BREAKING NEWS
latest

Advertisement
Showing posts with label Fakta. Show all posts
Showing posts with label Fakta. Show all posts

Konversi Hagia Sophia, Langkah Kosokbali Masjid Agung Seville Menjadi Katedral


Pada 1171-1172 M, Khalifah Abu Yaqub Yusuf bin Abdul Mu'min (w. 1184) dari Dinasti Almohad memerintahkan pembangunan masjid agung baru untuk kota Seville, Spanyol di ujung Selatan kota.


Sejak masa pemerintahan Dinasti Almovarid tahun 1091, Seville telah menjadi kota yang sangat sibuk dan sebagai pusat dari banyak bidang kehidupan, mulai dari keagamaan, ilmu pengetahuan, ekonomi, hingga budaya.


Tak heran, banyak kitab-kitab biografi ulama Andalus seperti "Fihrist ibn Khair al-Isybili" sering menyebutkan adanya kegiatan pengajian dan transfer ilmu agama, serta banyak ulama hadits yang mengambil sanadnya di kota dan masjid ini.


Minaret masjid Seville bergaya almohad yang dikenal dengan nama Giralda itu pada mulanya dibangun persis seperti menara Koutubia di Marrakech dan menara Hassan di Rabat, sedangkan tingginya melebihi kedua masjid tersebut, bahkan melebihi tinggi menara masjid Cordoba.


Hingga kota Seville direbut oleh pasukan Kristen pimpinan Ferdinand III dari Kastila di tahun 1248, masjid itu dikonversi menjadi katedral gotik kota. Orientasinya diubah, ruang-ruangnya dipartisi dan didekorasi agar sesuai dengan praktik ibadah Kristen.


Masjid yang sebelumnya bernama Masjid Agung Seville (Bahasa Arab: جامع إشبيلية الأعظم) pun berubah nama menjadi The Cathedral of Saint Mary, atau akrab dikenal Cathedral of Seville.


Mulai tahun 1434, bangunan ini direnovasi hingga menjadi bangunan paling megah dan besar, seperti yang masyhur di kalangan masyakarat Seville bahwa seorang anggota katedral pernah berkata: "Hagamos una Iglesia tan hermosa y tan grandiosa que los que la vieren labrada nos tengan por locos", artinya: "Mari kita bangun sebuah gereja yang begitu indah dan megah sehingga mereka yang melihatnya menganggap bahwa kita gila".


Pembangunan pun dilakukan sampai berubah menjadi katedral terbesar di dunia, saat itu mengalahkan Hagia Sophia di Istanbul.


Mencermati kontroversi yang sedang bergaung saat ini terkait konversi Hagia Sophia menjadi masjid, hal itu bukan lah kasus perdana, Eropa sendiri menjadi saksi bisu peristiwa alihfungsi ratusan gereja menjadi masjid sebab sepi pengunjung pemeluknya sendiri, justru kalau berdalih bahwa Hagia Sophia adalah milik umat kristiani dan tidak layak untuk diubah fungsi menjadi masjid, sampai-sampai keuskupan AS menetapkan tanggal 24 Juli sebagai hari berkabung akibat konversi tersebut, maka peristiwa menyedihkan yang terjadi di Andalus dapat menjatuhkan dan membungkam argumen mereka. Ribuan masjid milik umat muslim Spanyol yang dialihfungsikan menjadi gereja dan katedral oleh penguasa Katolik, tapi umat Islam hanya tutup mulut dan menerima takdir siklus sejarah. Diantaranya kemudian diubah menjadi museum seperti masjid Cordoba, sementara banyak lainnya masih aktif berstatus gereja gotik seperti Cathedral of Saint Mary, bekas masjid agung kota Seville. Sebab itu menurut hemat penulis, politik dan penguasa akan selalu berperan dalam kepentingan negaranya, dan yang pasti tidak layak bagi awam berkomentar tanpa landasan, karena sentimen agama akan selalu dikedepankan oleh oknum-oknum internal maupun eksternal yang mengintervensi.


Lihatlah bagaimana masjid agung kota ini dikonversi, sampai-sampai tidak berbekas dan menghilangkan rekam bentuk aslinya:






Keluarga Ilmiah Andalusia: Dalam Studi Onomastik-Biografis al-Andalus


Familias andalusíes begitu mewarnai kehidupan keilmuwan di kota-kota Andalus, ketika Islam telah menyebar ke seluruh Andalusia, Allah membukakan pintu hati rakyatnya, menggantikan kesombongan dengan pemahaman dan kebajikan, sehingga sekelompok orang Andalusia menerima berbagai pengetahuan Islam seperti ilmu tafsir, hadist, fikih, ushul fikih, dll.,


Setelah menjadi ulama, mereka mewarisi ilmunya kepada anak dan cucu, diurutkan dari kakek kepada ayah, ayah kepada anak, anak kepada cucu, dst., hingga berabad-abad.


