BREAKING NEWS
latest

Advertisement
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

“Atazir”, Selendang Kebanggaan Wanita Berber Afrika Utara


Di bidang dekorasi dan mode, sudah menjadi tradisi bagi wanita desa Jijel, Aljazair mengenakan selendang yang dibalut ke tubuh mereka. Hal ini diutarakan oleh beberapa penduduk Djurdjura dan Béjaia,merupakan dua kota terakhir di Aljazair yang mayoritas penduduknya adalah suku Amazigh.
Dalam Bahasa Amazigh, mereka menyebutnya “Atazir” (Bahasa Arab: الفوطة atau المنديل atau المنشفة), yaitu selembar kain yang dikenakan wanita dengan melilitkannya di tubuh mereka dari pinggang ke kaki, biasanya diwarnai dengan garis-garis vertikal paralel baik merah dan putih, atau merah dan hitam, atau putih dan merah, kadang-kadang putih dan biru. Pakaian itu dilengkapi ikat pinggang lebar melilit di sekeliling pinggang yang disebut “kurziyah”, dan setiap wanita dimahkotai dengan topi simpul rajut berwarna digantung di kepala, mereka menyebutnya “syasyiyah”.
Tapi, sejauh ini kebanyakan orang Aljazair tidak menyadari bahwa kostum tersebut  juga ditemukan di Andalus dan termasuk diantara mode yang disukai oleh para wanita Andalusia, terutama wanita-wanita pedesaan, lalu dibawa selama berimigrasi ke Pantai Barat Daya Mediterania; yaitu dari Maroko sampai ke Tunisia, melalui Aljazair.
Sampai saat ini, kostum atazir masih dipakai di kota-kota Maroko bagian Utara, dimana wilayah tersebut masih dihuni oleh keturunan bangsa Moor, seperti kota Tetouan, Chefchaouen, dan wilayah Jebala, termasuk suku Beni Ydder misalnya, setidaknya mereka masih memproduksi dan memasarkannya di daerah tersebut.
Ketika kita melihat wanita Chefchouan Maroko dengan kostum ini, kita akan menemukan kesamaan dengan para wanita di Djurdjura, Béjaia dan Jijel beberapa dekade yang lalu, termasuk juga di pulau Djerba dan wilayah Tunisia secara umum, yang masih tetap membekas jejak dan pengaruh budaya Andalusia, lebih karena kemiripan dalam mode berpakaian mereka, dari Samudera Atlantik hingga ke Teluk Sidra.

Kostum wanita Granada beberapa abad yang lalu
Foto wanita Albania awal abad ke-20 Masehi
Kostum yang dipakai wanita Aljazair
Foto Wanita Beni Ydder Maroko
Dipercaya foto tsb ialah
            wanita Kurdi dari Turki

Becermin Membuat Kita Bersyukur

Ketika kita melihat lebih jauh tentang sifat diri kita sendiri, pasti akan memunculkan ribuan pertanyaan yang terkadang membuat kita heran, takjub, kecewa, menyesal, bangga bahkan kita akan dibuat tersenyum-senyum oleh semua keunikan itu.

Lumrah, setiap individu memiliki ciri khas tersendiri, dan sifat manusia berbilang-bilang, kadang memiliki persamaan di satu sisi, namun berbeda di sisi yang lain.

Seumpama, ada yang pintar mengawal suasana, pastilah ia seorang yang asyik dan mudah bergaul. Dalam kelompok, ia lebih unggul, orang-orang di sekelilingnya terkagum-kagum, ada saja kata-kata atau tingkah lakunya yang membuat orang lain minimal senyum, ataukah tertawa. Ketika ia diminta

Akhir Hidup Sang Penakluk Andalusia

Banyak yang menuliskan tentang kisah Thariq bin Ziyad pada saat ia membuka Spanyol-Islam ratusan tahun yang lalu, tapi hanya sedikit periwayatan sejarah yang menceritakan tentang akhir hidup sang penakluk, di sini saya akan memaparkan beberapa sumber referensi terkait, dan ternyata ada ibrah penting yang bisa diambil.

Profesor sejarah Universitas New York, David Levering Lewis menyebutkan bahwa setelah beberapa saat menjadi gubernur Spanyol-Islam, Thariq bin Ziyad dipanggil kembali oleh Khalifah Al-Walid ke Damaskus. Ia berangkat bersama Musa bin Nushair pada 714 Masehi. Lalu setahun setelahnya sang khalifah wafat dan digantikan oleh Sulaiman bin Abdul Malik.

Saat menjabat sebagai khalifah, Sulaiman sempat akan mengangkat kembali Thariq menjadi gubernur Andalus, namun gagal karena adanya desas-desus yang menggambarkan bahwa rakyat Andalus sangat taat terhadap Thariq, dan hal itu bisa membahayakan kedudukan khalifah. Akhirnya sang Khalifah membatalkan rencananya tersebut.

