BREAKING NEWS
latest

Advertisement
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Fatwa Mufti Oran Tentang Konversi Paksa Moriscos Spanyol ke Agama Katolik



Sebagaimana diketahui, bahwa Dewan Inkuisisi Spanyol (Tribunal del Santo Oficio de la Inquisición) dibentuk beberapa tahun sebelum runtuhnya kerajaan Granada pada 1491 M dengan tujuan memelihara ortodoksi Katolik dalam tubuh Semenanjung Iberia. Pada mulanya, Spanyol setelah reconquista merupakan masyarakat beragama yang relatif aman dan damai, namun selanjutnya terjadi kekerasan anti-Yahudi dan anti-Islam.

Pada tanggal 31 Maret 1492, bertepatan dengan dikeluarkannya Dekret Alhambra oleh Isabella I dari Kastilia dan Ferdinand II dari Aragon, orang-orang Yahudi mulai menghadapi pengusiran dari Kerajaan Spanyol dan wilayah-wilayahnya. Mereka diberi waktu empat bulan sejak Dekret dikeluarkan untuk meninggalkan Kerajaan Kastilia. Selain itu, mereka yang menentang akan dihukum mati, bahkan orang-orang Kristen di Kastilia diperingatkan untuk tidak melindungi ataupun menyembunyikan mereka di rumahnya. Selama periode ini, mereka berhak menjual semua properti yang dimiliki atau memilih untuk disita. ('Inan, 1997, h. 340) Dengan begitu, banyak orang Yahudi yang tunduk dan menyerah pada kristenisasi karena mengasihani harta dan tanah tempat tinggal mereka. Di samping itu, banyak pula yang dijebloskan ke penjara pengadilan suci hingga binasa dibakar dalam ritual auto-da-fe[1]karena tetap setia pada ajaran nenek moyangnya.

Begitu pula yang terjadi pada umat Muslim Spanyol pasca penyerahan kota Granada. Pada tahun 1502, terjadi upaya untuk melakukan kristenisasi seluruh umat Muslim Spanyol seiring semangat reconquista orang-orang Kristen (Fernández y González, 1985). Konversi paksa tersebut terus dilakukan oleh tiga kerajaan Kristen, yaitu Kastilia, Navarre dan Aragon.

Literatur Islam tidak jarang mendeskripsikan insinerator Dewan Inkuisisi atau pembakaran umat Muslim karena tuduhan tidak senonoh dan tidak bermoral. Mereka yang lebih memilih untuk tinggal di tanah air dan dipaksa konversi agama pun tidak mendapatkan perlindungan dari segala bentuk penganiayaan. Hal itu karena bangsa Moriscos atau Arab Kristen selalu menjadi objek kebencian dan kecurigaan. Umat Kristen Spanyol menolak untuk mengajak mereka bergabung ke dalam kelompoknya, dan Gereja Spanyol tidak percaya akan dedikasi mereka terhadap agama baru yang dianut, justru khawatir suatu saat mereka akan kembali murtad.

Dengan demikian, kebijakan Gereja Spanyol tersebut jauh dari praktik kristenisasi Muslim yang sebenarnya, melainkan bertujuan untuk memusnahkan mereka, menghapus jejak dan agama serta peradaban mereka.

Faktanya, bangsa Moriscos tetap setia pada ajaran agama nenek moyangnya. Dan Gereja, meskipun dengan upaya yang sangat besar, tetap tidak dapat membawa mereka kepada kesetiaan agama yang diperoleh melalui paksaan, hingga penganiayaan yang terus berlanjut. Begitulah yang disebutkan oleh sejarawan Spanyol, Luis del Mármol Carvajal, (Carvajal, 2001) ia menggambarkan kehidupan Moriscos di lingkungan kota Granada yang selalu merasa keberatan dengan agama baru yang dianut, jika mereka pergi misa pada hari Minggu, itu hanya demi menjaga tradisi dan ketertiban, dan mereka tidak pernah jujur pada saat pengakuan dosa. Sementara di hari Jumat mereka mandi, memakai hijab dan melakukan salat dalam rumah-rumah mereka yang tertutup. Saat anak-anak mereka pulang, mereka memandikannya dengan air panas dan memanggil mereka dengan nama Arab. Begitu juga pada pesta pernikahan, mempelai wanita kembali dari gereja usai mengikuti pemberkatan, lalu menanggalkan pakaian Kristennya dan mengenakan pakaian Arab, kemudian mengadakan pesta sesuai dengan tradisi Arab.

Bagaimanapun, dalam bayang-bayang kristenisasi di Spanyol, bangsa Moriscos tetap memiliki keterikatan terhadap keyakinan lama mereka, dan mempraktikkan ritual Islam secara diam-diam. Di sisi lain mereka mencari semua cara dan alasan hukum yang dapat membenarkan perilaku mereka, meski terpaksa mengikuti syiar agama Kristen.


