempat lain pada 875 M. Perangkat terbang ini, terbuat dari sutra dan bulu elang, mengharuskannya untuk berada di tempat yang lebih tinggi untuk lepaslandas, lalu ia pun berhasil terbang selama sepuluh menit meski setelah itu jatuh dan merusak luncurannya. Akibatnya, Ibn Firnas mengalami cedera punggung yang parah dan patah kakiSebab usia yang lanjut, dan kegagalan menyembuhkan kaki yang patah, mencegahnya mengulangi percobaan untuk ketiga kalinya.

 

Teori Ornithopter

Setelah kecelakaan saat percobaan penerbangan, Ibnu Firnas menyadari bahwa struktur ujung ekor adalah bagian penting untuk mendarat, dan ini mirip dengan bagaimana seekor burung menggunakan ekor untuk mengurangi kecepatannya. Struktur ini kemudian dinamai ornithopter oleh da Vinci (Scholz, M.P., 2007). Ornithopter adalah teori yang didirikan oleh Ibnu Firnas menggunakan glider (replika pesawat untuk uji coba) pertama kalinya setelah upaya meluncurkan dirinya sendiri. Teori ini dikonfirmasi dalam naskah yang ditulis oleh Roger Bacon, menguraikan tentang ekor yang dikenal sebagai ornithopter. Pada tahun 1260 M, Bacon menulis artikel yang menyebutkan bahwa salah satu metode untuk terbang adalah dengan menggunakan ornithopter. Diketahui, bahwa Bacon belajar di Cordoba, tempat bersejarah yang juga merupakan tempat Ibn Firnas berusaha terbang. Penjelasan Bacon dalam tulisannya tentang ornithopter bisa saja didasarkan pada naskah Ibn Firnas di Spanyol yang telah hilang tanpa jejak. Hilangnya bukti kuat yang menyebutkan Ibn Firnas sebagai pelopor dalam studi penerbangan menghalangi dunia untuk mengakui kontribusinya di ornithopter selama berabad-abad (White, L.J., 1961).

Jelas bahwa upayanya telah membuka pintu untuk studi penerbangan sementara mengungkapkan konsep ornithopter sebagai komponen pesawat vital dalam menjaga stabilitas saat mendarat. Pentingnya karya Ibnu Firnas memberi dampak besar bagi dunia, terutama di bidang studi penerbangan. Saat ini, semua pesawat modern dan canggih mendarat dengan struktur back-end terlebih dahulu. Sayangnya, luncuran Ibnu Firnas tidak memiliki ekor di punggungnya sehingga penerbangannya berakhir dengan tragis.

 

Kontinuitas Usaha Dalam Bidang Penerbangan

Setelah Ibnu Firnas meninggal dunia pada 887, banyak Muslim dan non-Muslim meneruskan upaya dalam bidang penerbangan. Diantaranya adalah Al-Juhari asal Turki, ia membuat sayap dari kayu dan tali pada 1007 M, lalu mencoba meluncur terbang dari menara Masjid Ulu setinggi 1.002 kaki. Namun, upayanya gagal dan mengakibatkan kecelakaan fatal.

Setelah itu, pada abad ke 11 M., seorang biarawan asal Malmesbury, Eilmer berusaha meluncur dari ketinggian 1.000 kaki. Upayanya dianggap sukses karena ia terbang dengan ketinggian 600 kaki. Namun, ia lupa menggunakan ekor saat mendarat, dan kegagalannya karena tidak mengambil pelajaran dari upaya Ibnu Firnas ini mengakibatkan kecelakaan parah dengan cedera dua kaki patah.

 

Penerbangan di Era Renaisans

Melihat kegagalan yang dialami oleh Al-Juhari dan Eilmer, upaya serupa dihentikan untuk sementara waktu. Namun percobaan yang menantang itu muncul kembali selama era Renaisans, lebih kurang 600 tahun setelah kematian Ibnu Firnas, terutama ketika Leonardo da Vinci menghasilkan beberapa sketsa mesin terbang. Sarjana Italia ini hanya berhasil membuat sketsa beberapa mesin terbang tetapi tidak dapat membuktikan bahwa perangkat itu dapat terbang atau tidak, karena ia belum pernah mencoba menerbangkannya.