Jadi jika dibandingkan politik pemerintahan pada masa kerajaan Islam dulu dengan sekarang tidaklah jauh berbeda. Sosok yang dianggap baik dan mumpuni pasti tidak akan diangkat menjadi pemimpin, takut nanti rakyatnya akan terlalu fanatik terhadapnya. Jadi kasus-kasus seperti ini bukanlah sesuatu yang baru, melainkan sudah berlangsung berabad-abad lamanya, ya itulah fakta sejarah berkata, dan sudah menjadi tradisi dalam kehidupan. Bagaimana cara mengubahnya? Rasa iri dan dengki pasti akan selalu muncul dalam benak manusia.

Sementara tahun-tahun akhir hidup Thariq bin Ziyad masih penuh misteri karena sedikit yang meriwayatkannya. Alwi Alatas menyatakan bahwa Thariq wafat enam tahun setelah kepulangannya ke Damaskus, yaitu pada tahun 720 Masehi.

Sedangkan penaklukkan di Andalus dilanjutkan oleh putra Musa bin Nushair bernama Abdul ‘Aziz yang menjadi ‘amir pertama Spanyol-Islam dan terus berlanjut dari masa ke masa hingga akhirnya militer muslim berhasil menjangkau seluruh wilayah Spanyol, Prancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia.

Umat islam pun mulai membangun dan mempercantik lagi bangunan dan kota-kota di Spanyol. Banyak masjid dibangun, pepohonan dan bunga-bunga juga diimpor dari Timur. Tidak hanya itu, mencapai masa kejayaannya, Andalusia bahkan menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan dengan beribukota di Kordoba.

Dalam dunia Islam, Kordoba merupakan salah satu pusat budaya yang maju. Populasi kekhalifahan Kordoba ini pun mencapai 500.000 jiwa dan saat itu mengalahkan Konstantinopel sebagai kota terbesar dalam hal jumlah maupun kemakmuran penduduk di Eropa.

Kecemburuan Politik Dan Kekuasaan, Saudara Kandung Rela Dibunuh, Lumrahkah?

Saat ini dunia sedang disibukkan oleh berita kematian saudara tiri sang penguasa Korea Utara, ialah King Jong Nam yang kabarnya diracuni oleh assassin dari pihak pemerintahan Pyongyang. Entah benar atau salah tuduhan tersebut, pastinya Korut hingga saat ini menolak tuduhan itu dan menuntut pihak pemerintahan Malaysia untuk tidak mengotopsi jenazah dan segera memulangkannya kepada mereka.

Dugaan pembunuhan yang melibatkan pemerintahan Kim Jong Un sebagai aktor dibalik itu didukung kuat oleh beberapa negara terutama Korea Selatan. Bahkan tidak hanya King Jong Nam (saudara se-ayah Kim Jong Un), Jenderal Jang Song Thaek (paman Kim Jong Un), dan beberapa pejabat pemerintahan lain juga dieksekusi olehnya karena dianggap kontra dan menjadi ancaman bagi pemerintahan sang adik. Oleh sebab itulah King Jom Nam tidak menetap di Korut selama adiknya menjabat. Namun pada akhirnya, ia berhasil dibunuh dengan cara diracun dengan zat kimia VX oleh beberapa intelijen Korut saat berada di bandara Kuala Lumpur Malaysia beberapa waktu lalu. Termasuk salah satu pembunuh yang diduga ikut bergabung dengan agen rahasia Korut ialah bernama Siti Aisyah asal Indonesia, sungguh memalukan mungkin menurut beberapa kalangan. Tapi jangan terburu-buru untuk menjudge seseorang, pak Jusuf Kalla sendiri masih membela Siti Aisyah karena diduga ia terikut jebakan dari Korut. Bisa menjadi pelajaran bagi seluruh warga Indonesia untuk tetap berhati-hati dengan tawaran asing yang menggiurkan.

VX sendiri merupakan gas syaraf mematikan yang pernah diciptakan manusia. Satu tetesan ke kulit sudah cukup memberikan gangguan fatal pada sistem syaraf, seperti diungkapkan oleh Council on Foreign Relations. Karena itulah PBB mengklasifikasikan VX tersebut sebagai senjata pemusnah massal, dan hanya digunakan dalam perang kimia.

Dilihat dari konflik politik Korut saat ini, peristiwa seperti itu bukanlah yang pertama kalinya terjadi dalam suatu tatanan kekuasaan, melainkan sudah ada sejak masa kekuasaan Umayah di Spanyol-Islam. Pada abad-abad terakhir kepemimpinan, Spanyol-Islam telah dikuasai oleh raja ('amir) yang tidak merepresentasikan tradisi terbaik dari pemerintahan sebelumnya. Mereka bahkan tidak mampu menyelesaikan berbagai kesulitan yang lazim muncul menyertai naiknya seseorang menuju singgasana, yang menurut kebiasaan dinasti muslim, diwariskan kepada anak yang tertua atau yang paling cakap.