Embarkasi Moriscos di pelabuhan Grao di Valence.


Hampir semua peneliti yang mempelajari sejarah Moriscos di Semenanjung Iberia setuju bahwa orang-orang Andalusia yang terpaksa masuk agama Kristen telah menjalani kehidupan yang samar dan unik, dimana mereka bertahan pada dualisme akidah yang menggabungkan perpindahan paksa mereka ke agama Kristen dan kesetiaan abadi mereka kepada Islam, sehingga mereka hidup berpura-pura memeluk agama Kristen secara zahir dan menjadi Muslim secara batin (taqiyah).

Diantara sejarawan ada yang membenarkan pengusiran orang-orang Moriscos dari Semenanjung Iberia pada 1609 karena kepatuhan dan kesetiaan mereka pada Islam, bahkan raja dan gereja kehilangan harapan untuk mengubahnya menjadi umat Katolik yang taat kepada negara Spanyol. Adapun salah satu rahasia keteguhan mereka adalah karena desakan dari mufti dan ulama Maroko seperti fatwa Syekh Ahmad Al-Wansharisi (w. 1508) yang menyatakan bahwa seorang Muslim seharusnya tak menetap di sebuah negara saat para penguasanya melarang ajaran Islam. Selain itu, al-Wansharisi menekankan bahwa telah terpenuhi sebab-sebab untuk berhijrah, karena rukun Islam dan Iman sama sekali tidak bisa dipraktikkan dibawah kekuasaan Gereja Spanyol, ditambah umat Muslim menghadapi segala bentuk penyiksaan dan penderitaan, oleh karena itu wajib bagi mereka beremigrasi meninggalkan negaranya. (Al-Wansharisi, 1981, h. 138) Fatwa ini cenderung keras dan tak luput dari perdebatan sebagian ulama seperti Husein Mu’nis, ia mengkritik fatwa al-Wansharisi, yang seolah tidak memperhatikan kondisi Muslim Moriscos kesulitan untuk meninggalkan tanah air yang telah ditaklukkan oleh nenek moyang mereka beberapa abad lalu. Bahkan mayoritas mereka terbilang lemah dan tidak mampu untuk berhijrah, sementara al-Wansharisi menghukumi mereka yang tetap bertahan akan masuk neraka, seandainya ia mengambil asal hukum dari hadist Nabi SAW: “Akan tiba suatu masa pada manusia, siapa diantara mereka yang bersikap sabar demi agamanya, ia ibarat menggenggam bara api[2], maka terlepaslah mereka dari belenggu kekafiran. (Mu’nis, 1957, h. 132)

Adapun fatwa jenis kedua dianggap bertendensi fleksibel dan toleran, yaitu berasal dari Grand Mufti Oran, Abu Abbas Ahmad bin Abi Jum’ah al-Maghrawi al-Wahrani (w. 1534) atau kemudian dikenal dengan Fatwa Oran, ialah fatwa yang membolehkan Muslim Spanyol agar secara diam-diam mempraktikkan Islam, dan memberikan dispensasi komprehensif bagi mereka menyesuaikan diri dengan agama Kristen dan memungkinkan mereka melakukan tindakan yang dalam kondisi normal dilarang Islam dengan alasan bertahan hidup.

 

§  Penerjemahan Risalah Fatwa Oran ke Dalam Bahasa Aljamiado

Fatwa Abu Jum’ah al-Maghrawi ditujukan utamanya kepada umat Muslim di Kerajaan Granada dan Castile, karena dua wilayah tersebut merupakan awal kemunculan upaya kristenisasi paksa pada saat itu.

Sejauh ini para sejarawan telah menemukan tiga salinan dari risalah fatwa tersebut:

1.     Salinan pertama terdapat dalam kumpulan manuskrip Borgiani di Perpustakaan Vatikan (Biblioteca Apostolica Vaticana) yang ditemukan oleh Sarjana Mesir, Muhammad Abdullah ‘Inan selama penelitian di Roma, Italia, dan diterbitkan pada tahun 1958 dalam bukunya: “The End of Andalusia and the History of the Advocated Arabs.” (‘Inan, 1997, h. 342-344) Tampaknya sejarawan Inggris Harvey menemukan versi bahasa Arab yang sama, dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1962 dalam rangka konferensi pertama Studi Islam Cordoba.

2.     Salinan kedua adalah terjemahan berbahasa Aljamiado, ditemukan di Royal Academy di Madrid, dan sebagian diterbitkan dalam Bahasa Kastilian oleh sejarawan Pedro Longas pada tahun 1915 dalam bukunya “La Vida Religiosa de Los Moriscos”. Diyakini bahwa salinan tersebut diterjemahkan pada tahun 1563 M. (Longas, 1989, h. 305-307)

3.     Salinan ketiga juga merupakan terjemahan dalam Bahasa Aljamiado, ditemukan di Perpustakaan Les Méjanes di Aix-en-Provence, Prancis. (Stewart, h. 266-267) Salinan ini diterjemahkan pada Desember 1503. Kemudian diterbitkan oleh sejarawan Prancis Cantino di majalah "Koran Asia" pada tahun 1927.