Silsilah keilmuwan pendahulu ini kemudian disebut "Familias andalusíes (Bahasa Arab: البيوتات العلمية الأندلسية)" atau "Keluarga Ilmiah Andalusia" muncul di Cordoba, Seville, Granada, dan kota-kota terkenal lainnya di Spanyol Islam.


Contoh keluarga Andalusia dalam studi onomastik-biografis, seperti los Banū ´Ațiyya di Granada, atau keluarga ’Ațiyya, yang tiba di Andalus pada saat penaklukan, dan beberapa anggota keluarganya kemudian menjadi tokoh terkemuka di wilayah Granada di bidang budaya dan agama.


Tokoh terpenting dalam Bani Keluarga Ațiyya adalah Abū Bakr Gālib bin  'Abd al-Raḥmān (440-517 / 1049-1124), seorang penyair dan budayawan, dan putranya Abū Muḥammad Abd al-Haqq (480-541 / 1088-1147), adalah seorang hakim, penyair, dan ahli tafsir yang kita kenal dengan Ibnu ’Ațiyya.


Contoh lain seperti: Banu Qasi, Beni al Ahmar, Banu Hud, Banu Sid Buna, Banu Almanzor, Bani Meruán, Banu ’Āshim al-Tsaqafi,Bani Birzal, Banu Aflah, Banu Shumadih, Banu Baji, dll.

Dari Bayt al-Hikmah di Baghdad Hingga Madrasah Terjemah di Toledo



Sejumlah karya klasik para filsuf dan ilmuwan kuno telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab selama Zaman Keemasan Islam di Timur seperti yang berasal dari sekolah Neoplatonisme, Aristoteles, Hippocrates, Galen, dan Ptolemy, serta karya-karya para filsuf dan ilmuwan kuno dari Persia, India, dan Cina (Gutas, 1998). Hal ini memungkinkan populasi berbahasa Arab pada saat itu (baik di Timur, Afrika Utara dan semenanjung Iberia) untuk belajar tentang banyak disiplin klasik kuno yang umumnya tidak dapat diakses oleh orang-orang Kristen di Eropa Barat. Justru para ilmuwan berbahasa Arab di negara-negara Muslim Timur seperti Ibn Sina, al-Kindi, al-Razi, dan lainnya, telah menambahkan karya-karya signifikan terhadap pemikiran kuno itu.

Selama abad ke-9 Masehi, beberapa khalifah dari Dinasti Abbasiyah, yaitu Al-Mamun (813–833) dan penerusnya adalah pendukung besar kebangkitan intelektual awal di Baghdad (sekarang Irak). Selama periode ini banyak manuskrip filosofis dan ilmiah Yunani Kuno dipelihara di Akademi Hipokrates Gundishapur[1]. Lalu manuskrip-manuskrip tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dari berbagai bahasa, seperti Yunani Kuno, Cina, Sanskerta, dan Persia (Vatle, 1991, pp. 3657-3662).

Diawali dengan pembangunan Bayt al-Hikmah di Baghdad oleh Khalifah al-Ma'mun, sebuah lembaga pendidikan di mana para ahli Muslim dan non-Muslim bersama-sama mengumpulkan pengetahuan dunia tidak hanya melalui tulisan asli tetapi juga melalui terjemahan. Mungkin penerjemah yang paling terkenal dan rajin pada zaman itu ialah Hunayn ibn Ishaq (w. 873 M), yang dikenal di Barat dengan nama Latin "Joannitius" (Osman, 2012, pp. 161-175). Ia disebut sebagai “Syekh Para Penerjemah”, dan dilaporkan telah menguasai empat bahasa utama pada masanya: Yunani, Syria, Persia, dan Arab. Hunayn dikreditkan dengan sejumlah besar terjemahan, mulai dari karya-karya kedokteran, filsafat, astronomi, fisika, dan matematika, hingga sihir dan keunikan.

Antara tahun 632 s/d 732 M., Islam menyebar dari selatan Hindustan ke Al-Andalus (mencakup juga Septimania, Selatan Perancis). Pada sepertiga pertama abad ke-10, Al-Andalus diperintah oleh Kekhalifahan Umayyah Cordoba, dengan cepat pengaruh budayanya meningkat hingga menyaingi Baghdad, Damaskus dan Kairouan (masing-masing saat ini adalah Irak, Suriah, dan Tunisia). 

 

Sekolah Terjemahan Toledo

Toledo adalah ibu kota Kerajaan Visigoth, dan setelah penaklukan Islam pada 97 H /715 M, ia menjadi pusat budaya multibahasa dan memiliki kepentingan sebelumnya sebagai pusat pembelajaran di bawah pemerintah Muslim.

