Azhari Mulyana
-
May 26, 2020
Edit this post
Penaklukkan yang dilakukan oleh umat muslim Arab dan Berber Maroko terhadap wilayah Semenanjung Iberia telah memukul mundur raja dan banyak bangsawan visigothik lokal, diantara mereka berhasil dibunuh sementara sebagian yang lain masih tetap mempertahankan kekuasaannya di beberapa kota kecil, namun akhirnya satu persatu kota itu dapat ditaklukkan. Meski begitu, mereka (orang Arab) sama sekali tidak terpikirkan untuk melakukan islamisasi terhadap warga lokal yang menganut agama Yahudi dan Kristen, sebab kedua agama tersebut menurut pandangan Islam termasuk golongan “ahli kitab”[1]. Oleh karena itu, mereka diberi kebebasan untuk beribadah dan mempraktikkan ajaran-ajaran agamanya, dan sejak itu pula simbol pluralisme agama berawal dalam peradaban Andalusia.
Salah satu pencapaian toleransi umat Islam ini dapat dibuktikan dengan dikeluarkannya surat kesepakatan damai seperti yang ditulis oleh Abd al-Aziz bin Musa bin Nushair kepada raja Theodemir (Tudmir)[2] tahun 713 M (94 H). Naskah tersebut dianggap sebagai dokumen diplomatik tertulis pertama sepanjang sejarah Spanyol-Islam yang kemudian dikenal dengan “Perjanjian Orihuela” atau “Perjanjian Theodemir”.
Terjemahan isi surat tersebut berbunyi:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Naskah ini ditulis oleh Abd al-Aziz bin Musa kepada Theodemir bin ‘Abdus, yang mewujudkan kesepakatan damai dan janji, serta atas perlindungan Allah SWT dan Rasul-Nya SAW. (semoga Allah merahmatinya dan memberikan keselamatan kepadanya). Kami (Abdul Aziz) tidak akan menetapkan syarat khusus apa pun untuknya atau siapapun di antara pasukannya, tidak juga berbuat kasar atau melengserkannya dari kekuasaan. Para pengikutnya tidak akan dibunuh atau ditawan, tidak juga dipisahkan dari istri dan anak-anaknya. Mereka tidak akan dihukum karena alasan agama, dan gereja mereka tidak akan dibakar, sepanjang Theodemir tetap loyal dan menghormati ketentuan yang kami berikan kepadanya;
Dia menyerah atas nama tujuh kota, yaitu: Orihuela, Valentilla, Alicante, Mula, Bigastro, Ello dan Lorca. Dan ia tidak akan menyediakan tempat perlindungan bagi para buronan, juga tidak kepada musuh kami, juga tidak mendorong orang yang dilindungi untuk takut kepada kami, juga tidak menyembunyikan kabar tentang musuh kami. Dia dan setiap anak buahnya wajib membayar satu dinar setiap tahun, bersama dengan empat mud gandum, empat mud[3] jelai, empat qisth[4] cuka, dua qisth madu dan dua qisth minyak. Sedangkan budak membayar separuh dari harga di atas.
Turut menjadi saksi atas naskah tersebut: Utsman bin ‘Ubaidah al-Qurasyi, Habib bin Abi ‘Abdah al-Qurasyi[5], Abu ‘Ashim al-Hudzaly, dan Abdullah bin Maysarah at-Tamimy.
Ditulis pada bulan Rajab, 94 H.”[6]
Jelas, daripada menjalankan operasi militer dengan biaya operasi yang tinggi, pasukan muslim lebih suka membuat kesepakatan yang akan menjamin keselamatan mereka dari permusuhan. Representasi diplomatik seperti ini memunculkan kepiawaian sang Gubernur dan para pejuang muslim dalam melicinkan kemenangan Islam atas kaum kafir Spanyol kala itu, dan sebenarnya telah lebih dulu dipraktikkan oleh para sahabat bahkan Rasulullah SAW pada masanya.