 

Peneliti Spanyol Maria Jesus Rubiera Mata mengatakan bahwa risalah fatwa Abu Jum’ah al-Maghrawi ditulis pada tahun 1504 dalam bahasa Arab, dan dibawa ke Semenanjung Iberia melalui Valencia, yang pelabuhannya merupakan jalur bagi mereka yang datang dari dan ke Andalusia. Kemudian ditulis ulang oleh Mudéjar Aragon pada dekade kedua abad ke-16, dan dibawa ke Aragon dengan teks Arab lainnya. Ketika Kristenisasi diberlakukan pada Muslim Aragon (tahun 1526 M) dan dimulainya tekanan dari Inkuisisi, Moriscos menerjemahkan fatwa tersebut ke dalam bahasa Spanyol dalam huruf Arab (Aljamiado) pada tahun 1563 M. Dan saat ini salinan tersebut masih tersimpan di Madrid.

Pada tahun 1609 M, dan tidak lama sebelum pengusiran terakhir dari Andalusia, beberapa Moriscos Aragon menerjemahkan ulang fatwa tersebut ke dalam Aljamiado, dan salinan tersebut saat ini disimpan di Perancis.

 

§  Isi Teks Fatwa Oran



Fatwa Oran dikeluarkan oleh Mufti Abu Jum’ah al-Maghrawi pada tanggal 1 Rajab tahun 910 H bertepatan dengan tanggal 18 November tahun 1504 M, yang berarti 12 tahun setelah jatuhnya Granada, karena kampanye kejam terhadap Andalusia meningkat selama pemerintahan Isabella dan Ferdinand. Fatwa tersebut ditulis dengan tujuan memberikan kelonggaran bagi mereka yang berpura-pura mengikuti agama Katolik, melanggar larangan-larangan syariat, dan tidak menyempurnakan kewajiban seperti salat, wudhu, zakat, dan lainnya dalam keadaan terpaksa.

Adapun risalah fatwa ini dimulai dengan ungkapan puji dan syukur kepada Allah dan salawat kepada Rasulullah SAW. kemudian pujian kepada Moriscos Andalus yang berpegang teguh pada agama Allah seperti pencengkeram bara api sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi, sebab kesabaran dan keteguhan mereka dalam beriman dengan menanggung pedihnya siksaan, hingga menembusnya dengan mengorbankan harta dan anak-anak mereka karena mengharap ridha Allah SWT. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai surgaNya, mereka adalah orang-orang yang asing dari agama, namun senantiasa dekat dengan ridha Allah dan ampunanNya, karena mereka pewaris para Nabi dalam menghadapi ujian, dan sabar dalam menanggung kepedihan.

Berikut adalah terjemahan teks fatwa Oran sebagaimana tercantum dalam kitab "Dawlat al-Islam fi al-Andalus(‘Inan, 1997, h. 342-344):

(Segala puji bagi Allah, dan semoga berkah dan damai atas tuan kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Saudara-saudara kita yang memeluk agama mereka, seperti pencengkeram bara api, mereka yang telah diberi pahala oleh Tuhan dengan apa yang mereka temui dalam Dzat-Nya, mendidik jiwa bersabar dalam keridhaan-Nya, orang asing yang dekat, insya Allah, dari lingkungan Nabi-Nya di surga tertinggi dari surgaNya, dan mereka mewarisi jalan leluhur yang saleh untuk menanggung kesulitan bahkan jika jiwa mencapai kerongkongan. Kami memohon agar Allah senantiasa berbaik hati kepada kami dan agar membantu kami dan Anda dalam mematuhi hak-Nya dengan itikad baik dan ketulusan, dan agar menunjukkan jalan keluar bagi kami dan Anda dari setiap masalah dan setiap kesulitan.

Setelah mengucap salam sejahtera menyertai Anda, dari yang menuliskannya untuk Anda, dari hamba Tuhan, bahkan lebih rendah dari para hamba-Nya dan yang paling membutuhkan pengampunannya, hamba Ahmed Ibn Boujum’ah Al-Maghrawi, kemudian Al-Wahrani.

