BREAKING NEWS
latest

Advertisement
Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Belajar Melayani dari Balik Pintu-Pintu Hotel Makkah


Ada pengalaman yang mungkin tidak terlihat oleh jemaah haji.

Ketika sebagian besar jemaah sibuk mempersiapkan diri untuk beribadah, berjalan menuju Masjidil Haram, atau mempersiapkan rangkaian Armuzna, ada orang-orang yang bekerja di balik layar untuk memastikan satu hal sederhana: ketika jemaah kembali ke hotel, mereka memiliki tempat untuk beristirahat dengan layak.

Tahun 2026, aku mendapat kesempatan menjadi bagian dari PPIH Arab Saudi 1447 H/2026 M, pada Tugas dan Fungsi Akomodasi Sektor 2 Daerah Kerja Makkah, di bawah kepemimpinan Bpk. Abidzar Espana Ramadhan sebagai Kepala Sektor, dan Bpk. Muhammad Andi Taufik sebagai Sekretarisnya.

Awalnya mungkin terdengar sederhana: mengurus hotel jemaah. Namun setelah menjalaninya selama 2 bulan penuh, aku sadar bahwa akomodasi bukan sekadar urusan kamar dan tempat tidur. Ia menyangkut kenyamanan, keamanan, kesehatan, mobilitas, bahkan ketenangan jemaah dalam menjalankan ibadah.


Meniti Amanah di Antara Pintu-Pintu Hotel

Sektor 2 Makkah memiliki 22 hotel yang menjadi bagian dari layanan akomodasi jemaah. Sebelum jemaah datang, pekerjaan sudah dimulai.

Kami harus memastikan kesiapan hotel: memeriksa kamar, lift, air, listrik, kapasitas kamar, lobi, sanitasi, hingga akses keluar-masuk hotel. Kami juga harus memastikan konfigurasi penempatan jemaah sesuai data dan rombongan. Bahkan hal yang terlihat kecil seperti label kamar, daftar nama jemaah per kamar, pencocokan manifest, hingga pembagian kunci kepada ketua rombongan (Karom) harus dipersiapkan dengan teliti. Sebab satu kesalahan kecil dalam penempatan bisa berarti masalah besar ketika ribuan jemaah tiba secara bersamaan.

Pada Gelombang I saja, Sektor 2 Makkah melayani 35 kloter dengan 13.870 jemaah yang ditempatkan di 15 hotel. Sementara Gelombang II, terdapat 15 kloter dengan 5.384 jemaah yang ditempatkan di 12 hotel. Di atas kertas angka-angka itu terlihat seperti statistik. Tetapi di lapangan, angka tersebut berubah menjadi wajah.

Dan uniknya, petugas akomodasi di sektor 2 Makkah (yang hanya berjumlah 20 orang saja), wajib membagi tugas menjadi PIC hotel, sehingga 1 orang bertanggung jawab atas 1 hotel, bahkan ada yang 2 hotel. Mereka melayani setiap kebutuhan akomodasi, menanggapi, dan mencarikan solusi atas setiap kendala dan masalah yang muncul. Ya, di sini penting sekali komunikasi dan koordinasi intens dengan petugas hotel, yang notabene mereka adalah warga lokal Arab Saudi, sudah tidak bisa berbahasa Indonesia, kadang juga malas menanggapi keluhan. Bahkan, aku sebagai alumni Timur Tengah pun, tidak sepenuhnya memahami bahasa mereka karena dominan menggunakan 'amiyah lokal Saudi. Sering terjadi kesalahpahaman itu pasti.

Ada bapak-bapak lanjut usia yang membutuhkan bantuan. Ada ibu-ibu yang kebingungan mencari kamar. Ada jemaah yang baru tiba setelah perjalanan panjang. Ada ketua rombongan yang harus memastikan seluruh anggotanya mendapatkan kamar.

Di situlah aku mulai memahami bahwa pekerjaan ini bukan hanya tentang hotel. Ini tentang manusia.

Antara Harapan dan Kenyataan

Menjadi petugas akomodasi juga berarti harus siap menemukan kenyataan yang tidak selalu sesuai dengan harapan.

Dalam pemeriksaan dan monitoring, kami menemukan berbagai persoalan. Ada lift yang jumlah atau kapasitasnya terbatas. Ada gangguan distribusi air. Ada AC yang pendinginannya tidak stabil. Ada fasilitas laundry yang terbatas, bahkan rusak. Pelayanan porter di beberapa hotel juga belum selalu konsisten.

Masalah-masalah tersebut mungkin terlihat sederhana jika dibaca dalam laporan. Tetapi bayangkan ketika masalah itu terjadi kepada jemaah yang baru saja pulang dari aktivitas ibadah. AC yang tidak dingin bukan sekadar masalah teknis. Lift yang rusak bukan sekadar angka dalam checklist. Air yang tidak mengalir bukan sekadar catatan monitoring. Semuanya bisa menjadi gangguan bagi jemaah.

Karena itu, tugas kami bukan hanya mencatat masalah, tetapi memastikan masalah tersebut segera ditindaklanjuti.

Kami melakukan visitasi, menerima dan menindaklanjuti pengaduan, berkoordinasi dengan pihak hotel, melaporkan temuan secara berjenjang, dan terus memantau kondisi hotel. Sistem pengaduan bahkan disiapkan agar tetap aktif selama 24 jam.

Di sinilah aku belajar, bahwa menjadi petugas berarti harus memiliki kesabaran. Kadang masalah bisa selesai dengan satu komunikasi. Kadang perlu berkali-kali menghubungi pihak hotel. Kadang harus datang kembali ke lokasi untuk memastikan bahwa persoalan benar-benar telah diselesaikan. Karena bagi kita mungkin hanya satu keluhan. Tetapi bagi jemaah, itu adalah kenyamanan yang mereka tunggu.

Memandang Akomodasi dari Balik Layar Pelayanan

Selama menjalankan tugas, aku mulai melihat sebuah hotel bukan lagi sebagai tempat menginap. Aku melihatnya sebagai sebuah sistem pelayanan.