Sebagai imbalan dari upeti yang diberikan tiap tahun (berupa dinar, gandum, jelai, cuka, madu dan minyak), masyarakat setempat diberi otonom yang hampir lengkap, dimana Theodemir diharapkan dapat melanjutkan mengatur tujuh kota dan wilayah sekitar, tidak ada kecenderungan untuk mendirikan masjid ataupun garnisun muslim di sana.
Setelah beberapa tahun Islam membumi di Andalus, seluruh umat Yahudi dan Kristen Spanyol diizinkan memilih untuk masuk Islam ataukah tetap teguh dalam keyakinan aslinya. Adapun pilihan pertama dapat mengubah posisi dan kedudukan mereka dalam memenuhi hak dan kewajiban sebagaimana layaknya warga muslim yang lain, sedangkan pilihan kedua tetap dalam keadaan semula yang menyandang status kafir zimi, tunduk kepada pemerintahan Islam dengan kewajiban membayar upeti setiap tahun.
Tanpa ragu, banyak di kalangan mereka akhirnya menjadi mualaf, khususnya orang-orang yang berontak dan merasa tidak nyaman dengan sistem pemerintahan Visigoth sebelumnya. Walhasil, mereka berbondong-bondong mengucap kalimat syahadat. Namun di sisi lain, banyak yang tidak terpikat dengan tawaran murtad tersebut karena pertimbangan bahwa zakat yang dikeluarkan oleh setiap muslim tidak lebih sedikit dari pajak yang dibebankan kepada mereka dalam status zimi. Bagaimanapun, pemerintah Islam ketika itu tidak memaksa mereka untuk meninggalkan ajarannya, hanya saja mereka memilih dengan suka rela atas pertimbangan masing-masing individu, dan hal itu tidak menimbulkan masalah internal apa pun selama abad ke-8 Masehi, melainkan Islam semakin bertambah kuat dengan bertambahnya personel dalam tubuh Andalus.[7]
Mulai saat itu dan seterusnya, orang-orang pribumi mualaf tersebut lah yang memainkan peran penting dalam peradaban Islam Andalusia, khususnya yang tinggal di wilayah Selatan dan Timur Semenanjung Iberia. Anak cucu mereka (keturunan Arab, Berber dan mualaf Spanyol) sama sekali tidak meninggalkan tanah Andalus hingga berabad-abad lamanya, sampai datang masa reconquista.
Perpindahan agama yang terjadi di Andalus dari generasi ke generasi semakin meningkat, ditambah lagi dengan faktor pengekangan yang dilakukan oleh beberapa Sultan Granada dan munculnya sikap fanatisme oleh sesame golongan minoritas Mozarabs (musta’rib)[8] menimbulkan kegundahan hati sehingga sebagian mereka memilih untuk meninggalkan agamanya dan masuk Islam. Dalam catatan sejarah, orang-orang mualaf Spanyol tersebut pada mulanya dijuluki “Musalimah”, namun anak cucu keturunan mereka kemudian dijuluki “Muwallad” atau “Muladi”. Pernikahan antar ras pun sudah tidak terbilang, tak heran bahwa dalam abad ke-9 Masehi sulit dibedakan antara ras asli Arab atau Berber dengan ras pribumi Spanyol.
Selanjutnya, orang-orang muwallad yang berdiam lama di tanah Andalus baik diantaranya rakyat sipil, budak maupun anak-anak adopsi telah terbiasa dalam menjalani kehidupan baru dan seiring berjalannya waktu mereka lupa akan gelar atau nasab yang disematkan oleh leluhur mereka bahkan lupa bahwa pendahulu mereka lah yang menduduki Spanyol sebelum masuknya Islam, sebagaimana mayoritas mereka telah berevolusi menjadi kaum borjuis kaya raya sebagai hasil dari kerja keras dalam bidang perniagaan maupun pertanian.
