BREAKING NEWS
latest

Advertisement

Apa Perbedaan Khilaful Wajib dan Khilaful Jaiz Dalam Istilah Ilmu Qiraat ?

1.      Al-Khilaful Wajib
Al-Khilaful Wajib adalah perbedaan bacaan yang terdapat antara imam qiraat, perawi dari imam, dan ashabut turuq. Oleh karena itu seorang qori’ diwajibkan mempelajari secara keseluruhan setiap bacaan dari salah satu ulama tersebut agar sempurna bacaannya. Dalam kata lain al-khilaful wajib yaitu perbedaan qiraat, perbedaan riwayat dan perbedaan thariq.
Contoh :
-          Bacaan Warsy dengan thariq Al-Azraq berbeda dengan bacaan lainnya, yaitu membaca tipis setiap huruf ra’ yang didahului oleh kasrah (huruf yang berbaris bawah) dan tidak terdapat huruf isti’la (خص ضغط قظ) setelahnya , seperti : مَغْفِرَة , ذُكِرُوا , atau diantara huruf ra’ dengan kasrah berupa huruf istifla (selain خص ضغط قظ), seperti : حِذْرَهُم , atau diantara keduanya terdapat ya’ sukun, seperti : بَصِيْرًا .
Adapun bacaan Al-Asbahani dan imam qiraat lain membacanya dengan tebal berbeda dengan bacaan Warsy yang membaca tipis.
Inilah yang disebut dengan khilaful wajib. Jika membaca qiraat Warsy tetapi dengan membaca tebal ra’ seperti pada contoh di atas maka bacaannya dianggap menyalahi riwayat.
-          Bacaan lam mughalladzah yang terdapat dalam riwayat Warsy juga berbeda dengan qiraat lainnya, seperti الصلاة dan lain-lain yang telah dijelaskan sebelumnya.
-          Contoh lain seperti mad muttashil dalam riwayat Warsy dengan thariq Al-Azraq bahwasanya ia dibaca dengan enam harakat. Jika seorang qori’ membaca riwayat Warsy namun tidak memanjangkan mad muttashil dengan enam harakat maka tidak dianggap sebagai bacaan Warsy karena ia termasuk khilaful wajib, seperti kata جاء pada ayat ﴿ وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا .

2.      Al-Khilaful Jaiz
Al-Khilaful Jaiz adalah perbedaan bacaan qiraat dengan jalan takhyir (boleh memilih), yaitu setiap qori’ dibolehkan untuk membaca semua versi bacaan dalam sebuah qiraat seperti ‘aridh lissukun, bacaan basmalah diantara dua surat washlan (menyambung) atau waqfan (berhenti).
Contoh : Mad ‘Aridh lissukun.
Dalam semua qiraat ada tiga versi cara membaca mad ‘aridh lissukun tanpa harus membaca dengan satu versi saja yaitu al-Qashr (pendek), at-Tawassuth (sedang), atau al-Isyba’ (panjang). Misalnya seorang qori’ hendak membaca Al-Quran dengan riwayat Hafs, maka ketika ia menjumpai mad ‘aridh lissukun pada ayat pertama ia membaca dengan al-Isyba’, kemudian pada ayat kedua ia membaca mad ‘aridh lissukun dengan al-Qashr, lalu pada ayat selanjutnya ia membaca dengan at-Tawassuth dan sebagainya. Inilah yang disebut dengan khilaful jaiz dalam qiraat.

Ada pendapat lain yang tidak membolehkan membaca Al-Quran dengan cara seperti ini karena menyalahi dzauq (perasaan) Al-Quran.  Kemudian disimpulkan bahwa membaca mad ‘aridh lissukun dengan takhyir (memilih) versi apa saja yang diinginkan ketika membaca satu qiraat, namun disunnahkan untuk memilih satu versi saja.

Pengertian Ilmu Qiraat Secara Bahasa dan Istilah

1.      Al-Qiraat Secara Bahasa
Secara bahasa al-qiraat berasal dari istilah Bahasa Arab yaitu bentuk jama’ dari قِرَاءَة , yang berupa masdar قَرَأَ – قِرَاءةً – قُرْآنًا , dengan makna lainnya تَلَا – تِلَاوَةً berarti yang dibaca atau bacaan. Jadi, al-qiraat adalah bacaan-bacaan Al-Quran.

