BREAKING NEWS
latest

Advertisement

Mencermati Keserupaan Persaingan Dunia (Era Modern - Pascaklasik)

Ketegangan yang terjadi antara Timur dan Barat dunia kini semakin memuncak, hal itu dipicu oleh isu-isu sensitif menyangkut kecanggihan beberapa negara super power yang menjadi motif timbulnya perang dunia ketiga.

Persaingan seperti ini ternyata sudah ada sejak permulaan abad ke-10 lalu, dimana Dinasti Umayyah masih membentangkan sayapnya di Barat menyaingi kekhalifahan Dinasti Abbasiyah yang baru bangkit di Timur dan berpusat di Baghdad-Irak.

Selama kekuasaan Abdur Rahman bin Muawiyah atau dikenal dengan Abdur Rahman I, lalu dilanjutkan oleh Abdur Rahman II, hingga Abdur Rahman III, mereka berhasil memprakarsai gerakan intelektual yang membuat Spanyol-Islam menjadi salah satu pusat kebudayaan di dunia.
Islam ketika itu berjaya di Andalus, Eropa sejak abad ke-9 hingga 11 Masehi.

Melihat realita yang terjadi pada abad modern ini, ada beberapa perbedaan dan juga kesamaan yang bisa kita cerna. Amerika terus berupaya menguasai dunia dengan keilmuannya dalam bidang teknologi, begitu juga di Timur, China ikut merespon kesombongan Negeri Paman Sam dan bekerja sama dengan Rusia dalam menemukan teknologi nuklir tandingannya.

Sangat disayangkan jika peristiwa dahsyat alias perang nuklir itu terjadi. Tidak hanya pemicu dan target yang menjadi sasaran, melainkan juga berimbas kepada negara-negara kecil lain yang sedang mengalami masa pubertas.

Yang biasa terjadi adalah diciptakannya virus, lalu pihak seberang menciptakan antivirus. Sedangkan yang terjadi saat ini malah mereka membuat virus tandingan yang lebih hebat. Pertanyaannya, adakah tokoh yang membuat antivirus untuk menangkal semua kehebatan virus itu? Saya pikir, manusia sudah mengambil tindakan yang tidak logis adanya. Haruskah saya dan Anda-Anda berimigrasi ke planet sebelah?

Adapun perbedaan yang terjadi bahwa seribu tahun silam persaingan intelektual di dunia diperankan oleh umat islam, sedangkan sekarang mereka yang menjadi tokoh utama. Ke mana aktor-aktor cendekiawan muslim saat ini?

19800 Detik Menuju Koln (Chapter 2)


            Aku melihat satu persatu penumpang berdiri mengenakan ransel dan memperbaiki pakaiannya yang lusuh. Masih dengan perasaan bimbang aku mengikuti langkah mereka keluar dari bus Eurolines ini. Saat menginjakkan kaki di terminal Koln aku melihat keramaian manusia yang berlalu-lalang. Beberapa bus besar tampak terpakir berderet di sekitar terminal menurunkan penumpang. Mataku kembali menangkap pesona keindahan kota ini dengan Katedral megahnya yang menjulang tinggi.

            Aku kembali melangkahkan kaki menjauh dari bus. Sejenak aku berhenti dan memperhatikan satu persatu bule yang lewat. Begitu padat. Mataku mencari-cari sosok berjilbab di sekitarnya, namun nihil. Aku tidak mengenal satupun dari mereka. Hatiku terus berharap kak Sari berada di tempatku menunggu saat ini. Sesekali aku melihat fotonya yang sempat aku download dari facebook sebelum berangkat tadi pagi.

            Aku mencoba mengikuti orang-orang sekitar. Namun aku bingung, mereka menuju ke berbagai arah, pastinya memiliki tujuan masing-masing. Tapi kebanyakan mereka memasuki sebuah gedung luas yang berada tepat di sebelah katedral. Aku meyakinkan diri dan terus melangkah, berharap bisa menemukan jaringan wifi.

            Tiba di dalam gedung, aku terus bergerak sambil sesekali menatap layar hp mencari jaringan. Karena wifi yang tersedia begitu banyak lalu aku mencoba mengkoneksikannya satu persatu. Alhamdulillah tersambung. Aku langsung menghubungi kak Sari. Sebelumnya aku melihat beberapa pesan yang dikirimkan olehnya menanyakan keberadaanku.

            “Halo, kakak di mana?” tanpa basa-basi aku langsung menanyakan keberadaannya karena cemas sendirian.

            “Kakak nungguin di luar dari tadi, kamu di mana?”

            “Aku di dalam gedung dekat terminal kak, kelihatannya kayak stasiun gitu, ada jadwal keberangkatannya.”