Kota Toledo kemudian menjadi ibu kota salah satu negara al-Thawaif[2] pada abad ke-5 H /11 M, yaitu Daulah Bani Dzun-Nun. Lalu pada tahun 487 H /1085 M raja Alfonso VI dari Kastilia berhasil menaklukkan dan merebutnya dari kekuasaan Sultan Al-Qadir Billah Yahya bin Dzun-Nun. Sejak saat itu, kota metropolis ini telah menjadi ibu kota resmi Kastilia, tetapi penduduknya (mengingat toleransi yang diterapkan Alfonso VI) adalah campuran dari orang-orang Kristen Spanyol (Mozarabs), Arab Muslim dan Yahudi yang masih memelihara agama mereka atau telah konversi agama memeluk Kristen.

Sekitar setengah abad setelah Toledo jatuh ke penguasa Spanyol, seorang biarawan bernama Raimundo de Sauvetat, diangkat menjadi uskup agung Toledo pada tahun 519 H /1125 M (Al-Warakili, 1994, pp. 34-35; Cheikha, 1994, p. 35). Di awal masa jabatannya, ia memulai upaya untuk mendirikan Sekolah Penerjemah Reguler di perpustakaan Katedral Toledo (Bahasa Spanyol: Escuela de Traductores de Toledo; Bahasa Arab: مدرسة طليطلة للمترجمين) dan memimpin tim penerjemah yang mencakup kaum Mozarabs, warga Kristen lokal Toledo, cendekiawan Yahudi, guru sekolah dan sejumlah biarawan. Mereka menerjemahkan banyak karya ilmiah berbahasa Arab ke Bahasa Castillan (sering disebut Castellano), dan kemudian dari Bahasa Castillan ke Bahasa Latin atau Yunani sebagai bahasa resmi gereja. Dalam beberapa kasus, mereka boleh menerjemahkannya secara langsung dari Bahasa Arab ke Bahasa Latin.

Dr. Jomâa Cheikha, Direktur utama Jurnal d’Études Andalouses dalam artikelnya (1994: 39) menyebutkan bahwa tahap pertama pendirian sekolah terjemah ini ditandai dengan terjemahan pertama karya Yahya bin Dureid al-Isybili (di Barat dikenal dengan nama John of Seville atau avendeut atau Johannes Hispalensis), seorang Yahudi yang dipabtis oleh Raimundo ke agama Katolik. Ia lah penerjemah inti teks-teks Arab ke Bahasa Castillan karena menguasai kedua bahasa tersebut dengan baik, sementara Domingo Gondisalve (Dominicus Gundissalinus) kemudian menerjemahkannya dari Bahasa Castillan ke Bahasa Latin, dan pada saat yang sama mereka berusaha untuk menyelaraskan isi teks terjemahan dengan ideologi dan kepercayaan Kristen.

Dominicus Gundissalinus dianggap sebagai Direktur pertama yang ditunjuk oleh Sekolah Penerjemah Toledo, dimulai pada tahun 1180 Masehi (Pidal, 1951, pp. 363-380). Meskipun mulanya harus bergantung pada Yahya al-Isybili untuk semua terjemahan dari Bahasa Arab, namun belakangan ia berhasil menguasai Bahasa Arab dengan cukup baik untuk menerjemahkannya sendiri. Tidak seperti rekan-rekannya, ia berfokus secara eksklusif pada filsafat, menerjemahkan karya-karya Yunani dan Arab serta komentar-komentar para filsuf Muslim sebelumnya di semenanjung. Di antara terjemahan-terjemahan pentingnya adalah “Fons Vitæ (Meqor Hayyim)” oleh filsuf Yahudi Ibn Gabirol. Gundissalinus juga menerjemahkan beberapa karya filsuf Muslim utama, yaitu Avicenna dan Al-Ghazali. Dia diketahui sering menghilangkan bagian-bagian dan menambahkan komentarnya sendiri, daripada setia pada teks aslinya.

Sedangkan topik karya yang diterjemahkan oleh Yahya al-Isybili terutama astrologi, astronomi, filosofis dan medis. Gaya bahasa penerjemahan Yahya atau John of Seville sangat diakui oleh para sarjana karena kecenderungannya untuk menerjemahkan kata demi kata, sambil terus mempertahankan sintaksis bahasa asli dan struktur tata bahasa orisinal.

Adapun metode penerjemahan yang dipakai adalah terjemahan lisan ke dalam bahasa Latin oleh seorang Mozarabs, Muslim atau Yahudi di depan seorang imam Katedral Toledo atau seorang ahli Latin yang berpengetahuan, lalu pada gilirannya, menuliskan apa yang telah didengar dengan Bahasa Latin yang sesuai (Arráez-Aybar, 2015, pp. 23-24). Terjemahan semacam itu ditulis di atas kertas, sebagaimana telah diperkenalkan oleh orang-orang Arab ke Andalus selama abad ke-11.