Aku memperhatikan bagaimana jemaah keluar-masuk hotel, bagaimana mereka menggunakan lift, bagaimana kondisi lobi ketika ramai, bagaimana kamar dibersihkan, bagaimana porter merespons, bagaimana pihak hotel menangani keluhan, dan bagaimana air bersih diisi ulang oleh puluhan truk tangki setiap harinya.

Kami melakukan monitoring terhadap berbagai aspek: lift, air bersih, AC, lobi, lorong kamar, fasilitas laundry, hingga pelayanan porter. Ada hotel yang sangat baik. Ada yang cukup baik. Ada pula yang membutuhkan perhatian lebih.

Dalam evaluasi akhir, 22 hotel dinilai menggunakan 27 indikator yang mencakup aksesibilitas, kenyamanan, kebersihan, keamanan, kualitas layanan, dan kelayakan fasilitas. Nilai rata-rata keseluruhannya mencapai 86,4 dari maksimum 108 poin. Sebanyak 11 hotel masuk kategori sangat direkomendasikan, 8 direkomendasikan, 2 perlu perbaikan, dan 1 tidak direkomendasikan karena memiliki persoalan multidimensi pada fasilitas, kebersihan, dan respons layanan sehingga membutuhkan evaluasi khusus. Dari sini aku belajar satu hal: pelayanan yang baik bukan berarti tidak ada masalah.

Pelayanan yang baik adalah ketika masalah ditemukan, diakui, dicari solusinya, dan dijadikan bahan untuk memperbaiki pelayanan berikutnya.

Ketika Sebuah Keluhan Menjadi Sebuah Amanah

Ada bagian dari pekerjaan ini yang tidak pernah tertulis lengkap dalam checklist, yaitu rasa khawatir. Khawatir ketika jemaah datang tetapi kamar belum sepenuhnya siap. Khawatir ketika lift bermasalah sementara banyak jemaah lanjut usia harus naik-turun. Khawatir ketika AC bermasalah di tengah cuaca Makkah. Khawatir ketika ada laporan air bermasalah. Dan tentu saja, lega ketika semuanya akhirnya dapat ditangani.

Mungkin bagi orang lain, kami hanya sedang mengecek hotel. Tetapi bagiku, setiap kali membuka pintu kamar jemaah, mengecek lift, berbicara dengan pihak hotel, menerima keluhan, atau memastikan sebuah masalah telah selesai, selalu ada perasaan bahwa kami sedang membawa amanah yang besar. Sebab jemaah datang ke Tanah Suci untuk beribadah. Dan tugas kami adalah memastikan agar urusan-urusan pelayanan tidak menjadi penghalang bagi ibadah mereka.

Pelajaran Yang Dipetik Dari Tanah Suci

Menjadi petugas haji ternyata tidak hanya mengajarkan aku tentang teknis pelayanan. Ia mengajarkanku tentang manusia. Tentang kesabaran, komunikasi, bekerja dalam tim, mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu ideal. Dan yang paling penting, tentang melayani tanpa harus selalu terlihat.

Banyak pekerjaan petugas yang mungkin tidak diketahui jemaah. Mereka hanya tahu bahwa kamar mereka sudah tersedia, lift bisa digunakan, AC kembali dingin, air kembali mengalir, keluhan mereka ditangani.

Bagi kami, mungkin itu adalah bagian dari pekerjaan. Dan sesungguhnya, di situlah nilai pengabdian itu terasa. Pada akhirnya, aku menyadari bahwa menjadi petugas haji bukan tentang seberapa banyak orang mengetahui apa yang telah kita kerjakan. Bukan pula tentang seberapa besar kita ingin disebut berjasa. Karena pekerjaan pelayanan memang seharusnya seperti itu: bekerja ketika dibutuhkan, membantu ketika diperlukan, lalu membiarkan hasilnya menjadi milik orang lain.

Dan semoga seluruh langkah yang pernah kami lakukan di antara hotel-hotel Sektor 2 Makkah itu tidak berhenti sebagai pengalaman kerja semata. Semoga ia menjadi bagian kecil dari amal yang diterima Allah. Sebab kami datang ke Tanah Suci bukan hanya untuk menyaksikan jutaan manusia beribadah. Kami juga datang untuk belajar bahwa di hadapan Allah, melayani seorang tamu-Nya pun adalah sebuah kehormatan.

Alhamdulillah atas kesempatan itu. Alhamdulillah atas segala lelahnya. Dan Alhamdulillah atas setiap pelajaran yang Allah titipkan selama menjadi bagian dari pelayanan jemaah haji Indonesia di Makkah.

Semoga Allah menerima setiap ikhtiar, mengampuni setiap kekurangan, dan mempertemukan kami kembali dengan Tanah Suci dalam keadaan yang lebih baik. Amin YRA.


24 Juni 2026, Soekarno-Hatta Airport

Azhari M.

KRL Mind Blowing

Manusia berlalu-lalang mengejar kesibukannya. Hampir tiap detik jejak sepatu dan sandal memenuhi ubin stasiun KRL Pondok Cina, tidak pernah sepi.
Pagi itu, Hafaz pertama kali menginjakkan kaki kota Depok. Ia memberanikan diri mengambil rute metro lintas jabodetabek itu menuju ke kontrakan kak Lisa di Cilandak.


"Mbak, aku mau beli tiket KRL, boleh tahu apa saja opsinya?" 


"Harga kartunya 30.000 mas, sudah termasuk saldo 10.000." tegas mbak petugas loket pembelian tiket KRL.


"Loh, tidak ada kah tiket untuk sekali naik atau satu hari saja?"


Hafaz bingung, dalam benakknya masih membandingkan KRL dengan metro di kota Paris atau Amsterdam. Memang, di Paris tiket metro bisa dibeli sesuai durasi per jam ataupun per 24 jam.


"Tidak ada mas, sudah habis. Tersisa kartu member saja yang bisa diisi ulang."


Tanpa berpikir panjang Hafaz lalu mengambil dua lembar kertas sejumlah 30.000 dan memberikannya kepada petugas loket. Toh, ia berpikir akan menetap lama di sana dan bukan sebagai turis. Namun sesekali ia masih bertanya-tanya bagaimana kalau memang turis mencoba eksplor Jakarta menggunakan KRL, tidakkah ia rugi jika kartunya nanti terpaksa dibuang dan tak terpakai lagi saat kembali ke negara asalnya?


