BREAKING NEWS
latest

Advertisement

DI MANAKAH Keberadaan Cucu-Cucu Dari Keturunan Moriscos Saat Ini?

Beberapa tahun belakangan muncul sebuah berita berjudul "Les Musulmans Réclament Le Droit Du Retour" yang diterbitkan dalam surat kabar Maroko (Correo Diplomatico, 2015) dan sempat mengejutkan pemerintah Spanyol hingga para tokoh sejarawan dunia lantas Ahmad Mourisque Bensalh (seorang wartawan Maroko, diduga sebagai keturunan Moriscos) menyatakan bahwa cucu-cucu dari keturunan kaum Moriscos mengklaim akan kembali ke tanah air mereka, Andalusia-Spanyol. Dan mereka harus mendapat kewarganegaraan Spanyol.

Hal ini ia utarakan setelah José Ribeiro e Castro, seorang anggota parlemen Portugal merancang undang-undang untuk mengembalikan Yahudi Sephardik (Converso dan Marranos) setelah kejadian pembantaian dan pengusiran oleh inkuisisi dan penguasa Spanyol sekitar 500 tahun lalu karena dianggap sebagai kejahatan perang.

Berangkat dari keinginan José Ribeiro tersebut, Ahmad Mourisque menilai adanya diskriminasi mencolok dan ketidakadilan jika undang-undang yang ia rancang berhasil direalisasikan, mengingat kaum Moriscos juga mendapat perlakuan yang sama ketika itu oleh penguasa Spanyol. Dan saat ini, terdapat sekitar lima juta cucu-cucu keturunan Moriscos yang mendiami Maroko, seperti di kota Tangier, Tetouan dan Chefchouan. Sedangkan sekitar lima juta lainnya tersebar di beberapa negara seperti Al-Jazair, Tunisia, Mauritania, Libya, Mesir dan juga Turki.

José Ribeiro menutup mata dengan mengatakan bahwa kewarganegaraan Spanyol hanya berhak diberikan kepada keturunan Sephardik Yahudi, sedangkan bahasa Arab adalah penjajah yang sepatutnnya menerima penarikan kembali daerah jajahannya.

TAHUKAH ANDA Bahwa Maroko Ialah Tempat Pertama Pembuatan Kertas?

Kita ketahui, bahwa kertas merupakan salah satu kontribusi penting dalam seluruh aspek keilmuan, eksak maupun non-eksak. Terlebih ketika suatu bangsa dikenal sangat antusias mengkaji berbagai sumber pengetahuan, karenanya akan meningkatkan sebuah peradaban. Ibnu Khaldun pernah mengatakan bahwa ilmu bukan hanya menyangkut perihal materialistis, melainkan dengannya juga seseorang bisa hidup dengan baik dalam masyarakat maju dan berbudaya.

Al-Maqqari, sejarawan muslim kelahiran Al-Jazair tahun 1577 M, pernah menjadi Mufti dan Imam Jami' Qarawiyyin Fes pada 1603 M menyebutkan bahwa kumpulan buku-buku di Spanyol tidak akan mungkin ada tanpa adanya kertas di negeri itu. Tanpanya pula, percetakan dengan mesin cetak (yang ditemukan di Jerman sekitar pertengahan abad ke-15) tidak akan berhasil. Umat Islam lah yang telah berkontribusi mewujudkan peradaban Eropa. Dan Maroko adalah tempat pertama pembuatan kertas, lalu industri kertas menyebar ke Timur, hingga akhirnya mencapai Spanyol pada pertengahan abad ke-12.

Seperti kata "ream" dalam bahasa Inggris, adalah serapan dari bahasa Perancis "rayme", berasal dari bahasa Spanyol "resma", dan dari bahasa Arab "rizmah", yang berarti bundel.

Setelah Spanyol, industri kertas dikembangkan di Italia antara tahun 1268-1276 M juga atas pengaruh umat Islam, yang berasal dari Sisilia.