Al-Mundzir, ialah 'amir yang menjabat sejak tahun 886 Masehi menggantikan sang ayah, Muhammad I (wafat 886 M). Setelah dua tahun berkuasa, Al-Mundzir diracun oleh adiknya sendiri, yaitu Abdillah. Namun racun yang digunakan tidaklah begitu mematikan seperti VX yang dipakai oleh agen rahasia Korut saat ini. Beberapa riwayat juga menyebutkan bahwa kematiannya adalah karena sebab kecemburuan politik oleh saudara kandungnya sendiri. Dan akhirnya Abdillah, sang adik yang diktator kala itu meneruskan kekuasaan Al-Mundzir mengikuti sistem monarki.

Sedikit berbeda memang dengan kasus pembunuhan Kim Jong Nam yang menjadi target sang adik yang telah menjadi penguasa, sedangkan Al-Mundzir dibunuh ketika berkuasa. Pada intinya adalah sama, yaitu politik dan kekuasaan tidak memandang status kekeluargaan.

Mencermati Keserupaan Persaingan Dunia (Era Modern - Pascaklasik)

Ketegangan yang terjadi antara Timur dan Barat dunia kini semakin memuncak, hal itu dipicu oleh isu-isu sensitif menyangkut kecanggihan beberapa negara super power yang menjadi motif timbulnya perang dunia ketiga.

Persaingan seperti ini ternyata sudah ada sejak permulaan abad ke-10 lalu, dimana Dinasti Umayyah masih membentangkan sayapnya di Barat menyaingi kekhalifahan Dinasti Abbasiyah yang baru bangkit di Timur dan berpusat di Baghdad-Irak.

Selama kekuasaan Abdur Rahman bin Muawiyah atau dikenal dengan Abdur Rahman I, lalu dilanjutkan oleh Abdur Rahman II, hingga Abdur Rahman III, mereka berhasil memprakarsai gerakan intelektual yang membuat Spanyol-Islam menjadi salah satu pusat kebudayaan di dunia.
Islam ketika itu berjaya di Andalus, Eropa sejak abad ke-9 hingga 11 Masehi.

Melihat realita yang terjadi pada abad modern ini, ada beberapa perbedaan dan juga kesamaan yang bisa kita cerna. Amerika terus berupaya menguasai dunia dengan keilmuannya dalam bidang teknologi, begitu juga di Timur, China ikut merespon kesombongan Negeri Paman Sam dan bekerja sama dengan Rusia dalam menemukan teknologi nuklir tandingannya.

Sangat disayangkan jika peristiwa dahsyat alias perang nuklir itu terjadi. Tidak hanya pemicu dan target yang menjadi sasaran, melainkan juga berimbas kepada negara-negara kecil lain yang sedang mengalami masa pubertas.

Yang biasa terjadi adalah diciptakannya virus, lalu pihak seberang menciptakan antivirus. Sedangkan yang terjadi saat ini malah mereka membuat virus tandingan yang lebih hebat. Pertanyaannya, adakah tokoh yang membuat antivirus untuk menangkal semua kehebatan virus itu? Saya pikir, manusia sudah mengambil tindakan yang tidak logis adanya. Haruskah saya dan Anda-Anda berimigrasi ke planet sebelah?

Adapun perbedaan yang terjadi bahwa seribu tahun silam persaingan intelektual di dunia diperankan oleh umat islam, sedangkan sekarang mereka yang menjadi tokoh utama. Ke mana aktor-aktor cendekiawan muslim saat ini?

Hindari Rasisme Dengan Saling Menghargai

            "Blanc sans ( n ) ça fait black, comme quoi sans haine on est tous égaux!" (de Gilles Dor dans sa chanson).

            Ketika suatu hal tidak bisa dihilangkan, maka cobalah untuk dihindari. Berbicara rasis atau rasial bukanlah hal yang tabu untuk saat ini. Kosakata ini tidak pernah bisa dihilangkan dari dalam diri setiap individu begitu juga perbuatannya. Sebuah lagu yang dibawakan oleh Gilles Dor bukanlah semata lirik lagu, melainkan quote yang bermakna filosofis. Putih (blanc) jika tidak dibubuhi dengan 'n' maka akan menjadi hitam (blac). Setiap tidak ada 'n' atau haine (kebencian) maka kita semua sama.

            Hadirnya sifat kebencian dalam diri manusia mendatangkan hijab yang menyatakan bahwa diri saya dan diri Anda berbeda. Itulah suatu paham pembedaan sikap dengan adanya anggapan sebuah kelompok yang lebih superior ataupun tidak atau dikenal dengan paham rasisme.

            Ketika para ahli mendefinisikan sifat rasisme itu dengan objek ras/etnis, suku, warna kulit dan lain-lain, tetapi saya pribadi melihatnya dengan pandangan yang berbeda. Ketika munculnya sifat kebencian yang terjadi dalam semua jenis perbedaan baik itu menimbulkan deskriminasi sosial dan segregasi maupun tidak, maka itulah yang dinamakan dengan rasisme.