2.      Al-Qiraat Secara Istilah
Ilmu Qiraat mempunyai arti tersendiri berbeda dengan makna Al-Quran, diantaranya adalah sebagai berikut :
a)      Menurut Ibn al-Jazari, Qiraat adalah ilmu dengan tata cara menyampaikan kata-kata Al-Quran dan perbedaannya disandarkan kepada orang yang meriwayatkannya.
b)      Menurut Sajiqli Zaadah, Qiraat adalah ilmu sekelompok imam dalam membaca susunan Al-Quran.
c)      Menurut Ad-Dimyati, Qiraat adalah suatu ilmu yang dapat mengetahui kesepakatan dan perbedaan para perawi dalam menghapus (hazf), menetapkan (isbath), memberi baris (tahrik), memberi sukun (taskin), memisah (fashl), menyambung (washl), dan lainnya terhadap Al-Quran dalam bentuk ucapan atau mengganti (ibdal) dengan cara mendengar.
d)      Menurut Abdul Fattah al-Qadhi, Qiraat adalah suatu ilmu yang mengetahui tata cara pengucapan kata-kata Al-Quran dan metode penyampaiannya, baik yang disepakati atau tidak, dilihat dari setiap sisi dari perawinya.
e)      Menurut Abdul ‘Adzim az-Zarqani, Qiraat adalah pendapat para imam-imam Qiraat yang berbeda-beda dalam mengucapkan Al-Quranul Karim dengan riwayat-riwayat dan thuruq (jalur-jalur) yang disepakati, baik perbedaan ini dalam mengucapkan huruf ataupun bentuk-bentuk huruf.
f)       Menurut Az-Zarkasyi, Qiraat adalah perbedaan lafaz-lafaz wahyu dalam penulisan huruf atau tata cara menulis huruf Al-Quran dari segi ringan (takhfif) atau berat (tafkhim) dan lainnya.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat dua unsur yang harus disebutkan untuk menjelaskan definisi Ilmu Qiraat yaitu suatu ilmu tentang tata cara penyampaian dan pengucapan kalimat Al-Quran secara ittifaq (yang disepakati) dan secara ikhtilaf (yang tidak disepakati) ; dan tata cara yang secara ittifaq dan ikhtilaf ini bersandarkan kepada para perawi Al-Quran. Jika kedua unsur ini tidak disebutkan seperti terdapat pada pengertian qiraat menurut Abdul ‘Adzim az-Zarqani dan Az-Zarkasyi, maka tidak tergolong ke dalam definisi ilmu qiraat menurut para ulama. Alasannya adalah karena definisi qiraat menurut mereka hanya dari segi ittifaq ataupun ikhtilaf nya saja, bukan dari keduanya. Sedangkan ilmu qiraat yaitu membahas kedua segi tersebut.

Apa Perbedaan Al-Qiraat, Ar-Riwayat, At-Thariq dan Wajh Dalam Istilah Ilmu Qiraat ?

1.      Al-Qiraat, Ar-Riwayat dan At-Thariq
Al-Qiraat adalah setiap bacaan Al-Quran yang dinisbatkan kepada para imam qiraat. Sedangkan setiap bacaan yang dinisbatkan kepada perawi dari imam qiraat disebut Ar-Riwayat. Adapun setiap bacaan yang dinisbatkan kepada perawi di bawah mereka (perawi dari imam qiraat) disebut At-Thariq.
Contoh seperti qiraatnya umat islam di Maroko yaitu qiraat imam Nafi’ (Al-Qiraat)Qiraat imam Nafi’ kemudian diriwayatkan oleh imam Warsy (Ar-Riwayat), lalu qiraat Warsy diriwayatkan oleh imam al-Azraq (At-Thariq).
Begitu pula masyarakat muslim Indonesia yang membaca Al-Quran dengan bacaan Hafs. Sebenarnya adalah bacaan ‘Ashim dengan perawi Hafs dan melalui thariq Abu Muhammad ‘Ubaid bin Shabah.

2.      Al-Wajh
Al-Wajh dapat dimaknai versi atau ragam, yaitu semua bentuk perbedaan atau khilafiyah yang diriwayatkan dari Qari’ tertentu, lalu dalam kasus ini seseorang dipersilakan untuk memilih mana yang akan dibacanya, karena semuanya shahih dari Qari’ tersebut.
Contoh firman Allah SWT. pada surat Al-Baqarah (167) :
﴿ وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُواْ لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّؤُواْ مِنَّا
Mad yang terdapat pada kalimat (تبرؤوا) merupakan mad badal (Mad badal adalah apabila ada dua buah huruf hamzah; huruf hamzah yang pertama berharakat sedangkan huruf hamzah yang kedua sukun). Dalam qiraat Warsy misalnya, mad badal memiliki tiga versi bacaan; al-Qashr (pendek), at-Tawassuth (sedang), atau al-Isyba’ (panjang). Inilah yang disebut wajh (ragam) bacaan mad badal. Seorang qori’ boleh memilih salah satunya, dan ragam manapun yang dipilih masih tergolong ke dalam bacaan Warsy.

Apa Itu al-Farsyiyyat Dalam Ilmu Qiraat ?


1.      Al-Farsyiyyat

Yang dimaksud dengan farsyiyyat dalam ilmu qiraat adalah hukum yang munfarid (tersendiri) dan tidak berulang-ulang atau seragam, yaitu hukum yang terdapat dalam beberapa surat dengan cara baca setiap kalimat Al-quran nya berbeda antar ulama qiraat, bersandarkan kepada para perawinya.

Ketika menyebutkan farsyiyyat, pikiran kita langsung tertuju kepada perbedaan-perbedaan car abaca suatu kalimat dalam qiraat.

            Contoh farsyiyyat yaitu :

-           ﴿ مالك يوم الدين dan ﴿ ملك يوم الدين . Imam ‘Ashim dan Imam al-Kissa’i membaca (مالك) sedangkan yang lain membaca (ملك).

-          ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ Dalam qiraat lain yang mutawatir ada yang membaca( فتبينوا )  dengan( فتثبتوا ) .

-          Begitu juga pada ayat ﴿ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً . Dalam qiraat lain dibaca ( ضُعْف ). Dan lain sebagainya.

Apa itu Al-Ushul Dalam Ilmu Qiraat ? Menyertakan Ushul Imam Warsy Sebagai Contoh.

