BREAKING NEWS
latest

Advertisement

Medan Perang Kang Santri

        Suhu udara begitu dingin. Bandara Schipol terlihat ramai oleh penumpang pesawat yang baru saja mendarat. Mereka rela mengantri panjang demi mendapatkan stempel kecil dari petugas bandara sebagai izin masuk.

Beberapa orang bertas punggung besar melepas lelah setelah berjam-jam di pesawat. Beragam ras, dan warna rambut berbeda. Dari etnis Cina berambut hitam, hingga penduduk eropa berambut pirang. Pemandangan itu mencipta senyum di bibirku. Menakjubkan. Dan aku bagian dari deretan turis yang hendak menjelajah Eropa, yang mengantri di jalur panjang loket imigrasi.

Sore itu, aku menunggu paspor yang sedang di stempel. Setelah sekian lama menunggu, namun hasilnya nihil. Aku perhatikan petugas berambut pirang dan bertubuh besar yang melayaniku. Kutoleh mejanya dan tampak pasporku tak diutik olehnya. Sempat heran, karena penumpang lain, tidak lebih dari tiga menit paspornya selesai lalu dikembalikan dan dipersilahkan masuk. Sedangkan aku, tidak.

            Petugas itu tampak menghubungi seseorang. Aku tidak paham pembicaraan mereka melalui telepon karena kendala bahasa. Teringat olehku sebuah ungkapan yang mengatakan “Barang siapa yang mempelajari bahasa suatu kaum, maka ia akan selamat dari gangguan mereka”.

Tidak lama, datang dua tentara berpakaian anti peluru denga senjata laras panjang menghampirinya. Petugas bandara itu mengisyaratkan sesuatu untuk membawaku.

            “Come on follow me!” ucap seorang tentara berwajah putih tampan.

            Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang.

            Kecurigaan mereka terhadapku tampak jelas. Akupun mengikuti perintah kedua petugas keamanan itu. Aku takut jika memberontak dan banyak bertanya, bukannya mereka percaya tetapi malah menganggapku bersalah meskipun benar. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa agar tidak terjadi apa-apa.

            Suasana sunyi dan hening. Para penumpang lain menyorotkan pandangan tajam mengikuti langkahku. Mereka menganggap ada sesuatu yang terjadi. Dan pastilah tuduhan itu tak lain hanyalah tuduhan sebagai teroris meski kedua tanganku terlihat tidak diborgol oleh si tentara.

            Aku mengikuti kedua tentara itu hingga akhirnya ditempatkan dalam sebuah ruangan tertutup. Sebagai makanan pembuka layaknya sebuah interogasi, mereka melontarkan banyak pertanyaan kepadaku. Pertanyaan yang memaksa. Mereka butuh jawaban meski hanya sepatah dua kata yang terucap. Tapi, aku tidak bisa menjawabnya. Dalam kondisi tenang saja aku berbicara dengan terbata-bata menggunakan bahasa Inggris, apalagi dalam situasi yang mencekam seperti itu.

Keringat dingin mulai keluar dari ubun-ubun kepala hingga mata kaki. Kedua polisi gagah dan tinggi besar itu belum puas setelah menakutiku, hingga seorang dari mereka memukul meja yang berada di sampingku dengan sangat keras.

Aku kaget. Pikiranku buyar. Aku seperti menghadapi serigala yang hendak menerkam mangsanya. Begitu menegangkan. Akhirnya aku mengeluarkan suara pelan.

            “I’m... I bring my document sir.” jawabku ketakutan.

            Aku bahkan tidak mengerti lagi kata yang kuucapkan. Benar atau salah grammarnya entahlah. Bukan saatnya mempelajari itu. Bahkan aku tidak sempat membuka kamus untuk mencari sebuah kosa kata.

            Dokumen yang aku bawa sebenarnya sudah lengkap, hanya saja calling visa yang dikirimkan oleh pihak PPME berbahasa Indonesia. Calling visa merupakan salah satu dokumen penting juga sebagai syarat pembuatan visa menuju Eropa. Tanpa dokumen penting ini, maka siapapun akan dipersulit saat memohon pembuatan visa turis. Aku pikir jika visaku sudah keluar maka semua prosesi menuju negara tujuan akan aman dan berjalan lancar. Ternyata tidak saat berada di bandara internasional Schipol ini. Mungkin, karena dampak yang disebabkan oleh peristiwa berdarah beberapa bulan lalu, pikirku.