            Perbedaan tidaklah hanya dipandang dari kesukuan, tidaklah diukur dari terang dan gelapnya warna kulit setiap orang. Sejak munculnya istilah atasan, dipastikan juga adanya istilah bawahan, ada tinggi ada pendek, istilah hitam dan putih, mayoritas dan minoritas, kuat dan lemah, dan banyak lainnya. Superior dan inferior inilah yang kemudian teridentifikasi sebagai sebuah perbedaan dan tidak akan pernah bisa dihilangkan. Inilah anugrah yang dikaruniai olehNya Sang Maha Kuasa seperti terkandung dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13.

            Kapankah setiap orang merasakan sifat rasisme seperti itu? Tentu setiap diri manusia memiliki jawaban masing-masing berdasarkan pengalaman pribadi yang pernah dialami olehnya. Namun yang paling terlihat saat ini ialah ketika individu atau sekelompok manusia yang keluar dari kehidupan sosial etnisnya dan bertemu dengan etnis lain yang berbeda seperti anak-anak perantauan. Jiwa rasisme setiap individu akan sangat terlihat ketika mereka mempraktikkan alat komunikasi yang berbeda. Ya, bahasa termasuk salah satu faktor terpicunya sifat rasisme seseorang. Oleh karena itu dalam menyikapinya dibutuhkan kepekaan setiap individu untuk dapat saling menghargai.

            Berikut saya mengutip kata-kata bijak dari Martin Luther-King :
            "Nous devons apprendre à vivre ensemble comme des frères, sinon nous allons mourir tous ensemble comme des idiots." Artinya: Kita harus belajar untuk hidup bersama sebagai saudara atau kita akan binasa bersama-sama seperti orang bodoh.

          Menghargai perbedaan adalah sebuah solusi yang diambil untuk menghindari sifat rasisme atau rasialisme dalam kehidupan sosial masyarakat. Bukanlah sebuah kekeliruan saat melihat seseorang berbicara menggunakan bahasa pribuminya dengan orang lain yang juga sesama ras dengannya. Akan tetapi merupakan kesalahan besar ketika ada orang yang berbicara menggunakan bahasa sukunya namun terdapat etnis lain yang berada di dalamnya. Inilah contoh individu yang tergolong kepekaannya masih sangat kurang dalam menghargai perbedaan. Meskipun suatu sample yang sederhana, namun berbahaya karena akan memicu sifat kebencian dan kemudian menimbulkan deskriminasi sosial jika tidak dihindari.

        Jangan mengatakan kepada orang lain untuk tidak rasis, melainkan Anda sendiri yang harus menyadari sifat rasial dalam diri Anda, seyogyanya kita harus bersama-sama membenahi diri sebelum terlebih dahulu menjudge orang lain yang sebenarnya berbeda seperti pandangan Anda.

Bolehkah Percaya dengan Aplikasi Weather?

"Apakah kamu lebih memilih musuh karena ia pintar daripada teman tapi bodoh?"


 Kira-kira seperti itulah bayangan kita hidup di zaman modern ini.
Kenapa saya katakan demikian?
Kembali mengingat apa yang telah saya perbincangkan dengan salah seorang senior saya yang mana ketika itu cuaca di daerah tempat kami tinggal memang terus menerus hujan. Padahal musim dingin sudah berlalu dan sedang beralih ke musim semi yang akan diakhiri dengan musim panas.

Tapi di saat seperti ini malah sama seperti yang saya rasakan saat di Indonesia ketika musim hujan dulu.

Nah, ketika itu senior saya Rifqi Maula, sebut saja bg Rifqy sedang melihat perkiraan cuaca di aplikasi weather gadgetnya.
Beliau mengatakan bahwa beberapa hari ke depan memang akan terus turun hujan seperti apa yang telah beliau lihat di aplikasi itu.
Ketika itu juga muncul pertanyaan bagi saya, apa hukumnya kita berpedoman dengan perkiraan cuaca yang seperti itu?
Bukankah sama saja seperti kita percaya kepada takdir yang ditentukan oleh selain Allah?