Sedangkan, sebagian keturunan Arab masih menjunjung tinggi dan terus larut dalam aliran perasaan membanggakan diri sebagai keturunan bangsawan dan berlomba-lomba menampakkan asal usulnya. Begitu juga diantara keturunan pribumi ada yang tetap mengagungkan nama Latin-Romawi mereka agar tampak berbeda dari yang lain, seperti Banu Angelino, Banu Sabarico dari kota Seville, Banu I’Longo, dan Banu Qabturno, dan sebagainya. Ibn al-Qutiyya[9]sendiri pada abad ke-10 Masehi begitu membanggakan dirinya yang memiliki silsilah keturunan sampai ke Wittiza, salah seorang raja dari Kerajaan Visigoth (694-710 M) dan tercermin dari lakabnya “القوطي” atau “Visigothik”.[10]
Kendati demikian, tidak akan lenyap kepribadian rakyat Andalus sebab percampuran ras dan budaya yang terjadi dalam kurun waktu yang terbilang singkat, bahkan hal ini menjadi nilai lebih karena dampak yang ditimbulkan dari percampuran tersebut memunculkan benih-benih identitas dan wajah kebudayaan baru di tanah Andalus dan dunia Islam, baik dari segi ekonomi, politik, budaya dan peradaban.
Adapun bahasa yang digunakan oleh golongan Muwallad maupun Mozarabs bukanlah Bahasa Arab klasik, sebabsebagian penduduknya masih terpengaruh oleh logat Romawi yang berakar dari Bahasa Latin, logat yang diucapkan bercampur kosakata Arab inilah yang kemudian dikenal dengan Bahasa Mozarabic, dan telah digunakan sejak abad ke-8 hingga 15 Masehi di tanah Andalus sebelum munculnya skrip dan Bahasa Aljamiado pasca reconquista. Sementara di beberapa wilayah pedesaan dan dataran tinggi Andalus yang dikuasai oleh sebagian besar penduduk keturunan Berber asal Afrika Utara mereka tetap berkomunikasi menggunakan Bahasa Berber.
[1] Ahli kitab merupakan orang-orang yang berpegang pada ajaran kitab suci selain Al-Quran, atau disebut juga agama Abrahamik. Lihat: Al Faruqi, Ismail Raji’ (ed.). Trialogue of the Abrahamic Faiths, Makalah dipresentasikan ke kelompok Studi Islam Akademi Agama Amerika. (Herndon: International Institute of Islamic Thought, 1986), h. 3.
[2] Ialah seorang bangsawan Visigothic yang muncul selama dekade terakhir atau beberapa tahun setelah penaklukkan Moor dan dikalahkannya raja Roderick pada pertempuran Guadalete tahun 711. Ia memerintah 7 kota di Tenggara Spanyol: Orihuela, Valentilla, Alicante, Mula, Bigastro, Ello dan Lorca, hingga akhirnya dikalahkan dalam pertempuran sengit melawan Abd al-Aziz bin Musa.
[3] Satu mud menurut mayoritas ulama setara 510 gram.
[4] Makna dasar dari adalah bagian atau jatah. Ketentuannya adalah 1 qisth menurut mayoritas ulama sama dengan 1,02 kilogram. Lihat: Ibn al-Atsir. An-Nihayah fi Gharibi al-Atsar, di-tahqiq oleh Mahmud ath-Thanahi dan Thahir az-Zawi, (Al-Halabi, 1963), juz 4, h. 60.
[5] Ialah Habib bin Abi ‘Abdah bin Uqbah bin Nafi’, wazir dan asisten Sultan Abd al-Aziz bin Musa bin Nushair. Lihat: Ibn ‘Idzari. Al-Bayan al-Mughrib, di-tahqiq oleh Basyar ‘Awwad Ma’ruf, (Dar al-Gharb al-Islami, 2013), juz 2, h. 30.
