BREAKING NEWS
latest

Advertisement
Showing posts with label Pengalaman Menarik. Show all posts
Showing posts with label Pengalaman Menarik. Show all posts

Belajar Melayani dari Balik Pintu-Pintu Hotel Makkah


Ada pengalaman yang mungkin tidak terlihat oleh jemaah haji.

Ketika sebagian besar jemaah sibuk mempersiapkan diri untuk beribadah, berjalan menuju Masjidil Haram, atau mempersiapkan rangkaian Armuzna, ada orang-orang yang bekerja di balik layar untuk memastikan satu hal sederhana: ketika jemaah kembali ke hotel, mereka memiliki tempat untuk beristirahat dengan layak.

Tahun 2026, aku mendapat kesempatan menjadi bagian dari PPIH Arab Saudi 1447 H/2026 M, pada Tugas dan Fungsi Akomodasi Sektor 2 Daerah Kerja Makkah, di bawah kepemimpinan Bpk. Abidzar Espana Ramadhan sebagai Kepala Sektor, dan Bpk. Muhammad Andi Taufik sebagai Sekretarisnya.

Awalnya mungkin terdengar sederhana: mengurus hotel jemaah. Namun setelah menjalaninya selama 2 bulan penuh, aku sadar bahwa akomodasi bukan sekadar urusan kamar dan tempat tidur. Ia menyangkut kenyamanan, keamanan, kesehatan, mobilitas, bahkan ketenangan jemaah dalam menjalankan ibadah.


Meniti Amanah di Antara Pintu-Pintu Hotel

Sektor 2 Makkah memiliki 22 hotel yang menjadi bagian dari layanan akomodasi jemaah. Sebelum jemaah datang, pekerjaan sudah dimulai.

Kami harus memastikan kesiapan hotel: memeriksa kamar, lift, air, listrik, kapasitas kamar, lobi, sanitasi, hingga akses keluar-masuk hotel. Kami juga harus memastikan konfigurasi penempatan jemaah sesuai data dan rombongan. Bahkan hal yang terlihat kecil seperti label kamar, daftar nama jemaah per kamar, pencocokan manifest, hingga pembagian kunci kepada ketua rombongan (Karom) harus dipersiapkan dengan teliti. Sebab satu kesalahan kecil dalam penempatan bisa berarti masalah besar ketika ribuan jemaah tiba secara bersamaan.

Pada Gelombang I saja, Sektor 2 Makkah melayani 35 kloter dengan 13.870 jemaah yang ditempatkan di 15 hotel. Sementara Gelombang II, terdapat 15 kloter dengan 5.384 jemaah yang ditempatkan di 12 hotel. Di atas kertas angka-angka itu terlihat seperti statistik. Tetapi di lapangan, angka tersebut berubah menjadi wajah.

Dan uniknya, petugas akomodasi di sektor 2 Makkah (yang hanya berjumlah 20 orang saja), wajib membagi tugas menjadi PIC hotel, sehingga 1 orang bertanggung jawab atas 1 hotel, bahkan ada yang 2 hotel. Mereka melayani setiap kebutuhan akomodasi, menanggapi, dan mencarikan solusi atas setiap kendala dan masalah yang muncul. Ya, di sini penting sekali komunikasi dan koordinasi intens dengan petugas hotel, yang notabene mereka adalah warga lokal Arab Saudi, sudah tidak bisa berbahasa Indonesia, kadang juga malas menanggapi keluhan. Bahkan, aku sebagai alumni Timur Tengah pun, tidak sepenuhnya memahami bahasa mereka karena dominan menggunakan 'amiyah lokal Saudi. Sering terjadi kesalahpahaman itu pasti.

Ada bapak-bapak lanjut usia yang membutuhkan bantuan. Ada ibu-ibu yang kebingungan mencari kamar. Ada jemaah yang baru tiba setelah perjalanan panjang. Ada ketua rombongan yang harus memastikan seluruh anggotanya mendapatkan kamar.

Di situlah aku mulai memahami bahwa pekerjaan ini bukan hanya tentang hotel. Ini tentang manusia.

Antara Harapan dan Kenyataan

Menjadi petugas akomodasi juga berarti harus siap menemukan kenyataan yang tidak selalu sesuai dengan harapan.

Dalam pemeriksaan dan monitoring, kami menemukan berbagai persoalan. Ada lift yang jumlah atau kapasitasnya terbatas. Ada gangguan distribusi air. Ada AC yang pendinginannya tidak stabil. Ada fasilitas laundry yang terbatas, bahkan rusak. Pelayanan porter di beberapa hotel juga belum selalu konsisten.

Masalah-masalah tersebut mungkin terlihat sederhana jika dibaca dalam laporan. Tetapi bayangkan ketika masalah itu terjadi kepada jemaah yang baru saja pulang dari aktivitas ibadah. AC yang tidak dingin bukan sekadar masalah teknis. Lift yang rusak bukan sekadar angka dalam checklist. Air yang tidak mengalir bukan sekadar catatan monitoring. Semuanya bisa menjadi gangguan bagi jemaah.

Karena itu, tugas kami bukan hanya mencatat masalah, tetapi memastikan masalah tersebut segera ditindaklanjuti.

Kami melakukan visitasi, menerima dan menindaklanjuti pengaduan, berkoordinasi dengan pihak hotel, melaporkan temuan secara berjenjang, dan terus memantau kondisi hotel. Sistem pengaduan bahkan disiapkan agar tetap aktif selama 24 jam.

Di sinilah aku belajar, bahwa menjadi petugas berarti harus memiliki kesabaran. Kadang masalah bisa selesai dengan satu komunikasi. Kadang perlu berkali-kali menghubungi pihak hotel. Kadang harus datang kembali ke lokasi untuk memastikan bahwa persoalan benar-benar telah diselesaikan. Karena bagi kita mungkin hanya satu keluhan. Tetapi bagi jemaah, itu adalah kenyamanan yang mereka tunggu.

Memandang Akomodasi dari Balik Layar Pelayanan

Selama menjalankan tugas, aku mulai melihat sebuah hotel bukan lagi sebagai tempat menginap. Aku melihatnya sebagai sebuah sistem pelayanan.