Awal Januari lalu, sebuah stasiun televisi Maroko, Maroc Press menyebutkan telah terjadi serangan teroris di kantor pusat majalah satir Prancis, Charlie Hebdo. Serangan brutal di kota Paris telah memakan 12 korban jiwa dan 10 orang lainnya terluka. Mengingat kejadian itu, aku sedikit khawatir dengan keberadaanku saat ini.

Aku kembali mencoba memahami pertanyaan si tentara. Ternyata, ia hanya membutuhkan keterangan dari apa yang tertera pada calling visa itu. Aku bingung menjelaskannya.

Karena jengkel dengan jawaban yang tidak jelas, tiba-tiba seorang tentara bertubuh tinggi itu menggenggam kerah baju hendak memukul aku yang sedang duduk.

No..! no..!” teriakku.

(Handphone berdering)

Tangannya berhenti melayang. Sementara kedua tanganku gemetaran hebat karena ketakutan. Jantungku sudah berdegup kencang melihat tangan si tentara yang hampir melayang ke wajah ini.

Belum sempat mengenai wajahku, ia lalu mencari dari arah mana datangnya suara dering ponsel itu. Ternyata handphoneku yang berada di atas meja berdering kencang. 

Ia mengangkatnya.

Pikiranku sudah tidak karuan saat melihat aksi kekerasan itu. Tapi apalah daya, aku berada di negeri orang yang tidak aku kenali.

            Satpam gemuk tersebut mematikan handphone setelah berbicara dengan seseorang. Lalu terdengar suara ketukan dari arah pintu. Tentara berparas tampan membukanya.

Tiba-tiba seorang petugas imigrasi masuk ke ruangan dimana aku ditindas. Diikuti pak Abdi sesepuh Persatuan Pemuda Muslim Eropa (PPME), pak Irwan ketua PPME Amsterdam, dan seorang utusan dari KBRI Den Haag menanyakan keberadaanku. Mereka mencoba menjelaskan dengan bahasa Belanda kepada dua tentara itu. 

Seketika aku bersyukur dan menghembuskan nafas lega. Setelah menyertai data lengkap juga penjelasan rinci dari pihak kedutaan, akhirnya aku dibebaskan dari seleksi maut sore itu.

            “Sudah, jangan diingat-ingat nak Gilang, tenangkan diri kamu dulu. Maafkan saya terlambat menjemput karena harus singgah ke KBRI. Mereka tidak bersalah, mereka sudah melakukan tugasnya untuk mengamankan negara, wajar begitu karena sekarang lagi marak-maraknya isu terorisme. Dan kamu sudah diselamatkan oleh Allah dari tuduhan itu.” tukas pak Abdi menenangkanku.

            Setelah kondisi kembali tenang, pak Abdi langsung membawaku ke rumahnya untuk dijamu lalu beristirahat sebelum melaksanakan tugas beberapa hari lagi. Sepanjang perjalanan pikiranku terngiang-ngiang akan kejadian tragis yang menimpaku tadi. Aku menyadari wabah islamophobia yang ditimbulkan oleh peristiwa Paris itu telah merasuk ke dalam jiwa bangsa Eropa. Tapi, akibat oknum-oknum biadab yang mengatasnamakan Islam itu juga nantinya akan berdampak buruk bagi warga sipil yang tak bersalah sepertiku. Beruntung aku selamat, bagaimana jika terjadi sesuatu kepada warga muslim lain bahkan berakhir dengan penyiksaan hingga hilangnya nyawa?!

Lebih ditakutkan lagi jika wabah islamophobia ini menyebar di kalangan umat islam yang awam dengan pendidikan agama, sehingga mereka akan meninggalkan agamanya sendiri karena ketakutan dengan ancaman bangsa Barat.

            Dua bulan lalu, aku lulus seleksi imam tarawih selama Ramadhan di Masjid Al-Ihsan Amsterdam, Belanda. Sebagai mahasiswa yang masih menimba ilmu di Maroko, tugas ini ialah tugas berat pertama yang aku hadapi.

“Sebenarnya, kegiatan yang diselenggarakan oleh PPME ini sudah ada sejak lama ustad, hanya saja jarak dengan Indonesia cukup jauh, jadi kali ini saya datangkan imam dari mahasiswa kita di Maroko yang dekat.” ujar pak Irwan.