Cukup sampai di situ, Hafaz lalu berjalan dan check in kartu KRL, ia masih mencari-cari petunjuk arah karena ada dua jalur kereta yang melewati stasiun itu: kereta tujuan Bogor, dan tujuan Jakarta Kota.


Setelah menemukan sign board itu, ia berharap-harap agar tidak keliru. Tiga menit kemudian terdengar bunyi nada melodi yang menandakan sebuah kereta akan melintas. Hafaz melihat ke kanan dan kiri, ternyata yang akan datang ialah kereta tujuan Jakarta Utara, tepat seperti yang dikehendakinya.


Setelah kereta berhenti sempurna, ia pun bergegas masuk ke salah satu pintu, Minggu pagi itu gerbong kereta tak begitu ramai seperti hari-hari biasa. Hanya buruh dan karyawan kantor dan mungkin mahasiswa yang memadati metro itu setiap hari aktif, dengan harga hanya 3.000,- jauh lebih murah dibanding transportasi lain.


Hafaz memperhatikan sekitar, nyaris tak satupun dari mereka yang tidak memakai kerudung. Dengan cueknya Hafaz lalu memasangkan headset ke telinga dan memutar lagu Hati-Hati di Jalan by Tulus. Terkejut ia saat melihat seorang wanita berkerudung di sebelahnya mencolek pundak Hafaz.


"Mas, ini gerbong khusus wanita."


Seketika wajah Hafaz memerah malu: "Oh ya??"


Lalu ia perhatikan kembali penghuni gerbong sekitarnya, dan benar tidak ada satupun lelaki didalam kecuali dirinya. Lalu wanita yang berdiri di depan Hafaz mengarahkan Hafaz untuk berpindah ke gerbong sebelah. Ia kemudian mengantongi headset dan handphone, lalu berjalan ke arah pintu gerbong sebelah dengan santai agar tidak membuat kecurigaan, meski semua penghuni gerbong wanita itu sudah curiga dan memperhatikannya.


Dalam sekejap saja, keringat mengucur ke seluruh tubuh Hafaz.

Ia pun bertanya-tanya, mengapa ada gerbong khusus wanita? Ia pun menerka jawabannya, mungkin karena Indonesia negara mayoritas muslim, sudah benar tindakan pemerintah untuk memfasilitasi gerbong khusus wanita demi meminimalisir terjadinya pelecehan seksual. Metro setiap negara boleh sama, tapi kebijakannya wajar berbeda. Hafaz yakin, dimana bumi berpijak disitu langit dijunjung, meski kerap sekali ia menaiki metro di Amsterdam, Paris dan Turki, tapi tetap harus banyak bertanya-tanya saat hendak menaikinya kembali di Indonesia.


Stasiun Pondok Cina,

Minggu, 4 September 2022

Medan Perang Kang Santri

        Suhu udara begitu dingin. Bandara Schipol terlihat ramai oleh penumpang pesawat yang baru saja mendarat. Mereka rela mengantri panjang demi mendapatkan stempel kecil dari petugas bandara sebagai izin masuk.

Beberapa orang bertas punggung besar melepas lelah setelah berjam-jam di pesawat. Beragam ras, dan warna rambut berbeda. Dari etnis Cina berambut hitam, hingga penduduk eropa berambut pirang. Pemandangan itu mencipta senyum di bibirku. Menakjubkan. Dan aku bagian dari deretan turis yang hendak menjelajah Eropa, yang mengantri di jalur panjang loket imigrasi.

Sore itu, aku menunggu paspor yang sedang di stempel. Setelah sekian lama menunggu, namun hasilnya nihil. Aku perhatikan petugas berambut pirang dan bertubuh besar yang melayaniku. Kutoleh mejanya dan tampak pasporku tak diutik olehnya. Sempat heran, karena penumpang lain, tidak lebih dari tiga menit paspornya selesai lalu dikembalikan dan dipersilahkan masuk. Sedangkan aku, tidak.

            Petugas itu tampak menghubungi seseorang. Aku tidak paham pembicaraan mereka melalui telepon karena kendala bahasa. Teringat olehku sebuah ungkapan yang mengatakan “Barang siapa yang mempelajari bahasa suatu kaum, maka ia akan selamat dari gangguan mereka”.

Tidak lama, datang dua tentara berpakaian anti peluru denga senjata laras panjang menghampirinya. Petugas bandara itu mengisyaratkan sesuatu untuk membawaku.

            “Come on follow me!” ucap seorang tentara berwajah putih tampan.

            Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang.

            Kecurigaan mereka terhadapku tampak jelas. Akupun mengikuti perintah kedua petugas keamanan itu. Aku takut jika memberontak dan banyak bertanya, bukannya mereka percaya tetapi malah menganggapku bersalah meskipun benar. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa agar tidak terjadi apa-apa.

            Suasana sunyi dan hening. Para penumpang lain menyorotkan pandangan tajam mengikuti langkahku. Mereka menganggap ada sesuatu yang terjadi. Dan pastilah tuduhan itu tak lain hanyalah tuduhan sebagai teroris meski kedua tanganku terlihat tidak diborgol oleh si tentara.

            Aku mengikuti kedua tentara itu hingga akhirnya ditempatkan dalam sebuah ruangan tertutup. Sebagai makanan pembuka layaknya sebuah interogasi, mereka melontarkan banyak pertanyaan kepadaku. Pertanyaan yang memaksa. Mereka butuh jawaban meski hanya sepatah dua kata yang terucap. Tapi, aku tidak bisa menjawabnya. Dalam kondisi tenang saja aku berbicara dengan terbata-bata menggunakan bahasa Inggris, apalagi dalam situasi yang mencekam seperti itu.

Keringat dingin mulai keluar dari ubun-ubun kepala hingga mata kaki. Kedua polisi gagah dan tinggi besar itu belum puas setelah menakutiku, hingga seorang dari mereka memukul meja yang berada di sampingku dengan sangat keras.