[6] Teks dalam Bahasa Arab, lihat: Al-Himyari, Muhammad bin Abd al-Mun’im. ar-Raudh al-Mi’thar fii khabar al-Aqthar, di-tahqiq oleh Ihsan ‘Abbas, (1975), h. 131-132. Dalam Bahasa Spanyol, lihat: Simonet, F. Javier. Historia De Los Mozàrabes De Espana, (Madrid, 1897), h.
[7] Provençal, E. Lévi. L’Espagne Musulmane au Xe Siècle, ed. 1, (Paris, 2002), hal. 18-19.
[8] Mozarabs (Bahasa Spanyol: mozárabes; Bahasa Arab: مستعرب) adalah historis modern yang mengacu pada orang Kristen Iberia atau kafir zimi yang hidup di bawah pemerintahan Moor di Andalus, mereka tetap pada keyakinan aslinya dan tidak berpindah ke agama Islam. Istilah Mozarab ini kemudian berganti dengan julukan Al-Mu’ahidun, namun pada akhirnya kata tersebut mengerucut dan terkhusus untuk orang-orang Kristen saja, sementara umat Yahudi dipanggil dengan istilah ahli zimi atau kafir zimi. Lihat: Ibn al-Khatib, Lisan ad-Din. al-Ihathah fii Akhbari Gharnathah, dikomentari oleh Bouziani Derradji, juz 1, (Al Jazair: Dar el-Amal, 2009), hal. 198-199. L’Espagne Musulmane au Xe Siècle, ed. 1, (Paris, 2002), hal. 18-19.
[9] Ialah salah seorang sejarawan muslim Andalusia asal Cordoba (w. 977 M), pemilik kitab Tarikh Iftitah al-Andalus.
[10] Provençal, E. Lévi. Historya de España; terj. Ali Abderrauf al-Bamba, Tarikh Isbaniyya al-Islamiyah, ed. 3, (Madrid, 1967), hal. 80.
Azhari Mulyana
-
May 16, 2020
Edit this post
(Berdasarkan kisah perjalanan intuitif Dr. Husayn Mu'nis)
Berdiri di tengah-tengah halaman luas yang dikelilingi sebagian besar jalan, aku dengarkan keheningan mengerikan yang mencakup segala kehidupan, dari belakang terdengar bisikan roh ribuan pendahulu bergentayangan di tempat ini mengajakku mengobrol. Walau aku mengepalkan sebongkah tanah karena ketakutan namun aku mendengar suara Abu al-'Alaa al-Makmun memanggilku, sedikit meredakan rasa takut. Aku lihat banyak manusia yang berjalan setengah lari, mereka berangkat dari Cordoba menuju tanah jihad yang dipimpin oleh Abu al-'Alaa. Musuh berlari di tengah ketenangan karena takut dengan pasukan muslim, masih berkeliaran roh-roh mereka di tanah syuhada.
Saat aku berdiri di pekarangan masjid Jami' Cordoba bakda fajar, aku membayangkan jamaah telah usai melaksanakan ritual subuh, lalu para pelajar segera mengambil tempat masing-masing dan membentuk halaqah sembari menunggu guru-guru mereka datang mengajar.
Lalu di aula bawah (ruang tamu) khusus istana Alhambra, aku merenungi sekitarku, saat pintu akan dibuka lalu sang Sultan, Abu al-Hajjaj Yusuf al-Ahmar datang menyambutku, berbaris di belakangnya para pengawal kerajaan, mereka akan mengadakan majlis musyawarah atau sarasehan para penyair.
Di Cordoba, tatkala aku berhenti di jalan Ibnu Rusyd, terbayang olehku banyak orang berlalu lalang, lalu kepada mereka kutanyakan alamat rumahnya, salah seorang mereka kemudian menunjukkanku rumah Abu al-Walid itu.