      Al-Ashl
Menurut Ibrahim al-Maraghi at-Tunusi dalam kitabnya An-Nujum ath-Thawali’ ‘ala ad-Durar al-Lawami’ pengertian al-Ashl adalah hukum kulli (kaidah-kaidah umum) yang seragam (berulang-ulang) pada setiap tempat yang memiliki syarat diberlakukannya hukum tersebut.
            Contoh al-Ashl yaitu :
a)      Bab al-Isti’adzah
Yaitu bab pertama dalam pembahasan ushul ini.
al-Isti’adzah atau dikenal dengan bacaan ta’awwuz (a’udzubillahiminas syaithanir rajim) merupakan perkara yang disepakati oleh para ulama qiraat. Oleh karena itu, setiap qori’ diwajibkan membacanya ketika hendak memulai membaca Al-Quran. Firman Allah SWT :
﴿ فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم (سورة النحل 98)
"Apabila kamu hendak membaca Al-Quran maka berlindunglah kepada Allah dari godaan setan yang terkutu.”
b)      Bab al-Basmalah
Ada tiga hukum yang dibenarkan dalam membaca bismillah, yaitu:
-          Hendaklah membaca bismillah pada setiap permulaan surat-surat Al-Quran kecuali surat at-Taubah. Inilah yang disepakati oleh para ulama, bahkan yang membaca dengan qiraat Hamzah pun mendahulukan bacaan bismillah.
-          Apabila seorang qori’ hendak membaca bagian dari surat Al-Quran, misalnya di pertengahan surat Al-Baqarah, maka ia boleh memilih antara membaca bismillah atau tidak.
-          Ada beberapa tempat (kondisi) yang tidak dibolehkan membaca bismillah, yaitu pada ayat-ayat yang berkaitan dengan kekufuran, doa kepada orang kafir, menyingkap kemunafikan, berita tentang neraka, setan dan lain-lain.
Contoh :
بسم الله الرحمن الرحيم ﴿ الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ ﴾
Maka tidak boleh membarengi nama Allah dengan setan seperti pada contoh tersebut. Begitu juga ada tempat-tempat yang menunjukkan ta’awwuz kepada makna yang buruk, oleh karena itu harus kita pisahkan dengan bismillah, seperti yang terdapat pada contoh berikut :
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم ﴿ إِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِ ﴾
Pada contoh ini, tidak dibenarkan membarengi antara ta’awwuz dengan bismillah karena dikhawatirkan dhamir yang seharusnya kembali kepada Allah akan dikembalikan kepada setan pada kalimat sebelumnya.

c)      Bab al-Fath wal Imalah wa Baina al-Lafdlain
Al-Imalah yaitu bunyi ucapan baris fathah yang condong kepada kasrah, bacaan alif yang condong kepada ya’. Adapun tujuan al-Imalah adalah agar mengetahui bahwa asal alif itu adalah ya’.
Al-Imalah ini biasanya disebut imalah kubra. Adapun riwayat Warsy membaca dengan imalah sughra atau at-taqlil baina al-lafdlain, artinya adalah bacaan antara imalah kubra dengan fathah.
Contohnya seperti ﴿ وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى , Imam Warsy membacanya dengan taqlil atau imalah sughra pada (هوى) begitu pula bacaan selanjutnya pada (غوى), (يوحى), dst… Dan inilah yang merupakan ushul (al-Ashl) pada riwayat Warsy, setiap tempat atau kata yang mencukupi syarat untuk dibaca taqlil maka harus dibaca seperti itu.
Sedangkan ushul pada qiraat Hamzah dan Al-Kissa’i adalah membacanya dengan imalah kubra, begitu pula qiraat Ibnu Katsir dengan bacaan fathah dengan menyeragamkan pada setiap tempat yang memenuhi syarat yang serupa.

d)      Bab Tentang Hukum Bacaan Ra’
Contoh salah satu ushul dalam qiraat adalah ushulnya Imam Warsy yang mana hukum ra’ pada qiraat beliau tersendiri dari qiraat yang lain, yaitu apabila ra’ dhammah atau fathah mendahului kasrah maka bacaan ra’ ditarqiq (tipis) kan. Dan hukum ini seragam pada semua kata yang menyerupai syarat kata ini, seperti: (كورت), (حشرت), (سجرت), (نشرت).
e)      Bab Tentang Hukum Bacaan Lam
Contoh yang terdapat dalam ushul Imam Warsy bahwa huruf lam dibaca tebal pada selain lafaz Jalalah (lafaz Allah), seperti: (الصلاة), lam dibaca tebal karena sebelumnya terdapat huruf shad yang berbaris fathah. Begitu pula pada contoh (أطَّلَعَ), (ظَلَمُوا), (أصلحوا) dan lainnya.

Perbedaan Antara Al Quran dan Qiraat

Untuk mengetahui perbedaan antara Al Quran dan Qiraat, maka terlebih dahulu harus memahami makna keduanya, yaitu:

  A. Pengertian Al-Quran
       Al Quran adalah kalam (perkataan) Allah sebagai mukjizat, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang bernilai ibadah bagi setiap yang membacanya, yang tertulis diantara dua lampiran, yang sampai kepada kita secara mutawatir, yang bersifat menantang sekalipun dengan surat yang terpendek di dalamnya.
Abdullah Darraz dalam kitabnya “an-Naba’ al-‘adzim” berkata : “Terjaga penamaannya sebagai al-Quran karena diucapkan dengan lisan, begitu pula terjaga penamaannya sebagai al-Kitab karena ditulis dengan pena…”
Dalam pengertian tersebut dapat digaris bawahi dua hal, yaitu berkaitan dengan al-qiraah, dan yang berkaitan dengan al-kitabah. Adapun al-qiraah menunjukkan bahwa  Al-Quran itu diambil dengan cara lisan (musyafahah) dan talaqqi sehingga sampai kepada kita secara mutawatir, inilah yang berkaitan dengan ilmu qiraat nantinya. Sedangkan al-kitabah menunjukkan bahwa Al-Quran itu tertulis dengan pena. Hal ini pula ada kaitannya dengan ilmu qiraat seperti kata-kata al-Quran yang tertulis dalam banyak macam qiraat, contoh : ملك ditulis tanpa mad dalam semua qiraat, akan tetapi ada yang membaca ملك ataupun مالك.