Tuhan senantiasa ada bersama umatnya dengan segala kebaikan dan kerahasiaannya, aku meminta kepada Anda ketulusan doa, agar diberikan akhir yang baik, dan keselamatan dari negeri yang menakutkan, serta bergaul dengan mereka yang telah diberkati Tuhan dari antara orang-orang yang benar, menegaskan Anda dalam kepatuhan pada agama Islam, dan menyampaikan syiar tersebut kepada anak-anak Anda. Jika Anda tidak takut bahwa kejahatan akan masuk karena memberi tahu musuh Anda tentang kawanan Anda, maka bahagialah orang-orang asing yang berbuat kebaikan manakala manusia sedang berbuat kerusakan, dan sungguh mengingat Allah diantara yang lalai bagaikan hidup di antara yang mati, maka ketahuilah bahwa berhala adalah ukiran kayu, dan batu besar yang tidak berbahaya dan tidak berguna, dan bahwa kerajaan adalah milik Tuhan, Ia tidak mempunyai anak, dan tidak memiliki Tuhan. Maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam menyembahNya, salatlah meskipun itu dengan isyarat, dan berzakatlah walaupun dengan bertindak dermawan kepada pengemis, karena Tuhan tidak melihat sikap Anda, tetapi melihat hati Anda, dan bersucilah setelah junub bahkan dengan cara menyemplung ke dalam lautan. Dan jika Anda dicegah, maka salatlah di malam hari sebagai ganti siang (qadha), dan Anda harus melakukan tayamum bahkan jika Anda menyeka dinding dengan tangan Anda. Jika tidak menemukan air atau debu maka gugurlah salat sesuai riwayat yang masyhur, kecuali memungkinkan Anda melakukannya dengan isyarat, sebagaimana Ibnu Naji at-Tanukhi mengutipnya dalam kitab ‘Syarh ar-Risalah’: “Hendaklah kalian laksanakan semampu kalian”.

Dan jika mereka memaksa Anda selama waktu salat untuk bersujud kepada berhala atau menghadiri salat mereka, maka tentanglah dengan niat, dan lakukan niat salat seperti yang disyariatkan, dan merujuk pada apa yang mereka sebut sebagai berhala, sedangkan yang Anda maksud adalah Allah. Dan jika pada selain kiblat maka salatlah sebagaimana Anda salat dalam keadaan khauf. Dan jika mereka memaksa Anda untuk minum anggur, minumlah tanpa niat menikmatinya atau kesenangan pribadi. Dan jika mereka memaksa untuk memakan babi, makanlah dengan isyarat ingkar dalam hati, dan meyakini keharamannya, sebagaimana pula jika mereka memaksa untuk melakukan perkara yang haram. Dan jika mereka menikahkan putrinya dengan Anda, maka boleh karena mereka adalah golongan ahli kitab, dan jika mereka memaksa untuk menikahkan putri Anda dengan mereka, pikirkanlah bahwa itu dilarang bahkan tanpa paksaan, dan bahwa Anda menyangkalnya di dalam hati Anda, dan jika Anda menemukan kekuatan, Anda akan mengubahnya.

Begitu juga jika mereka memaksa melakukan riba atau perbuatan terlarang, lakukanlah dengan menyangkalnya di dalam hati, Anda hanya perlu menyedekahkan sisa uang tersebut jika Anda bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan jika mereka memaksa mengucapkan kalimat kufur, jika Anda bisa memberi tanda baca dan teka-teki, maka lakukanlah, jika tidak, yakinkan hati Anda dengan menyangkal hal itu, dan jika mereka memaksa untuk mencaci Muhammad, maka sebutlah (Mumad), karena mereka mengucapkannya seperti itu, kemudian menghina seperti biasa, dengan maksud bahwa itu adalah Setan, atau Mumad nya orang-orang Yahudi, begitu banyak dari mereka yang memiliki nama tersebut. Dan jika mereka mengatakan Yesus mati oleh penyaliban, maka niatkanlah sebagai bentuk kehormatan terhadap kematian, penyaliban dan menunjukkan pujian untuknya di hadapan orang-orang, tetapi sesungguhnya Allah telah mengangkat Nabi Isa kepada-Nya. Apa-apa yang menyulitkan Anda, kirimkan kepada kami, kami akan membimbing Anda, Insya Allah, sesuai dengan apa yang Anda tulis. Dan aku memohon agar Allah senantiasa menggiring bola kepada Islam sehingga Anda secara terbuka dapat menyembah Tuhan dengan tanpa kesulitan dan ketakutan.

Kami bersaksi bahwa Anda percaya kepada Allah dan ridha kepada-Nya, damai sejahtera bagi Anda semua.

Pada hari pertama Rajab di tahun sembilan ratus sepuluh, dan semoga Allah mengetahui apa yang baik.

Risalah ini menjangkau orang asing, Insya Allah.)