Pak Irwan sudah lama menjabat sebagai ketua PPME di Eropa, pastinya beliau lebih mengetahui kondisi umat muslim di sini. Begitu juga dengan pak Abdi, sesepuh dan pendiri PPME

Ibukota negara kincir terasa sejuk. Pepohonan rindang mengitari jalanan. Tampak bangunan klasik khas Belanda di pinggiran sungai. Begitu memukau. Sore itu, Pak Irwan mengajakku melihat suasana kota Amsterdam ditemani oleh pak Abdi. Mataku terbelalak melihat lingkungan juga arsitektur unik kota ini. Tidak terdengar suara riuh meski jalan dipadati kendaraan bermesin. Tenang dan nyaman. Dari arah lain terlihat beberapa pengendara sepeda dengan santai menikmati indah suasana senja. Uniknya, jalanan kota sangat rapi dan teratur. Tersedia jalur khusus bagi pengendara motor, sepeda, mobil dan trem bahkan pejalan kaki. 

“Islam di Eropa bagaikan bayi yang baru lahir nak Gilang. Lingkungan, ketertiban, dan watak masyarakatnya begitu islami. Nilai-nilai islam sekarang ini sudah tertanam di bumi Eropa, tinggal nunggu mereka masuk Islam saja.”

“Benarkah?” tanyaku penasaran akan penjelasan pak Abdi.

“Iya Ustad, kebersihannya sangat dijaga, jangankan manusia, hewan pun sangat dimuliakan hidupnya.” sambung pak Irwan. “Orang Belanda dikenal sangat ramah Ustad, tapi kasihan sekali warga muslim kita khususnya WNI di sini, mereka bagaikan anak tanpa bapak.”

“Memangnya banyak orang Indonesia di sini pak?” tanyaku penasaran.

“Wah, bukan banyak lagi pak Ustad, di Belanda saja jumlah warga kita ratusan ribu, belum di negara Eropa lainnya. Kita kekurangan ulama yang bisa membimbing dan mengajarkan ilmu agama, mudah-mudahan saja Ustad betah lama-lama ya, syukur kalau bertemu jodoh di sini, hahaha..

Aku tertawa mendengar ucapan pak Irwan. Tapi jika benar seperti yang dikatakan pak Abdi, betapa kasihannya warga muslim di sini. Seorang anak yang tidak memiliki orang tua sebagai pembimbingnya, pasti ia akan bebas memilih jalan yang dikehendaki. Beruntung jika kehendaknya memilih islam yang benar, tapi bagaimana jika ia memilih islam radikal?

Seharusnya, tidak hanya aku yang diutus berdakwah ke negara non-muslim ini. Lagi-lagi ini adalah tugas yang berat. Berat karena bak memandu orang buta namun bisa berjalan. Jika tak dipandu, ia pasti kesulitan melangkah. Berbeda dengan orang pincang namun masih bisa melihat. Ia akan berjalan sendiri meski dengan merangkak. Aku berpikir bahwa medan dakwah seorang santri sepertiku bukan lagi di negara mayoritas muslim dan ilmu keislamannya terbilang cukup lumayan. Hendaknya di zaman modern ini, mereka mengubah haluan dalam bertempur. 

***

            Malam itu cuaca begitu dingin. Seperti malam-malam sebelumnya, aku memimpin tadarus jamaah Masjid Al-Ihsan. Masjid berukuran seluas lapangan futsal ini terlihat ramai tiap malamnya. Meski harus berkendara karena jauh dari rumah, namun semangat mereka tetap berkobar mengikuti pengajian juga dakwah yang aku sampaikan menjelang sholat tarawih.

            Aku menyimak bacaan mereka satu persatu. Bacaan yang masih terbata-bata, bahkan banyak yang belum bisa membaca. Seketika perasaanku bergejolak. Aku sedih dan terharu. Sedih karena melihat calon-calon penegak syiar Islam di Eropa yang belum bisa membaca Al-Quran. Namun aku terharu karena kesungguhan dan kegigihan mereka dalam menekuninya. Meskipun tidak bisa, mereka bahkan tidak pernah absen menghadiri kegiatan islami masjid ini. Aku terenyuh dan terpukul. Rasanya ingin sekali menampar diriku sendiri juga jutaan santri di Indonesia yang hingga saat ini masih memperdebatkan isu wahabi, islam nusantara dan lainnya. 

Jika aku diperkenan berbicara, aku akan menunjuk pesantren Indonesia dan berkata: “Wahai gubuk santri! Jangan engkau biarkan lulusan-lulusanmu ini selalu memperdebatkan apa yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan! Islam di Nusantara sudah berjaya biarlah terus Berjaya! Jangan engkau diam melihat mereka saling menyalahbenarkan aqidah sementara penghasut bertepuk tangan di luar sana! Dan kau wahai santri! Lihatlah betapa sedihnya bangsa nusantaramu yang tidak mengerti! Saat ini mereka butuh sandaran! Mereka butuh bimbingan! Mereka membutuhkan ilmu yang telah kau gali dari gubuk islami! Keluar dan tolonglah mereka! Tegakkan islam nusantara di sana! Bangunlah keimanan dan aqidah mereka! Jangan kau hanya bisa menyalahi! Sudahi perselisihan ini! Keluar dan didik islam versi kita yang baru lahir di negara non-islami!”