Aku memperhatikan bagaimana jemaah keluar-masuk hotel, bagaimana mereka menggunakan lift, bagaimana kondisi lobi ketika ramai, bagaimana kamar dibersihkan, bagaimana porter merespons, bagaimana pihak hotel menangani keluhan, dan bagaimana air bersih diisi ulang oleh puluhan truk tangki setiap harinya.

Kami melakukan monitoring terhadap berbagai aspek: lift, air bersih, AC, lobi, lorong kamar, fasilitas laundry, hingga pelayanan porter. Ada hotel yang sangat baik. Ada yang cukup baik. Ada pula yang membutuhkan perhatian lebih.

Dalam evaluasi akhir, 22 hotel dinilai menggunakan 27 indikator yang mencakup aksesibilitas, kenyamanan, kebersihan, keamanan, kualitas layanan, dan kelayakan fasilitas. Nilai rata-rata keseluruhannya mencapai 86,4 dari maksimum 108 poin. Sebanyak 11 hotel masuk kategori sangat direkomendasikan, 8 direkomendasikan, 2 perlu perbaikan, dan 1 tidak direkomendasikan karena memiliki persoalan multidimensi pada fasilitas, kebersihan, dan respons layanan sehingga membutuhkan evaluasi khusus. Dari sini aku belajar satu hal: pelayanan yang baik bukan berarti tidak ada masalah.

Pelayanan yang baik adalah ketika masalah ditemukan, diakui, dicari solusinya, dan dijadikan bahan untuk memperbaiki pelayanan berikutnya.

Ketika Sebuah Keluhan Menjadi Sebuah Amanah

Ada bagian dari pekerjaan ini yang tidak pernah tertulis lengkap dalam checklist, yaitu rasa khawatir. Khawatir ketika jemaah datang tetapi kamar belum sepenuhnya siap. Khawatir ketika lift bermasalah sementara banyak jemaah lanjut usia harus naik-turun. Khawatir ketika AC bermasalah di tengah cuaca Makkah. Khawatir ketika ada laporan air bermasalah. Dan tentu saja, lega ketika semuanya akhirnya dapat ditangani.

Mungkin bagi orang lain, kami hanya sedang mengecek hotel. Tetapi bagiku, setiap kali membuka pintu kamar jemaah, mengecek lift, berbicara dengan pihak hotel, menerima keluhan, atau memastikan sebuah masalah telah selesai, selalu ada perasaan bahwa kami sedang membawa amanah yang besar. Sebab jemaah datang ke Tanah Suci untuk beribadah. Dan tugas kami adalah memastikan agar urusan-urusan pelayanan tidak menjadi penghalang bagi ibadah mereka.

Pelajaran Yang Dipetik Dari Tanah Suci

Menjadi petugas haji ternyata tidak hanya mengajarkan aku tentang teknis pelayanan. Ia mengajarkanku tentang manusia. Tentang kesabaran, komunikasi, bekerja dalam tim, mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu ideal. Dan yang paling penting, tentang melayani tanpa harus selalu terlihat.

Banyak pekerjaan petugas yang mungkin tidak diketahui jemaah. Mereka hanya tahu bahwa kamar mereka sudah tersedia, lift bisa digunakan, AC kembali dingin, air kembali mengalir, keluhan mereka ditangani.

Bagi kami, mungkin itu adalah bagian dari pekerjaan. Dan sesungguhnya, di situlah nilai pengabdian itu terasa. Pada akhirnya, aku menyadari bahwa menjadi petugas haji bukan tentang seberapa banyak orang mengetahui apa yang telah kita kerjakan. Bukan pula tentang seberapa besar kita ingin disebut berjasa. Karena pekerjaan pelayanan memang seharusnya seperti itu: bekerja ketika dibutuhkan, membantu ketika diperlukan, lalu membiarkan hasilnya menjadi milik orang lain.

Dan semoga seluruh langkah yang pernah kami lakukan di antara hotel-hotel Sektor 2 Makkah itu tidak berhenti sebagai pengalaman kerja semata. Semoga ia menjadi bagian kecil dari amal yang diterima Allah. Sebab kami datang ke Tanah Suci bukan hanya untuk menyaksikan jutaan manusia beribadah. Kami juga datang untuk belajar bahwa di hadapan Allah, melayani seorang tamu-Nya pun adalah sebuah kehormatan.

Alhamdulillah atas kesempatan itu. Alhamdulillah atas segala lelahnya. Dan Alhamdulillah atas setiap pelajaran yang Allah titipkan selama menjadi bagian dari pelayanan jemaah haji Indonesia di Makkah.

Semoga Allah menerima setiap ikhtiar, mengampuni setiap kekurangan, dan mempertemukan kami kembali dengan Tanah Suci dalam keadaan yang lebih baik. Amin YRA.


24 Juni 2026, Soekarno-Hatta Airport

Azhari M.

Pendampingan Tamu VIP





"Alhamdulillah", satu kata yg terucap pertanda akhir dari segala pengorbanan. Banyak drama yang muncul sejak awal mempersiapkan kunjungan Rektor Univ. Al Qasimia Dubai, Prof. Awad Alkhalaf. Diawali dengan pertemuan melalui zoom meeting yang dipandu oleh KJRI Dubai, mempertemukan kampus UIII dengan Al Qasimia. Saat itu aku yang masih baru di kampus hanya ikut arus, adapun yang hadir diantaranya Rektor UIII, Senat Akademik UIII, Wakil Rektor bidang Kerjasama UIII, dan lainnya, termasuk diriku staf kerjasama. Sementara di pihak Qasimia hadir Prof. Awad Alkhalaf, Dr. Nuhu Zakaria, Direktur Hubungan Internasional dan bidang Kemahasiswaan. Karena pimpinan sudah lengkap aku pun off camera. Tapi ternyata, pihak Qasimia memilih untuk berbicara berbahasa Arab, diawali oleh Dr Zakaria yang meminta untuk diterjemahkan, akhirnya Rektor meminta aku untuk menjadi penerjemah pertemuan daring itu.