 

 

Demikianlah bagaimana bangsa Moriscos terpaksa berpura-pura menjadi Kristen sebab takut akan investigasi yang digencarkan oleh Dewan Inkuisisi Spanyol dengan membunuh dan membakar siapa pun yang menunjukkan tanda-tanda Muslim atau Arab, sampai-sampai mereka mengubah nama mereka, dan beberapa diantaranya lebih suka beremigrasi ke Afrika Utara dan negara-negara Arab, seperti yang dilakukan oleh Ahmad ibn Qasim al-Hajari, ketakutan yang ia alami tersebut kemudian ditorehkan dalam bukunya “Nashir ad-Din ‘ala al-Qawmi al-Kafirin”, dan “Rihlat as-Syihab ila Liqa’ al-Ahbab”, yang menjadi dokumen sejarah terpenting yang merekam evakuasi Muslim dari Andalusia, antara tahun 1609 sampai 1614 M.

 



[1] Auto-da-fé merupakan istilah yang dipakai sebagai praktik ritual penebusan dosa publik yang diterapkan pada abad ke-15 sampai 19 M terhadap orang-orang yang dituduh melakukan bidah dan mutad oleh Inkuisisi Spanyol dan Portugis. Bentuk hukuman fisiknya seperti dicambuk, disiksa dan paling ekstrem dibakar di tiang pancang.

[2] Hadits diriwayatkan oleh at-Tarmidzi dari Anas bin Malik, dalam kitab Sunan at-Tarmidzi, juz IX, h. 4, no. 2428.




 

Daftar Pustaka

1.     ‘Inan, Muhammad Abdullah. Dawlat al-Islam fi al-Andalus: Nihayat al-Andalus wa Tarikh al-‘Arab al-Muntashirin, Cet. IV, (Maktabah al-Muhtadin al-Islamiyah li Muqaranat al-Adyan, 1997).

2.     Al-Wansharisi, Ahmad. Al-Mi’yar al-Mu’rib wa al-Jami’ al-Mughrib ‘an Fatawa ‘Ulama Ifriqiyya wa al-Andalus wa al-Maghrib, jilid 2, (Beirut: Dar el-Gharb el-Islami, 1981).

3.     Carvajal, Luis del Marmol. Historia del rebelión y castigo de los moriscos del Reino de Granada, (Biblioteca de la Universidad de Alicante, 2001).

4.     Longas, Pedro. La Vida Religiosa de Los Moriscos, (1989).

5.     Mu’nis, Husein. “Asna al-Matajir fi Man Ghalaba ‘ala Wathanihi an-Nashara wa lam Yuhajir”, Jilid 6, dalam Ma’had ad-Dirasat al-Islamiyah Madrid, (1957).

6.    Stewart, Devin. “The Identity of the Mufti of Oran, Abu al-Abbas Ahmad b. Abi Jum’ah al’Maghrawi al-Wahrani”, Al Qantara, Madrid, 27 (2).

7.    Fernández y González, Estado social y político de los mudéjares de Castilla, (Madrid, 1985).

Keluarga Ilmiah Andalusia: Dalam Studi Onomastik-Biografis al-Andalus


Familias andalusíes begitu mewarnai kehidupan keilmuwan di kota-kota Andalus, ketika Islam telah menyebar ke seluruh Andalusia, Allah membukakan pintu hati rakyatnya, menggantikan kesombongan dengan pemahaman dan kebajikan, sehingga sekelompok orang Andalusia menerima berbagai pengetahuan Islam seperti ilmu tafsir, hadist, fikih, ushul fikih, dll.,


Setelah menjadi ulama, mereka mewarisi ilmunya kepada anak dan cucu, diurutkan dari kakek kepada ayah, ayah kepada anak, anak kepada cucu, dst., hingga berabad-abad.


Silsilah keilmuwan pendahulu ini kemudian disebut "Familias andalusíes (Bahasa Arab: البيوتات العلمية الأندلسية)" atau "Keluarga Ilmiah Andalusia" muncul di Cordoba, Seville, Granada, dan kota-kota terkenal lainnya di Spanyol Islam.


Contoh keluarga Andalusia dalam studi onomastik-biografis, seperti los Banū ´Ațiyya di Granada, atau keluarga ’Ațiyya, yang tiba di Andalus pada saat penaklukan, dan beberapa anggota keluarganya kemudian menjadi tokoh terkemuka di wilayah Granada di bidang budaya dan agama.


Tokoh terpenting dalam Bani Keluarga Ațiyya adalah Abū Bakr Gālib bin  'Abd al-Raḥmān (440-517 / 1049-1124), seorang penyair dan budayawan, dan putranya Abū Muḥammad Abd al-Haqq (480-541 / 1088-1147), adalah seorang hakim, penyair, dan ahli tafsir yang kita kenal dengan Ibnu ’Ațiyya.


Contoh lain seperti: Banu Qasi, Beni al Ahmar, Banu Hud, Banu Sid Buna, Banu Almanzor, Bani Meruán, Banu ’Āshim al-Tsaqafi,Bani Birzal, Banu Aflah, Banu Shumadih, Banu Baji, dll.