Aku kaget. Pikiranku buyar. Aku seperti menghadapi serigala yang hendak menerkam mangsanya. Begitu menegangkan. Akhirnya aku mengeluarkan suara pelan.

            “I’m... I bring my document sir.” jawabku ketakutan.

            Aku bahkan tidak mengerti lagi kata yang kuucapkan. Benar atau salah grammarnya entahlah. Bukan saatnya mempelajari itu. Bahkan aku tidak sempat membuka kamus untuk mencari sebuah kosa kata.

            Dokumen yang aku bawa sebenarnya sudah lengkap, hanya saja calling visa yang dikirimkan oleh pihak PPME berbahasa Indonesia. Calling visa merupakan salah satu dokumen penting juga sebagai syarat pembuatan visa menuju Eropa. Tanpa dokumen penting ini, maka siapapun akan dipersulit saat memohon pembuatan visa turis. Aku pikir jika visaku sudah keluar maka semua prosesi menuju negara tujuan akan aman dan berjalan lancar. Ternyata tidak saat berada di bandara internasional Schipol ini. Mungkin, karena dampak yang disebabkan oleh peristiwa berdarah beberapa bulan lalu, pikirku.

Awal Januari lalu, sebuah stasiun televisi Maroko, Maroc Press menyebutkan telah terjadi serangan teroris di kantor pusat majalah satir Prancis, Charlie Hebdo. Serangan brutal di kota Paris telah memakan 12 korban jiwa dan 10 orang lainnya terluka. Mengingat kejadian itu, aku sedikit khawatir dengan keberadaanku saat ini.

Aku kembali mencoba memahami pertanyaan si tentara. Ternyata, ia hanya membutuhkan keterangan dari apa yang tertera pada calling visa itu. Aku bingung menjelaskannya.

Karena jengkel dengan jawaban yang tidak jelas, tiba-tiba seorang tentara bertubuh tinggi itu menggenggam kerah baju hendak memukul aku yang sedang duduk.

No..! no..!” teriakku.

(Handphone berdering)

Tangannya berhenti melayang. Sementara kedua tanganku gemetaran hebat karena ketakutan. Jantungku sudah berdegup kencang melihat tangan si tentara yang hampir melayang ke wajah ini.

Belum sempat mengenai wajahku, ia lalu mencari dari arah mana datangnya suara dering ponsel itu. Ternyata handphoneku yang berada di atas meja berdering kencang. 

Ia mengangkatnya.

Pikiranku sudah tidak karuan saat melihat aksi kekerasan itu. Tapi apalah daya, aku berada di negeri orang yang tidak aku kenali.

            Satpam gemuk tersebut mematikan handphone setelah berbicara dengan seseorang. Lalu terdengar suara ketukan dari arah pintu. Tentara berparas tampan membukanya.

Tiba-tiba seorang petugas imigrasi masuk ke ruangan dimana aku ditindas. Diikuti pak Abdi sesepuh Persatuan Pemuda Muslim Eropa (PPME), pak Irwan ketua PPME Amsterdam, dan seorang utusan dari KBRI Den Haag menanyakan keberadaanku. Mereka mencoba menjelaskan dengan bahasa Belanda kepada dua tentara itu. 

Seketika aku bersyukur dan menghembuskan nafas lega. Setelah menyertai data lengkap juga penjelasan rinci dari pihak kedutaan, akhirnya aku dibebaskan dari seleksi maut sore itu.

            “Sudah, jangan diingat-ingat nak Gilang, tenangkan diri kamu dulu. Maafkan saya terlambat menjemput karena harus singgah ke KBRI. Mereka tidak bersalah, mereka sudah melakukan tugasnya untuk mengamankan negara, wajar begitu karena sekarang lagi marak-maraknya isu terorisme. Dan kamu sudah diselamatkan oleh Allah dari tuduhan itu.” tukas pak Abdi menenangkanku.

            Setelah kondisi kembali tenang, pak Abdi langsung membawaku ke rumahnya untuk dijamu lalu beristirahat sebelum melaksanakan tugas beberapa hari lagi. Sepanjang perjalanan pikiranku terngiang-ngiang akan kejadian tragis yang menimpaku tadi. Aku menyadari wabah islamophobia yang ditimbulkan oleh peristiwa Paris itu telah merasuk ke dalam jiwa bangsa Eropa. Tapi, akibat oknum-oknum biadab yang mengatasnamakan Islam itu juga nantinya akan berdampak buruk bagi warga sipil yang tak bersalah sepertiku. Beruntung aku selamat, bagaimana jika terjadi sesuatu kepada warga muslim lain bahkan berakhir dengan penyiksaan hingga hilangnya nyawa?!

Lebih ditakutkan lagi jika wabah islamophobia ini menyebar di kalangan umat islam yang awam dengan pendidikan agama, sehingga mereka akan meninggalkan agamanya sendiri karena ketakutan dengan ancaman bangsa Barat.

            Dua bulan lalu, aku lulus seleksi imam tarawih selama Ramadhan di Masjid Al-Ihsan Amsterdam, Belanda. Sebagai mahasiswa yang masih menimba ilmu di Maroko, tugas ini ialah tugas berat pertama yang aku hadapi.

“Sebenarnya, kegiatan yang diselenggarakan oleh PPME ini sudah ada sejak lama ustad, hanya saja jarak dengan Indonesia cukup jauh, jadi kali ini saya datangkan imam dari mahasiswa kita di Maroko yang dekat.” ujar pak Irwan.

Pak Irwan sudah lama menjabat sebagai ketua PPME di Eropa, pastinya beliau lebih mengetahui kondisi umat muslim di sini. Begitu juga dengan pak Abdi, sesepuh dan pendiri PPME

Ibukota negara kincir terasa sejuk. Pepohonan rindang mengitari jalanan. Tampak bangunan klasik khas Belanda di pinggiran sungai. Begitu memukau. Sore itu, Pak Irwan mengajakku melihat suasana kota Amsterdam ditemani oleh pak Abdi. Mataku terbelalak melihat lingkungan juga arsitektur unik kota ini. Tidak terdengar suara riuh meski jalan dipadati kendaraan bermesin. Tenang dan nyaman. Dari arah lain terlihat beberapa pengendara sepeda dengan santai menikmati indah suasana senja. Uniknya, jalanan kota sangat rapi dan teratur. Tersedia jalur khusus bagi pengendara motor, sepeda, mobil dan trem bahkan pejalan kaki. 