Lalu di Loja, sebuah desa kecil yang berada antara kota Granada dan Malaga, ialah kampung halaman penyair dan sejarawan terkenal Lisan ad-Diin Ibn al-Khatiib, suatu pagi aku berdiri di depan rumah yang memiliki bak air mancur dengan air mengalir diiringi musik Andalus, di sampingnya tertancap sebuah pancang bertuliskan nama Arab sempurna. Aku membayangkan Ibn al-Khatiib berada di sana menyenderkan punggungnya sambil menulis sebuah karya baru.
Dan di Jaén, tidak jauh dari Cordoba, terbayang olehku sosok Jamaluddin Ibn Malik, penulis kitab "Alfiyah", banyak hal yang tak bisa kuungkapkan mengenai sosok itu.
Di sebuah lapangan kecil depan kampus kota Salamanca, aku duduk di atas bangku yang terbuat dari kayu, aku merenungi patung Miguel de Unamuno, seorang filsuf Spanyol, betapa aku kagumnya, andai saja ia memeluk Islam, pasti ia saat ini duduk di sebelahku mencari beberapa bagian hadits.
Dan di Badajoz, aku melihat amfiteater romawi yang besar sekali, seakan-akan aku merasa sedang dalam pertandingan super meriah, dimana para aktor sedang beristirahat usai sesi pertama drama dari serangkaian produksi drama Sophocles, tidak lama mereka akan tampil lagi melanjutkan sesi kedua.
Intuisi seperti ini membuatku menganggap budaya Andalus seolah selalu hidup, perasaanku dibuat terkagum-kagum olehnya, seperti saat kamu sedang mengarungi setengah pulau ratusan mil jauhnya, tiada kamu temukan seorang bahkan seekor burung kutilang pun, lalu di tengah kehidupan liar kelam itu kamu merasakan bahwa nuansa sekitarmu ternyata penuh dengan semangat dan kehidupan.
Andalus, negeri yang selalu hidup dalam kenangan, ialah surga yang dijanjikan, bukan permata yang hilang.
Azhari Mulyana
-
May 14, 2020
Edit this post
Sebagaimana yang tercatat dalam riwayat sejarah, lebih kurang 8 abad lamanya Islam pernah membentangkan sayap kekuasaan hingga semenanjung Iberia, yaitu mulai 711 M hingga 1492 M. Panji Islam berkibar di bumi Eropa, bahkan negara Spanyol yang kita kenal sekarang pernah melantunkan azan lima kali sehari di setiap masjid sudut kotanya. Peradaban yang maju dan berkembang awalnya disebabkan penaklukkan oleh umat Islam yang terdiri dari bangsa Arab dan Berber Afrika Utara. Tidak hanya itu, masa pendudukan kedua bangsa tersebut dalam waktu yang sangat lama di semenanjung Iberia memberi dampak perubahan istilah negara yang dimunculkan, yaitu Andalus.
Asal-usul Kata “Andalus” Dalam Riwayat Sejarah
Ada beberapa istilah yang disebutkan oleh sejarawan terdahulu untuk menyebut wilayah Spanyol atau semenanjung Iberia. Sejarawan Kristen menamakannya “Hispania” atau “Spania”, yang dimaksud adalah wilayah sebagian semenanjung Iberia baik yang tunduk kepada pemerintahan umat Islam Moor ataupun yang sudah terlepas dan direbut kembali oleh Kristen.
Sedangkan sejarawan Arab menyebut wilayah semenanjung Iberia yang tunduk kepada pemerintahan Islam dengan nama “بلاد الأندلس” atau “Negeri Andalus”. Dengan begitu, jelas ketika berlangsung masa reconquista (perebutan kembali) oleh Kristen Spanyol, satu per satu wilayah Andalus telah berhasil direbut hingga menyisakan satu dinasti kecil di kota Granada pada akhir abad ke-15 M, maka hanya kota itu saja yang disebut dengan istilah Andalus.