Jantung pun berdebar, keringat mengucur, pena mana pena? Kertas oh kertas. Ini pertemuan bilateral, aku tidak mau sampai blank ataupun gagap. Begitu pena dan kertas siap akupun menyalakan kamera menyapa semua yang hadir.

Meeting pun dimulai, aku menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Prof. Awad Alkhalaf kemudian aku sampaikan kepada pihak UIII, begitu pun sebaliknya aku simak setiap kata Inggris yg terciprat dari bibir Prof. Komaruddin Hidayat lalu aku terjemahkan dan sampaikan kepada pihak Qasimia, begitu seterusnya sampai akhir sesi. Tangan dan jariku tak pernah berhenti gerak.


Lucu, mereka saling tolak menolak untuk diundang. Rektor UIII menolak diundang ke Dubai, begitupun sebaliknya sampai akhirnya Qasimia menyerah dan mengalah.


Terjadilah pertemuan pada 14 Desember 2022 lalu di kampus UIII, pertama dalam hidupku menyambut tamu VIP yang turun dari Emirates Airlines kelas bisnis, tiba pukul 22:00 malam Rabu, baru keluar dari bandara pukul 23:00, melalui jalur parkiran VIP langsung kita sambut dan antar ke Pullman Hotel Thamrin, masih kurang percaya diri karena aku hanya membawa innova reborn untuk menjemput mereka yang bertubuh tinggi dan besar. Innova bagiku cukup besar, tapi mereka harus menundukkan kepala. Ya, hanya itu mobil yang disediakan oleh kampus, pengalaman ini akan kubuatkan laporan sehingga disetujui pengadaan Alphard nantinya khusus menjemput tamu undangan Rektor.


Rabu dini hari pukul 00:30 mereka pun berhasil check in dan istirahat di hotel bintang lima itu. Kami bertiga kemudian menuju OYO hotel yang sudah aku booking sore tadi, ternyata OYO ada batas waktu kunjung, tengah malam sudah nihil mendapatkan hotel lain, ah, sial sekali nge-bolang pusat kota jakarta di malam yang larut, akhirnya kami mencurahkan penat dengan makan nasi goreng di emperan, di lokasi yang berantah.


Sambil menyantap nasi goreng, perut berbunyi krucuk-krucuk, angin sepoi-sepoi malam membuat perutku kembung. Dengan bantuan salawat akhirnya aku bisa kembali booking sebuah hotel bintang dua di kawasan Tanjung Duren.


Sampai kamar hotel, aku baru sadar harus menjadi MC acara penandatanganan MoU dengan Qasimia besok pagi. Segera aku buka laptop dan membuat script MC bahasa Arab sampai jam 3 dini hari, dan... terlelap.


Dua jam kemudian alarm hp mengguncang tubuhku. Mata merah, badan kaku, sedang pikiranku hanga mengingat "Qasimia". Segera memaksa tubuh kaku ini bangkit, sholat dan mandi. Jam 7 pagi kami menuju Pullman untuk menjemput Prof. Awad dan Dr. Zakaria menuju Depok, ya menuju kampus UIII.


Kantung mata setengah tebal dan gelap, acara demi acara akhirnya selesai. Semua berjalan sesuai rencana yang telah jauh-jauh hari kami persiapkan. Tiga hari tiga malam kami mendampingi Prof Awad, pada akhirnya mereka sangat berterimakasih kepada UIII yang telah menyambut hangat kedatangan mereka, bagaimanapun kenyamanan mereka hingga kesuksesan akan keberlangsungan acara penandatanganan MoU merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagiku. Terlepas dari perjuangan dibalik itu, banyak yang support, utamanya Senat Akademik di hari-hari akhir meminjamkan mobil dinas pribadinya untuk mengantar Prof Awad ke bandara, karena terbentur dengan peraturan ganjil genap mobil di Jakarta.


Satu kata untuk menutup cerita ini, "Alhamdulillah".

KRL Mind Blowing

Manusia berlalu-lalang mengejar kesibukannya. Hampir tiap detik jejak sepatu dan sandal memenuhi ubin stasiun KRL Pondok Cina, tidak pernah sepi.
Pagi itu, Hafaz pertama kali menginjakkan kaki kota Depok. Ia memberanikan diri mengambil rute metro lintas jabodetabek itu menuju ke kontrakan kak Lisa di Cilandak.


"Mbak, aku mau beli tiket KRL, boleh tahu apa saja opsinya?" 


"Harga kartunya 30.000 mas, sudah termasuk saldo 10.000." tegas mbak petugas loket pembelian tiket KRL.


"Loh, tidak ada kah tiket untuk sekali naik atau satu hari saja?"


Hafaz bingung, dalam benakknya masih membandingkan KRL dengan metro di kota Paris atau Amsterdam. Memang, di Paris tiket metro bisa dibeli sesuai durasi per jam ataupun per 24 jam.


"Tidak ada mas, sudah habis. Tersisa kartu member saja yang bisa diisi ulang."


Tanpa berpikir panjang Hafaz lalu mengambil dua lembar kertas sejumlah 30.000 dan memberikannya kepada petugas loket. Toh, ia berpikir akan menetap lama di sana dan bukan sebagai turis. Namun sesekali ia masih bertanya-tanya bagaimana kalau memang turis mencoba eksplor Jakarta menggunakan KRL, tidakkah ia rugi jika kartunya nanti terpaksa dibuang dan tak terpakai lagi saat kembali ke negara asalnya?


Cukup sampai di situ, Hafaz lalu berjalan dan check in kartu KRL, ia masih mencari-cari petunjuk arah karena ada dua jalur kereta yang melewati stasiun itu: kereta tujuan Bogor, dan tujuan Jakarta Kota.


Setelah menemukan sign board itu, ia berharap-harap agar tidak keliru. Tiga menit kemudian terdengar bunyi nada melodi yang menandakan sebuah kereta akan melintas. Hafaz melihat ke kanan dan kiri, ternyata yang akan datang ialah kereta tujuan Jakarta Utara, tepat seperti yang dikehendakinya.