(entah mengapa sepintas saya terpikir akan hal itu dan langsung terucap sehingga beliau sedikit tertawa mendengarnya :D)
Lalu tidak lama setelah itu beliau menjelaskan bahwasanya seorang filosof islam Al-Ghazali dalam pengantar kitabnya "Tahaffut al-Falasifah" telah sedikit menyinggung tentang gerhana dan seperti apa yang telah diungkapkan banyak peneliti di dunia.
Namun dalam hal ini yang saya pahami dan sangat menarik bagi saya adalah pertanyaan beliau yaitu : "kita lebih memilih siapa ; musuh yang pintar atau teman sendiri karena bodoh??"
Sama seperti : "kita lebih memilih mana ; peneliti yahudi yang telah menemukan banyak temuan dan memang sesuai dengan realita Al-Quran atau orang islam yang tidak menemukan apa-apa? Meskipun tidak selamanya temuan mereka benar.
Pikiran saya mulai mencerna dan ingin tau apa yang beliau maksudkan.
Ternyata itu semua sesuai dengan apa yang kita alami sekarang.
Banyak ilmuan-ilmuan yang meneliti seluruh apa yang ada di bumi ini dan kebanyakan mereka adalah non-muslim.
Di dalam Al-quran juga Allah memerintahkan kita untuk mencari ilmu, untuk terus berfikir tentang apa yang telah diciptakannya, karena di situlah kita bisa melihat tanda-tanda kekuasaan Allah.
Dalam surat Ali 'Imran ayat 190 Allah SWT berfirman :
(إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ)
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal."
Namun, kenyataan yang bisa kita lihat saat ini hanya sedikit umat Islam yang mengamalkan ayat-ayat suci Allah ini, kebanyakan mereka hanya membaca dan menghafalnya tanpa meneliti dan menemukan teka-teki di balik kandungan Al-Quran tersebut.
Hampir semua teknologi-teknologi yang ada sekarang adalah hasil cipta orang kafir.
Nah, kembali kepada pertanyaan yang menggugah tadi.
Secara logika kita tidak boleh berkhianat, dalam artian sebodoh-bodoh apapun teman pasti kita lebih memilihnya daripada musuh meskipun mereka pintar.
Dalam persoalan ini, orang kafir memang sudah jelas sebagai musuh islam.
Namun apakah kita boleh menggunakan alat-alat teknologi hasil penelitian mereka?
Dan bahkan ada diantara mereka yang telah meneliti apa yang terkandung dalam Al-Quran?!
Jawabannya jelas boleh, asalkan kita tidak meninggalkan agama Allah karena mengagumi mereka.
Malah seharusnya dengan menggunakan hasil temuan mereka menjadikan pikiran kita lebih terbuka akan luasnya kekuasaan Allah SWT, dan menambah iman kita kepadaNya.
Lebih baik lagi karena melihat penelitian-penilitian mereka, kita menjadi tergugah untuk meneliti juga apa yang ada dalam Al-Quran sehingga kita bisa mengagumi kekuasaan Allah sebagai Tuhan agama kita.
Nah, oleh karena itu, terkait kepercayaan kita akan perkiraan cuaca di gadget tersebut yang sebagai teknologi canggih saat ini bisa saja hal itu benar atau sebaliknya.
Pada dasarnya, kita boleh saja percaya ataupun tidak dengan hasil temuan mereka, karena mereka telah membuktikannya sendiri dengan penelitian, asalkan tidak menghilangkan kepercayaan kita bahwasanya Allah SWT yang telah menjadikan semua itu.
Berbeda halnya dengan ramalan-ramalan yang dilakukan oleh mereka yang meramalkan bintang dan takdir kehidupan seseorang, itu telah dilarang dalam agama islam dan temasuk dalam golongan syirik kecil.
Wallahu a'lam bis shawab~


Dinamika Islamophobia Lintas Sejarah (Telaah Sikap Terhadap Penistaan Nabi)

          Istilah 'tourist is terrorist' telah menyebar di kalangan Eropa sebab munculnya islamophobia yang terjadi di negaranya akhir-akhir ini. Namun apa sebenarnya yang dimaksud dengan islamophobia?

Arti Islamophobia
           Menurut sejarah, kata phobia berasal dari Bahasa Yunani, berarti: takut. Yaitu suatu ketakutan yang amat sangat terhadap sesuatu. Phobia adalah penyakit mental, namun si penderita tidak disebut gila, akan tetapi hanya seperti penyakit traumatis saja.

            Selain itu, banyak istilah lain yang dinisbatkan kepada kata phobia, sebagai contoh :
              - acrophobia: takut ketinggian
              - autophobia: takut sendirian
              - androphobia: takut laki-laki  
              - venustraphobia: takut wanita cantik
              - garnophobia: takut kawin, dll.

          Istilah islamophobia sendiri sudah digunakan sejak tahun 1980-an. Namun mulai didefiniskan pada 1997 sebagai rasa takut dan benci terhadap Islam lalu membawa kepada takut dan tidak suka kepada orang Islam, juga berdampak kepada mendiskriminasikan orang Islam dengan mengasingkan mereka dari kegiatan ekonomi, sosial dan kehidupan masyarakat. Kemudian istilah ini menjadi popular setelah adanya serangan gedung WTC di Amerika Serikat pada 11 September 2001.

          Namun dalam riwayat lain, dikatakan bahwa kemunculan istilah islamophobia diawali ketika mantan wakil Presiden era Bus, Jr–Dick Cheney dikenal memiliki fobia terhadap Islam sehingga jurnalis barat membuat istilah Islamophobia untuk menggambarkan kondisi orang-orang seperti Cheney.

