BREAKING NEWS
latest

Advertisement

Yahudi Maroko Berbahasa Darija




Seorang lelaki renta perlahan berjalan satu arah dengan ku. Perawakan dari kepala hingga ujung kaki tak membuat seorang pun di sekelilingnya curiga. Jalabah khas Maroko, sandal aladin, hingga kupluk bundar berwarna putih menancap di kepalanya menampilkan sosok pria Maroko tulen. Ia menatap ku dan menyapa: "Do you speak English hai anak muda?" Aku yang baru beranjak dari masjid menuju perpustakaan seketika berhenti.


Siang itu, tepat pukul satu tengah hari perpustakaan Saudi Ain Diab kota Casablanca rihat sejenak dari segala aktifitas, pengunjung dan karyawan bergegas menuju masjid untuk menunaikan ibadah salat zuhur, meski sebagian diantaranya masih ada yang menetap sambil membaca buku, biasanya mereka akan menghabiskan target lebih dulu atau bahkan hanya tinggal beberapa halaman saja sebelum usai dan meninggalkan tongkrongan para kutu buku. Sementara aku memilih jeda, karena masih banyak buku yang harus aku temukan untuk melengkapi referensi proposal tesis yang sedang ku kerjakan. Perpustakaan Saudi ialah termasuk diantara perpustakaan yang memuat banyak referensi untuk kajian studi Islam di Maroko, selain lengkap, arsip dari kategori buku-bukunya pun terbilang cukup metodis dan sistematis. Tidak heran, banyak kalangan akademisi dan peneliti sudah pasti tahu keberadaan perpustakaan satu ini.


"Sorry?" Aku menyela.


Bapak tua itu mengulangi lagi pertanyaannya. Aku pun mengiyakan meski kemudian mengaku lebih nyaman berbahasa Arab sebagai seorang pelajar Islamic Studies di kota Rabat. Mendengarnya, ia pun kian tertarik dan merangkul pundakku, basa-basi ia lemparkan semula dengan bahasa Darija Maroko, lalu mencoba praktik kembali bahasa Arab hormat kepada ku sebagai pelajar asing di negaranya.


"Kenapa kamu memilih studi Islam? Apakah Islam itu agama yang lebih baik dari agama yang lain?" tanyanya sontak membuatku tertegun.


Pertanyaan itu menjebak, awalnya heran karena terlontar dari mulut seorang Maroko yang notabene negaranya mayoritas muslim, apakah ia meragukan agama yang dianut, ataukah hanya menguji nyali aku sebagai pelajar studi Islam, masih bingung belum tahu maksud dari ucapan si bapak, aku hanya memberi jawaban singkat: "Aku tidak meragukan agama yang ku anut."


"Apakah kamu merasa lebih baik daripada orang tuamu anak muda?"


"Kenapa Anda bertanya seperti itu?"


"Karena yang baru-baru belum tentu benar! Bukankah seharusnya kita lebih percaya senior daripada junior? Bukankah pengalaman orang tua kita lebih banyak? Pantaskah kita mengikuti mereka yang baru lahir daripada nenek moyang mereka?"


"Begitukah Anda mengilustrasikan kebenaran?" tanyaku.


"Betul. Menurutku tidak layak kita menjelek-jelekkan agama terdahulu." jawab si bapak.


Aku mulai meragukan agama lelaki itu. Namun, tidak terus terang menyalahkannya: "Maaf, nama bapak siapa?"


"Mohamed. Senang bertemu denganmu."


Perlahan kecurigaanku memudar. Hampir saja aku mengira ia seorang ateis.


"Sidi Mohamed, Aku mau bertanya sesuatu. Mengapa sebuah buku terus dicetak, adakah yang salah dengan cetakan pertama sehingga harus dicetak ulang kedua, ketiga, dan seterusnya. Aku bingung. Sekarang aku sedang menyelesaikan proposal tesis, banyak referensi aku temukan di perpustakaan ini, namun ada satu buku yang ditulis oleh ulama abad ke-12 Masehi, lantas aku perhatikan ada beberapa cetakan, dan setahuku yang terakhir adalah cetakan ke empat. Menurutmu, cetakan mana kah yang harus aku jadikan referensi?"


"Cetakan terakhir!" sulut si bapak tegas dan cepat.


"Baik terima kasih pak, secara tidak langsung Anda sudah menjawab sendiri pertanyaan yang engkau lontarkan."


"Maksudmu anak muda?" Ia balik bertanya bingung.


"Aku sama sekali tidak meragukan agamaku, karena ajaran Muhammad adalah yang terakhir, penutup dan penyempurna semua agama-agama sebelumnya. Pun tidak aku menyalahkan agama sebelumnya, hanya saja saat ini sudah tidak ada yang murni alias diselewengkan. Bukankah berpedoman kepada cetakan terakhir lebih pantas?"


Ia tertawa dan kembali merangkul pundakku, sambil berjalan ke paviliun perpustakaan ia membisikkan sesuatu yang membuatku kaget: "Hai anak muda, sebenarnya aku seorang Yahudi Maroko, namaku ini karena aku lahir di Maroko, baju dan bahasa ku ini karena aku besar dan tumbuh di Maroko. Mungkin belum mendapatkan hidayah, aku hanya masih teguh pada agama nenek moyang, kamu belajarlah yang giat untuk lebih meneguhkan imanmu. Bagaimanapun engkau saudaraku, aku menyambutmu jauh-jauh ke negaraku untuk menuntut ilmu, semoga Dia memberkahi. Sampai jumpa anak muda!"


Setelah melontarkan senyuman dan berpisah, aku kembali ke ruang baca dan melanjutkan aktifitas, saat itu lah pertama kali aku bertemu dengan seorang Yahudi Maroko yang telah berasimilasi, dalam sejarahnya kelompok-kelompok Yahudi itu datang dari Andalus pasca pengusiran yang dilakukan oleh panitia Inkuisisi Kerajaan Kristen Spanyol akhir abad ke-15, mencari suaka ke beberapa wilayah di Afrika Utara yang saat ini terbagi dalam beberapa negara, mayoritas menempati negara Maroko hingga tersebar di beberapa kota. Mereka mendapatkan perlindungan langsung dari Raja Maroko dan dibebaskan dalam beragama, bahkan memiliki pengadilan agama sendiri (المحكمة Ø§Ù„عبرية) di Casablanca untuk mengadili perkara keagamaan bagi warga Yahudi.








« PREV
NEXT »

1 comment

  1. Bagus tulisan ini akankah jd cetakan karya berikutnya mas Azhari, sukses selalu yah nak.

    ReplyDelete