B.     Pengertian Ilmu Qiraat
        Menurut Ibn al-Jazari, Qiraat adalah ilmu dengan tata cara menyampaikan kata-kata Al-Quran dan perbedaannya disandarkan kepada orang yang meriwayatkannya.
Jadi, dari dua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Al-Quran itu termasuk dalam pembagian qiraat. Karena qiraat ada yang mutawatir dan ada yang syadz (cacat), qiraat yang mutawatir ianya adalah AL-Quran sedangkan qiraat yag syadz bukanlah Al-Quran, yakni tidak bernilai ibadah bagi yang membacanya dan tidak boleh dibaca ketika sholat menurut jumhur ulama.
Jika kita menjelaskan perbedaan kedua hal ini maka harus menjelaskan secara rinci. Apabila yang dimaksudkan qiraat mutawatir maka secara langsung artinya adalah Al-Quran, tetapi jika yang dimaksudkan qiraat selain mutawatir maka hal ini jelas sesuatu yang lain bukan Al-Quran.
Berikut ini adalah contoh-contoh yang menjelaskan lebih rinci perbedaan antara Al-Quran dan Qiraat : 
1)     ﴿ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ  Imam Warsy membaca (ملك), sedangkan Imam Hafs membaca (مالك), maka keduanya adalah Al-Quran dan tidak boleh mengutamakan salah satu dari keduanya sebagaimana para ulama berkata : لا تفاضل بين القراءات (janganlah kamu mengutamakan antar qiraat-qiraat)
2)      وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِرُهَا  ﴿  Ini adalah seperti yang dibaca dalam riwayat Warsy, sedangkan dalam riwayat Hafs dibaca (نُنْشِزُهَا), maka keduanya adalah qiraat yang mutawatir, dan keduanya adalah Al-Quran.


3)     Contoh qiraat syadz﴾  رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ  ﴿, dibaca dalam qiraat syadz dengan (رَبَّناَ لاَ تَزِغْ قُلُوبُنَا) dengan makna للقلب الزيغ (hati yang menyimpang), qiraat ini adalah qiraat syadz dan tidak mutawatir, maka ini bukanlah Al-Quran, akan tetapi hanyalah qiraat.

KENAPA Maroko Memilih Warsy ?

Para ulama telah bersepakat bahwa Al-Quran telah tersebar sampai ke tangan kita sekarang melalui jalan yang mutawatir dengan riwayat yang sangat banyak bersambung sanadnya hingga ke Rasulullah SAW. Kemudian Ulama mengistilahkan periwayatan Al-Quran ini dengan Ilmu Qiraat. Singkatnya, karena versi bacaan Al-Quran yang begitu banyak hingga muncul banyak perselisihan bahkan saling menyalahkan antar satu sama lain, maka pada sekitar pertengahan abad ke-2 seorang ulama ahli Qiraat  -Ibnu Mujahid (w.324H)- melakukan kodifikasi (standarisasi) dalam kitabnya “as-sab’ah” menjadi tujuh qiraat macam saja. Beliau mensyaratkan tiga parameter untuk qiraat yang

Satu Tahun Yang Perih

Seiring jarum jam berdetak..
Tak..tik..tak..tik..
Seiring langkah berderu..
Sepi menggugat syahdu..
Lambaian tanganmu menuai rindu..
Satu tahun sudah berlalu..
Hari demi hari ku tempuh..

Tanpa ragamu menghalau bayangan..
Mata terbuka dan hati terpecah..
Teringat langkah indahmu menghampiri..
Pesona kecantikan yang terpancar dari raut indah wajahmu..
Sedih..
Galau..
Gelisah..
Terbalut menjadi satu..
Pesona cantik dan taqwa..
Perih yang ku rasa
Saat ku ingat raga kita datang dan pergi mengukir cinta..
Suara mu lembut..
Langkahmu gemulai..
Kata-katamu menyejukkan hati..
akankah dia akan datang kembali??
Waktu pasti tau..
Satu tahun adalah waktu yang singkat..
Tapi begitu lama bagiku tanpa kehadiranmu..
Ku ingat tangisan syahdu terbalut malu..
Oh kasihku..
Kenapa kau bohong akan sakitnya kepergianku??
Tangisan yang terpendam di balik matamu menghalangku pergi..
Kenapa kau diam saat itu??
Perpisahan..
Sungguh perpisahan terasa menyayat hati..
Cinta tulusmu yang menjadi pelaku..
Ia telah menghasut air matamu sembunyi di balik pintu..
Engkau melambaikan tangan dari jauh..
Tanpa kata-kata dan salam perpisahan..
Isyarat berat kau lepaskanku..
Bisikan hatimu berkata 'aku pergi untuk kembali'
Satu tahun yang lalu..
Satu tahun yang lalu..