            Aku mencoba menjelaskan tempat di mana aku berada. Setelah memperhatikan seisi gedung, aku meyakini tempat luas ini ialah sebuah stasiun kereta api meskipun gerbong keretanya tidak terlihat olehku.

“Iya itu Köln Hauptbahnhof dek! Stasiun sentral kota Koln. Ya sudah, tunggu di situ kakak nyusul ya!” ujar kak Sari.

             Tidak lama, tampak sosok wanita Asia berjilbab biru berjalan memasuki area gedung ini. Postur tubuh dan wajahnya mirip dengan foto yang aku download, benar dugaanku bahwa wanita itu adalah kak Sari. Aku langsung menghampirinya.

“Azhar?!” tanyanya.

“Iya…! Saya Azhari. Kak Sari kan?? Salam kenal kak, hehe.” tanyaku balik. Aku merasa lega bertemu dengannya karena sedari tadi aku hanya merasa bagai anak hilang di negeri Nazi.

“Iya Zhar, kakak sudah lama nunggu di luar tadi, mungkin karena ramai jadi ngga kelihatan ya, hehehe.. gimana perjalanannya? Seru kan?! Sudah jadi anak Belanda ya sekarang haha.

Hahaha, ya begitulah kira-kira kak, tadi sempat diperiksa dua kali di perbatasan sama polisi Jerman. Biasanya memang begitu ya kak?” tanyaku penasaran.

Stasiun Hauptbahnhof terlihat sesak dipadati penumpang dari berbagai ras. Sambil berbincang-bincang, aku mengikuti langkah kak Sari menuju Katedral Koln.
            “Iya Jerman memang lebih ketat dibandingkan negara lain dek, tapi ngga ada masalah kan? Orang Jerman juga banyak yang tahu tentang Indonesia kok. Oh ya, ngga capek kan Zhar, kita jalan-jalan sekarang aja mumpung kakak lagi weekend.”

            Tidak lama, aku dan kak Sari sampai ke Katedral Koln, ikonnya kota ini. Sambil berjalan aku selalu menengadah ke atas karena saking tinggi dan megahnya. Dipandang dari sisi keagamaan, seorang muslim sepertiku tidak pantas memuji-muji tempat ibadah umat kafir ini. Tapi aku sama sekali tidak memujinya, hanya saja arsitektur bangunan dan usianya yang tua mengingatkanku akan sejarah dulu. Aku membayangkan bagaimana jika dahulu umat Islam dibawah komando seorang tabi'in 'Abdurrahman bin Abdullah el-Ghafiqi memenangkan pertempuran melawan pasukan bersenjata Franka dibawah pimpinan Charles Martel, pastinya yang saat ini aku lihat bukanlah katedral, melainkan masjid-masjid megah di tanah Eropa. Namun sayangnya, umat islam tidak memenangkan pertempuran itu. Bahkan karena kezaliman penguasanya, mereka harus terusir dari tanah Andalus atau yang kita kenal sebagai negara Spanyol saat ini. Mereka diberikan pilihan agar masuk ke dalam agama kristen ataupun diusir dari bumi Eropa, banyak juga dari mereka yang dibunuh.

“Zhar! Kamu mikirin apa kok serius banget lihat katedralnya?! Sudah, ayo jangan lama-lama, nanti kamu i’tikafnya di masjid saja jangan di sini, hahaha.” tegur kak Sari.

“Kita ke mana lagi kak?” tanyaku penasaran.
            “Sudah jangan banyak tanya, ikut saja!”
           
           
            Aku hanya tersenyum dan menghampiri langkah kak Sari. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, akhirnya sampailah ke sebuah jembatan besar yang aku lihat saat di bus. Aku memperhatikan kerangka baja jembatan ini yang berumur tua dan masih kokoh. Jembatan ini dibangun sebagai lalu lintas kereta untuk menyeberangi sebuah sungai b    esar di kota Koln. Di sebelah deretan rel kereta juga terdapat lintasan kecil untuk pejalan kaki. Mataku menyorot sebuah kapal besar dan panjang sedang melewati bawah jembatan. Kapal itu membawa tumpukan aspal. Beberapa kapal besar lainnya juga ikut berlayar di sungai ini. Saat menoleh ke sebelah kiri, tiba-tiba aku tertegun lalu menghentikan langkah. Beberapa turis berambut pirang sedang membidik kameranya ke arah pagar yang dipenuhi oleh jutaan gembok.

             “Kak, itu apa? Kok banyak gembok gitu digantung-gantung?” tanyaku heran.