Dari Bayt al-Hikmah di Baghdad Hingga Madrasah Terjemah di Toledo



Sejumlah karya klasik para filsuf dan ilmuwan kuno telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab selama Zaman Keemasan Islam di Timur seperti yang berasal dari sekolah Neoplatonisme, Aristoteles, Hippocrates, Galen, dan Ptolemy, serta karya-karya para filsuf dan ilmuwan kuno dari Persia, India, dan Cina (Gutas, 1998). Hal ini memungkinkan populasi berbahasa Arab pada saat itu (baik di Timur, Afrika Utara dan semenanjung Iberia) untuk belajar tentang banyak disiplin klasik kuno yang umumnya tidak dapat diakses oleh orang-orang Kristen di Eropa Barat. Justru para ilmuwan berbahasa Arab di negara-negara Muslim Timur seperti Ibn Sina, al-Kindi, al-Razi, dan lainnya, telah menambahkan karya-karya signifikan terhadap pemikiran kuno itu.

Selama abad ke-9 Masehi, beberapa khalifah dari Dinasti Abbasiyah, yaitu Al-Mamun (813–833) dan penerusnya adalah pendukung besar kebangkitan intelektual awal di Baghdad (sekarang Irak). Selama periode ini banyak manuskrip filosofis dan ilmiah Yunani Kuno dipelihara di Akademi Hipokrates Gundishapur[1]. Lalu manuskrip-manuskrip tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dari berbagai bahasa, seperti Yunani Kuno, Cina, Sanskerta, dan Persia (Vatle, 1991, pp. 3657-3662).

Diawali dengan pembangunan Bayt al-Hikmah di Baghdad oleh Khalifah al-Ma'mun, sebuah lembaga pendidikan di mana para ahli Muslim dan non-Muslim bersama-sama mengumpulkan pengetahuan dunia tidak hanya melalui tulisan asli tetapi juga melalui terjemahan. Mungkin penerjemah yang paling terkenal dan rajin pada zaman itu ialah Hunayn ibn Ishaq (w. 873 M), yang dikenal di Barat dengan nama Latin "Joannitius" (Osman, 2012, pp. 161-175). Ia disebut sebagai “Syekh Para Penerjemah”, dan dilaporkan telah menguasai empat bahasa utama pada masanya: Yunani, Syria, Persia, dan Arab. Hunayn dikreditkan dengan sejumlah besar terjemahan, mulai dari karya-karya kedokteran, filsafat, astronomi, fisika, dan matematika, hingga sihir dan keunikan.

Antara tahun 632 s/d 732 M., Islam menyebar dari selatan Hindustan ke Al-Andalus (mencakup juga Septimania, Selatan Perancis). Pada sepertiga pertama abad ke-10, Al-Andalus diperintah oleh Kekhalifahan Umayyah Cordoba, dengan cepat pengaruh budayanya meningkat hingga menyaingi Baghdad, Damaskus dan Kairouan (masing-masing saat ini adalah Irak, Suriah, dan Tunisia). 

 

Sekolah Terjemahan Toledo

Toledo adalah ibu kota Kerajaan Visigoth, dan setelah penaklukan Islam pada 97 H /715 M, ia menjadi pusat budaya multibahasa dan memiliki kepentingan sebelumnya sebagai pusat pembelajaran di bawah pemerintah Muslim.

Kota Toledo kemudian menjadi ibu kota salah satu negara al-Thawaif[2] pada abad ke-5 H /11 M, yaitu Daulah Bani Dzun-Nun. Lalu pada tahun 487 H /1085 M raja Alfonso VI dari Kastilia berhasil menaklukkan dan merebutnya dari kekuasaan Sultan Al-Qadir Billah Yahya bin Dzun-Nun. Sejak saat itu, kota metropolis ini telah menjadi ibu kota resmi Kastilia, tetapi penduduknya (mengingat toleransi yang diterapkan Alfonso VI) adalah campuran dari orang-orang Kristen Spanyol (Mozarabs), Arab Muslim dan Yahudi yang masih memelihara agama mereka atau telah konversi agama memeluk Kristen.

Sekitar setengah abad setelah Toledo jatuh ke penguasa Spanyol, seorang biarawan bernama Raimundo de Sauvetat, diangkat menjadi uskup agung Toledo pada tahun 519 H /1125 M (Al-Warakili, 1994, pp. 34-35; Cheikha, 1994, p. 35). Di awal masa jabatannya, ia memulai upaya untuk mendirikan Sekolah Penerjemah Reguler di perpustakaan Katedral Toledo (Bahasa Spanyol: Escuela de Traductores de Toledo; Bahasa Arab: مدرسة طليطلة للمترجمين) dan memimpin tim penerjemah yang mencakup kaum Mozarabs, warga Kristen lokal Toledo, cendekiawan Yahudi, guru sekolah dan sejumlah biarawan. Mereka menerjemahkan banyak karya ilmiah berbahasa Arab ke Bahasa Castillan (sering disebut Castellano), dan kemudian dari Bahasa Castillan ke Bahasa Latin atau Yunani sebagai bahasa resmi gereja. Dalam beberapa kasus, mereka boleh menerjemahkannya secara langsung dari Bahasa Arab ke Bahasa Latin.