Setelah kereta berhenti sempurna, ia pun bergegas masuk ke salah satu pintu, Minggu pagi itu gerbong kereta tak begitu ramai seperti hari-hari biasa. Hanya buruh dan karyawan kantor dan mungkin mahasiswa yang memadati metro itu setiap hari aktif, dengan harga hanya 3.000,- jauh lebih murah dibanding transportasi lain.


Hafaz memperhatikan sekitar, nyaris tak satupun dari mereka yang tidak memakai kerudung. Dengan cueknya Hafaz lalu memasangkan headset ke telinga dan memutar lagu Hati-Hati di Jalan by Tulus. Terkejut ia saat melihat seorang wanita berkerudung di sebelahnya mencolek pundak Hafaz.


"Mas, ini gerbong khusus wanita."


Seketika wajah Hafaz memerah malu: "Oh ya??"


Lalu ia perhatikan kembali penghuni gerbong sekitarnya, dan benar tidak ada satupun lelaki didalam kecuali dirinya. Lalu wanita yang berdiri di depan Hafaz mengarahkan Hafaz untuk berpindah ke gerbong sebelah. Ia kemudian mengantongi headset dan handphone, lalu berjalan ke arah pintu gerbong sebelah dengan santai agar tidak membuat kecurigaan, meski semua penghuni gerbong wanita itu sudah curiga dan memperhatikannya.


Dalam sekejap saja, keringat mengucur ke seluruh tubuh Hafaz.

Ia pun bertanya-tanya, mengapa ada gerbong khusus wanita? Ia pun menerka jawabannya, mungkin karena Indonesia negara mayoritas muslim, sudah benar tindakan pemerintah untuk memfasilitasi gerbong khusus wanita demi meminimalisir terjadinya pelecehan seksual. Metro setiap negara boleh sama, tapi kebijakannya wajar berbeda. Hafaz yakin, dimana bumi berpijak disitu langit dijunjung, meski kerap sekali ia menaiki metro di Amsterdam, Paris dan Turki, tapi tetap harus banyak bertanya-tanya saat hendak menaikinya kembali di Indonesia.


Stasiun Pondok Cina,

Minggu, 4 September 2022

Rasa Lapar Yang Membuatku Kenyang



Hampir tiap Jum'at si Fulan datang gedor-gedor pintu tanpa suara, kebiasaan orang Maroko mengetuk pintu rumah tetangga tanpa salam, usai menyerahkan dulang keramik berisi kuskus daging ia langsung cabut, belum pun sempat aku ucapkan terima kasih dan dua patah doa, kadang ia dan adiknya hanya melempar tawa. Mungkin mengira aku tidak paham bahasa Mereka. Benar, memang aku tidak paham Amazigh Berber, tapi setidaknya aku mencoba hafal satu kata dalam sehari.


"Tanmart...!" ucapku dari jauh sambil melihatnya berlari.


(Tanmart: Terima Kasih)


Rutinitas fastabiqul khairat di desa terpencil ini begitu terasa. Banyak yang ringan tangan dan tanpa pikir panjang sesekali bapak tua menyalami tempel kami dengan 200 dirham Maroko (setara 300 ribu rupiah). Entah dari mana asalnya, yang pasti warga sekampung sudah tahu keberadaanku di sini mengaji dan mengabdikan diri kepada seorang syekh, fakih dan imam masjid kampung Tadart.


Hanya saja hari Jumat ini berbeda, setelah menanti lama kedatangan si Fulan membawa kuskus yang tak kunjung tiba, kami memutuskan masak sendiri dengan bahan dan rempah seadanya. Tapi, tidak lama terdengar ketukan pintu dari luar, aku bergegas membuka sambil membayangkan kerucut kuskus kuning ditumpuk sayuran berkuah dengan daging masih berasap, oh Tuhan... makanan itu sangat ku nanti-nantikan.


Setelah pintu terbuka, aku tidak melihat si Fulan Berber itu, hanya ada dua orang lelaki meminta izin untuk menitipkan ranjang besi yang baru saja dipakai cuci jenazah. Aku teringat salah seorang warga meninggal dan disalatkan bersama usai salat Jumat tadi. Astaga, harapan ku sirna. Sumpah, bulu kudukku masih merinding memperhatikan ranjang besi basah itu dibawa masuk ke kamarku. Seketika, mood ku berubah tidak lagi menginginkan makanan. Yang ku ingat hanya kematian. ðŸ˜‚

Yahudi Maroko Berbahasa Darija




Seorang lelaki renta perlahan berjalan satu arah dengan ku. Perawakan dari kepala hingga ujung kaki tak membuat seorang pun di sekelilingnya curiga. Jalabah khas Maroko, sandal aladin, hingga kupluk bundar berwarna putih menancap di kepalanya menampilkan sosok pria Maroko tulen. Ia menatap ku dan menyapa: "Do you speak English hai anak muda?" Aku yang baru beranjak dari masjid menuju perpustakaan seketika berhenti.


Siang itu, tepat pukul satu tengah hari perpustakaan Saudi Ain Diab kota Casablanca rihat sejenak dari segala aktifitas, pengunjung dan karyawan bergegas menuju masjid untuk menunaikan ibadah salat zuhur, meski sebagian diantaranya masih ada yang menetap sambil membaca buku, biasanya mereka akan menghabiskan target lebih dulu atau bahkan hanya tinggal beberapa halaman saja sebelum usai dan meninggalkan tongkrongan para kutu buku. Sementara aku memilih jeda, karena masih banyak buku yang harus aku temukan untuk melengkapi referensi proposal tesis yang sedang ku kerjakan. Perpustakaan Saudi ialah termasuk diantara perpustakaan yang memuat banyak referensi untuk kajian studi Islam di Maroko, selain lengkap, arsip dari kategori buku-bukunya pun terbilang cukup metodis dan sistematis. Tidak heran, banyak kalangan akademisi dan peneliti sudah pasti tahu keberadaan perpustakaan satu ini.


"Sorry?" Aku menyela.