            “Itu kata orang-orang gembok cinta dek, orang sini memasang sepasang gembok dengan kekasihnya di tempat-tempat indah seperti ini lalu kuncinya mereka buang bersama-sama. Katanya sih biar cinta mereka terkunci dan akan menjadi abadi. Salah satu cara mengekspresikan cinta yang dipercaya oleh penduduk sini. Kamu percaya? Buktikan aja Zhar, nanti kakak beli gemboknya,hahaha."


            “Hahaha… kok bisa ya bangsa Eropa yang berpikir modern juga percaya dengan hal-hal begituan?!” tanyaku sambil menggelengkan kepala.

“Oh ya kak, aku sebenarnya ke Jerman mau lihat bekas-bekas Nazi dulu, kan negara ini dikenal dengan Adolf Hitler dan Nazinya, tapi dari tadi kok aku belum nemu ya, bahkan gedung-gedung yang aku lihat sekarang beda dengan yang aku bayangkan. Malah kota ini terlihat modern gitu?!”


“Iya Koln memang kotanya sudah lebih modern dek, habis ini kita ke Brühl, di sana ada istana yang masih terlihat klasik, terus kita ke Bonn, kan kakak tinggal di Bonn.”



Loh, kakak bukannya tinggal di sini? Bonn itu di mana?” tanyaku bingung.


“Bonn itu ngga jauh dari sini kok, cuma naik kereta saja sekitar setengah jam sampai, kalau Brühl itu sebelum kota Bonn. Di Bonn nanti kamu bisa lihat rumahnya Beethoven, musisi Eropa terkenal, alun-alunnya, terus kita ke museum, dan terakhir nanti singgah di kampus kakak sebelum ke rumah.”

“Kakak tinggal sendiri di Bonn?”

“Iya dek, kakak tinggal di asrama, tapi nanti kamu nginap di rumah bang Zuhra kok, dia anak Aceh juga. Nanti kita ketemuan di kampus biar kamu kenal.” jawab kak Sari. “Oh ya, di sini kamu hati-hati sebut-sebut tentang Nazi atau Adolf Hitler dek.”

           “Loh, memangnya kenapa kak?” tanyaku penasaran. (BERSAMBUNG)

19800 Detik Menuju Koln (Chapter 1)





2 Agustus 2015. Bus Eurolines tujuan Jerman terus melaju kencang. Jalanan dipadati kendaraan namun tetap tertib mengikuti kelok aspal hitam. Transportasi lintas negara berupa bus adalah pilihan utama bagi mereka yang ingin melancong di Eropa. Selain terbilang murah, juga cukup nyaman, terutama bagiku sebagai masyarakat kelas bawah. Pagi itu, tepat pukul 07.45 aku berangkat dari kota Amsterdam dan hendak menziarahi negara Hitler. Ya, negara Jerman, siapa yang tidak mengenal salah satu negara super power di dunia. Bahkan setiap kali kita mendengar nama negara itu disebut, sekilas kita langsung terbayang dengan Nazinya. Well, memang sejarah Nazi dan Adolf Hitler yang hampir menguasai dunia itu nyaris membekas di seluruh pikiran umat manusia. Tapi itu hanyalah pikiran mereka yang belum pernah ke Jerman saat ini. Why?? Simak saja dulu ceritanya, hehehe.

           Jerman.. Jerman.. Jerman.. kata-kata yang selalu aku sebutkan di sepanjang perjalanan. Perjalanan sekitar empat jam dari Amsterdam cukup membosankan bagiku. Aku perhatikan sekeliling, sepasang bule duduk tepat di deretan bangku sebelahku. Mereka juga asyik menyaksikan pemandangan sepanjang jalan. Aku coba memahami bahasa yang mereka lafalkan. Bahasa Inggris. Kemungkinan mereka ialah bule asal Amerika ataupun penduduk pribumi Belanda. Di belakang aku duduk terdengar suara parau lelaki tua sedang bercanda tawa dengan istrinya. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Dugaanku mereka berbicara menggunakan bahasa Jerman. Karena aku duduk di kursi terdepan aku tidak berani menoleh ke arah mereka maupun ke penumpang lainnya di bangku belakang karena takut jadi pusat perhatian. Sementara aku hanya ditemani oleh ransel besar di sebelahku.


           Setelah melalui sekitar dua jam perjalanan, tiba-tiba bus yang aku tumpangi berhenti. Dua lelaki berpakaian rompi hitam dengan senjata laras panjang masuk ke dalam bus melalui pintu depan. Aku melihat punggungnya tertulis polizei. Pikiranku langsung menebak bahwa mereka adalah polisi Jerman. Tapi apa yang akan dilakukannya? Mungkinkah mereka hendak menumpangi bus ini?