Sebaliknya, sangat jarang sejarawan dan ahli geografi muslim menamakannya dengan istilah “Hispania”, kalaupun ada, maka yang dimaksudkan adalah hanya beberapa wilayah berikut: Portugal, Castilla, Navarre, dan Aragon.
Bagaimanapun, penggunaan istilah Andalus telah terjadi sejak awal penaklukkan yang dilakukan oleh bangsa Arab, yaitu saat mereka menemukan kepingan logam dinar pada 716 M, logam itu dipahat dua sisi, ialah sisi depan ditulis dengan Bahasa Latin yang bermakna “Dicetak di Hispania”, dan dalam makna yang sama di sisi belakang logam tersebut ditulis dengan Bahasa Arab “ضرب في الأندلس”.
Selain itu, penggunaan lafaz Andalusia tidak hanya mengacu pada wilayah yang dikuasai oleh umat Islam pada masa silam, melainkan dipakai juga hingga sekarang dengan sebutan “Andalucia”, yaitu sebutan untuk wilayah Selatan Spanyol: Granada, Malaga, Cordoba, Sevilla, Almeria, Jaén, Huelva dan Càdiz.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penyebutan lafaz Andalus sebagaimana yang sering disebutkan oleh bangsa Arab dari berbagai kalangan adalah wilayah semenanjung Iberia dibawah kendali Islam, dan orang Andalus ialah umat muslim yang hidup dan tinggal di daerah manapun di Sanyol, baik di Barat, Extremadura, Aragon bawah, maupun Levante.
Referensi:
- R. Menéndez Pidal: España del Cid, (Madrid: Espasa-Calpe S.A., 1967), hal. 72-3.
- E. Lévi Provençal: Historya de España; terj. Ali Abderrauf al-Bamba, Tarikh Isbaniyya al-Islamiyah, ed. 3, (Madrid, 1967), hal. 78.
- I. de Las Cagigas: Al-Andalus (unos datos y una pregunta), jilid IV, (1936), hal. 205.
Azhari Mulyana
-
April 24, 2020
Edit this post
Ketika kita melihat lebih jauh tentang sifat diri kita sendiri, pasti akan memunculkan ribuan pertanyaan yang terkadang membuat kita heran, takjub, kecewa, menyesal, bangga bahkan kita akan dibuat tersenyum-senyum oleh semua keunikan itu.
Lumrah, setiap individu memiliki ciri khas tersendiri, dan sifat manusia berbilang-bilang, kadang memiliki persamaan di satu sisi, namun berbeda di sisi yang lain.
Seumpama, ada yang pintar mengawal suasana, pastilah ia seorang yang asyik dan mudah bergaul. Dalam kelompok, ia lebih unggul, orang-orang di sekelilingnya terkagum-kagum, ada saja kata-kata atau tingkah lakunya yang membuat orang lain minimal senyum, ataukah tertawa. Ketika ia diminta
Lumrah, setiap individu memiliki ciri khas tersendiri, dan sifat manusia berbilang-bilang, kadang memiliki persamaan di satu sisi, namun berbeda di sisi yang lain.
Seumpama, ada yang pintar mengawal suasana, pastilah ia seorang yang asyik dan mudah bergaul. Dalam kelompok, ia lebih unggul, orang-orang di sekelilingnya terkagum-kagum, ada saja kata-kata atau tingkah lakunya yang membuat orang lain minimal senyum, ataukah tertawa. Ketika ia diminta
Azhari Mulyana
-
April 24, 2020
Edit this post
Kamu melakukan sesuatu jangan karena suka dipuji orang apalagi merasa orang lain akan ingat terus sama kamu, mungkin saat ini kamu dipuja puji disebut-sebut terus dalam suatu kelompok, tapi ada waktunya kamu akan diabaikan dan dilupakan. Sang bintang terus datang silih berganti. Seberapa lama sih orang akan mengingat perkataanmu? Tapi menulislah, karena tulisan akan terus dibaca.