O.. Te We Amsterdam

 Semoga dimudahkan Segala urusannya sahabat Azhari Mulyana dan temen-temen yg lain bisa menyusul juga insya Allah, Muhammad Fahruddin Al Mustofa ada rencana mau ke Turki, Fuad Casa ada rencana ke Yaman bang wan Afifuddin Azmi ada plan ke England hehe.”
Rasa haru, bahagia dan sedih mengelabui hatiku saat itu. Peluang yang mereka impikan tidak seberuntung aku yang mendaptkan. Doa mereka mengiringi setiap langkahku. Teringat akan pepatah berkata gantunglah impianmu setinggi langit. Terkadang kalimat ini bisa menjadi kenyataan, terkadang juga sebaliknya. Semua ini berawal dari sebuah harapan kecil.
15 Juni 2015 lalu, tepatnya pukul 00.00 waktu Maroko aku mempersiapkan segala perlengkapan yang aku butuhkan selama dua bulan penuh di Eropa nanti, baik itu baju, celana, sepatu, dan lain-lain. Oh ya Al-Quran juga pastinya. Mungkin orang lain menuduh aku ini ceroboh dan terlalu santai. Tapi tidak menurutku. Mungkin karena kebiasaan yah makanya aku tidak terlalu sesibuk orang lain yang ingin bepergian. Orang lain mungkin tidak percaya, tapi inilah diriku sejak kelas 6 SD dulu aku sudah sering bepergian baik itu menginap atau tidak, sehari, tiga hari, seminggu bahkan sebulan. Jadi selama lebih kurang 8 tahun belakangan ini yang namanya packing tidak asing lagi di telingaku. So, aku hanya butuh waktu enam saja untuk packing jika memang itu untuk keperluan berhari-hari.
Oh ya, sedikit flash back, sehari sebelum aku dan kang Mamah berangkat ke Eropa, kami sempat singgah ke Rabat (ibukota Maroko). Ketika itu sebut saja pak Bowo salah seorang karyawan KBRI yang juga sesepuh PCINU Maroko dan putra sulungnya kebetulan sedang ulang tahun. Jadi beliau berhajat untuk mengadakan tasyakuran ulang tahunnya sekaligus dengan walimatus safar keberangkatan kami sebagai utusan PCINU Maroko. Mungkin tidak bisa kusebutkan satu per satu siapa saja yang ikut hadir dalam jamuan tersebut, tapi aku masih bisa membayangkan keseluruhan acara itu. Pastinya temen-temen PCINU hadir ketika itu khususnya yang berdomisili di Rabat karena yang lain masih mengikuti ujian akhir. Tapi ada juga beberapa yang ikut hadir meskipun jauh dari Rabat demi menyukseskan acara ini. Biasa lah, ga ada loh ga rame hahaha.
Tak kalah meriahnya acara ini disambut langsung oleh pak Dubes Maroko yaitu bapak Endang Syamsuri beserta Bu Ella Syamsuri serta asisten pribadinya. Terus acaranya ngapain yah? Haha. Biasalah, tasyakuran atau bancaan menurut versi Jawa itu artinya makan-makan. Ada satu lagi istilah rujakan yaitu ngumpul-ngumpul bareng juga hampir sama dengan tasyakuran tapi bukan makan nasi, melainkan rujak buah-buahan dengan bumbu kacangnya yang pedas. *sekilas pengalaman pribadi di Malang :D. Sedangkan di daerah asalku lahir Aceh acara seperti tasyakuran ini dikenal dengan kenduri.
Nah, acara walimatus safar ini dirangkai sedemikian rupa setengah resmi yaitu adanya pembawa acara, kemudian diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh aku sendiri, kemudian dilanjutkan dengan kata-kata walimah yang diwakili oleh kang Mamah kerabat saya yang akan ke Eropa. Tak lupa nasehat-nasehat yang disampaikan oleh pak Dubes, lalu ditutup dengan makan-makan. Kebetulan mbak Nur istrinya pak Bowo sudah mempersiapkan semua makanannya khusus untuk acara hari itu. Keluarga beliau memang senang ngumpul-ngumpul bareng jadi beliau sudah biasa mempersiapkan acara seperti itu. Doa-doa yang dipimpin Ust. Alfian Iqbal Zahasfan ketika itu masih meraung-raung di telingaku. Diantaranya keberkahan usia yang punya hajat juga doa keselamatan dan kelancaran dakwah kami ke Eropa. Doa-doa mereka orang sholeh inilah yang mengantarkan kami sampai ke Amsterdam, Belanda untuk ekspansi Islam ahlussunnah non wahabi beberapa bulan yang lalu :D.
Saat itu kang Mamah yang tinggal di Marrakesh sudah packing semua barang-barangnya yang akan dibawa. Tapi aku masih belum terpikir sedikitpun, padahal besok pagi aku berangkat, haha.
“Ya Allah, kamu santai banget belum siapin apa-apa.”
“Jujur, aku orang yang paling santai soal packing-packing barang, itupun udah telat banget, tapi ternyata ada yang lebih santai dari aku.” tegur kang Mamah.
Mulai saat itu aku terpancing gelisah karena teguran itu haha. Maklum lah, aku orang yang terlalu patuh dengan teguran. Tanpa pikir panjang malam semakin gelap aku langsung bertekad terjun ke Casablanca tempat aku tinggal dengan bis kota. Jarak antar ibukota dengan Casa sekitar satu jam setengah. Dan beruntung jam sebelas malam itu aku bisa langsung naik bis terakhir meskipun telat tapi alhamdulillah yang penting sampai.
Saat tiba di rumah pukul 00.00 GMT malam itu aku langsung bergegas mengumpulkan barang-barang yang akan ku bawa. Sempat bingung berapa baju yang akan aku bawa? Lagi-lagi pikiran itu muncul disaat aku sedang packing. Mungkin aku membawa baju lebih banyak buat persiapan dua bulan. Sekitar tiga jam setelah mengumpulkan baju-baju, celana, juga sempat menyetrika beberapa pakaian yang habis aku cuci, lalu aku menyusunnya dengan rapi dalam sebuah koper sedang sederhana tapi kuat loh. Ya itu karena pilihan bunda, pasti pilihan terbaik hehe. Koper itu pertama sekali aku gunakan ketika hendak kuliah ke Malang, tak disangka ia jadi teman setiaku hingga ke Maroko bahkan ke Eropa.
Selesai sudah waktu lima jam buat packing terus aku sholat subuh dan kemudian tumbang di atas kasur. Tak lupa aku menyetel jam alarm untuk membangunkanku. Wah, nikmatnya tidur setelah beraktifitas ya seperti ini. Penasaran guys? Coba aja sendiri haha. Biasanya, aku tidak bisa tidur semalaman jika hendak bepergian, terlalu banyak yang aku pikirkan dan bayangkan, terlebih tempat itu yang belum pernah aku singgahi. Namun kali ini berbeda, persiapan dan istirahat yang terasa kurang cukup untukku hingga membuat diriku seakan remuk dan mata ingin memejam. Mungkin karena bayangan-bayangan eropa itu telah bosan menari-nari dipikiranku jadi sudah aku anggap biasa haha. Ya seperti itulah perasaan seorang anak desa Sungai Pauh asal Aceh ini yang tumbuh dari keluarga sederhana.
Tepat pukul 08.00 pagi aku terbangun karena tidak sanggup mendengar jeritan alarm di telingaku. Mata terbuka pikiran sadar dan jantung berdetak kencang. Aku langsung bangun dan mandi. Lagi-lagi, yang ada di pikiranku hanyalah bayang-bayang Eropa. Begitu gilanya pikiran dan perasaanku saat itu bahkan ketika mandi aku memandangi seluruh isi kamar mandi di rumahku dan berniat membedakannya dengan di Eropa haha. Mungkin ini hal biasa bagi yang pernah mengalaminya, tapi hal pertama yang aku alami, karena aku belum pernah bepergian sejauh dan seindah ini. Belum berangkat menuju Eropa saja diriku sudah merasa seperti di Eropa, sangking bahagianya. Alhamdulillah ya Allah, aku telah menjaga ayat-ayatMu sehingga Engkau memberikan kenikmatan ini di luar kemampuanku.