           Sopir bus mempersilahkan kedua polisi itu menghampiri penumpang. Aku tertegun saat si polisi menghampiriku karena duduk paling muka.  Awalnya aku tidak memahami apa yang diucapkannya. Tapi setelah kembali mendengarkan kata-kata paspor yang ia ucapkan, aku langsung merogoh saku dan menunjukkan tanda pengenal itu kepadanya. Setelah melihatnya, paspor itu dikembalikan kepadaku, lalu ia menghampiri penumpang lain dan meminta hal serupa.


           Setelah selesai pemeriksaan, sopir kembali menjalankan busnya. Aku sedikit tenang. Setiap orang yang ditanyakan sesuatu oleh polisi pasti merasa sedikit gugup, terlebih polisi negara asing dengan bahasa yang tidak kita pahami. Aku gugup karena takut tidak bisa memenuhi permintaannya.


           Tidak lama setelah itu, bus kembali berhenti. Aku kembali penasaran lalu melihat kea rah luar jendela. Dari seberang jalan terlihat beberapa mobil dan truk juga berjalan pelan lalu berhenti mengikuti perintah seorang polisi. Penumpang lain juga tampak bingung dan merasa cemas. Lagi-lagi dua polisi masuk ke dalam bus. Seorang lelaki bertubuh besar dengan rompi tebal menghampiri penumpang di bangku seberang kanan, sedangkan bule cantik berambut pirang menghampiriku dan meminta izin memeriksa ransel besar milikku. Aku mengizinkannya. Ia juga meminta pasporku, dengan segera aku merogohkan saku dan memberikannya. Sempat ia melihat ke arahku: “Indonesia?” tanyanya sembari tersenyum.


Aku yang semula khawatir menjadi sedikit tenang melihat senyuman itu, pertanda tidak terjadi apa-apa.

           “Yes, I am, madam.” jawabku membalas senyumannya.

           “Selamat datang ke Jerman.” ucap si bule dengan logat khasnya mengejutkanku. Serontak aku tercengang. Ternyata polwan cantik itu bisa berbahasa Indonesia. Aku tidak tahu apakah benar-benar bisa ataukah hanya sekedar tahu sapaan-sapaan singkat seperti itu. Lalu ia menghampiri penumpang di belakangku. Sementara lelaki bertubuh besar masih memeriksa ransel penumpang di bangku seberang. Satu persatu barang bawaannya dibuka dan diperhatikan dengan seksama. Entah apa yang ia cari, pastinya sesuatu yang terlarang. Memang sih, sebelumnya aku pernah mendapatkan kabar kalau Jerman adalah negara yang sangat ketat dan sering terjadi razia polisi di wilayah perbatasannya terutama menyangkut tentang barang-barang terlarang alias narkoba. Kemungkinan besar sama seperti yang ku alami saat itu. Namun beruntung tidak ada penumpang yang mecurigakan di dalam bus yang aku tumpangi itu, dan bus pun kembali berjalan tenang.

Aku melihat jam tangan. Waktu menunjukkan tepat pukul 11.45, berarti lima belas menit lagi aku sampai di terminal kota Koln seperti yang tertera di tiket bus. Aku kembali menoleh ke arah luar jendela. Tiba-tiba mataku terbelalak dan dimanjakan oleh sebuah bangunan tinggi nan tua yang berdiri kokoh dari kejauhan. Bangunan dengan arsitektur khas katedral Eropa itu begitu unik, sama seperti di foto-foto internet yang aku lihat. Tidak jauh darinya tampak jembatan lengkung dan besar yang juga terlihat sangat indah. Aku sudah tidak sabar hendak menghampirinya. Menyadari akan tiba di tempat tujuan aku langsung mengambil handphone ingin mengabari kak Sari. Oh ya, kak Sari adalah salah satu mahasiswi Ph.D di Jerman yang juga serumpun denganku berasal dari Aceh. Aku tidak kenal dengannya karena tidak pernah bertemu langsung, hanya saja aku mendapatkan kontak beliau dari facebook karena aku belum pernah mengunjungi negara Nazi, kebetulan beliau sedang tidak ada kegiatan dan bisa menemaniku jalan-jalan.

          
Aku kaget. Jaringan di hpku roaming.Gimana aku mau hubungi kak Sari??” ujar hatiku bingung. Awalnya aku mengira akan bisa mengakses jaringan sinyal apapun selagi masih berada di wilayah Uni Eropa seperti halnya bus ini. Tapi ternyata dugaanku salah. Aku kembali merenung memikirkan solusi. “Udah pigi sendirian, ngga ada satupun orang yang aku kenal, bahasa Jerman juga aku ngga ngerti, ditambah hp juga ngga ada sinyal, duh!!” aku mengoceh sendiri di dalam bus.