Dr. Jomâa Cheikha, Direktur utama Jurnal d’Études Andalouses dalam artikelnya (1994: 39) menyebutkan bahwa tahap pertama pendirian sekolah terjemah ini ditandai dengan terjemahan pertama karya Yahya bin Dureid al-Isybili (di Barat dikenal dengan nama John of Seville atau avendeut atau Johannes Hispalensis), seorang Yahudi yang dipabtis oleh Raimundo ke agama Katolik. Ia lah penerjemah inti teks-teks Arab ke Bahasa Castillan karena menguasai kedua bahasa tersebut dengan baik, sementara Domingo Gondisalve (Dominicus Gundissalinus) kemudian menerjemahkannya dari Bahasa Castillan ke Bahasa Latin, dan pada saat yang sama mereka berusaha untuk menyelaraskan isi teks terjemahan dengan ideologi dan kepercayaan Kristen.

Dominicus Gundissalinus dianggap sebagai Direktur pertama yang ditunjuk oleh Sekolah Penerjemah Toledo, dimulai pada tahun 1180 Masehi (Pidal, 1951, pp. 363-380). Meskipun mulanya harus bergantung pada Yahya al-Isybili untuk semua terjemahan dari Bahasa Arab, namun belakangan ia berhasil menguasai Bahasa Arab dengan cukup baik untuk menerjemahkannya sendiri. Tidak seperti rekan-rekannya, ia berfokus secara eksklusif pada filsafat, menerjemahkan karya-karya Yunani dan Arab serta komentar-komentar para filsuf Muslim sebelumnya di semenanjung. Di antara terjemahan-terjemahan pentingnya adalah “Fons Vitæ (Meqor Hayyim)” oleh filsuf Yahudi Ibn Gabirol. Gundissalinus juga menerjemahkan beberapa karya filsuf Muslim utama, yaitu Avicenna dan Al-Ghazali. Dia diketahui sering menghilangkan bagian-bagian dan menambahkan komentarnya sendiri, daripada setia pada teks aslinya.

Sedangkan topik karya yang diterjemahkan oleh Yahya al-Isybili terutama astrologi, astronomi, filosofis dan medis. Gaya bahasa penerjemahan Yahya atau John of Seville sangat diakui oleh para sarjana karena kecenderungannya untuk menerjemahkan kata demi kata, sambil terus mempertahankan sintaksis bahasa asli dan struktur tata bahasa orisinal.

Adapun metode penerjemahan yang dipakai adalah terjemahan lisan ke dalam bahasa Latin oleh seorang Mozarabs, Muslim atau Yahudi di depan seorang imam Katedral Toledo atau seorang ahli Latin yang berpengetahuan, lalu pada gilirannya, menuliskan apa yang telah didengar dengan Bahasa Latin yang sesuai (Arráez-Aybar, 2015, pp. 23-24). Terjemahan semacam itu ditulis di atas kertas, sebagaimana telah diperkenalkan oleh orang-orang Arab ke Andalus selama abad ke-11.


Sedangkan tahap kedua dari sekolah terjemah Toledo, ditandai dengan kedatangan Gérard de Crémone dari Italia (w. 583 H /1187 M) ke Toledo, ia dianggap sebagai salah satu penerjemah paling produktif di sekolah ini. Lebih dari delapan puluh buku telah diterjemahkan dan didokumentasikan, diantaranya yang paling terkenal adalah kitab “Al-Tasrif” karya Abu al-Qasim al-Zahrawi, “Al-Qanun” karya Ibn Sina, dan “Al-Manshuri” karya al-Razi. Melalui terjemahannya ini lah Ibn Sina memperoleh ketenaran di Eropa sehingga bangsa Eropa mengetahui doktrin ideologis dan filosofis bertuliskan nama Ibnu Sina itu dengan istilah Avicennisme.

Dengan demikian, Sekolah Toledo dalam fase kedua, telah membuka pintu lebar-lebar bagi Eropa untuk mengonsumsi keilmuan Arab, dari sini lah kebangkitan modern dimulai. Tentu, jika bukan karena Raimundo yang mengawali berdirinya sekolah tersebut, Eropa pasti akan mengasingkan semua yang berkaitan dengan orang-orang Arab.