“Bismillahirrahmanirrahim.”
“Ku langkahkan kaki ini seraya memohon kepadaMu ya Rabb, berilah perlindunganmu untukku menempuh perjalanan ini. Aku berangkat karenaMu, atas izinMu dan untukMu ya Allah. Berilah pertolongan kepadaku dalam mengemban amanahMu yang mulia ini. Sungguh aku sangat hina di hadapanMu, aku tidak mampu melaksanakan perintahMu ini karena aku belum pantas. Tapi mereka mempercayakan amanah ini untukku, berilah kemampuan untukku agar bisa bertanggung jawab dalam menyebarkan syari’atMu ini.” ucap hatiku saat hendak berangkat menuju bandara Muhammad V, Casablanca.
Temen-temen mengantarkanku hingga ke bandara saat itu. Ya, teman yang telah setahun setia tinggal bersamaku. Rawut wajah mereka penuh harapan dan do’a agar bisa menyusulku. Tiada kata yang bisa kuucapkan melainkan doa yang keluar dari bibirku agar mereka juga bisa menyusulku suatu hari nanti. Kebanggaan mereka terhadapku itu tampak saat kesetiaan mereka hingga melambaikan tangan terakhir saat aku dan kang Mamah akan menuju ruang pemeriksaan bandara. Setelah itu mulailah mereka satu persatu mengupdate status di media sosial berisi doa untukku dan harapan mereka agar bisa menyusul.
Uniknya, sebelum itu Fahruddin salah satu temanku sempat menitipkan sesuatu yang sangat berharga sebelum aku menuju bandara. Pastinya sesuatu yang sangat berharga baginya. Dengan tenang ia berkata :
“Azhari, ini ada sesuatu tolong dibawa ya, nanti sampek ke Belanda tolong tarok di tempat yang kira-kira menurut kamu paling indah. Kalo bisa disembunyikan ya biar ngga hilang, saya cuma berharap suatu saat nanti saya bisa ambil lagi barang ini di tempat itu. Sebelumnya terima kasih banget ya Azhari. Doakan saya juga bisa segera menyusul.”
Masya Allah, ketika itu sekejap hatiku tersentuh melihatnya yang begitu menginginkan untuk pergi ke Eropa juga sama sepertiku. Fahruddin ialah salah satu temanku yang sangat ambisius ingin jalan-jalan ke Eropa. Sangking ambisiusnya ia pernah mengajak aku dan teman-teman lain untuk iuran per bulan menyisakan uang jajan agar kami bisa sama-sama liburan ke Eropa minimal ke Turki di akhir tahun 2015.
Siapa yang tidak mengimpi-impikan bisa jalan-jalan ke luar negeri?! Jangankan ke Eropa yang begitu indah, ke Malaysia sebagai tetangga kita pun rasa bahagia itu akan muncul, apalagi bisa menjelajahi beberapa negara lainnya seperti Eropa?!
Sembari mengambil barang itu, “Insya Allah din, aku liat dulu kira-kira di mana nanti bisa aku tarok dan aman. Sip, semoga ada kesempatan dan bisa nyusul amin.” jawabku.
~Bismillah...
150615HV575012'05CMN`AMS
~
            Sesaat sebelum terbang, aku sempat update status di facebook. Maklumlah anak zaman sekarang ada sesuatu pastinya ngadu ke facebook haha. Gapapa deh, karena jarang diupdate, ya ga masalah kan sesekali bikin pusing yang baca dengan kode-kode seperti itu. Aku pecahkan di sini yah kodenya :D. 150615 itu artinya tanggal keberangkatanku yakni 15 Juni 2015 lalu, HV5750 itu  adalah nomor flight (penerbangan), kebetulan ketika itu kami naik pesawat transavia, pesawat kecil dan murah. Seingat aku sih kita dibelikan tiket PP (pulang-pergi) seharga €300 (tiga ratus euro) atau sekitar 4,5 juta. Sedangkan 12`05 adalah waktu keberangkatan yakni pukul 12.05 siang, CMN itu Casablanca dan AMS adalah Amsterdam, karena kami berangkat via bandara Muhammad V Casablanca menuju bandara Schipol, Amsterdam.
Kemudian setelah masuk ruang check in dan urusan bagasi telah selesai semua aku dan kang Mamah terus berjalan menuju ruang tunggu. Di ruang pemeriksaan terakhir tiba-tiba seorang satpam Maroko bertanya dengan Bahasa Prancis :
“Bonjour Monsieur ! Puis-je savoir, combien vous apporter de l’argent?” tanya si satpam.
Bingung yah? Haha. Aku juga masih gagal paham dengan bahasa resmi kedua Maroko ini :D. Soalnya aku baru tau tentang hitung-hitung angka, mengenal huruf abjad dan beberapa vocab sayur-sayuran dan buah-buahan yang aku pelajari di ekstrakurikuler kampus haha. Maklum masih bingung ketika ada yang bertanya dengan bahasa ini. Melihat kami saling memandang satu sama lain mengisyaratkan ketidakpahaman lalu si satpam menjelaskan dengan bahasa isyarat dan pastinya satu kata yang ia tau dalam bahasa Inggris yaitu money..money..
Agar tidak ketinggalan pesawat karena sikap isyarat aneh si satpam satu ini akhirnya kami mengaku bisa bahasa Arab dan bertanya apa yang ia maksudkan. Terkadang di satu sisi kami sering ngerjain orang Maroko yang menganggap asing kami seperti itu karena menganggap tidak bisa berbahasa Arab. Haha.
Jadi ketika itu aku telah menghabiskan semua uang dirham yang aku punya karena tau bahwa kegiatan ini full dibiayai oleh PPME (Persatuan Pemuda Muslim Eropa) Al-Ikhlas Amsterdam yang merekrut kami untuk bertugas di sana selama Ramadhan. Terakhir aku menggunakan uang dirham ketika membayar ongkos taksi menuju ke bandara tadi. Dan ternyata nasib yang sama terjadi pada kang Mamah. Lantas kami terdiam sejenak ketika satpam itu menanyakan tentang money.
(Pengalaman adalah guru yang terbaik). Mungkin kata-kata ini yang cocok jadi pelajaran untuk kami tentunya. Aku hanya terus berpikir apa tujuannya menanyakan jumlah uang yang kami bawa. Tidak berpikir panjang kami terlanjur jujur dengan apa yang ada bahwa kami tidak memiliki uang sepeser pun.
Dengan heran si satpam Maroko keturunan Spanyol ini terus memaksa kami untuk menjawab dengan jujur. Tapi apalah daya kami memang tidak membawa sedikit pun uang ketika itu. Aku ingat dia menyebutkan empat mata uang (euro, dollar, poundsterling, dirham)  tapi kami malah tetap geleng-geleng kepala menandakan nihil.
(Ini bocah mau ke Eropa kok ga bawa uang ya?! Mau ngemis di sana??!) Mungkin seperti itulah firasat si satpam untuk kami hahaha. Setelah letih bertanya dan terus memaksa akhirnya kami diloloskan menuju ruang tunggu untuk masuk ke cabin pesawat.
Setelah mencari tau dan bertanya-tanya ke beberapa teman yang sudah berpengalaman menjelajah dengan kapal terbang ternyata tujuan si satpam hanyalah memeriksa para penumpang pesawat agar tidak membawa uang nominal yang berlebihan. Aku tidak begitu paham peraturan penerbangan tentang hal itu, akan tetapi memang ada batasan tertentu kepada setiap penumpang agar tidak membawa uang nominal dengan jumlah yang melebihi ketentuan yang telah ditetapkan.