“Islam di Eropa bagaikan bayi yang baru lahir nak Gilang. Lingkungan, ketertiban, dan watak masyarakatnya begitu islami. Nilai-nilai islam sekarang ini sudah tertanam di bumi Eropa, tinggal nunggu mereka masuk Islam saja.”

“Benarkah?” tanyaku penasaran akan penjelasan pak Abdi.

“Iya Ustad, kebersihannya sangat dijaga, jangankan manusia, hewan pun sangat dimuliakan hidupnya.” sambung pak Irwan. “Orang Belanda dikenal sangat ramah Ustad, tapi kasihan sekali warga muslim kita khususnya WNI di sini, mereka bagaikan anak tanpa bapak.”

“Memangnya banyak orang Indonesia di sini pak?” tanyaku penasaran.

“Wah, bukan banyak lagi pak Ustad, di Belanda saja jumlah warga kita ratusan ribu, belum di negara Eropa lainnya. Kita kekurangan ulama yang bisa membimbing dan mengajarkan ilmu agama, mudah-mudahan saja Ustad betah lama-lama ya, syukur kalau bertemu jodoh di sini, hahaha..

Aku tertawa mendengar ucapan pak Irwan. Tapi jika benar seperti yang dikatakan pak Abdi, betapa kasihannya warga muslim di sini. Seorang anak yang tidak memiliki orang tua sebagai pembimbingnya, pasti ia akan bebas memilih jalan yang dikehendaki. Beruntung jika kehendaknya memilih islam yang benar, tapi bagaimana jika ia memilih islam radikal?

Seharusnya, tidak hanya aku yang diutus berdakwah ke negara non-muslim ini. Lagi-lagi ini adalah tugas yang berat. Berat karena bak memandu orang buta namun bisa berjalan. Jika tak dipandu, ia pasti kesulitan melangkah. Berbeda dengan orang pincang namun masih bisa melihat. Ia akan berjalan sendiri meski dengan merangkak. Aku berpikir bahwa medan dakwah seorang santri sepertiku bukan lagi di negara mayoritas muslim dan ilmu keislamannya terbilang cukup lumayan. Hendaknya di zaman modern ini, mereka mengubah haluan dalam bertempur. 

***

            Malam itu cuaca begitu dingin. Seperti malam-malam sebelumnya, aku memimpin tadarus jamaah Masjid Al-Ihsan. Masjid berukuran seluas lapangan futsal ini terlihat ramai tiap malamnya. Meski harus berkendara karena jauh dari rumah, namun semangat mereka tetap berkobar mengikuti pengajian juga dakwah yang aku sampaikan menjelang sholat tarawih.

            Aku menyimak bacaan mereka satu persatu. Bacaan yang masih terbata-bata, bahkan banyak yang belum bisa membaca. Seketika perasaanku bergejolak. Aku sedih dan terharu. Sedih karena melihat calon-calon penegak syiar Islam di Eropa yang belum bisa membaca Al-Quran. Namun aku terharu karena kesungguhan dan kegigihan mereka dalam menekuninya. Meskipun tidak bisa, mereka bahkan tidak pernah absen menghadiri kegiatan islami masjid ini. Aku terenyuh dan terpukul. Rasanya ingin sekali menampar diriku sendiri juga jutaan santri di Indonesia yang hingga saat ini masih memperdebatkan isu wahabi, islam nusantara dan lainnya. 

Jika aku diperkenan berbicara, aku akan menunjuk pesantren Indonesia dan berkata: “Wahai gubuk santri! Jangan engkau biarkan lulusan-lulusanmu ini selalu memperdebatkan apa yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan! Islam di Nusantara sudah berjaya biarlah terus Berjaya! Jangan engkau diam melihat mereka saling menyalahbenarkan aqidah sementara penghasut bertepuk tangan di luar sana! Dan kau wahai santri! Lihatlah betapa sedihnya bangsa nusantaramu yang tidak mengerti! Saat ini mereka butuh sandaran! Mereka butuh bimbingan! Mereka membutuhkan ilmu yang telah kau gali dari gubuk islami! Keluar dan tolonglah mereka! Tegakkan islam nusantara di sana! Bangunlah keimanan dan aqidah mereka! Jangan kau hanya bisa menyalahi! Sudahi perselisihan ini! Keluar dan didik islam versi kita yang baru lahir di negara non-islami!”

***

            Subuh menyapa kota Amsterdam. Angin kian berhembus dari segala penjuru. Aku menaikkan resleting jaket yang kukenakan hingga tertutup sempurna. Usai salat, pak Abdi memanggilku. Sejak semalam aku melihat raut wajahnya begitu cemas, seperti memikirkan sesuatu.

            “Begini nak Gilang, si Ihsan anak saya kemarin sore pulang ke rumah. Tiba-tiba ia berkata hendak keluar dari agama Islam. Saya kaget dan takut mendengarnya. Sebelumnya, ia memang sering curhat kalau teman-temannya di kampus selalu menuduh-nuduhnya. Saya menduga ini terjadi karena dampak dari tragedi teroris itu. Teman-teman muslimnya yang lain juga selalu disudutkan di kampus bahkan banyak yang disiksa sampai akhirnya mereka dipaksa keluar dari Islam.”

            Kedua bola mata pak Abdi berkaca-kaca. Aku bisa memahami kondisi beliau sebagai sesepuh PPME yang telah memperjuangkan islam di Eropa namun harus mengalami masalah internal yang tak terduga.

            “Ihsan satu-satunya putra saya nak Gilang, dari kecil dia selalu saya ajak ke masjid ini, tapi karena hidup di lingkungan Eropa semangatnya menciut. Malah sekarang imannya goyah dan mau murtad karena tidak sanggub dengan hinaan itu, bagaimana anggapan orang untuk keluarga saya?! Mungkin saya tidak sanggub lagi membina PPME karena keluarga sendiri gagal saya didik.” ucap pak Abdi sedih.