Pada abad ke-19 M., yaitu 900 tahun setelah kematian Ibnu Firnas, ada upaya untuk terbang menggunakan sayap besar seperti yang dirancang oleh da Vinci di Eropa. Di antaranya adalah usaha seorang insinyur Jerman, Otto Lilienthal. Ia adalah seorang peluncur yang luar biasa saat itu. Lilienthal mempelajari beberapa aspek penerbangan seperti gaya angkat dari permukaan bumi, bentuk sayap, dan perbedaannya yang akan menghasilkan tekanan berbeda yang merupakan faktor penting bagi stabilitas penerbangan. Namun, selama upaya penerbangannya pada tahun 1896, angin tiba-tiba bertiup kencang dan ia tidak dapat mengendalikan luncurannya sehingga jatuh di daerah perbukitan Berlin. Karena kemalangan ini ia meninggal pada hari berikutnya.

Meluncur tanpa mesin berhasil diperluas lebih lanjut oleh Wright bersaudara sampai penemuan pesawat bertenaga mesin yang terbang 260 meter. Dua orang kakak beradik, Orville Wright (w. 1948) dan Wilbur Wright (w. 1912) dikenal hingga hari ini karena upaya pertama mereka untuk terbang pada tanggal 1 Desember 1903. Sejak itu, mereka dihargai atas desain dan perancangan pesawat terbang efektif untuk pertama kali. Kunci Wilbur Wright untuk ini adalah dengan mempelajari bagaimana burung terbang mirip dengan apa yang telah dilakukan Ibnu Firnas 1.000 tahun yang lalu. Wright menyadari bahwa seekor burung menjaga kestabilannya di udara atau ketika berbelok ke kiri atau kanan dengan mengubah posisi sayapnya. Sebelum membangun pesawat, Wright bersaudara menggunakan glider untuk menghindari kecelakaan.

Pada tahun 1908 Masehi, Wright bersaudara berdemonstrasi melakukan penerbangan di Prancis (Anderson, J.D., 2004) dan demonstrasi itu disaksikan oleh publik. Setahun kemudian, bidang penerbangan terus dikembangkan oleh Henri Farman dan Louis Bleriot. Keberhasilan demi keberhasilan telah dicapai melalui pengamatan dan analisis pada konsep penerbangan sambil melakukan perbaikan pada struktur pesawat sebelumnya. Dengan demikian, sejumlah penemuan alat terbang telah ditemukan seperti jet, roket dan pesawat ruang angkasa.

Dengan begitu, upaya Ibnu Firnas untuk terbang hingga melahirkan konsep ornithopter sebagai komponen utama dalam menjaga stabilitas penerbangan adalah dedikasi terbaik dari tokoh Andalusia yang telah menginspirasi Barat dan dunia modern, namun menjadi sejarah yang dilupakan oleh banyak kalangan yang khususnya anti Islam.

 

 

 

 

Referensi

al-Hassani, Salim T.S., 2006. 1001 Inventions: Muslim Heritage in Our World. Manchester: Foundation of Science, Technology and Civilization. 

al-Maqqari, Ahmed Ibn Muhammed, 1840. The history of the Mohammedan dynasties in Spain. London: Oriental Translation Library of the British Museum. 

al-Shahawi, Salah ‘Abd al-Sattar, 2011. Ibn Firnas: Awwal ra’id fada’ fi al-tarikh. http://www.hiramagazine.com /archives/title/555 

Anderson, J.D., 2004. Inventing Flight: The Wright Brothers & Their Predecessors. Baltimore: The John Hopkins University Press. 

Cavendish, M., 2011. Illustrated Dictionary of the Muslim World. New York: Marshall Cavendish Corp.

Hitti, Philip K., 1964. History of the Arabs: From the Earliest Times to the Present. London: Macmillan & Co. Ltd.

Mahayudin Yahaya, 1986. Ensiklopedia Sejarah Islam. Vol. 1. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia Press.

Maimun Aqsha Lubis. 2010. Tamadun Islam dan Peradaban Dunia. Bangi: Penerbit Awal Hijrah Sdn. Bhd. Masood, Ehsan. 2009. Sciences and Islam: A History. London: Icon Book Ltd.

Palencia, Angel G., 1945. Historia de la Literatura Arábigo-Española. Edisi 2, terjemah Husein Mu’nis: Tarikh al-Fikr al-Andalusi, (Cairo: Maktabah at-Tsaqafah ad-Diniyah, 2008).

Samsu Adabi Mamat, 2000. Ibn Firnas: Idea penerbangan pertama dunia Islam. Prosiding Seminar Ketokohan Cendekiawan Islam, pp. 108-116.

Scholz, M.P., 2007. Advanced NXT: The Da Vinci Inventions Book. New York: Apress.

The Encyclopaedia of Islam, 1986. Vol. 1. Leidin: E.J. Brill.

White, L.J., 1961. Eilmer of Malmesbury, an Eleventh Century aviator: A case study of technological innovation, its context and tradition. Technology and Culture, 2(2): 97-111.