           Tiba-tiba bus mulai berjalan pelan lalu memasuki terminal besar. Mataku kembali terbelalak saat menoleh keluar. Ternyata, terminal Koln itu berada tepat di sebelah Katedral yang aku lihat dari jauh tadi. Aku terperangah melihat ketinggian bangunannya. Sejenak aku mulai melupakan keluhanku akan jaringan telepon itu.

           Sebelumnya aku sempat mencari tahu seperti apa panorama kota Koln. Saat searching, lagi-lagi yang muncul adalah berupa katedral dan jembatan, aku mengira bangunan unik itu ialah ikonnya kota Koln. Akupun tertarik melihat arsitektur bangunannya. Di internet juga aku melihat bangunan kuno itu bernama Köln Dom, yaitu sebuah katedral yang dibangun pada abad ke-13 Masehi. Koln Dom saat ini juga menjadi salah satu situs warisan budaya dunia UNESCO di Eropa sehingga menjadikannya daya tarik bagi banyak turis yang berkunjung ke kota ini.
Sie haben Sir angekommen. Willkommen zu Koln.” ucap sopir bus mengejutkanku yang sedang melamun. (BERSAMBUNG)


La Fête du Mouton (Seluk Beluk Lebaran Idul Adha di Maroko)

Gema takbir membahana ke seantero jagad raya. Kalimat suci yang dilantunkan indah dan syahdu itu, begitu menyejukkan hati setiap insan yang mendengar. Umat muslim sedunia memperingati hari kebesaran Islam sebagai titah cinta Ilahi, juga mempererat silaturrahmi sesama jiwa pemilik rohani.

Begitulah, Hari Raya Idul Adha yang disebut juga Hari Raya Kurban, tahun ini baru saja dirayakan umat Islam sedunia pada 12 September lalu. Hari raya yang erat kaitannya dengan sejarah Nabi Ibrahim dan Ismail as ini, terus dirayakan setiap tahunnya oleh seluruh elemen masyarakat muslim di belahan Timur dan Barat.

Maroko misalnya, satu negara muslim yang terletak di belahan Utara benua Afrika, setiap menyambut Idul Adha menganjurkan masyarakatnya untuk berkurban. Anjuran yang saban tahun disampaikan itu, kemudian seolah berubah menjadi sebuah kewajiban yang muncul dari kesadaran diri masyarakatnya.
Karena itulah tidak heran jika setiap kepala keluarga atau rumah tangga di Maroko, memiliki minimal satu ekor kabsy (domba atau biri-biri), ghanam (kambing) ataupun baqar (sapi) untuk disembelih seusai menunaikan shalat Idul Adha.

Dari ragam hewan kurban itu, domba (kabsy) paling banyak disembelih. Dengan keistimewaan perayaan seperti inilah, kemudian bangsa Prancis yang pernah menjajah Maroko, menyebut atau menjuluki prosesi perayaan ini dengan La Fête du Mouton yang berarti “Hari Domba”.

Adapun proses penyembelihan qurban dilakukan oleh masing-masing kepala keluarga. Uniknya, karena rumah-rumah di Maroko berupa flat atau apartemen (seperti rumah susun di Indonesia) yang tidak memiliki teras, halaman maupun garasi, sehingga proses penyembelihan dilakukan di dalam balkon-balkon rumah warga. Bahkan, sebagian mereka ada yang menyembelihnya di bubungan apartemen.

Setelah proses penyembelihan, satu persatu bagian daging kurban dimasak dengan menu spesial ala Maroko. Seperti bagian hati yang kemudian dijadikan sate dan disantap dengan salad, garam dan merica pada hari pertama.

Di hari kedua, mereka menyajikan hidangan berupa usus, jantung, dan paru yang dimasak dengan bumbu khas. Rasa bumbunya yang sedikit mirip dengan bumbu kari menjadikan sajian ini sangat cocok jika dimakan dengan khubza (roti). Di hari ketiga dan seterusnya mulailah mereka memasak bagian-bagian lain dari sembelihan hingga habis tak tersisa.

Sedangkan bagian kepala dan kulit kemudian dibakar dan diolah sedemikian rupa sehingga bisa disajikan juga bersama masakan lainnya. Tempat pembakaran kepala dan kulit sembelihan itu didirikan di pinggiran jalan. Tak heran, banyak kita temui bekas-bekas arang di sepanjang jalan saat berlangsungnya hari raya Idul Adha.

Berbeda dengan Indonesia, Hari Raya Idul Adha di negara Matahari terbenam atau “Negeri Senja” Maroko lebih meriah dibandingkan Hari Raya Idul Fitri. Jika hari libur Nasional saat Idul Fitri hanya selama satu minggu, misalnya, maka libur Idul Adha bisa sampai dua minggu, bahkan sebulan penuh. Sementara toko-toko, kantor dan aktivitas lainnya, baru akan aktif setelah seminggu berkurban.