             Lalu aku meminta beliau mempertemukanku dengan Ihsan.

Saat bertemu, aku mencoba menghiburnya dengan sapaan-sapaan yang santun. Dan terakhir aku berhasil memancingnya mengungkapkan keluh kesah yang ia rasakan selama ini. 

“San, kalau kamu keluar dari Islam, apa kamu yakin kamu bakal merasa tenang dan nyaman? Apakah mereka akan percaya bahwa kamu bukan lagi muslim yang dituduh-tuduh sebagai teroris? Kamu salah memilih keputusan itu San.”

“Terus kalau salah, kenapa orang Islam saat ini diam? Kenapa kalian diam melihat penderitaan mereka yang tidak bersalah?!” bentaknya.

“Umat Islam tidak diam San, saat ini mereka sedang mencoba melawannya dengan cara yang berbeda. Tidak selamanya kekerasan itu dibalas dengan kekerasan. Islam itu rahmatan lil’alamin. Sudah saatnya kita menunjukkan nilai-nilai islam yang sesungguhnya. Memang, teroris itu sudah merusak nama baik agama kita, tapi apa kamu pasrah dan tidak membela keimanan kamu? Semua orang juga pasti akan membela keyakinannya hingga harus tumpah darah. Kamu itu muslim sejati San, ayo kita bangkit dan bela agama kita. Seperti yang saya katakan, bukan dengan kekerasan. Tapi dengan pendekatan hati dan kasih sayang. Kamu dulu rajin ke masjid kan? Ayo mulai sekarang kamu perbaiki diri, sama-sama kita tolong jamaah kita yang membutuhkan. Aku dengar bacaan Al-Quran kamu bagus, nanti malam bantu aku ajarimereka ya. Setelah itu aku juga akan ceritakan bagaimana kisah Rasulullah dulu saat berdakwah dengan cara yang santun tanpa kekerasan.”

Akhirnya Ihsan menangis menyesal, seketika pak Abdi memeluknya.

Saat itu aku berpikir, tidak ada jalan lain untuk membasmi fobia Eropa terhadap Islam, melainkan dengan jalan dakwah. Berdakwah dalam menegakkan syiar ilahi dan ruh Islam yang suci. Nilai-nilai Islam telah lama terkubur bersama jiwa yang keruh. Ia menanti kehidupan yang jernih, kehidupan yang belum pernah tercampuri noda-noda fitnah dan butiran khianat.

Panji-panji Islam harus selalu tegak. Tegak menjulang melalui sandi-sandi Al-Quran. Menuju medan perang membela kebenaran. Pesantren hanya bisa diam, namun lulusannya yang akan berjuang. Perjuangan sengit di medan pertempuran. Oleh mereka, para santri untuk Indonesia.

Yahudi Maroko Berbahasa Darija




Seorang lelaki renta perlahan berjalan satu arah dengan ku. Perawakan dari kepala hingga ujung kaki tak membuat seorang pun di sekelilingnya curiga. Jalabah khas Maroko, sandal aladin, hingga kupluk bundar berwarna putih menancap di kepalanya menampilkan sosok pria Maroko tulen. Ia menatap ku dan menyapa: "Do you speak English hai anak muda?" Aku yang baru beranjak dari masjid menuju perpustakaan seketika berhenti.


Siang itu, tepat pukul satu tengah hari perpustakaan Saudi Ain Diab kota Casablanca rihat sejenak dari segala aktifitas, pengunjung dan karyawan bergegas menuju masjid untuk menunaikan ibadah salat zuhur, meski sebagian diantaranya masih ada yang menetap sambil membaca buku, biasanya mereka akan menghabiskan target lebih dulu atau bahkan hanya tinggal beberapa halaman saja sebelum usai dan meninggalkan tongkrongan para kutu buku. Sementara aku memilih jeda, karena masih banyak buku yang harus aku temukan untuk melengkapi referensi proposal tesis yang sedang ku kerjakan. Perpustakaan Saudi ialah termasuk diantara perpustakaan yang memuat banyak referensi untuk kajian studi Islam di Maroko, selain lengkap, arsip dari kategori buku-bukunya pun terbilang cukup metodis dan sistematis. Tidak heran, banyak kalangan akademisi dan peneliti sudah pasti tahu keberadaan perpustakaan satu ini.


"Sorry?" Aku menyela.


Bapak tua itu mengulangi lagi pertanyaannya. Aku pun mengiyakan meski kemudian mengaku lebih nyaman berbahasa Arab sebagai seorang pelajar Islamic Studies di kota Rabat. Mendengarnya, ia pun kian tertarik dan merangkul pundakku, basa-basi ia lemparkan semula dengan bahasa Darija Maroko, lalu mencoba praktik kembali bahasa Arab hormat kepada ku sebagai pelajar asing di negaranya.


"Kenapa kamu memilih studi Islam? Apakah Islam itu agama yang lebih baik dari agama yang lain?" tanyanya sontak membuatku tertegun.


Pertanyaan itu menjebak, awalnya heran karena terlontar dari mulut seorang Maroko yang notabene negaranya mayoritas muslim, apakah ia meragukan agama yang dianut, ataukah hanya menguji nyali aku sebagai pelajar studi Islam, masih bingung belum tahu maksud dari ucapan si bapak, aku hanya memberi jawaban singkat: "Aku tidak meragukan agama yang ku anut."


"Apakah kamu merasa lebih baik daripada orang tuamu anak muda?"


"Kenapa Anda bertanya seperti itu?"


"Karena yang baru-baru belum tentu benar! Bukankah seharusnya kita lebih percaya senior daripada junior? Bukankah pengalaman orang tua kita lebih banyak? Pantaskah kita mengikuti mereka yang baru lahir daripada nenek moyang mereka?"


"Begitukah Anda mengilustrasikan kebenaran?" tanyaku.


"Betul. Menurutku tidak layak kita menjelek-jelekkan agama terdahulu." jawab si bapak.


Aku mulai meragukan agama lelaki itu. Namun, tidak terus terang menyalahkannya: "Maaf, nama bapak siapa?"