Ketegangan Etnis dan Teologis di Abad Pertengahan Al-Andalus (Pemikiran Syu'ubiyya Ibnu Gharsiya)

DEFINISI SYU’UBIYYA
Nama gerakan ini berasal dari penggunaan kata Al Quran yaitu “شعوب” (shu'ūb) berarti: bangsa.
Q.S Al-Hujurat: 13 sering digunakan oleh umat Islam untuk melawan prasangka diantara orang yang berbeda;
يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير

"Wahai manusia! Kami menciptakan kamu dari satu (pasangan) laki-laki dan perempuan, dan membuatmu menjadi bangsa (shu'ūb) dan suku (qabā'il), sehingga kamu dapat saling mengenal (bukan agar kamu saling membenci). Sesungguhnya orang yang paling terhormat bagimu di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui dan sangat teliti (dengan semua hal). " (Jamshidian Tehrani, Jafar. 2014: 3)
Syu’ubiyya dikenal sebagai gerakan yang mewakili perjuangan antara elemen Arab dan elemen non-Arab. Sebagai sentimen, gerakan ini berkembang pada awal periode Umayyah dan melewati tiga tahap:
1)    Tahap taswiyyah atau paritas, di mana Muslim non-Arab menganjurkan bahwa semua Muslim, dengan asal apa pun mereka berada, adalah sama dan sebaya; terlepas dari semua perbedaan sebelumnya, Islam telah membuat mereka semua sebagai saudara.
2)    Tahap tafdil atau preferensi, di mana orang-orang non-Arab menegaskan bahwa sejarah mereka di masa lalu lebih mulia daripada sejarah orang-orang Arab, dan jika bukan karena Islam, orang-orang Arab tidak akan mencapai kemuliaan yang sudah ada.
3)    Tahap syu'ubiyyah atau antagonisme rasial, di mana orang-orang non-Arab berusaha untuk menghancurkan dominasi Arab dan untuk memulihkan supremasi politik mereka sendiri yang telah hilang akibat ekspansi Arab di negeri-negeri peradaban kuno. (Omar A. Farrukh. 1964: 52-53)

SYU’UBIYYA Di IRAN
Ketika digunakan sebagai referensi untuk gerakan tertentu, istilah ini merupakan bentuk respon Muslim Persia terhadap Arabisasi Islam yang berkembang pada abad ke-9 dan ke-10 Masehi di Iran. Ini terutama berkaitan dengan pelestarian budaya dan melindungi identitas Persia. Dampak yang paling menonjol dari gerakan ini adalah kelangsungan hidup Bahasa Persia hingga saat ini. Namun, gerakan ini tidak pernah bergerak ke arah kemurtadan dan memiliki dasar dalam pemikiran Islam tentang persamaan ras dan bangsa.
Pada akhir abad ke-8 dan awal ke-9 M, terjadi kebangkitan identitas nasional Persia. Ini terjadi setelah bertahun-tahun penindasan oleh kekhalifahan Abbasiyah. Gerakan ini meninggalkan catatan besar dalam bentuk sastra Persia dan bentuk puisi baru. Sebagian besar yang berada di belakang gerakan ini adalah Persia, tetapi beberapa referensi menyebutkan bangsa Mesir, Berber, dan Aram. (Enderwitz, S, 1997: 513-14).

SYU’UBIYYA Di AL-ANDALUS
Dua abad setelah berakhirnya gerakan Syu'ubiyyah di timur, bentuk lain dari gerakan ini muncul di Spanyol Islam dan dikendalikan oleh Muwallad atau Muladi (Muslim keturunan lokal atau campuran Arab, Berber, dan penduduk semenanjung Iberia yang tinggal di Andalus selama Abad Pertengahan). Hal itu dimotori terutama oleh Berber, termasuk diantaranya banyak kelompok budaya Eropa, seperti Galicia, Catalans, (dikenal pada waktu itu sebagai Frank), Calabrians dan Basques.
Sebuah contoh penting dari literatur Syu'ubi adalah surat (risalah) yang ditulis oleh penyair Andalusia, Ibnu Gharsiya. Namun, menurut Encyclopedia of Arab Literature, surat ini tidak terlalu penting, dan beberapa eksponennya cenderung mengulangi klise yang diadopsi dari Timur Islam sebelumnya, mis., Iran. (Max Diesenberger, 2003: 346)