Bapak tua itu mengulangi lagi pertanyaannya. Aku pun mengiyakan meski kemudian mengaku lebih nyaman berbahasa Arab sebagai seorang pelajar Islamic Studies di kota Rabat. Mendengarnya, ia pun kian tertarik dan merangkul pundakku, basa-basi ia lemparkan semula dengan bahasa Darija Maroko, lalu mencoba praktik kembali bahasa Arab hormat kepada ku sebagai pelajar asing di negaranya.


"Kenapa kamu memilih studi Islam? Apakah Islam itu agama yang lebih baik dari agama yang lain?" tanyanya sontak membuatku tertegun.


Pertanyaan itu menjebak, awalnya heran karena terlontar dari mulut seorang Maroko yang notabene negaranya mayoritas muslim, apakah ia meragukan agama yang dianut, ataukah hanya menguji nyali aku sebagai pelajar studi Islam, masih bingung belum tahu maksud dari ucapan si bapak, aku hanya memberi jawaban singkat: "Aku tidak meragukan agama yang ku anut."


"Apakah kamu merasa lebih baik daripada orang tuamu anak muda?"


"Kenapa Anda bertanya seperti itu?"


"Karena yang baru-baru belum tentu benar! Bukankah seharusnya kita lebih percaya senior daripada junior? Bukankah pengalaman orang tua kita lebih banyak? Pantaskah kita mengikuti mereka yang baru lahir daripada nenek moyang mereka?"


"Begitukah Anda mengilustrasikan kebenaran?" tanyaku.


"Betul. Menurutku tidak layak kita menjelek-jelekkan agama terdahulu." jawab si bapak.


Aku mulai meragukan agama lelaki itu. Namun, tidak terus terang menyalahkannya: "Maaf, nama bapak siapa?"


"Mohamed. Senang bertemu denganmu."


Perlahan kecurigaanku memudar. Hampir saja aku mengira ia seorang ateis.


"Sidi Mohamed, Aku mau bertanya sesuatu. Mengapa sebuah buku terus dicetak, adakah yang salah dengan cetakan pertama sehingga harus dicetak ulang kedua, ketiga, dan seterusnya. Aku bingung. Sekarang aku sedang menyelesaikan proposal tesis, banyak referensi aku temukan di perpustakaan ini, namun ada satu buku yang ditulis oleh ulama abad ke-12 Masehi, lantas aku perhatikan ada beberapa cetakan, dan setahuku yang terakhir adalah cetakan ke empat. Menurutmu, cetakan mana kah yang harus aku jadikan referensi?"


"Cetakan terakhir!" sulut si bapak tegas dan cepat.


"Baik terima kasih pak, secara tidak langsung Anda sudah menjawab sendiri pertanyaan yang engkau lontarkan."


"Maksudmu anak muda?" Ia balik bertanya bingung.


"Aku sama sekali tidak meragukan agamaku, karena ajaran Muhammad adalah yang terakhir, penutup dan penyempurna semua agama-agama sebelumnya. Pun tidak aku menyalahkan agama sebelumnya, hanya saja saat ini sudah tidak ada yang murni alias diselewengkan. Bukankah berpedoman kepada cetakan terakhir lebih pantas?"


Ia tertawa dan kembali merangkul pundakku, sambil berjalan ke paviliun perpustakaan ia membisikkan sesuatu yang membuatku kaget: "Hai anak muda, sebenarnya aku seorang Yahudi Maroko, namaku ini karena aku lahir di Maroko, baju dan bahasa ku ini karena aku besar dan tumbuh di Maroko. Mungkin belum mendapatkan hidayah, aku hanya masih teguh pada agama nenek moyang, kamu belajarlah yang giat untuk lebih meneguhkan imanmu. Bagaimanapun engkau saudaraku, aku menyambutmu jauh-jauh ke negaraku untuk menuntut ilmu, semoga Dia memberkahi. Sampai jumpa anak muda!"


Setelah melontarkan senyuman dan berpisah, aku kembali ke ruang baca dan melanjutkan aktifitas, saat itu lah pertama kali aku bertemu dengan seorang Yahudi Maroko yang telah berasimilasi, dalam sejarahnya kelompok-kelompok Yahudi itu datang dari Andalus pasca pengusiran yang dilakukan oleh panitia Inkuisisi Kerajaan Kristen Spanyol akhir abad ke-15, mencari suaka ke beberapa wilayah di Afrika Utara yang saat ini terbagi dalam beberapa negara, mayoritas menempati negara Maroko hingga tersebar di beberapa kota. Mereka mendapatkan perlindungan langsung dari Raja Maroko dan dibebaskan dalam beragama, bahkan memiliki pengadilan agama sendiri (المحكمة Ø§Ù„عبرية) di Casablanca untuk mengadili perkara keagamaan bagi warga Yahudi.








Andalus, Surga Yang Dijanjikan, Bukan Permata Yang Hilang

Andalus, Surga Yang Dijanjikan, Bukan Permata Yang Hilang
(Berdasarkan kisah perjalanan intuitif Dr. Husayn Mu'nis)

Berdiri di tengah-tengah halaman luas yang dikelilingi sebagian besar jalan, aku dengarkan keheningan mengerikan yang mencakup segala kehidupan, dari belakang terdengar bisikan roh ribuan pendahulu bergentayangan di tempat ini mengajakku mengobrol. Walau aku mengepalkan sebongkah tanah karena ketakutan namun aku mendengar suara Abu al-'Alaa al-Makmun memanggilku, sedikit meredakan rasa takut. Aku lihat banyak manusia yang berjalan setengah lari, mereka berangkat dari Cordoba menuju tanah jihad yang dipimpin oleh Abu al-'Alaa. Musuh berlari di tengah ketenangan karena takut dengan pasukan muslim, masih berkeliaran roh-roh mereka di tanah syuhada.

Saat aku berdiri di pekarangan masjid Jami' Cordoba bakda fajar, aku membayangkan jamaah telah usai melaksanakan ritual subuh, lalu para pelajar segera mengambil tempat masing-masing dan membentuk halaqah sembari menunggu guru-guru mereka datang mengajar.

Lalu di aula bawah (ruang tamu) khusus istana Alhambra, aku merenungi sekitarku, saat pintu akan dibuka lalu sang Sultan, Abu al-Hajjaj Yusuf al-Ahmar datang menyambutku, berbaris di belakangnya para pengawal kerajaan, mereka akan mengadakan majlis musyawarah atau sarasehan para penyair.