        Dilihat dari sejarahnya, pasca Perang Dunia II yang telah meluluh lantakkan sebagian besar negara-negara di Eropa memaksa bangsa-bangsa di Eropa mengimpor para pekerja dari luar untuk membangun kembali negara mereka yang telah hancur. Sebagian besar negara-negara di Eropa (khususnya negara Eropa Barat) memasok para pekerja dari negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, seperti: Aljazair, Maroko, India, dan Turki. Para pekerja asing ini semakin hari semakin berlipat ganda jumlahnya, bahkan banyak di antara mereka yang berkeluarga dan berketurunan di Eropa lalu menjadi muslim. Keberadaan para pekerja asing ini lama-kelamaan mengalami beberapa kendala sosial terkait dengan kebiasaan dan kebudayaan masyarakat pribumi Eropa. Tidak sedikit yang berselisih hingga menyebabkan konflik di masyarakat yang berujung pada kerusuhan dan kekerasan. Kejadian-kejadian seperti ini memupuk stigma-stigma negatif terhadap Islam yang berujung kepada ketakutan terhadap Islam atau yang lebih dikenal dengan istilah Islamophobia. Diperkuat dengan kejadian-kejadian teror yang menyita perhatian dunia dan sebagian besar dilakukan oleh-oleh kelompok Islam radikal seperti: tragedi WTC di Amerika, bom bunuh diri di Spanyol, pembunuhan terhadap sutradara Theo Van Gogh di Belanda oleh seorang muslim, dan yang sedang trending topic ialah penembakan kantor majalah Perancis, Charlie Hebdo.

             Adapun dampak islamophobia yang terjadi di Eropa yaitu sebagai berikut :
  1. Pelarangan pemakaian burkak (cadar) bagi muslimah Perancis dan Belanda dengan alasan dapat menghambat komunikasi antara murid dan guru sebagai salah satu esensi pendidikan atau sesama murid, termasuk juga menyulitkan identifikasi siswa ketika ujian.
  2. Diskriminasi terhadap pelaksaan ibadah umat Muslim.
  3. Pemeriksaan ekstra ketat di setiap imigrasi transportasi darat, laut, dan udara terhadap pendatang muslim atau mereka yang berasal dari negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.
         Lalu mengapa Islam sebagai agama yang rahmatan lil'alamin ditakuti bahkan dibenci oleh sebagian orang di belahan bumi?

       Yang patut diketahui adalah bahwa Yahudi, Nasrani dan musuh-musuh Islam lain sering mempropagandakan bahwa agama Muhammad adalah agama yang penuh dengan keburukan, kebencian, permusuhan, dan peperangan. Propaganda seperti itu kian semakin terstruktur dan sistematis hingga pada abad ke-19 M disusunlah sebuah konspirasi yang kemudian dikenal dengan Protocol of Zion dan bertujuan ingin mewujudkan negara Yahudi Raya (Zionisme).

           Dalam sebuah 'Konferensi al-Quds', Samuel Zwemmer mengatakan: “Sebenarnya tugas engkau bukanlah mengeluarkan orang-orang islam dari agamanya menjadi pemeluk agamamu, akan tetapi menjauhkan mereka dari agamanya (Al-Qur’an dan Sunnah) sehingga menjadi orang-orang yang putus hubungan dengan Tuhannya dan sesamanya (saling bermusuhan) menjadi terpecah-belah dan jauh dari persatuan.”


Islamophobia Pada Masa Rasulullah ﷺ
          Pada masa silam, perjalanan dakwah Rasulullah SAW mendapatkan respon negatif dari kaum kafir Quraisy berupa hinaan, ancaman hingga kekerasan. Sebagaimana mereka menghina bahwa Nabi Muhammad adalah orang gila dan tukang sihir seperti tersebut dalam Q.S. Ad-Dzaariyat: 52, bahkan beliau dihina sebagai dukun seperti tercantum dalam Q.S. Al-Haaqah: 42. Tidak hanya itu, perjalanan nya ke Thaif mendapatkan lemparan batu, bahkan mendapat ancaman pembunuhan. Perlakuan kejam yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy pun ikut menimpa para Sahabat dan keluarga Rasulullah.

         Melihat hal itu, jelaslah bahwa dampak islamophobia yang terjadi di Eropa serupa dengan apa yang terjadi pada masa Rasul, meski sebab munculnya berbeda. Kebencian mereka tidak lain disebabkan karena merasa takut akan kehilangan agama nenek moyang mereka, sehingga muncul lah segala macam bentuk penghinaan dan pelecehan kepada Rasul dengan tujuan agar Beliau menghentikan dakwahnya.