KOMPOSISI ETNIS DAN RASIAL DI ANDALUS
Ciri khas masyarakat Andalus adalah keanekaragaman ras dan etnis penghuninya satu sama lain. Selain orang Arab dan Berber dari Afrika Utara yang masuk ke Andalus sebagai kekuatan militer pada saat penaklukan dan setelahnya, sebagian besar penduduknya terdiri dari penduduk lokal. Karena campuran orang Arab dengan penduduk asli dan kebijakan Islam yang dipromosikan oleh penguasa Umayyah, banyak penduduk lokal masuk Islam untuk mencapai status dan hak istimewa yang setara dengan orang Arab, kemudian mereka dikenal sebagai Musalama atau Mosalemah (neo-Muslim). Anak cucu keturunan Mosalemah disebut Muwallads. Secara bertahap, jumlah kelompok ini meningkat sedemikian rupa sehingga mereka membentuk populasi yang cukup besar dari penduduk Andalusia. Mereka adalah anggota masyarakat kelas menengah atau rendah dan sering menangani bidang pekerjaan pertanian atau industri. Selain itu, kebanyakan mereka menempati pinggiran kota atau daerah pedesaan.
Namun, beberapa penduduk setempat tidak memeluk Islam dan mempertahankan agama Kristen mereka. Orang Arab menyebut kelompok ini sebagai non-Arab. Secara bertahap, karena penyebaran Arabisme dan hubungan sosial antara orang Arab dan penduduk asli Andalusia, sejumlah besar orang non-Arab menerima bahasa Arab, budaya, dan adat istiadat umat Islam. Kelompok ini disebut sebagai Mozarabsatau Musta’rib dalam masyarakat Andalusia. Selama abad ke-9 dan ke-10 Masehi, populasi non-Arab di Andalusia menurun karena konversi ke Islam atau imigrasi ke kediaman Kristen Utara. Selain ras ini, kelompok lain yang memainkan peran penting dalam pengembangan pemikiran Syu'ubiyya di Andalus adalah Saqaliba, jumlah mereka meningkat selama masa pemerintahan Abdul Nasser (912-962 M) dan putranya, Al-Hakam II ( 962-972 AD).
Kehadiran berbagai elemen sosial yang beragam di komunitas Andalusia menyebabkan tekanan etnis-rasial. Yang memperburuk kompetisi rasial ini adalah kebijakan dan praktik diskriminatif orang Arab dan penguasa Umayyah terhadap masyarakat adat, terutama Muwallads yang merupakan populasi mayoritas Andalusia. Dengan masuk Islam, Muwallads menuntut persamaan hak dengan orang Arab.
Namun demikian, diskriminasi yang diberlakukan oleh penguasa Arab menghambat kemajuan sosial, ekonomi, dan politik. Kondisi tersebut diikuti oleh reaksi keras Muslim lokal dalam bentuk perjuangan bersenjata di awal, dan kemudian dalam bentuk kegiatan Syu'ubiyya melawan orang Arab, untuk mendapatkan hak-hak mereka yang hilang. (Ali Mir, 2016: 134)


RISALAH IBNU GHARSIYA
·      Tentang Ibnu Gharsiya
Abu ‘Amir ibnu Gharsiya, dilahirkan sebagai seorang Kristen di negara Basque (Euskadi). Ia ditangkap dan dibesarkan di bawah perlindungan dan pengawasan Mujahid al-Amiri (w. 1044 M). Setelah masuk Islam, ia memperoleh status dan posisi tinggi di pengadilan Mujahid dan ia pun mengambil alih posisi sebagai penulis naskah. Pada periode ini, ia menulis risalah tentang keunggulan dan keagungan non-Arab daripada Arab yang disebut-sebut sebagai teks Syu'ubiyya yang paling penting di Andalus.
Tulisan risalah itu bertepatan dengan penurunan pemerintahan Umayyah dan munculnya pemerintahan feodal non-Arab di Andalus. Kondisi ini memberikan dorongan tambahan bagi Ibnu Gharsiya untuk mengembangkan risalahnya dan deklarasi ketidakmampuan Arab dalam membangun keadilan sosial berbasis masyarakat.
Antara 1051 dan 1056 M, Ibnu Gharsiya menulis surat menentang kekuasaan Arab di Al-Andalus, yang secara bersamaan memuji dan memuliakan Muslim non-Arab, seperti Berber, mualaf Visigoth, Slavia dan Romawi. Namun karyanya itu tidak luput dari anotasi yang menyebutnya sebagai kekerasan, hinaan, dan serangan terhadap orang-orang Arab, bahkan bertentangan dengan tradisi yang berlaku.
Surat Ibnu Gharsiya membahas beberapa pertanyaan yang paling mendasar dan penting dalam komunitas Muslim Al-Andalus pada saat itu, seperti hubungan antara orang Arab dan Berber dengan Muwalladun. Ibnu Gharsiya menekankan bahwa interpretasi Islam yang baik juga harus bernilai bagi Muslim non-Arab. Surat ini melambangkan pengadopsian ideologi Syu'ubi Timur oleh banyak Muslim pribumi Andalusia, yang menentang eksklusivitas Arab.