Di Cordoba, tatkala aku berhenti di jalan Ibnu Rusyd, terbayang olehku banyak orang berlalu lalang, lalu kepada mereka kutanyakan alamat rumahnya, salah seorang mereka kemudian menunjukkanku rumah Abu al-Walid itu.

Lalu di Loja, sebuah desa kecil yang berada antara kota Granada dan Malaga, ialah kampung halaman penyair dan sejarawan terkenal Lisan ad-Diin Ibn al-Khatiib, suatu pagi aku berdiri di depan rumah yang memiliki bak air mancur dengan air mengalir diiringi musik Andalus, di sampingnya tertancap sebuah pancang bertuliskan nama Arab sempurna. Aku membayangkan Ibn al-Khatiib berada di sana menyenderkan punggungnya sambil menulis sebuah karya baru.

Dan di Jaén, tidak jauh dari Cordoba, terbayang olehku sosok Jamaluddin Ibn Malik, penulis kitab "Alfiyah", banyak hal yang tak bisa kuungkapkan mengenai sosok itu.

Di sebuah lapangan kecil depan kampus kota Salamanca, aku duduk di atas bangku yang terbuat dari kayu, aku merenungi patung Miguel de Unamuno, seorang filsuf Spanyol, betapa aku kagumnya, andai saja ia memeluk Islam, pasti ia saat ini duduk di sebelahku mencari beberapa bagian hadits.

Dan di Badajoz, aku melihat amfiteater romawi yang besar sekali, seakan-akan aku merasa sedang dalam pertandingan super meriah, dimana para aktor sedang beristirahat usai sesi pertama drama dari serangkaian produksi drama Sophocles, tidak lama mereka akan tampil lagi melanjutkan sesi kedua.

Intuisi seperti ini membuatku menganggap budaya Andalus seolah selalu hidup, perasaanku dibuat terkagum-kagum olehnya, seperti saat kamu sedang mengarungi setengah pulau ratusan mil jauhnya, tiada kamu temukan seorang bahkan seekor burung kutilang pun, lalu di tengah kehidupan liar kelam itu kamu merasakan bahwa nuansa sekitarmu ternyata penuh dengan semangat dan kehidupan.

Andalus, negeri yang selalu hidup dalam kenangan, ialah surga yang dijanjikan, bukan permata yang hilang.

Becermin Membuat Kita Bersyukur

Ketika kita melihat lebih jauh tentang sifat diri kita sendiri, pasti akan memunculkan ribuan pertanyaan yang terkadang membuat kita heran, takjub, kecewa, menyesal, bangga bahkan kita akan dibuat tersenyum-senyum oleh semua keunikan itu.

Lumrah, setiap individu memiliki ciri khas tersendiri, dan sifat manusia berbilang-bilang, kadang memiliki persamaan di satu sisi, namun berbeda di sisi yang lain.

Seumpama, ada yang pintar mengawal suasana, pastilah ia seorang yang asyik dan mudah bergaul. Dalam kelompok, ia lebih unggul, orang-orang di sekelilingnya terkagum-kagum, ada saja kata-kata atau tingkah lakunya yang membuat orang lain minimal senyum, ataukah tertawa. Ketika ia diminta

Petuah La Kougnir















Kamu melakukan sesuatu jangan karena suka dipuji orang apalagi merasa orang lain akan ingat terus sama kamu, mungkin saat ini kamu dipuja puji disebut-sebut terus dalam suatu kelompok, tapi ada waktunya kamu akan diabaikan dan dilupakan. Sang bintang terus datang silih berganti. Seberapa lama sih orang akan mengingat perkataanmu? Tapi menulislah, karena tulisan akan terus dibaca.

Casablanca, 8 Maret 2020


Kalau kamu mendengar suatu pembicaraan yang asing, tetap dengarkan! Sampai kamu menemukan satu titik temu yang kamu pahami dari pembicaraan itu barulah kamu ikut komentar. Kalau masih tidak paham cukup dengarkan saja. Karena tidak baik mengomentari persoalan yang kamu pahami setengah-setengah.

Casablanca, 9 Maret 2020


Senang rasanya mendengar cerita mereka yang memiliki pola makan dan hidup yang baik, menjaga postur tubuh dan waktu tidur yang teratur. Lagi-lagi aku hanya merasa senang. Entah kapan senang karena telah mengatur diri sendiri. Kebiasaan yang buruk!

Skhirat, 9 Maret 2020


Puas akan pelayanan sedekahlah dengan memberi feedback. Tidak puas pun tetap sedekahkan feedback yang membangun. Apa salahnya sih bersedekah yang tidak merugikanmu. Biasakan ringan tangan meski dengan hal-hal yang ringan. Siapa tahu kelak dengan sedekahmu dapat memajukan peradaban seseorang.

Rabat, 9 Maret 2020


Lurusnya jalan bukan berarti tak memiliki rintangan. Bahaya di ujung jalan menantimu yang tidak memperhatikan kecepatan. Jalan keriting pun kalau kamu bersabar akan sampai kepada yang di tuju, karena halangan dan rintangan itu sebenarnya hanya sekejap saja, tergantung seberapa besar kesabaran yang engkau punya.

Rabat, 9 Maret 2020


Mikrofon itu fungsinya menyampaikan suara dari pembicara kepada si pendengar. Tapi tidak ketika memanjatkan doa. Suara hati pun Tuhan bisa mendengar. Itulah bedanya Dia dengan kamu manusia.

Rabat, 9 Maret 2020


Ketika berbicara, aku hanya menyampaikan kata-kata yang diuntai dalam benak kepala. Didukung dengan data kesadaran sejarah dan pra-pemahaman semata, yang mana diperoleh melalui buku bacaan, hasil diskusi atau pengalaman dan sosio kultural sedari kecil. Lantas apakah layak kalau disebut bahwa akulah yang paling benar? Diskusikan untuk mencari kebenaran.