Sedangkan tahap kedua dari sekolah terjemah Toledo, ditandai dengan kedatangan Gérard de Crémone dari Italia (w. 583 H /1187 M) ke Toledo, ia dianggap sebagai salah satu penerjemah paling produktif di sekolah ini. Lebih dari delapan puluh buku telah diterjemahkan dan didokumentasikan, diantaranya yang paling terkenal adalah kitab “Al-Tasrif” karya Abu al-Qasim al-Zahrawi, “Al-Qanun” karya Ibn Sina, dan “Al-Manshuri” karya al-Razi. Melalui terjemahannya ini lah Ibn Sina memperoleh ketenaran di Eropa sehingga bangsa Eropa mengetahui doktrin ideologis dan filosofis bertuliskan nama Ibnu Sina itu dengan istilah Avicennisme.

Dengan demikian, Sekolah Toledo dalam fase kedua, telah membuka pintu lebar-lebar bagi Eropa untuk mengonsumsi keilmuan Arab, dari sini lah kebangkitan modern dimulai. Tentu, jika bukan karena Raimundo yang mengawali berdirinya sekolah tersebut, Eropa pasti akan mengasingkan semua yang berkaitan dengan orang-orang Arab.

Tahap selanjutnya, kegiatan penerjemahan tidak hanya dilakukan di kota Toledo, tetapi merambat ke kota-kota lain, diantaranya adalah Michael Scotus (w. 1232 M), salah satu intelektual dan poliglot terpenting di masanya. Ia mempelajari Bahasa Arab dengan cukup baik di Toledo, kemudian dipanggil menghadap Raja Frederick II dari Kerajaan Sisilia (sekarang Italia), dan atas titah raja, ia menerjemahkan buku-buku karya Aristoteles, komentar orang-orang Arab terhadap pemikirannya dan buku-buku karya Ibnu Sina (Avicenna) dan Ibnu Rusyd (Averroes). Kemudian abad ke-13 M penerjemahan dilanjutkan oleh Marcos dan Miguel Escoto sampai masa pemerintahan Alfonso El Sabio (650 H /1252 M – 683 H /1284 M). Alfonso diketahui sangat memotivasi penerjemahan ilmiah dan historis hingga mendirikan Lembaga Pendidikan Tinggi. (Cheikha, 1994, h. 41)

Akhir abad ke-7 H /13 M, tidak sampai stagnan gerakan penerjemahan dan translasi di Toledo, malahan muncul lembaga dan pusat-pusat penerjemahan lain yang aktivitasnya lebih besar dan lebih kuat. Bagi beberapa sejarawan mengira bahwa gerakan ini telah berakhir di kota Toledo, padahal semakin berkembang ke kota-kota lain seperti Montpellier, Paris, Chartres, Toulouse dan Reims. Sebagaimana banyak penerjemah muncul di pusat-pusat Anglo-Saxon seperti Adelard of Bath, Robertus Ketenensis, Alfredus Anglicus (Alfred of Sareshel), Daniel of Morley dan Petrus Alphonsi.

Di lembaga-lembaga ini, terjemahannya beragam, tidak hanya ke Bahasa Latin, tetapi juga ke Bahasa Ibrani dan Rumania. Juga, para penerjemah dari golongan cendekiawan mulai menulis buku-buku dengan topik yang sama seperti buku-buku yang diterjemahkan, yaitu dalam bentuk ringkasan, komentar maupun eksposisi atau uraian.

Gambar Sekolah Penerjemah Toledo saat ini berlokasi di Universidad de Castilla-La Mancha di Toledo 

Gambar perpustakaan Sekolah Penerjemah Toledo dari dalam



Terjemahan hikayat Kalilah dan Dimnah

Gambar buku At-Tashawwur al-Awrubby-nya ar-Razi diterjemahkan oleh Gérard de Cremone


Terjemahan tabel astronomi oleh Alfonso X

Terjemahan kitab Al-Jawahir (Lapidario)




[1] Academy of Gundishapur, adalah sekolah yang dibangun oleh Nestorian (kaum bidah atau heresi Kristen yang diasingkan oleh Kaisar Bizantium bernama Zeno) pada tahun 489 M di Persia (saat ini Iran). Di akademi tersebut banyak naskah Yunani diterjemahkan ke dalam Bahasa Syria, diantaranya adalah dua belas buku Hippocrates of Cos, Bapak Kedokteran Yunani yang hidup antara tahun 460 SM – 370 SM, dan tiga puluh tujuh buku Aelius Galenus, seorang dokter, ahli bedah dan filsuf dari Kekaisaran Romawi, hidup antara tahun 129 – 199 M.

[2] Adalah kelompok negara-negara kecil, dipimpin oleh amir-amir (Muluk al-Thawaif) yang memerintah wilayah-wilayah Islam di Spanyol dan Portugal, setelah keruntuhan Kekhalifahan Umayyah di Kordoba pada tahun 1031.