Sikap Kita Sebagai Umat Islam
        Menyikapi isu islamophobia, kiranya solusi yang paling baik adalah menanamkan terlebih dahulu nilai-nilai ruh Islam secara sempurna dalam diri sendiri dan selanjutnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermsyarakat. Tentunya, kita tidak perlu membalas islamofobia yang ada di Barat dengan fobia kepada Barat, karena kebencian orang-orang kafir terhadap umat Muslim sudah mengakar dalam hati mereka, sebagaimana terkandung dalam Q.S. Al Baqarah: 120 
(ولن ترضى عنك اليهود ولا النصارى حتى تتبع ملتهم).

          Betapa banyak hinaan dan cacian yang dialami Rasulullah SAW. sampai suatu ketika, Aisyah r.a bertanya kepada Rasul: “Wahai Rasulullah, pernahkah engkau mengalami hari yang lebih buruk dari perang Uhud?" Rasulullah pun menjawab: "ya..!" seraya mengenang peristiwa di Thaif tatkala tiga pemuka Thaif yang didatangi Rasul dan diajak masuk Islam namun mereka bukan saja menolak, bahkan mendengar Rasul pun merasa enggan. Hal ini justru bertentangan dengan tata krama penduduk Arab dalam menghormati tamu. Mereka dengan tegas menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Rasul. Kemudian ketika tak ada lagi yang bisa diharapkan dari penduduk Thaif, Rasul pun beranjak pulang. Lalu dalam perjalanan pulang, Rasul dibuntuti para pemuda Thaif sambil mengganggu, mengejek, serta melempari Rasul dengan batu, sehingga kedua sandal Rasul pun penuh cucuran darah.

        Kemudian Rasul mengadu kepada Allah SWT hingga diutusnya malaikat yang mengurusi gunung untuk dibenturkan kepada mereka, hanya saja Rasul melarangnya dengan jawaban: “Aku hanya berharap kepada Allah SWT, jika mereka tidak menjadi muslim, semoga pada suatu saat nanti anak-anak mereka akan menjadi orang-orang yang menyembah dan beribadah kepada-Nya.”

         Berkaitan dengan islamophobia, hendaknya emosi umat Muslim tidak terpancing setelah ditimpa ujian dan cobaan berupa cacian dan makian yang dilontarkan, karena itulah misi kaum zionis yaitu dengan membuat murka umat Islam hingga membalas mereka dengan radikal.

          Selain itu, kita dapat menyuarakan keadaan tersebut kepada organisasi-organisasi internasional, seperti: organisasi Liga Amerika Arab, Organization of Islam Conference, UNESCO, PBB, dll untuk mengecam hal serupa terulang kembali. Wallahu a'lam bisshawab.



Materi ini disampaikan dalam diskusi wilayah di rumah mahasiswa Hay Inarah, Ain Chock, Casablanca, Maroko pada 17 Maret 2015.

MTQ Internasional Tidak Semeriah Tingkat Provinsi di Aceh

Musabaqah Tilawatil Qur'an atau kerap disapa MTQ oleh kalangan masyarakat Indonesia merupakan sebuah perlombaan membaca Al-Qur'an dengan lagu. MTQ ini sudah dilaksanakan mulai tahun 1940-an sejak berdirinya Jam'iyyatul Quraa wal Huffadz oleh Nahdlatul Ulama.
Tidak hanya membaca Al-Quran dengan lagu yang diperlombakan, tetapi juga banyak cabang-cabang lainnya seperti Hifdzul Qur'an (lomba menghafal Al-Quran), Fahmil Qur'an (lomba cerdas cermat agama), Khattil Qur'an (lomba menulis khat Arab), Tafsirul Qur'an (lomba menafsirkan Al-Quran dalam tiga bahasa), dan lain-lain.

Masyarakat Indonesia pada umumnya sangat memperhatikan kegiatan MTQ ini dengan ikut meramaikannya setiap kegiatan ini berlangsung. Mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi maupun nasional.

Seperti halnya di Aceh, rasa sosialisme antar sesama yang sangat tinggi terlihat ketika mereka ikut menyemarakkan kegiatan MTQ ini. Mulai dari panggung, dekorasi, bahkan kostum peserta MTQ telah dipersiapkan. Rasa kagum dan bangga saat melihat putra-putri mereka menampilkan bakatnya yang luar biasa dari sisi keagamaan.

Tidak hanya itu, para pedagang pun turut mendukung suksesnya acara ini. Seperti souvenir MTQ, pakaian berlambangkan MTQ, khat-khat Arab, hingga pameran dari setiap daerah pun ikut diperdagangkan pada acara tersebut.

Namun berbeda dengan negara lain yang juga melaksanakan kegiatan ini. Sebagai salah satu contoh, MTQ Internasional Penghargaan Raja Maroko ke-10 yang telah berlangsung beberapa hari yang lalu di Mesjid Hassan II Casablanca, Maroko.

Dilihat dari segi keagamaan, Maroko merupakan negara yg mayoritas penduduknya memeluk agama islam layaknya Indonesia. Namun sayangnya banyak yang tidak menyadari bahwa MTQ yang dibuka secara langsung oleh Dr. Ahmad Taufik selaku Menteri Wakaf dan Urusan Islam Maroko ini dilaksanakan.