Lirik Qasidah "Qamarun" oleh Mustafa 'Atef



وأجملُ منك لم تراه قَطُّ عَين
وأطيبُ منك لم تَلِدِ النساءُ
خُلِقتَ مُبَرَّءاً مِن كُلِّ عَيبٍ
كأنك قد خُلِقتَ كما تشاءُ
قمرٌ .. قمرٌ .. قمرٌ سِيدنا النبي .. قمرٌ
وَجَمِيل .. وجميل .. وجميل سيدنا النبي .. وجميل
قمر .. قمر .. قمر سيدنا النبي .. قمر
وجميل .. وجميل .. وجميل سيدنا النبي .. وجميل

***

كَحِيل الطرف حبيبي لو تراه
الله .. الله
ضحوك السن للعاشق رماه
الله .. الله
كَحِيل الطرف حبيبي لو تراه
الله .. الله
ضحوك السن للعاشق رماه
الله .. الله
بَهَيُّ الطَّلعَ فالمَولَى اصطفاه
بَهَيُّ الطَّلعَ فالمَولَى اصطفاه
بَهَيُّ الطَّلعَ فالمَولَى اصطفاه
بَهَيُّ الطَّلعَ فالمَولَى اصطفاه
حَبِيبُ اللهِ يَا خَيرَ البَرَا
يااااا قمرٌ
قمرٌ .. قمرٌ .. قمرٌ سِيدنا النبي .. قمرٌ
وجميل .. وجميل .. وجميل سيدنا النبي .. وجميل