Referensi:

 

Al-Warakili, Hasan. Yaqutat al-Andalus Dirasat fi al-Turath al-Andalusi, Lebanon, 1994.



Arráez-Aybar, Luis A., “Toledo School of Translators and their influence on anatomical terminology” in Annals of Anatomy, 2015.

 

Cheikha, Jomâa. “Daur Madrasat at-Tarjamah bi Thulaithulah fi Naql al-‘Ulūm al-‘Arabiyyah wa bittāli fi Nahdhah Awrubba”, in Revue d’Etudes Andalouses, Vol. 11, Tunis, 1994.

 

Gutas, Dmitri. “Greek Thought, Arabic Culture: The Graeco-Arabic Translation Movement” in Baghdad and Early 'Abbasaid Society, London, 1998.

 

Osman, Ghada. “The sheikh of the translators: the translation methodology of Hunayn ibn Ishaq”, in The Journal of the American Translation and Interpreting Studies Association, Vol. 7, 2012.

 

Pidal, Gonzalo Menéndez. Cómo trabajaron las escuelas alfonsíes. Mexico, D.F.: Nueva Revista de Filología Hispánica, 1951. ISSN 0185-0121.


Vatle, A., 1991. “Medical assimilation processes in the Middle Ages: From Gundishapur to Toledo”, Tidsskr Nor Laegeforen 111.

Gérard de Crémone, Penerjemah 80 Buku Sains Berbahasa Arab Aset Berharga Andalus ke Dalam Bahasa Latin


Sekolah Penerjemah Toledo (Bahasa Spanyol: Escuela de Traductores de Toledo) adalah sebuah lembaga atau yayasan bagi kelompok cendekiawan yang didirikan selama abad ke-12 dan ke-13 Masehi oleh Raimundo de Sauvetat, uskup agung di kota Toledo (طليطلة baca: thulaithulah) untuk bekerja sama dalam menerjemahkan banyak karya filosofis dan ilmiah dari Bahasa Arab Klasik.

Pada awal abad ke-12 M., sains Eropa sangat tertinggal dari sains Arab, dan produksi teks-teks yang ditulis dalam bahasa Arab oleh para sarjana Andalusia menyebar ke kota-kota utara Spanyol termasuk ke Toledo. Ilmu pengetahuan Arab sejak akhir abad ke-8 telah diuntungkan dengan kekayaan literatur Yunani yang mereka temui ketika menaklukkan Damaskus dan kota-kota lain di Mesir, Suriah dan Irak. Di antara teks-teks tersebut adalah karya-karya ilmiah milik Ptolemy, sejumlah karya filosofis Aristoteles dan Plato, beragam karya tentang geometri oleh Euclid dan tentang obat-obatan oleh Galen. Ilmu pengetahuan Arab juga mendapat manfaat dari berbagai kontak dan pertukaran keilmuwan dengan Kekaisaran Bizantium, para cendekiawan dan ahli matematika dari India dan Persia. Utamanya, karya-karya medis dan filsafat Ibn Sina (Avicenna) dan Ibn Rushd (Averroes) yang telah memegang pengaruh besar terhadap filsafat dan teologi Eropa abad ke-12 dan ke-13.

Banyak penerjemah bekerja di Toledo dan teks-teks terjemahan mereka menyebar ke berbagai universitas di Italia dan Prancis kala itu. Pusat terjemahan ditempatkan di Katedral Toledo yang terdapat dalam gambar di bawah ini:

 

Photo: Katedral Toledo, yang menjadi rumah bagi Sekolah Terjemahan Toledo pada pertengahan abad ke-12.


 

Salah seorang penerjemah yang dikreditkan sebagai salah satu penerjemah terkemuka pada akhir abad ke-12 asal Italia adalah Gérard de Crémone. Ia tiba di Toledo pada tahun 1167, konon untuk menemukan salinan Ptolemy Almagest, katalog pengetahuan ilmiah Yunani kuno. Pada saat kedatangan, ia awalnya harus mengandalkan Mozarabs (Bahasa Arab: مستعرب, orang Kristen zimi yang pernah hidup dan berintegrasi dengan budaya Arab dibawah pemerintahan penguasa Muslim) dan Yahudi untuk menerjemahkan buku-buku yang ia cari, sebab ia tidak tahu Bahasa Arab. Namun, lambat laun ia dapat menguasai bahasa Arab dan mulai menyusun hingga menerjemahkan banyak literatur Arab ke dalam bahasa Latin. Diketahui, ia telah menerjemahkan lebih dari 80 buku berbahasa Arab tentang sains. 