Disamping MTQ ini dilaksanakan di aula yg tertutup dalam mesjid, terdapat juga satpam yang hanya membolehkan orang-orang tertentu yang dapat masuk sehingga masyarakat Maroko sendiri pun tidak bisa menyaksikan event ini karena penjagaannya yang cukup ketat.

Jika dibandingkan dengan MTQ tingkat kabupaten seperti dilaksanakan di Aceh, MTQ internasional ini kelihatan sangat sepi terlebih ketika peserta dari berbagai negara menampilkan bakat mereka, yang ada hanyalah pendamping dan peserta dari masing-masing kontingen. Begitu pula dekorasi, panggung, konsumsi serta pelayanan peserta yang terkesan simple dan kurang memadai.
"kalau kalian tidak ikut meramaikan di sini, mungkin anak-anak kita dari Indonesia kurang bersemangat untuk bersaing dalam perlombaan ini." kata seorang pendamping kafilah MTQ dari Indonesia. Meskipun acara ini akan ditampilkan dalam layar TV Maroko, namun masyarakat Maroko sendiri terasa tidak memiliki acara tersebut.

Begitulah sedikit perbandingan yang saya lihat langsung beberapa waktu lalu saat saya bersama teman-teman mahasiswa Indonesia di Maroko ikut mendukung duta-duta Indonesia dalam berpartisipasi pada kegiatan ini.

http://aceh.tribunnews.com/2014/12/31/mtq-internasional-tak-semeriah-tingkat-kabupaten-di-aceh





Bahasa Tersingkat di Dunia

A E I U
4 huruf tersebut tergolong ke dalam huruf vokal dalam Tata Bahasa Indonesia.
Namun, dalam bahasa Aceh yang merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia, huruf-huruf tersebut memiliki makna setiap hurufnya.
A = kakak
E = mau
I = air
U = kelapa
A E I U = kakak mau air kelapa.

Aceh dan Tsunami

“Aceh” merupakan sebuah nama provinsi yang berada di Indonesia. Provinsi ini terletak di ujung Barat Indonesia, yang memiliki lebih dari dua puluh kabupaten/kota. Provinsi ini juga sempat menghebohkan dunia di tahun 2004 dengan bencana alam terbesarnya yang kita kenal dengan “tsunami”. Karena bencana itulah masyarakat Aceh hingga sekarang dengan bangga mengatakan ”siapa yang tidak kenal Aceh?”

 Hal itu menunjukkan bahwa Aceh hingga sekarang dikenal oleh dunia dengan Tsunami nya. Telah dibuktikan oleh para perantau Aceh yang berhijrah ke berbagai daerah bahkan ke negara-negara luar Indonesia. Namun dibalik kebanggaan yang dirasakan oleh masyarakat Aceh, ada juga yang merasa malu dengan kejadian bencana alam yang sangat dahsyat itu.

Aceh dikenal dengan Serambi Mekah karena syari’at Islamnya yang berjalan dan ditegaskan oleh pemerintah Aceh itu sendiri. Namun banyak yang berpendapat bahwa sebelum terjadinya Tsunami itu syariat sudah luntur. Ditandai dengan banyaknya terjadi perzinahan di beberapa daerah di Aceh. Kita sebagai umat Islam menyadari bahwa Allah memberikan cobaan kepada sekelompok umat karena Allah sayang kepada mereka. Allah tidak rela jika ada segelintir orang yang mengotori sebuah daerah yang suci akan keislamannya.
Tahun 2004 lalu, tepatnya pada tanggal 26 Desember Aceh mengalami penderitaan yang luar biasa. Gempa dengan kekuatan 8,9 skala richter dan juga gelombang air laut menggulung kota Banda Aceh dan sekitarnya. Gempa dan gelombang besar ini telah merobohkan ratusan bangunan dan menewaskan lebih kurang 200.000 jiwa pada saat itu. Bencana dahsyat tersebut membuat dunia menangis dan merasa prihatin dengan kota Serambi Mekah ini sehingga banyak relawan dari seluruh penjuru dunia yang diutus untuk memberikan bantuan kepada masyarakatnya.
Namun sayangnya, dengan didatangkan relawan dari luar membawa dampak negatif bagi masyarakat Aceh ketika itu. Mereka tidak hanya memberikan bantuan melainkan juga ada unsur politik yang dilakukan terhadap masyarakat Aceh yang kita kenal dengan kristenisasi. Di antara korban Tsunami Aceh pada ketika itu dengan terpaksa menerima ajakan mereka karena pada dasarnya mereka sudah tidak memiliki apapun sebagai bekal hidup mereka. Tetapi ada juga yang tetap mempertahankan akidah dan keimanan mereka sebagai umat Islam. Demikianlah sekilas pembahasan tentang Aceh dan Tsunami.