Kenitra, 9 Maret 2020


Buku adalah jendela dunia. Membaca buku berarti kamu telah membuka jendela dunia, tidak hanya terkurung dalam satu sangkar. Tapi dengan bepergian tidak hanya jendela dunia yang kamu buka, tapi kamu juga ikut masuk ke dalamnya. Pergilah!

Kenitra, 9 Maret 2020


Prediksi adalah ramalan, boleh sesuai maupun tidak. Jika kamu memprediksi, kamu telah berhitung, dan berhitung adalah cerminan matematika. Dalam Islam, khususnya fiqih kita menjumpai istilah fiqh tawaqqu', ialah suatu langkah ijtihad dimana kita memprediksi bahwa kita tidak akan jatuh ke dalam lubang kebinasaan. Berarti fiqih mempraktikkan matematika. Dan islam tidak bertentangan dengan ilmu pasti. Inilah salah satu contoh.

Rabat, 9 Maret 2020


Tidak seharusnya kamu beribadah, jika dengan ibadahmu yang sempurna itu kamu menyindir orang lain yang tidak sepertimu, maka pahalamu akan dicabut karena tak berniat dakwah. Sama halnya, ketika kamu memberi sedekah dan pada waktu yang sama kamu menghina pengemis itu.

Temara, 8 April 2020


Ingatlah orang-orang yang kamu sukai saja, karena jika kamu mengingat orang yang kamu benci akan selalu menyakitkan, dan membuat hidupmu senantiasa suram.

Temara, 9 April 2020


Jangan suka jadi tukang buat onar, belajarlah menjadi orang yang mengawali damai.

Jangan doyan mencari-cari kesalahan, lebih baik mencari solusi dan jalan keluar.

Jangn senang dengan berbuat kerusakan, perbaiki diri dan gemar memperbaiki harus lah pintar.

Nasehat untuk La Kougnir
Rue Khalil Motrane, 18 Juni 2020

Sinopsis Novel "Dari Sabang Sampai Maroko"



KATEGORI BUKU:
Novel

JUDUL BUKU:
Dari Sabang Sampai Maroko

TEMA:

Perjalanan dan Percintaan

GENRE:
Travelling, Romance, History

PENULIS:
Azhari Mulyana

EDITOR:

Iis Tentia Agustin

PENYUNTING DAN PENATA LETAK:

Tim CV Jejak

DESAIN SAMPUL:

Innamul Hassan

PENERBIT:

CV Jejak (Jejak Publisher)

JUMLAH HALAMAN:

270 Halaman

DIMENSI:

13 x 19 cm

ISBN:

978-602-61595-7-1



SINOPSIS :

Novel “Dari Sabang Sampai Maroko” bercerita tentang perjuangan Hafaz Aliandi menembus kuliah ke Mesir yang berakhir batal karena konflik melanda negeri nabi Musa. Karena itu, Hafaz memutuskan untuk berlabuh ke tanah Jawa. Hafaz bertemu dengan Aurelia, gadis anggun yang menjadi cinta pertamanya di tanah rantau. Setelah setahun menetap, dilema pun melanda relung hati Hafaz ketika datang sebuah kesempatan untuk mengejar cita, bak segan bergalah hanyut serantau, Hafaz pun kembali berusaha hingga akhirnya lulus beasiswa ke negeri matahari terbenam Maroko. Kebahagiaan itu mengakibatkan cintanya dengan Aurel pun harus berakhir dengan perihnya perpisahan bagai bunga yang sesaat mekar kemudian sirna saat musim gugur tiba.


19800 Detik Menuju Koln (Chapter 2)


            Aku melihat satu persatu penumpang berdiri mengenakan ransel dan memperbaiki pakaiannya yang lusuh. Masih dengan perasaan bimbang aku mengikuti langkah mereka keluar dari bus Eurolines ini. Saat menginjakkan kaki di terminal Koln aku melihat keramaian manusia yang berlalu-lalang. Beberapa bus besar tampak terpakir berderet di sekitar terminal menurunkan penumpang. Mataku kembali menangkap pesona keindahan kota ini dengan Katedral megahnya yang menjulang tinggi.

            Aku kembali melangkahkan kaki menjauh dari bus. Sejenak aku berhenti dan memperhatikan satu persatu bule yang lewat. Begitu padat. Mataku mencari-cari sosok berjilbab di sekitarnya, namun nihil. Aku tidak mengenal satupun dari mereka. Hatiku terus berharap kak Sari berada di tempatku menunggu saat ini. Sesekali aku melihat fotonya yang sempat aku download dari facebook sebelum berangkat tadi pagi.

            Aku mencoba mengikuti orang-orang sekitar. Namun aku bingung, mereka menuju ke berbagai arah, pastinya memiliki tujuan masing-masing. Tapi kebanyakan mereka memasuki sebuah gedung luas yang berada tepat di sebelah katedral. Aku meyakinkan diri dan terus melangkah, berharap bisa menemukan jaringan wifi.

            Tiba di dalam gedung, aku terus bergerak sambil sesekali menatap layar hp mencari jaringan. Karena wifi yang tersedia begitu banyak lalu aku mencoba mengkoneksikannya satu persatu. Alhamdulillah tersambung. Aku langsung menghubungi kak Sari. Sebelumnya aku melihat beberapa pesan yang dikirimkan olehnya menanyakan keberadaanku.

            “Halo, kakak di mana?” tanpa basa-basi aku langsung menanyakan keberadaannya karena cemas sendirian.

            “Kakak nungguin di luar dari tadi, kamu di mana?”

            “Aku di dalam gedung dekat terminal kak, kelihatannya kayak stasiun gitu, ada jadwal keberangkatannya.”

            Aku mencoba menjelaskan tempat di mana aku berada. Setelah memperhatikan seisi gedung, aku meyakini tempat luas ini ialah sebuah stasiun kereta api meskipun gerbong keretanya tidak terlihat olehku.

“Iya itu Köln Hauptbahnhof dek! Stasiun sentral kota Koln. Ya sudah, tunggu di situ kakak nyusul ya!” ujar kak Sari.

             Tidak lama, tampak sosok wanita Asia berjilbab biru berjalan memasuki area gedung ini. Postur tubuh dan wajahnya mirip dengan foto yang aku download, benar dugaanku bahwa wanita itu adalah kak Sari. Aku langsung menghampirinya.