 

Di antara banyak terjemahannya adalah sebagai berikut:

1.    Almagest karya Ptolemy, ialah sebuah risalah astronomi yang mengemukakan gerakan kompleks bintang-bintang dan lintasan planet

2.    Analisis Posterior (Posterior Analytics), Fisika, the Heavens and the World, Generation and Corruption, dan Meteorologi karya Aristoteles

3.   Aljabar dan Almucabala, teori matematika karya Al-Khawarizmi

4.  Tentang Pengukuran Lingkaran (the Measurement of the Circle) karya Archimedes

5.    Elemen Geometri karya Euclid

6.    Elementa astronomica karya Jabir ibn Aflah

7.    Optik karya Al-Kindi

8.    Elements of Astronomy on the Celestial Motionstentang astronomi karya Al-Farghani

9.    Klasifikasi Ilmu Pengetahuan (Classification of the Sciences) karya Al-Farabi

10. Kimia dan Medis karya al-Razi (Rhazes)

11. Liber ad Almansorem, Liber Divisionum, Pengantar dalam medicinam, De egritudinibus iuncturarum, Antidotarium dan Practica puerorum karya al-Razi (Rhazes)

12. De elementis dan De definitionibus karya Isaac Israeli ben Solomon, seorang filsuf Yahudi

13. Al-Tasrif as Chirurgia karya Al-Zahrawi (Abulcasis)

14. The Canon of Medicine as Liber Canonis karya Ibnu Sina (Avicenna), dll.


Referensi:

de Navarre, Marguerite. 1894 (1558). The Heptameron of the Tales. Vol. 1 of 5. London: The Society of EnglishBibliophilists. http://www.gutenberg.org/files/17701/17701-h/17701-h.htm.

IBNU FIRNAS, Bapak Penerbangan dan Pencipta Teori Ornithopter Dari Andalus


        Pada awal abad ke-9 M., seorang sarjana Muslim bernama ‘Abbas Ibn Firnas memelopori studi penerbangan. Ibnu Firnas menemukan alat peluncur yang berhasil mengudara selama beberapa saat. Meskipun ia terluka parah saat pendaratan buruk, ia berhasil memelopori teori tentang struktur ornithopter yang merupakan komponen penting untuk stabilitas pesawat selama pendaratan. Artikel ini mengungkap sejarah awal penerbangan mulai dari periode awal zaman keemasan Islam hingga abad ke-20 Masehi yang telah menyaksikan upaya Barat dalam memperkenalkan mesin di pesawat terbang. Penemuan ornithopter oleh ‘Abbas Ibn Firnas telah mengilhami Barat untuk lebih mengembangkan teknologi penerbangan sehingga memengaruhi metode penerbangan modern. Karena itu, tentu saja Ibnu Firnas harus diakui sebagai 'bapak bidang penerbangan' dan aviator pertama di dunia karena kontribusinya yang tak ternilai bagi bidang kontemporer teknologi penerbangan dunia.

 

Latar Belakang Ibnu Firnas

Abu al-Qasim ‘Abbas Ibnu Firnas Ibnu Wardus, juga dikenal sebagai Ibnu Firnas, adalah keturunan Berber yang lahir pada 810 M di Izn-Ran Onda atau sekarang dikenal kota Ronda, Spanyol (The Encyclopaedia of Islam, 1986). Meskipun Ibn Firnas adalah penduduk asli Ronda, ia bermigrasi ke Cordoba untuk mengejar pengetahuan. Hasratnya akan pengetahuan membuatnya meninggalkan kampung halamannya. 

Selain itu, Ibnu Firnas juga telah melakukan perjalanan ke Irak untuk beberapa waktu sebelum kembali ke rumah (Mahayudin Yahaya, 1986). Seperti yang diketahui secara umum, kota Baghdad, terkenal dengan pusat pengetahuannya, yaitu Dar al-Hikmah, yang merupakan rumah bagi sejumlah besar ilmuwan, ilmuwan, penulis, penyair, seniman dan pengrajin Islam (Cavendish, M., 2011). Di sanalah Ibnu Firnas mempelajari berbagai pengetahuan dan menguasai banyak studi seperti astrologi, astronomi, teknik dan musik.

Semangat Ibnu Firnas sejak masa kanak-kanaknya dengan ilmu fisika, kimia, astronomi, dan sastra menarik perhatian pangeran Umayyah, Abdul Rahman II sehingga membuka pintu istananya agar Ibnu Firnas dapat mengajar para pangeran. Disebutkan bahwa ia telah mengajar di istana selama lebih dari 30 tahun.

         Sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa Ibnu Firnas wafat pada tahun 887 M di era pemerintahan al-Mundhir (al-Maqqari, Ahmed Ibn Muhammed, 1840).

 

Pelopor di Bidang Penerbangan

Banyak sumber menyatakan bahwa ‘Abbas Ibn Firnas adalah orang pertama yang terbang (Palencia, Angel K., 1945; Hitti, P.K., 1964). Fakta ini juga diakui oleh seorang sarjana Barat, Phillip K. Hitti, yang mempelajari dunia Arab. Dalam bukunya yang berjudul “History of the Arabs: From the Early Times to the Present”, ia menyatakan bahwa: "Ibnu Firnas adalah orang pertama dalam sejarah yang melakukan upaya ilmiah untuk terbang".