·      Fragmen Risalah Ibnu Gharsiya
Risalah syu’ubi-nya (sekitar 1050 M) dengan keras mengkritik para penguasa Denia karena kesombongan etnis dan asal-usul mereka. Berikut adalah contoh fragmen yang terdapat dalam risalah Ibnu Gharsiya:

“Ibumu, hai orang Arab, adalah budak ibuku[1]. Jika Anda menyangkal ini, Anda akan dianggap tidak adil. Jangan berlagak baik, kami tidak pernah merawat monyet dan menenun mantel, tidak pula makan tumbuhan liar; tidak putus hubungan Anda dengan Hajar; Anda adalah budak dan pelayan...
[Orang-orang non-Arab] jelas, bukan penggembala unta atau penggali yang menggarap tanah; mereka raja besar, bukan pembakar kotoran unta untuk bahan bakar .... Orang-orang non-Arab ini adalah pejuang, bukan penjaga cabang-cabang palem atau penanam tunas palem ...
... minuman mereka adalah anggur, dan makanan mereka dipanggang, bukan seteguk kacang colocynth di padang pasir atau telur kadal yang diambil dari sarang mereka.”

(Monroe, 1970: 24)


KESIMPULAN
Pandangan beberapa peneliti Arab, bahwa melihat isu Syu'ubiyya di Andalus terbatas pada risalah Ibnu Gharsiya tampaknya tidak akurat, karena dalam konflik rasial dengan orang Arab, beberapa Muwallads seperti Alabasi, penyair, dan hakim Vashgh diberikan kesempatan untuk berkecimpung dalam struktur sosial dan politik pada masa pemerintahan Abdurrahman III dan putranya, Al-Hakam II. Namun, secara bertahap, dengan kelemahan pemerintahan Umayyah dan pembentukan negara-negara non-Arab, terutama Saqaliba di beberapa wilayah Andalus, pemikiran Syu'ubiyya Muwallads berubah dari mode pertahanan menjadi serangan, sindiran, dan ekspresi cacat orang Arab, sehingga memuncak dalam risalah Ibnu Gharsiya.


References:
       Ali, Muhammad Kurdi. Rasail al-Bulagha’, ed. 4, (Cairo, 1954).
    Ali Mir, Mohammad. “Shu’ubiyya Thoughts of Muwallads in Andalusia: The Causes and Contexts,” Journal of History Culture and Art Research. Vol. 5 (Karabuk University, 2016).
 Diesenberger, Max; Richard Corradini; Helmut Reimitz. The construction of communities in the early Middle Ages: texts, resources and artefacts. (Brill, 2003).
      Enderwitz, S. "Shu'ubiyya". Encyclopedia of Islam. Vol. IX (1997), pp. 513-14.
      Jamshidian Tehrani, Jafar. Shu’ubiyya: Independence Movements in Iran, (2014).
      Omar A. Farrukh, “Arabism: (A Concise And Objective History From 850 B.C. To Early 1963 A.C.),” Islamic Studies. Vol. III (Islamabad: International Islamic University, 1964).
      The Shu'ubiyya in al-Andalus. The risala of Ibn Garcia and five refutations (University of California Press 1970), translated with an introduction and notes by James T. Monroe.



[1] Ia menekankan penghinaan terhadap asal usul Arab sebagai keturunan Siti Hajar, ialah bekas budak Nabi Ibrahim dan istrinya Sarah. Pembahasan ini telah lama menjadi topik perdebatan lintas agama, bahkan antara Muslim Arab dan Muslim non-Arab, daripadanya muncul banyak cerita yang mendiskreditkan Siti Hajar. Seperti, turunan Bani Israil menganggap diri mereka lebih mulia dan terhormat karena lahir dari istri yang sah, yaitu Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim yang beretnik Israel, sedangkan Nabi Ismail lahir dari ibu mantan budak. Padahal, Allah telah memuliakan Siti Hajar dan mengangkat derajatnya hingga menjadi ibu dari Nabi Ismail dan Nabi Muhammad SAW, seperti yang diutarakan oleh Ibnu Qutaybah dalam risalahnya “Kitab al-Arab” atau “Ar-Radd ‘ala as-Syu’ubiyyah”. Lihat: Ali, Muhammad Kurdi. Rasail al-Bulagha’, (Cairo, 1954), h. 352.