Hindari Rasisme Dengan Saling Menghargai

            "Blanc sans ( n ) ça fait black, comme quoi sans haine on est tous égaux!" (de Gilles Dor dans sa chanson).

            Ketika suatu hal tidak bisa dihilangkan, maka cobalah untuk dihindari. Berbicara rasis atau rasial bukanlah hal yang tabu untuk saat ini. Kosakata ini tidak pernah bisa dihilangkan dari dalam diri setiap individu begitu juga perbuatannya. Sebuah lagu yang dibawakan oleh Gilles Dor bukanlah semata lirik lagu, melainkan quote yang bermakna filosofis. Putih (blanc) jika tidak dibubuhi dengan 'n' maka akan menjadi hitam (blac). Setiap tidak ada 'n' atau haine (kebencian) maka kita semua sama.

            Hadirnya sifat kebencian dalam diri manusia mendatangkan hijab yang menyatakan bahwa diri saya dan diri Anda berbeda. Itulah suatu paham pembedaan sikap dengan adanya anggapan sebuah kelompok yang lebih superior ataupun tidak atau dikenal dengan paham rasisme.

            Ketika para ahli mendefinisikan sifat rasisme itu dengan objek ras/etnis, suku, warna kulit dan lain-lain, tetapi saya pribadi melihatnya dengan pandangan yang berbeda. Ketika munculnya sifat kebencian yang terjadi dalam semua jenis perbedaan baik itu menimbulkan deskriminasi sosial dan segregasi maupun tidak, maka itulah yang dinamakan dengan rasisme.

            Perbedaan tidaklah hanya dipandang dari kesukuan, tidaklah diukur dari terang dan gelapnya warna kulit setiap orang. Sejak munculnya istilah atasan, dipastikan juga adanya istilah bawahan, ada tinggi ada pendek, istilah hitam dan putih, mayoritas dan minoritas, kuat dan lemah, dan banyak lainnya. Superior dan inferior inilah yang kemudian teridentifikasi sebagai sebuah perbedaan dan tidak akan pernah bisa dihilangkan. Inilah anugrah yang dikaruniai olehNya Sang Maha Kuasa seperti terkandung dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13.

            Kapankah setiap orang merasakan sifat rasisme seperti itu? Tentu setiap diri manusia memiliki jawaban masing-masing berdasarkan pengalaman pribadi yang pernah dialami olehnya. Namun yang paling terlihat saat ini ialah ketika individu atau sekelompok manusia yang keluar dari kehidupan sosial etnisnya dan bertemu dengan etnis lain yang berbeda seperti anak-anak perantauan. Jiwa rasisme setiap individu akan sangat terlihat ketika mereka mempraktikkan alat komunikasi yang berbeda. Ya, bahasa termasuk salah satu faktor terpicunya sifat rasisme seseorang. Oleh karena itu dalam menyikapinya dibutuhkan kepekaan setiap individu untuk dapat saling menghargai.

            Berikut saya mengutip kata-kata bijak dari Martin Luther-King :
            "Nous devons apprendre à vivre ensemble comme des frères, sinon nous allons mourir tous ensemble comme des idiots." Artinya: Kita harus belajar untuk hidup bersama sebagai saudara atau kita akan binasa bersama-sama seperti orang bodoh.

          Menghargai perbedaan adalah sebuah solusi yang diambil untuk menghindari sifat rasisme atau rasialisme dalam kehidupan sosial masyarakat. Bukanlah sebuah kekeliruan saat melihat seseorang berbicara menggunakan bahasa pribuminya dengan orang lain yang juga sesama ras dengannya. Akan tetapi merupakan kesalahan besar ketika ada orang yang berbicara menggunakan bahasa sukunya namun terdapat etnis lain yang berada di dalamnya. Inilah contoh individu yang tergolong kepekaannya masih sangat kurang dalam menghargai perbedaan. Meskipun suatu sample yang sederhana, namun berbahaya karena akan memicu sifat kebencian dan kemudian menimbulkan deskriminasi sosial jika tidak dihindari.

        Jangan mengatakan kepada orang lain untuk tidak rasis, melainkan Anda sendiri yang harus menyadari sifat rasial dalam diri Anda, seyogyanya kita harus bersama-sama membenahi diri sebelum terlebih dahulu menjudge orang lain yang sebenarnya berbeda seperti pandangan Anda.

Bagaimana Hukum Menjama' dan Mentarkib Qiraat ?