Sejauh kontribusi Ibnu Firnas dalam penerbangan, jelas bahwa ia mulai menciptakan perangkat terbang yang memungkinkannya terbang dari satu tempat ke tempat lain pada 875 M. Perangkat terbang ini, terbuat dari sutra dan bulu elang, mengharuskannya untuk berada di tempat yang lebih tinggi untuk lepaslandas, lalu ia pun berhasil terbang selama sepuluh menit meski setelah itu jatuh dan merusak luncurannya. Akibatnya, Ibn Firnas mengalami cedera punggung yang parah dan patah kakiSebab usia yang lanjut, dan kegagalan menyembuhkan kaki yang patah, mencegahnya mengulangi percobaan untuk ketiga kalinya.

 

Teori Ornithopter

Setelah kecelakaan saat percobaan penerbangan, Ibnu Firnas menyadari bahwa struktur ujung ekor adalah bagian penting untuk mendarat, dan ini mirip dengan bagaimana seekor burung menggunakan ekor untuk mengurangi kecepatannya. Struktur ini kemudian dinamai ornithopter oleh da Vinci (Scholz, M.P., 2007). Ornithopter adalah teori yang didirikan oleh Ibnu Firnas menggunakan glider (replika pesawat untuk uji coba) pertama kalinya setelah upaya meluncurkan dirinya sendiri. Teori ini dikonfirmasi dalam naskah yang ditulis oleh Roger Bacon, menguraikan tentang ekor yang dikenal sebagai ornithopter. Pada tahun 1260 M, Bacon menulis artikel yang menyebutkan bahwa salah satu metode untuk terbang adalah dengan menggunakan ornithopter. Diketahui, bahwa Bacon belajar di Cordoba, tempat bersejarah yang juga merupakan tempat Ibn Firnas berusaha terbang. Penjelasan Bacon dalam tulisannya tentang ornithopter bisa saja didasarkan pada naskah Ibn Firnas di Spanyol yang telah hilang tanpa jejak. Hilangnya bukti kuat yang menyebutkan Ibn Firnas sebagai pelopor dalam studi penerbangan menghalangi dunia untuk mengakui kontribusinya di ornithopter selama berabad-abad (White, L.J., 1961).

Jelas bahwa upayanya telah membuka pintu untuk studi penerbangan sementara mengungkapkan konsep ornithopter sebagai komponen pesawat vital dalam menjaga stabilitas saat mendarat. Pentingnya karya Ibnu Firnas memberi dampak besar bagi dunia, terutama di bidang studi penerbangan. Saat ini, semua pesawat modern dan canggih mendarat dengan struktur back-end terlebih dahulu. Sayangnya, luncuran Ibnu Firnas tidak memiliki ekor di punggungnya sehingga penerbangannya berakhir dengan tragis.

 

Kontinuitas Usaha Dalam Bidang Penerbangan

Setelah Ibnu Firnas meninggal dunia pada 887, banyak Muslim dan non-Muslim meneruskan upaya dalam bidang penerbangan. Diantaranya adalah Al-Juhari asal Turki, ia membuat sayap dari kayu dan tali pada 1007 M, lalu mencoba meluncur terbang dari menara Masjid Ulu setinggi 1.002 kaki. Namun, upayanya gagal dan mengakibatkan kecelakaan fatal.

Setelah itu, pada abad ke 11 M., seorang biarawan asal Malmesbury, Eilmer berusaha meluncur dari ketinggian 1.000 kaki. Upayanya dianggap sukses karena ia terbang dengan ketinggian 600 kaki. Namun, ia lupa menggunakan ekor saat mendarat, dan kegagalannya karena tidak mengambil pelajaran dari upaya Ibnu Firnas ini mengakibatkan kecelakaan parah dengan cedera dua kaki patah.

 

Penerbangan di Era Renaisans

Melihat kegagalan yang dialami oleh Al-Juhari dan Eilmer, upaya serupa dihentikan untuk sementara waktu. Namun percobaan yang menantang itu muncul kembali selama era Renaisans, lebih kurang 600 tahun setelah kematian Ibnu Firnas, terutama ketika Leonardo da Vinci menghasilkan beberapa sketsa mesin terbang. Sarjana Italia ini hanya berhasil membuat sketsa beberapa mesin terbang tetapi tidak dapat membuktikan bahwa perangkat itu dapat terbang atau tidak, karena ia belum pernah mencoba menerbangkannya.