Tahap selanjutnya, kegiatan penerjemahan tidak hanya dilakukan di kota Toledo, tetapi merambat ke kota-kota lain, diantaranya adalah Michael Scotus (w. 1232 M), salah satu intelektual dan poliglot terpenting di masanya. Ia mempelajari Bahasa Arab dengan cukup baik di Toledo, kemudian dipanggil menghadap Raja Frederick II dari Kerajaan Sisilia (sekarang Italia), dan atas titah raja, ia menerjemahkan buku-buku karya Aristoteles, komentar orang-orang Arab terhadap pemikirannya dan buku-buku karya Ibnu Sina (Avicenna) dan Ibnu Rusyd (Averroes). Kemudian abad ke-13 M penerjemahan dilanjutkan oleh Marcos dan Miguel Escoto sampai masa pemerintahan Alfonso El Sabio (650 H /1252 M – 683 H /1284 M). Alfonso diketahui sangat memotivasi penerjemahan ilmiah dan historis hingga mendirikan Lembaga Pendidikan Tinggi. (Cheikha, 1994, h. 41)

Akhir abad ke-7 H /13 M, tidak sampai stagnan gerakan penerjemahan dan translasi di Toledo, malahan muncul lembaga dan pusat-pusat penerjemahan lain yang aktivitasnya lebih besar dan lebih kuat. Bagi beberapa sejarawan mengira bahwa gerakan ini telah berakhir di kota Toledo, padahal semakin berkembang ke kota-kota lain seperti Montpellier, Paris, Chartres, Toulouse dan Reims. Sebagaimana banyak penerjemah muncul di pusat-pusat Anglo-Saxon seperti Adelard of Bath, Robertus Ketenensis, Alfredus Anglicus (Alfred of Sareshel), Daniel of Morley dan Petrus Alphonsi.

Di lembaga-lembaga ini, terjemahannya beragam, tidak hanya ke Bahasa Latin, tetapi juga ke Bahasa Ibrani dan Rumania. Juga, para penerjemah dari golongan cendekiawan mulai menulis buku-buku dengan topik yang sama seperti buku-buku yang diterjemahkan, yaitu dalam bentuk ringkasan, komentar maupun eksposisi atau uraian.

Gambar Sekolah Penerjemah Toledo saat ini berlokasi di Universidad de Castilla-La Mancha di Toledo 

Gambar perpustakaan Sekolah Penerjemah Toledo dari dalam



Terjemahan hikayat Kalilah dan Dimnah

Gambar buku At-Tashawwur al-Awrubby-nya ar-Razi diterjemahkan oleh Gérard de Cremone


Terjemahan tabel astronomi oleh Alfonso X

Terjemahan kitab Al-Jawahir (Lapidario)




[1] Academy of Gundishapur, adalah sekolah yang dibangun oleh Nestorian (kaum bidah atau heresi Kristen yang diasingkan oleh Kaisar Bizantium bernama Zeno) pada tahun 489 M di Persia (saat ini Iran). Di akademi tersebut banyak naskah Yunani diterjemahkan ke dalam Bahasa Syria, diantaranya adalah dua belas buku Hippocrates of Cos, Bapak Kedokteran Yunani yang hidup antara tahun 460 SM – 370 SM, dan tiga puluh tujuh buku Aelius Galenus, seorang dokter, ahli bedah dan filsuf dari Kekaisaran Romawi, hidup antara tahun 129 – 199 M.

[2] Adalah kelompok negara-negara kecil, dipimpin oleh amir-amir (Muluk al-Thawaif) yang memerintah wilayah-wilayah Islam di Spanyol dan Portugal, setelah keruntuhan Kekhalifahan Umayyah di Kordoba pada tahun 1031.






Referensi:

 

Al-Warakili, Hasan. Yaqutat al-Andalus Dirasat fi al-Turath al-Andalusi, Lebanon, 1994.



Arráez-Aybar, Luis A., “Toledo School of Translators and their influence on anatomical terminology” in Annals of Anatomy, 2015.

 

Cheikha, Jomâa. “Daur Madrasat at-Tarjamah bi Thulaithulah fi Naql al-‘Ulūm al-‘Arabiyyah wa bittāli fi Nahdhah Awrubba”, in Revue d’Etudes Andalouses, Vol. 11, Tunis, 1994.

 

Gutas, Dmitri. “Greek Thought, Arabic Culture: The Graeco-Arabic Translation Movement” in Baghdad and Early 'Abbasaid Society, London, 1998.

 

Osman, Ghada. “The sheikh of the translators: the translation methodology of Hunayn ibn Ishaq”, in The Journal of the American Translation and Interpreting Studies Association, Vol. 7, 2012.

 

Pidal, Gonzalo Menéndez. Cómo trabajaron las escuelas alfonsíes. Mexico, D.F.: Nueva Revista de Filología Hispánica, 1951. ISSN 0185-0121.


Vatle, A., 1991. “Medical assimilation processes in the Middle Ages: From Gundishapur to Toledo”, Tidsskr Nor Laegeforen 111.