"Mohamed. Senang bertemu denganmu."


Perlahan kecurigaanku memudar. Hampir saja aku mengira ia seorang ateis.


"Sidi Mohamed, Aku mau bertanya sesuatu. Mengapa sebuah buku terus dicetak, adakah yang salah dengan cetakan pertama sehingga harus dicetak ulang kedua, ketiga, dan seterusnya. Aku bingung. Sekarang aku sedang menyelesaikan proposal tesis, banyak referensi aku temukan di perpustakaan ini, namun ada satu buku yang ditulis oleh ulama abad ke-12 Masehi, lantas aku perhatikan ada beberapa cetakan, dan setahuku yang terakhir adalah cetakan ke empat. Menurutmu, cetakan mana kah yang harus aku jadikan referensi?"


"Cetakan terakhir!" sulut si bapak tegas dan cepat.


"Baik terima kasih pak, secara tidak langsung Anda sudah menjawab sendiri pertanyaan yang engkau lontarkan."


"Maksudmu anak muda?" Ia balik bertanya bingung.


"Aku sama sekali tidak meragukan agamaku, karena ajaran Muhammad adalah yang terakhir, penutup dan penyempurna semua agama-agama sebelumnya. Pun tidak aku menyalahkan agama sebelumnya, hanya saja saat ini sudah tidak ada yang murni alias diselewengkan. Bukankah berpedoman kepada cetakan terakhir lebih pantas?"


Ia tertawa dan kembali merangkul pundakku, sambil berjalan ke paviliun perpustakaan ia membisikkan sesuatu yang membuatku kaget: "Hai anak muda, sebenarnya aku seorang Yahudi Maroko, namaku ini karena aku lahir di Maroko, baju dan bahasa ku ini karena aku besar dan tumbuh di Maroko. Mungkin belum mendapatkan hidayah, aku hanya masih teguh pada agama nenek moyang, kamu belajarlah yang giat untuk lebih meneguhkan imanmu. Bagaimanapun engkau saudaraku, aku menyambutmu jauh-jauh ke negaraku untuk menuntut ilmu, semoga Dia memberkahi. Sampai jumpa anak muda!"


Setelah melontarkan senyuman dan berpisah, aku kembali ke ruang baca dan melanjutkan aktifitas, saat itu lah pertama kali aku bertemu dengan seorang Yahudi Maroko yang telah berasimilasi, dalam sejarahnya kelompok-kelompok Yahudi itu datang dari Andalus pasca pengusiran yang dilakukan oleh panitia Inkuisisi Kerajaan Kristen Spanyol akhir abad ke-15, mencari suaka ke beberapa wilayah di Afrika Utara yang saat ini terbagi dalam beberapa negara, mayoritas menempati negara Maroko hingga tersebar di beberapa kota. Mereka mendapatkan perlindungan langsung dari Raja Maroko dan dibebaskan dalam beragama, bahkan memiliki pengadilan agama sendiri (المحكمة Ø§Ù„عبرية) di Casablanca untuk mengadili perkara keagamaan bagi warga Yahudi.








Petuah La Kougnir















Kamu melakukan sesuatu jangan karena suka dipuji orang apalagi merasa orang lain akan ingat terus sama kamu, mungkin saat ini kamu dipuja puji disebut-sebut terus dalam suatu kelompok, tapi ada waktunya kamu akan diabaikan dan dilupakan. Sang bintang terus datang silih berganti. Seberapa lama sih orang akan mengingat perkataanmu? Tapi menulislah, karena tulisan akan terus dibaca.

Casablanca, 8 Maret 2020


Kalau kamu mendengar suatu pembicaraan yang asing, tetap dengarkan! Sampai kamu menemukan satu titik temu yang kamu pahami dari pembicaraan itu barulah kamu ikut komentar. Kalau masih tidak paham cukup dengarkan saja. Karena tidak baik mengomentari persoalan yang kamu pahami setengah-setengah.

Casablanca, 9 Maret 2020


Senang rasanya mendengar cerita mereka yang memiliki pola makan dan hidup yang baik, menjaga postur tubuh dan waktu tidur yang teratur. Lagi-lagi aku hanya merasa senang. Entah kapan senang karena telah mengatur diri sendiri. Kebiasaan yang buruk!

Skhirat, 9 Maret 2020


Puas akan pelayanan sedekahlah dengan memberi feedback. Tidak puas pun tetap sedekahkan feedback yang membangun. Apa salahnya sih bersedekah yang tidak merugikanmu. Biasakan ringan tangan meski dengan hal-hal yang ringan. Siapa tahu kelak dengan sedekahmu dapat memajukan peradaban seseorang.

Rabat, 9 Maret 2020


Lurusnya jalan bukan berarti tak memiliki rintangan. Bahaya di ujung jalan menantimu yang tidak memperhatikan kecepatan. Jalan keriting pun kalau kamu bersabar akan sampai kepada yang di tuju, karena halangan dan rintangan itu sebenarnya hanya sekejap saja, tergantung seberapa besar kesabaran yang engkau punya.

Rabat, 9 Maret 2020


Mikrofon itu fungsinya menyampaikan suara dari pembicara kepada si pendengar. Tapi tidak ketika memanjatkan doa. Suara hati pun Tuhan bisa mendengar. Itulah bedanya Dia dengan kamu manusia.

Rabat, 9 Maret 2020


Ketika berbicara, aku hanya menyampaikan kata-kata yang diuntai dalam benak kepala. Didukung dengan data kesadaran sejarah dan pra-pemahaman semata, yang mana diperoleh melalui buku bacaan, hasil diskusi atau pengalaman dan sosio kultural sedari kecil. Lantas apakah layak kalau disebut bahwa akulah yang paling benar? Diskusikan untuk mencari kebenaran.

Kenitra, 9 Maret 2020


Buku adalah jendela dunia. Membaca buku berarti kamu telah membuka jendela dunia, tidak hanya terkurung dalam satu sangkar. Tapi dengan bepergian tidak hanya jendela dunia yang kamu buka, tapi kamu juga ikut masuk ke dalamnya. Pergilah!