Pada abad ke-19 M., yaitu 900 tahun setelah kematian Ibnu Firnas, ada upaya untuk terbang menggunakan sayap besar seperti yang dirancang oleh da Vinci di Eropa. Di antaranya adalah usaha seorang insinyur Jerman, Otto Lilienthal. Ia adalah seorang peluncur yang luar biasa saat itu. Lilienthal mempelajari beberapa aspek penerbangan seperti gaya angkat dari permukaan bumi, bentuk sayap, dan perbedaannya yang akan menghasilkan tekanan berbeda yang merupakan faktor penting bagi stabilitas penerbangan. Namun, selama upaya penerbangannya pada tahun 1896, angin tiba-tiba bertiup kencang dan ia tidak dapat mengendalikan luncurannya sehingga jatuh di daerah perbukitan Berlin. Karena kemalangan ini ia meninggal pada hari berikutnya.

Meluncur tanpa mesin berhasil diperluas lebih lanjut oleh Wright bersaudara sampai penemuan pesawat bertenaga mesin yang terbang 260 meter. Dua orang kakak beradik, Orville Wright (w. 1948) dan Wilbur Wright (w. 1912) dikenal hingga hari ini karena upaya pertama mereka untuk terbang pada tanggal 1 Desember 1903. Sejak itu, mereka dihargai atas desain dan perancangan pesawat terbang efektif untuk pertama kali. Kunci Wilbur Wright untuk ini adalah dengan mempelajari bagaimana burung terbang mirip dengan apa yang telah dilakukan Ibnu Firnas 1.000 tahun yang lalu. Wright menyadari bahwa seekor burung menjaga kestabilannya di udara atau ketika berbelok ke kiri atau kanan dengan mengubah posisi sayapnya. Sebelum membangun pesawat, Wright bersaudara menggunakan glider untuk menghindari kecelakaan.

Pada tahun 1908 Masehi, Wright bersaudara berdemonstrasi melakukan penerbangan di Prancis (Anderson, J.D., 2004) dan demonstrasi itu disaksikan oleh publik. Setahun kemudian, bidang penerbangan terus dikembangkan oleh Henri Farman dan Louis Bleriot. Keberhasilan demi keberhasilan telah dicapai melalui pengamatan dan analisis pada konsep penerbangan sambil melakukan perbaikan pada struktur pesawat sebelumnya. Dengan demikian, sejumlah penemuan alat terbang telah ditemukan seperti jet, roket dan pesawat ruang angkasa.

Dengan begitu, upaya Ibnu Firnas untuk terbang hingga melahirkan konsep ornithopter sebagai komponen utama dalam menjaga stabilitas penerbangan adalah dedikasi terbaik dari tokoh Andalusia yang telah menginspirasi Barat dan dunia modern, namun menjadi sejarah yang dilupakan oleh banyak kalangan yang khususnya anti Islam.

 

 

 

 

Referensi

al-Hassani, Salim T.S., 2006. 1001 Inventions: Muslim Heritage in Our World. Manchester: Foundation of Science, Technology and Civilization. 

al-Maqqari, Ahmed Ibn Muhammed, 1840. The history of the Mohammedan dynasties in Spain. London: Oriental Translation Library of the British Museum. 

al-Shahawi, Salah ‘Abd al-Sattar, 2011. Ibn Firnas: Awwal ra’id fada’ fi al-tarikh. http://www.hiramagazine.com /archives/title/555 

Anderson, J.D., 2004. Inventing Flight: The Wright Brothers & Their Predecessors. Baltimore: The John Hopkins University Press. 

Cavendish, M., 2011. Illustrated Dictionary of the Muslim World. New York: Marshall Cavendish Corp.

Hitti, Philip K., 1964. History of the Arabs: From the Earliest Times to the Present. London: Macmillan & Co. Ltd.

Mahayudin Yahaya, 1986. Ensiklopedia Sejarah Islam. Vol. 1. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia Press.

Maimun Aqsha Lubis. 2010. Tamadun Islam dan Peradaban Dunia. Bangi: Penerbit Awal Hijrah Sdn. Bhd. Masood, Ehsan. 2009. Sciences and Islam: A History. London: Icon Book Ltd.

Palencia, Angel G., 1945. Historia de la Literatura Arábigo-Española. Edisi 2, terjemah Husein Mu’nis: Tarikh al-Fikr al-Andalusi, (Cairo: Maktabah at-Tsaqafah ad-Diniyah, 2008).

Samsu Adabi Mamat, 2000. Ibn Firnas: Idea penerbangan pertama dunia Islam. Prosiding Seminar Ketokohan Cendekiawan Islam, pp. 108-116.

Scholz, M.P., 2007. Advanced NXT: The Da Vinci Inventions Book. New York: Apress.

The Encyclopaedia of Islam, 1986. Vol. 1. Leidin: E.J. Brill.

White, L.J., 1961. Eilmer of Malmesbury, an Eleventh Century aviator: A case study of technological innovation, its context and tradition. Technology and Culture, 2(2): 97-111.