Casablanca, 8 Maret 2020
Kalau kamu mendengar suatu pembicaraan yang asing, tetap dengarkan! Sampai kamu menemukan satu titik temu yang kamu pahami dari pembicaraan itu barulah kamu ikut komentar. Kalau masih tidak paham cukup dengarkan saja. Karena tidak baik mengomentari persoalan yang kamu pahami setengah-setengah.
Casablanca, 9 Maret 2020
Senang rasanya mendengar cerita mereka yang memiliki pola makan dan hidup yang baik, menjaga postur tubuh dan waktu tidur yang teratur. Lagi-lagi aku hanya merasa senang. Entah kapan senang karena telah mengatur diri sendiri. Kebiasaan yang buruk!
Skhirat, 9 Maret 2020
Puas akan pelayanan sedekahlah dengan memberi feedback. Tidak puas pun tetap sedekahkan feedback yang membangun. Apa salahnya sih bersedekah yang tidak merugikanmu. Biasakan ringan tangan meski dengan hal-hal yang ringan. Siapa tahu kelak dengan sedekahmu dapat memajukan peradaban seseorang.
Rabat, 9 Maret 2020
Lurusnya jalan bukan berarti tak memiliki rintangan. Bahaya di ujung jalan menantimu yang tidak memperhatikan kecepatan. Jalan keriting pun kalau kamu bersabar akan sampai kepada yang di tuju, karena halangan dan rintangan itu sebenarnya hanya sekejap saja, tergantung seberapa besar kesabaran yang engkau punya.
Rabat, 9 Maret 2020
Mikrofon itu fungsinya menyampaikan suara dari pembicara kepada si pendengar. Tapi tidak ketika memanjatkan doa. Suara hati pun Tuhan bisa mendengar. Itulah bedanya Dia dengan kamu manusia.
Rabat, 9 Maret 2020
Ketika berbicara, aku hanya menyampaikan kata-kata yang diuntai dalam benak kepala. Didukung dengan data kesadaran sejarah dan pra-pemahaman semata, yang mana diperoleh melalui buku bacaan, hasil diskusi atau pengalaman dan sosio kultural sedari kecil. Lantas apakah layak kalau disebut bahwa akulah yang paling benar? Diskusikan untuk mencari kebenaran.
Kenitra, 9 Maret 2020
Buku adalah jendela dunia. Membaca buku berarti kamu telah membuka jendela dunia, tidak hanya terkurung dalam satu sangkar. Tapi dengan bepergian tidak hanya jendela dunia yang kamu buka, tapi kamu juga ikut masuk ke dalamnya. Pergilah!
Kenitra, 9 Maret 2020
Prediksi adalah ramalan, boleh sesuai maupun tidak. Jika kamu memprediksi, kamu telah berhitung, dan berhitung adalah cerminan matematika. Dalam Islam, khususnya fiqih kita menjumpai istilah fiqh tawaqqu', ialah suatu langkah ijtihad dimana kita memprediksi bahwa kita tidak akan jatuh ke dalam lubang kebinasaan. Berarti fiqih mempraktikkan matematika. Dan islam tidak bertentangan dengan ilmu pasti. Inilah salah satu contoh.
Rabat, 9 Maret 2020
Tidak seharusnya kamu beribadah, jika dengan ibadahmu yang sempurna itu kamu menyindir orang lain yang tidak sepertimu, maka pahalamu akan dicabut karena tak berniat dakwah. Sama halnya, ketika kamu memberi sedekah dan pada waktu yang sama kamu menghina pengemis itu.
Temara, 8 April 2020
Ingatlah orang-orang yang kamu sukai saja, karena jika kamu mengingat orang yang kamu benci akan selalu menyakitkan, dan membuat hidupmu senantiasa suram.
Temara, 9 April 2020
Jangan suka jadi tukang buat onar, belajarlah menjadi orang yang mengawali damai.
Jangan doyan mencari-cari kesalahan, lebih baik mencari solusi dan jalan keluar.