A.    Hukum Jam’u al-Qiraat

Mempelajari ilmu qiraat merupakan fardhu kifayah bagi umat manusia, dan menjama’kan qiraat adalah suatu hal yang dibolehkan tanpa ada keraguan. Adapun metode atau tata cara jama’ qiraat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya yang diperselisihkan oleh para ulama, yaitu;

-          Pertama : Tidak ada perbedaan pendapat antar umat Islam mengenai jama’ qiraat secara ifrad (membaca Al-Quran dengan satu macam qiraat sampai khatam kemudian diulang dengan qiraat yang berbeda). Bahkan hal ini merupakan syariat sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah , ulama salaf dari golongan sahabat, tabi’in dan setelah mereka.

-          Kedua : Sedangkan jama’ qiraat dengan metode yang empat (Al-Jam’u bil Kalimat, Al-Jam’u bil Waqfi, At-Tarkib bainal Jam’i bil Kalimat wabil Waqf, atau  Al-Jam’u bil Ayat) tidak pernah dipraktekkan oleh ulama salaf, melainkan muncul pada masa imam Abu ‘Amr ad-Dani yaitu pada abad ke-5 H, sehingga menjadi sunnah di kalangan para ulama qiraat dengan menetapkan syarat-syarat tertentu.

Dalam hal ini muncul banyak perselisihan di kalangan para ulama dengan berlandaskan dalil-dalil yang kuat sehingga dapat disimpulkan menjadi tiga pendapat tentang hukum jam’u al-qiraat dengan metode yang empat, yaitu :

1)      Sekelompok ulama berpendapat melarang secara mutlak, baik itu ketika dalam kondisi bertalaqqi (berguru kepada seorang syekh) dan lainnya. Mereka adalah Syekh Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Ali bin Khalaf al-Husaini, Syekh Muhammad Azharan, Syekh Ibnu al-Jauzi al-Hanbali, dan lain-lain.

2)      Sekelompok ulama membolehkan secara mutlak, baik di tempat-tempat umum dan lainnya, baik dalam kondisi berguru, belajar dan lainnya. Mereka adalah Syekh Abdul ‘Aziz bin Abdul Fatah al-Qari, Syekh Ibrahim al-Maraghani, dan lainnya.

3)      Pendapat jumhur (kebanyakan) ulama membolehkan ketika dalam keadaan bertalaqqi saja, tidak pada kondisi lainnya. Mereka adalah Ibn al-Jazari, Syekh al-Qasthalani, Ibn Taymiyyah, dan lainnya.


B.     Hukum Tarkib al-Qiraat

Adapun hukum mentarkibkan qiraat juga merupakan perkara yang diperselisihkan oleh para ulama. Diantara mereka ada yang melarang secara mutlak, ada yang membolehkan secara mutlak, ada yang memilih tafsil (membahas masalah tarkib qiraat dengan rinci dan diteliti dengan benar secara bahasa dan i’rab, jika ditemukan kesalahan makna yang terkandung dalam sebuah ayat karena tarkib ini maka dilarang, jika tidak terjadi kesalahan maka diperbolehkan).
Dalam kitab “An-Nasyr fil Qiraat al-‘Asyr”, imam Ibnu al-Jazari menyebutkan bahwa menghukumi tarkib qiraat yang lebih shahih menurut beliau adalah dengan cara tafsil. Jika
salah satu qiraat menimpa qiraat yang lain sehingga merusak makna aslinya maka hukumnya
haram.
                        Contoh :
-          Pada ayat ﴿ فَتَلَقَّىٰ آدَمَ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٌ imam Ibnu Katsir membaca dengan menashabkan آدم dan merafa’kan كلمات .

Sedangkan selain imam Ibnu Katsir membaca ﴿ فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ dengan merafa’kan آدم dan menashabkan كلمات .

Jika kedua qiraat ini ditarkibkan maka akan menjadi nashab kedua kalimat tersebut seperti  ﴿ فَتَلَقَّىٰ آدَمَ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ ,
atau menjadi rafa’ keduanya seperti  ﴿ فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٌ .

Contoh tersebut menunjukkan bahwa dengan mentarkibkan qiraat telah merusak tatanan bahasa Arab dan menghilangkan keaslian makna yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Quran. Oleh karena itu, setelah ditafsil maka jelaslah bahwa contoh tarkib seperti ini haram hukumnya secara mutlak dan bukanlah Al-Quran.

Apa itu Jam'u al-Qiraat, Tarkib al-Qiraat dan Tawjih al-Qiraat Dalam Istilah Ilmu Qiraat ?