“Azhar?!” tanyanya.

“Iya…! Saya Azhari. Kak Sari kan?? Salam kenal kak, hehe.” tanyaku balik. Aku merasa lega bertemu dengannya karena sedari tadi aku hanya merasa bagai anak hilang di negeri Nazi.

“Iya Zhar, kakak sudah lama nunggu di luar tadi, mungkin karena ramai jadi ngga kelihatan ya, hehehe.. gimana perjalanannya? Seru kan?! Sudah jadi anak Belanda ya sekarang haha.

Hahaha, ya begitulah kira-kira kak, tadi sempat diperiksa dua kali di perbatasan sama polisi Jerman. Biasanya memang begitu ya kak?” tanyaku penasaran.

Stasiun Hauptbahnhof terlihat sesak dipadati penumpang dari berbagai ras. Sambil berbincang-bincang, aku mengikuti langkah kak Sari menuju Katedral Koln.
            “Iya Jerman memang lebih ketat dibandingkan negara lain dek, tapi ngga ada masalah kan? Orang Jerman juga banyak yang tahu tentang Indonesia kok. Oh ya, ngga capek kan Zhar, kita jalan-jalan sekarang aja mumpung kakak lagi weekend.”

            Tidak lama, aku dan kak Sari sampai ke Katedral Koln, ikonnya kota ini. Sambil berjalan aku selalu menengadah ke atas karena saking tinggi dan megahnya. Dipandang dari sisi keagamaan, seorang muslim sepertiku tidak pantas memuji-muji tempat ibadah umat kafir ini. Tapi aku sama sekali tidak memujinya, hanya saja arsitektur bangunan dan usianya yang tua mengingatkanku akan sejarah dulu. Aku membayangkan bagaimana jika dahulu umat Islam dibawah komando seorang tabi'in 'Abdurrahman bin Abdullah el-Ghafiqi memenangkan pertempuran melawan pasukan bersenjata Franka dibawah pimpinan Charles Martel, pastinya yang saat ini aku lihat bukanlah katedral, melainkan masjid-masjid megah di tanah Eropa. Namun sayangnya, umat islam tidak memenangkan pertempuran itu. Bahkan karena kezaliman penguasanya, mereka harus terusir dari tanah Andalus atau yang kita kenal sebagai negara Spanyol saat ini. Mereka diberikan pilihan agar masuk ke dalam agama kristen ataupun diusir dari bumi Eropa, banyak juga dari mereka yang dibunuh.

“Zhar! Kamu mikirin apa kok serius banget lihat katedralnya?! Sudah, ayo jangan lama-lama, nanti kamu i’tikafnya di masjid saja jangan di sini, hahaha.” tegur kak Sari.

“Kita ke mana lagi kak?” tanyaku penasaran.
            “Sudah jangan banyak tanya, ikut saja!”
           
           
            Aku hanya tersenyum dan menghampiri langkah kak Sari. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, akhirnya sampailah ke sebuah jembatan besar yang aku lihat saat di bus. Aku memperhatikan kerangka baja jembatan ini yang berumur tua dan masih kokoh. Jembatan ini dibangun sebagai lalu lintas kereta untuk menyeberangi sebuah sungai b    esar di kota Koln. Di sebelah deretan rel kereta juga terdapat lintasan kecil untuk pejalan kaki. Mataku menyorot sebuah kapal besar dan panjang sedang melewati bawah jembatan. Kapal itu membawa tumpukan aspal. Beberapa kapal besar lainnya juga ikut berlayar di sungai ini. Saat menoleh ke sebelah kiri, tiba-tiba aku tertegun lalu menghentikan langkah. Beberapa turis berambut pirang sedang membidik kameranya ke arah pagar yang dipenuhi oleh jutaan gembok.

             “Kak, itu apa? Kok banyak gembok gitu digantung-gantung?” tanyaku heran.

            “Itu kata orang-orang gembok cinta dek, orang sini memasang sepasang gembok dengan kekasihnya di tempat-tempat indah seperti ini lalu kuncinya mereka buang bersama-sama. Katanya sih biar cinta mereka terkunci dan akan menjadi abadi. Salah satu cara mengekspresikan cinta yang dipercaya oleh penduduk sini. Kamu percaya? Buktikan aja Zhar, nanti kakak beli gemboknya,hahaha."


            “Hahaha… kok bisa ya bangsa Eropa yang berpikir modern juga percaya dengan hal-hal begituan?!” tanyaku sambil menggelengkan kepala.

“Oh ya kak, aku sebenarnya ke Jerman mau lihat bekas-bekas Nazi dulu, kan negara ini dikenal dengan Adolf Hitler dan Nazinya, tapi dari tadi kok aku belum nemu ya, bahkan gedung-gedung yang aku lihat sekarang beda dengan yang aku bayangkan. Malah kota ini terlihat modern gitu?!”


“Iya Koln memang kotanya sudah lebih modern dek, habis ini kita ke Brühl, di sana ada istana yang masih terlihat klasik, terus kita ke Bonn, kan kakak tinggal di Bonn.”



Loh, kakak bukannya tinggal di sini? Bonn itu di mana?” tanyaku bingung.


“Bonn itu ngga jauh dari sini kok, cuma naik kereta saja sekitar setengah jam sampai, kalau Brühl itu sebelum kota Bonn. Di Bonn nanti kamu bisa lihat rumahnya Beethoven, musisi Eropa terkenal, alun-alunnya, terus kita ke museum, dan terakhir nanti singgah di kampus kakak sebelum ke rumah.”

“Kakak tinggal sendiri di Bonn?”

“Iya dek, kakak tinggal di asrama, tapi nanti kamu nginap di rumah bang Zuhra kok, dia anak Aceh juga. Nanti kita ketemuan di kampus biar kamu kenal.” jawab kak Sari. “Oh ya, di sini kamu hati-hati sebut-sebut tentang Nazi atau Adolf Hitler dek.”

           “Loh, memangnya kenapa kak?” tanyaku penasaran. (BERSAMBUNG)