***

            Subuh menyapa kota Amsterdam. Angin kian berhembus dari segala penjuru. Aku menaikkan resleting jaket yang kukenakan hingga tertutup sempurna. Usai salat, pak Abdi memanggilku. Sejak semalam aku melihat raut wajahnya begitu cemas, seperti memikirkan sesuatu.

            “Begini nak Gilang, si Ihsan anak saya kemarin sore pulang ke rumah. Tiba-tiba ia berkata hendak keluar dari agama Islam. Saya kaget dan takut mendengarnya. Sebelumnya, ia memang sering curhat kalau teman-temannya di kampus selalu menuduh-nuduhnya. Saya menduga ini terjadi karena dampak dari tragedi teroris itu. Teman-teman muslimnya yang lain juga selalu disudutkan di kampus bahkan banyak yang disiksa sampai akhirnya mereka dipaksa keluar dari Islam.”

            Kedua bola mata pak Abdi berkaca-kaca. Aku bisa memahami kondisi beliau sebagai sesepuh PPME yang telah memperjuangkan islam di Eropa namun harus mengalami masalah internal yang tak terduga.

            “Ihsan satu-satunya putra saya nak Gilang, dari kecil dia selalu saya ajak ke masjid ini, tapi karena hidup di lingkungan Eropa semangatnya menciut. Malah sekarang imannya goyah dan mau murtad karena tidak sanggub dengan hinaan itu, bagaimana anggapan orang untuk keluarga saya?! Mungkin saya tidak sanggub lagi membina PPME karena keluarga sendiri gagal saya didik.” ucap pak Abdi sedih.

             Lalu aku meminta beliau mempertemukanku dengan Ihsan.

Saat bertemu, aku mencoba menghiburnya dengan sapaan-sapaan yang santun. Dan terakhir aku berhasil memancingnya mengungkapkan keluh kesah yang ia rasakan selama ini. 

“San, kalau kamu keluar dari Islam, apa kamu yakin kamu bakal merasa tenang dan nyaman? Apakah mereka akan percaya bahwa kamu bukan lagi muslim yang dituduh-tuduh sebagai teroris? Kamu salah memilih keputusan itu San.”

“Terus kalau salah, kenapa orang Islam saat ini diam? Kenapa kalian diam melihat penderitaan mereka yang tidak bersalah?!” bentaknya.

“Umat Islam tidak diam San, saat ini mereka sedang mencoba melawannya dengan cara yang berbeda. Tidak selamanya kekerasan itu dibalas dengan kekerasan. Islam itu rahmatan lil’alamin. Sudah saatnya kita menunjukkan nilai-nilai islam yang sesungguhnya. Memang, teroris itu sudah merusak nama baik agama kita, tapi apa kamu pasrah dan tidak membela keimanan kamu? Semua orang juga pasti akan membela keyakinannya hingga harus tumpah darah. Kamu itu muslim sejati San, ayo kita bangkit dan bela agama kita. Seperti yang saya katakan, bukan dengan kekerasan. Tapi dengan pendekatan hati dan kasih sayang. Kamu dulu rajin ke masjid kan? Ayo mulai sekarang kamu perbaiki diri, sama-sama kita tolong jamaah kita yang membutuhkan. Aku dengar bacaan Al-Quran kamu bagus, nanti malam bantu aku ajarimereka ya. Setelah itu aku juga akan ceritakan bagaimana kisah Rasulullah dulu saat berdakwah dengan cara yang santun tanpa kekerasan.”

Akhirnya Ihsan menangis menyesal, seketika pak Abdi memeluknya.

Saat itu aku berpikir, tidak ada jalan lain untuk membasmi fobia Eropa terhadap Islam, melainkan dengan jalan dakwah. Berdakwah dalam menegakkan syiar ilahi dan ruh Islam yang suci. Nilai-nilai Islam telah lama terkubur bersama jiwa yang keruh. Ia menanti kehidupan yang jernih, kehidupan yang belum pernah tercampuri noda-noda fitnah dan butiran khianat.

Panji-panji Islam harus selalu tegak. Tegak menjulang melalui sandi-sandi Al-Quran. Menuju medan perang membela kebenaran. Pesantren hanya bisa diam, namun lulusannya yang akan berjuang. Perjuangan sengit di medan pertempuran. Oleh mereka, para santri untuk Indonesia.