1.      Jam’u al-Qiraat
Jam’ul Qiraat adalah suatu ungkapan tentang cara membaca Al-Quran dengan menggabungkan beberapa macam qiraat dalam satu sesi bacaan, adakalanya membaca Al-Quran dengan satu macam qiraat sampai khatam kemudian diulang dengan qiraat yang berbeda, atau adakalanya membaca dengan salah satu metode yang empat yaitu : 1) Al-Jam’u bil Kalimat, 2) Al-Jam’u bil Waqfi, 3) At-Tarkib bainal Jam’i bil Kalimat wabil Waqf, atau 4) Al-Jam’u bil Ayat. Tujuan adanya jam’ul qiraat ini tak lain hanyalah sebagai ta’lim (pengajaran) dan memberitahukan bahwasanya terdapat perbedaan lafaz-lafaz wahyu pada ayat yang dibaca.

a)      Al-Jam’u bil Kalimat (bil harf)
Metode ini merupakan cara penggabungan qiraat dengan kata atau huruf Al-Quran. Jika terdapat kata yang memiliki perbedaan dengan qiraat lain, maka dibaca dengan satu qiraat kemudian berhenti lalu diulang dengan mendatangkan qiraat yang lain baik berupa ushul atau farsyiyyat.
Contoh ketika seorang qori’ membaca surat Al-Fatihah dengan riwayat Hafs, lalu sampai pada ayat ﴿ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ tepatnya pada kata (مالك) ia berhenti, lalu mengulang dengan bacaan riwayat Warsy (tidak membaca mad), lalu melanjutkan bacaannya.

b)      Al-Jam’u bil Waqf
Metode ini yaitu menggabungkan qiraat dengan waqf (tempat berhenti), misalnya seorang qori’ membaca Al-Quran dengan qiraat tertentu sampai kepada waqf yang memang dibolehkan berhenti, dan boleh juga ibtida’ (memulai kembali setelah waqf) setelahnya, lalu mengulang kembali dengan membaca qiraat yang berbeda.
Contoh pada ayat :
﴿ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Ketika membaca ayat tersebut dengan qiraat tertentu dan berhenti pada (معدودات), lalu diulang kembali dengan mendatangkan qiraat yang lain mulai dari (واذكروا) dan seterusnya, inilah yang disebut dengan al-jam’u bil waqfi.

c)      Al-Jam’u bit Tarkib (Tarkib bainal Jam’i bil Kalimat wabil Waqfi)
Metode ini merupakan penggabungan qiraat dengan dua cara di atas.

d)      Al-Jam’u bil Ayat
Dalam metode ini seorang qori’ membaca hingga akhir sebuah ayat Al-Quran dengan qiraat tertentu, kemudian mengulanginya dari awal ayat tersebut dengan menggunakan qiraat yang berbeda dari semula, sehingga terdapat perbedaan antar kedua qiraat tersebut baik dari segi ushul maupun farsyiyyat.
Contoh pada ayat ﴿ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ , pertama dibaca dengan riwayat Warsy dengan tanpa mad pada kata (ملك) dan diteruskan sampai akhir ayat, lalu diulang kembali dengan riwayat Hafs dengan bacaan (مالك).

2.      Tarkib al-Qiraat
Tarkibul Qiraat merupakan sebuah ungkapan tentang cara membaca Al-Quran dengan mengumpulkan beberapa macam qiraat dalam satu sesi bacaan namun tanpa adanya pengulangan dari wajh (versi) qiraat lain yang berbeda.
Contoh :
-          Pada ayat :
﴿ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Qori’ membaca pada awal ayat dengan thariq Al-Azraq hingga pada kalimat (معدودات), kemudian langsung melanjutkan pada ayat berikutnya (فمن تعجّل) dengan thariq Al-Asbahani.
-          Pada ayat :
إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ ۞ وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ ۞ وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ ﴿
Qori’ membaca ayat pertama dan kedua dengan riwayat Hafs dengan ra’ dibaca tafkhim (tebal) pada (كوّرتْ) dan (انكدرتْ), lalu pada ayat ketiga ia membaca dengan riwayat Warsy dengan ra’ dibaca tarqiq (tipis) pada (سُيّرَتْ) lalu meneruskan bacaan pada ayat selanjutnya.

3.      Tawjih al-Qiraat
Tawjihul Qiraat yaitu menjelaskan secara rinci ragam-ragam bacaan dari segi bahasa dan i’rab (perubahan akhir kata karena adanya salah satu sebab yang merubahnya baik secara lafaz atau taqdir) dalam ilmu Nahwu. Tawjih ini menjadi sangat penting karena dengannya dapat diketahui keindahan dan keagungan makna-makna yang terkandung dalam Al-Quran. Adapun contohnya telah disebutkan sebelumnya seperti (فتبينوا ، فتثبتوا).