MENGENAL Beberapa Istilah Bangsa Andalus Pasca Reconquista

1. Mudéjar :

(Bahasa Arab: مدجن) ialah umat Muslim Andalus yang tunduk dibawah kekuasaan Kerajaan Kristen Spanyol, sejak Kapitulasi Granada pada tahun 1492. Mereka mendapatkan hak penuh dalam menjalankan syariat Islam sebagaimana perjanjian yang telah diratifikasi oleh Raja Muhammad XII dan pasangan monarki Katolik Ferdinand II dan Isabel.

Hingga tahun 1502, uskup agung Katolik dan komite inkuisisi melakukan kristenisasi seluruh warga Muslim, mereka diberi pilihan antara konversi ke agama Kristen Katolik atau diusir dari Semenanjung Iberia.

Thomas de Torquemada, ditunjuk sebagai pelaksana inkuisisi agung oleh Paus Innocentius VIII, terjadilah pembantaian dan teror dengan menyiksa, membunuh dan membakar ribuan manusia di tiang-tiang karena dianggap melakukan bid'ah (penyimpangan dari ajaran Katolik). Kebiadaban Dewan Inkuisisi Spanyol ini telah ditulis oleh sejarawan Amerika, Henry Charles Lea, dalam empat bukunya yang berjudul "A History of The Inquisition of Spain".


2. Moriscos atau Crypto-Muslim :

Yaitu istilah yang muncul pasca Reconquista, merujuk kepada penduduk muslim Andalus yang dipaksa berpindah keyakinan menjadi pemeluk agama Kristen Katolik karena diberhentikannya toleransi terhadap seluruh muslimin di Spanyol oleh Ratu Isabel tahun 1502, perjanjian yang semula ditulis dan disepakati bersama dengan Raja Muhammad XII pun dibakar. Sebagian mereka, meski secara dhahir telah dibaptis ke dalam agama Katolik, namun masih mempraktikan syariat Islam secara tersembunyi menggunakan Bahasa Aljamiado, ialah bahasa Spanyol yang ditulis menggunakan aksara Arab.


3. Marranos atau Crypto-Jews :

Berarti "babi", ditujukan kepada umat Yahudi yang dipaksa berpindah agama menjadi Katolik alias pemeluk baru setelah diputuskan Dekrit Alhambra tahun 1492. Dan mereka secara tersembunyi masih memelihara keyakinannya. jika diketahui, mereka akan ditangkap inkuisisi, lalu dihukum mati.

Fobia Islam dan Reconquista

Beberapa tahun lalu saat isu-isu terorisme menyebar di kalangan masyarakat Eropa, istilah ini muncul dan mulai memarak. Perlu diketahui, praktik dari istilah tersebut sudah terlebih dahulu menyembul sejak penaklukkan Islam hingga runtuhnya Eropa yang berakhir pada praktik kristenisasi dan expulsion dari Andalusia.

Peristiwa Pasca Reconquista:
Tahun 1491

Dikeluarkannya Perjanjian Granada, yang menjanjikan kebebasan beragama Islam maupun Yahudi oleh Ratu Isabel dan suaminya Raja Ferdinand II. Saat itu masyarakat Muslim, Kristen dan Yahudi hidup damai berdampingan di Granada.

Tidak bertahan lama, isu-isu islamophobia dan judephobia muncul, sampai akhirnya janji tersebut dibatalkan.

Raja Ferdinand membuat inkuisisi Spanyol (Institusi Pengadilan Gereja yang memerintahkan kristenisasi seluruh penduduknya demi memelihara ortodoksi Katolik di Spanyol).

Tahun 1492

Ferdinand dan Isabel mengeluarkan Dekrit Alhambra yang memerintahkan seluruh Yahudi untuk meninggalkan tanah Spanyol, namun banyak dari mereka yang memilih untuk menetap meski harus berpindah keyakinan.

Sedangkan umat muslim ketika itu masih diberikan toleransi untuk menjalankan aktivitas ibadahnya seperti biasa karena terikat perjanjian yang dibuat oleh Muhammad XII, raja terakhir Kerajaan Islam di Granada saat ia menyerahkan kunci istana (kekuasaannya) kepada penguasa Kristen. Perpindahan agama umat Yahudi ke Kristen saat itu disebut dengan istilah "conversos".