Kenitra, 9 Maret 2020


Prediksi adalah ramalan, boleh sesuai maupun tidak. Jika kamu memprediksi, kamu telah berhitung, dan berhitung adalah cerminan matematika. Dalam Islam, khususnya fiqih kita menjumpai istilah fiqh tawaqqu', ialah suatu langkah ijtihad dimana kita memprediksi bahwa kita tidak akan jatuh ke dalam lubang kebinasaan. Berarti fiqih mempraktikkan matematika. Dan islam tidak bertentangan dengan ilmu pasti. Inilah salah satu contoh.

Rabat, 9 Maret 2020


Tidak seharusnya kamu beribadah, jika dengan ibadahmu yang sempurna itu kamu menyindir orang lain yang tidak sepertimu, maka pahalamu akan dicabut karena tak berniat dakwah. Sama halnya, ketika kamu memberi sedekah dan pada waktu yang sama kamu menghina pengemis itu.

Temara, 8 April 2020


Ingatlah orang-orang yang kamu sukai saja, karena jika kamu mengingat orang yang kamu benci akan selalu menyakitkan, dan membuat hidupmu senantiasa suram.

Temara, 9 April 2020


Jangan suka jadi tukang buat onar, belajarlah menjadi orang yang mengawali damai.

Jangan doyan mencari-cari kesalahan, lebih baik mencari solusi dan jalan keluar.

Jangn senang dengan berbuat kerusakan, perbaiki diri dan gemar memperbaiki harus lah pintar.

Nasehat untuk La Kougnir
Rue Khalil Motrane, 18 Juni 2020

Ketika Teman Menyapa

Hai kopi, mengapa kamu selalu menemani pagi?
Malam tak pernah tampak batang hidungmu
Hanya sesekali
Engkau menemani ia yang sepi
Walau begitu, masih ada yang rela mengawani kesepian malam

Hai indomi, kenapa kau selalu menemani mahasiswa?
Banyak orang kata kau jahat
Suka menyakiti
Walau begitu, masih ada yang merayu untuk kau temani
Apalagi saat merindukan masakan nusantara

Hai ujian, kenapa kau selalu mendatangi pelajar?
Kau selalu hadir di saat yang tidak tepat
Tak peduli hujan
Badai
Panas
Dingin
Engkau selalu menghampiri
Walau begitu, masih ada yang sadar
Jika bukan karena kau, mereka tak akan mengetahui arti kehidupan
Karena hidup adalah ujian

Sinopsis Novel "Dari Sabang Sampai Maroko"



KATEGORI BUKU:
Novel

JUDUL BUKU:
Dari Sabang Sampai Maroko

TEMA:

Perjalanan dan Percintaan

GENRE:
Travelling, Romance, History

PENULIS:
Azhari Mulyana

EDITOR:

Iis Tentia Agustin

PENYUNTING DAN PENATA LETAK:

Tim CV Jejak

DESAIN SAMPUL:

Innamul Hassan

PENERBIT:

CV Jejak (Jejak Publisher)

JUMLAH HALAMAN:

270 Halaman

DIMENSI:

13 x 19 cm

ISBN:

978-602-61595-7-1



SINOPSIS :

Novel “Dari Sabang Sampai Maroko” bercerita tentang perjuangan Hafaz Aliandi menembus kuliah ke Mesir yang berakhir batal karena konflik melanda negeri nabi Musa. Karena itu, Hafaz memutuskan untuk berlabuh ke tanah Jawa. Hafaz bertemu dengan Aurelia, gadis anggun yang menjadi cinta pertamanya di tanah rantau. Setelah setahun menetap, dilema pun melanda relung hati Hafaz ketika datang sebuah kesempatan untuk mengejar cita, bak segan bergalah hanyut serantau, Hafaz pun kembali berusaha hingga akhirnya lulus beasiswa ke negeri matahari terbenam Maroko. Kebahagiaan itu mengakibatkan cintanya dengan Aurel pun harus berakhir dengan perihnya perpisahan bagai bunga yang sesaat mekar kemudian sirna saat musim gugur tiba.


12 Tahun Tsunami Aceh

Kata meututô lidah meugrak-grak..
Meupat keu haba hana deuh rupa..
Ulon meupakee leukat roh teumeunak..
Kepada Allah ta lakee ampon dosa..

Lam thon 2016 nyoe, umu maken tuha, hana pat ta mita donya yang jeut bri hate puah, maken ta mita maken na, tapi ridha bak Allah hana tom ta rasa.
Nyan keuh donya yang ka tôe ngen uroe akhee. 12 thon Tsunami ka geubri, peu keuh na yang jra?
Termasok ulon tuan yang mantoeng lee that desya.

Musibah Allah troh hana jeut ta teurka, siap keuh geutanyo menuju alam baka?
Di akhe donya nyo, buet salah ka biasa, yang beutoi pih ji anggap gura. Islam cuma deuh bak abah, tapi hatee dan buet geutanyoe saban lagee awak kaphee.

Yang leubeh that ta sayang ureung-ureung yang hana meuphom geu kheun keu awak Aceh nyoe sebagoe ureung pubuet dosa sampoe musibah hana leupah dari Allah Ta'ala. Leubeh gôt lagee nyan, ta iem mantong sira lakee ampon bak Allah, karena deungon musibah nyoe Allah maken geusayang tanyoe geubri keu tanyoe kesempatan nak ta ubah mandum buet dan tingkah laku yang jiôh dari syariat.

Bek ta balah gob yang sabee tudoh-tudoh geutanyoe, tapi leubeh get ta eu droe teuh peu ka beutoi di mata Allah peu gohlom, karena Allah lah yang nilai geutanyo jroh pu han, kon awaknyan yang galak kheun-kheun keu gob.

Dalam kesempatan nyoe, ulon lakee meu'ah keu ban bandum syeedara dan kerabat yg pernah saket hate ataupun beungeh kerana buet lon yang hana jroh, atau kata-kata lon yang salah bak geulunyung droneuh. Neu cok mantong peu-peu yang get dari lon, karena yg get nyan dari Allah, dan yg hana get dari lon pribadi.

Salam Aceh lon sayang, neu peu jioh bala dari bumoe lon yg tercinta nyoe ya Allah...