***

وكَفُّ المصطفى كالوَردِ نادِي
الله .. الله
وعِطرُها يَبقَى إذَا مَسَّت أيادِي
الله .. الله
وكَفُّ المصطفى كالوَردِ نادِي
الله .. الله
وعِطرُها يَبقَى إذَا مَسَّت أيادِي
الله .. الله
Hoo..
وَعَمَّ نَاوَلُهَا كُلَّ العِبَادِي
وَعَمَّ نَاوَلُهَا كُلَّ العِبَادِي
وَعَمَّ نَاوَلُهَا كُلَّ العِبَادِي
حَبِيبُ اللهِ يَا خَيرَ البَرَا
يااااا قمرٌ
قمرٌ .. قمرٌ .. قمرٌ سِيدنا النبي .. قمرٌ
وجميل .. وجميل .. وجميل سيدنا النبي .. وجميل

***

ﻭَﻋَﺮَﻕُ المُصطفى للطِّيبِ ﻃِﻴﺐَ
الله .. الله
ﻭﻳَﺜﺮِﺏُ ﺷُﺮِّﻓَﺖ ﺑِﺎﻟﻨُﻮﺭِ ﻃِﻴﺐ
الله .. الله
ﻭَﻋَﺮَﻕُ المُصطفى للطِّيبِ ﻃِﻴﺐَ
الله .. الله
ﻭﻳَﺜﺮِﺏُ ﺷُﺮِّﻓَﺖ ﺑِﺎﻟﻨُﻮﺭِ ﻃِﻴﺐَ
الله .. الله
Hoo...
ﻭﻳُﺪﻫِﺶُ ﻋِﻨﺪَ ﻃَﻠﻌَﺘِﻪ ﺍﻟﺤَﺒِﻴﺐَ
ﻭﻳُﺪﻫِﺶُ ﻋِﻨﺪَ ﻃَﻠﻌَﺘِﻪ ﺍﻟﺤَﺒِﻴﺐَ
ﻭﻳُﺪﻫِﺶُ ﻋِﻨﺪَ ﻃَﻠﻌَﺘِﻪ ﺍﻟﺤَﺒِﻴﺐَ
ﻭﺇﻥ ﺟُﻦَّ ﺍﻟﻤُﺸَﺎﻫِﺪ ﻻ ﻣَﻼَﻣَﻪ
قمرٌ .. قمرٌ .. قمرٌ سِيدنا النبي .. قمرٌ
وجميل ........؟ وجميل .. وجميل سيدنا النبي .. وجميل

***

وَمَسرُبَةُ الكَعُودِ المِسكِ قِيلَا
الله..الله
بَدَت بِالصَّدرِ لِلسُّرَ الجَمِيلَا
الله..الله
وَمَسرُبَةُ الكَعُودِ المِسكِ قِيلَا
الله..الله
بَدَت بِالصَّدرِ لِلسُّرَ الجَمِيلَا
الله..الله
يا يا رسولَ اللهِ رِفقاً بِالقَتِيلَا
رسولُ اللهِ رِفقاً بِالقَتِيلَا
حبيبُ اللهِ... رِفقاً بِالقَتِيلَا
وَاِشفِ القَلبَ مِنكَ بِإبتِسَامَه
قمرٌ .. قمرٌ .. قمرٌ سِيدنا النبي .. قمرٌ
وجميل .. وجميل .. وجميل سيدنا النبي .. وجميل

***

ﻭَﺭِﻳﻖُ المصطفى ﻳَﺸﻔِﻲ ﺍﻟﻌَﻠِﻴﻞَ
الله..الله
ﻭﻋَﻴﻦُ ﻗَﺘَﺎﺩَةٍ ﺧُﺬﻫَﺎ ﺩَﻟِﻴﻼَ
الله..الله
ﻭَﺭِﻳﻖُ المصطفى ﻳَﺸﻔِﻲ ﺍﻟﻌَﻠِﻴﻞَ
الله..الله
ﻭﻋَﻴﻦُ ﻗَﺘَﺎﺩَةٍ ﺧُﺬﻫَﺎ ﺩَﻟِﻴﻼَ
الله..الله
Ooh..
ﺗَﻔَﻞ ﻓِﻲ ﺍﻟﺒِﺌﺮِ ﺃَﺿﺤَﺖ ﺳَﻠﺴَﺒِﻴﻼَ
ﺗَﻔَﻞ ﻓِﻲ ﺍﻟﺒِﺌﺮِ ﺃَﺿﺤَﺖ ﺳَﻠﺴَﺒِﻴﻼ
ﺗَﻔَﻞ ﻓِﻲ ﺍﻟﺒِﺌﺮِ ﺃَﺿﺤَﺖ ﺳَﻠﺴَﺒِﻴﻼ
ﻭَﺻَﺎﺭَ ﻟِﺼَﺤﺒِﻪِ ﺷَﻬﺪﺍً ﻣُﺪَﺍﻣَﺎ
قمرٌ .. قمرٌ .. قمرٌ سِيدنا النبي .. قمرٌ
وجميل .. وجميل .. وجميل سيدنا النبي ..يا كميل

***

ولا ظِلُّ لَّهُ بَل كَانَ نُورَا
تَنَالَ الشّمسََ مِنهُ وَالبُدُورَا
الله .. الله
ولَم يَكُنِ الهُدَى لَولاَ ظُهُورَه
ولَم يَكُنِ الهُدَى لَولاَ ظُهُورَه
ولَم يَكُنِ الهُدَى لَولاَ ظُهُورَه
وكُلُّ الكَونِ أَنَارُ بِنُورِ طَهَ
قمرٌ .. قمرٌ .. قمرٌ سِيدنا النبي .. قمرٌ
وجميل .. وجميل .. وجميل سيدنا النبي .. وجميل
قمرٌ .. قمرٌ .. قمرٌ سِيدنا النبي .. قمرٌ
وجميل .. وجميل .. وجميل سيدنا النبي .. يا كميل