Jangn senang dengan berbuat kerusakan, perbaiki diri dan gemar memperbaiki harus lah pintar.
Nasehat untuk La Kougnir
Rue Khalil Motrane, 18 Juni 2020
Azhari Mulyana
-
December 23, 2018
Edit this post
Hai kopi, mengapa kamu selalu menemani pagi?
Malam tak pernah tampak batang hidungmu
Hanya sesekali
Engkau menemani ia yang sepi
Walau begitu, masih ada yang rela mengawani kesepian malam
Hai indomi, kenapa kau selalu menemani mahasiswa?
Banyak orang kata kau jahat
Suka menyakiti
Walau begitu, masih ada yang merayu untuk kau temani
Apalagi saat merindukan masakan nusantara
Hai ujian, kenapa kau selalu mendatangi pelajar?
Kau selalu hadir di saat yang tidak tepat
Tak peduli hujan
Badai
Panas
Dingin
Engkau selalu menghampiri
Walau begitu, masih ada yang sadar
Jika bukan karena kau, mereka tak akan mengetahui arti kehidupan
Karena hidup adalah ujian
Malam tak pernah tampak batang hidungmu
Hanya sesekali
Engkau menemani ia yang sepi
Walau begitu, masih ada yang rela mengawani kesepian malam
Hai indomi, kenapa kau selalu menemani mahasiswa?
Banyak orang kata kau jahat
Suka menyakiti
Walau begitu, masih ada yang merayu untuk kau temani
Apalagi saat merindukan masakan nusantara
Hai ujian, kenapa kau selalu mendatangi pelajar?
Kau selalu hadir di saat yang tidak tepat
Tak peduli hujan
Badai
Panas
Dingin
Engkau selalu menghampiri
Walau begitu, masih ada yang sadar
Jika bukan karena kau, mereka tak akan mengetahui arti kehidupan
Karena hidup adalah ujian
Azhari Mulyana
-
May 27, 2018
Edit this post
Para filsuf muslim sangat memperhatikan hak-hak dan kewajiban seorang guru dan penuntut ilmu (pelajar) dengan menuliskan karakter dan sifat-sifat yang tercermin dari keduanya. Seperti kitab “Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih” karya An-Namariy Al-Qurthuby tentang adab seorang murid dan guru. Begitu pula kitab “Fatihat al-‘Ulum” dan “Ihya ‘Ulum ad-din” yang ditulis oleh Imam al-Ghazali. Bahkan mereka menganggap guru itu sebagai orang yang suci dan menempati posisi yang hampir sederajat dengan posisi para nabi. Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya tinta para ulama lebih utama daripada darah para syuhada.” Orang yang berilmu dan bekerja lebih baik daripada orang yang berpuasa pada siang hari dan menghabiskan waktu malam hanya dengan beribadah dan sholat. Imam al-Ghazali telah menyebutkan kedudukan ilmu dan orang-orang yang berilmu. Beliau berkata : “Seseorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmu itu, maka dialah yang dinamakan di bawah kolong langit ini. Dia ibarat matahari yang menyinari orang lain dan mencahayai pula dirinya sendiri. Dan bagaikan minyak kasturi yang memberi aroma harum kepada orang lain. Maka sekalipun ia menyibukkan diri dengan ajar-mengajar namun ia telah mengasumsikan suatu perkara yang agung dan juga resiko yang amat besar, oleh karenanya hendaklah ia menjaga adab dan amanahnya.”
Ahmad Syauqi, seorang penyair telah menjelaskan keutamaan seorang guru, ia berkata:
“Sambutlah Sang Guru, dan berikan penghormatan untuknya, hampir-hampir seorang guru menjadi seorang Rasul (atau menyamai fungsi dan kedudukannya)”
Ia adalah seorang guru rohani kepada muridnya. Yaitu seorang yang mengenyangkan jiwa dengan ilmu, membenarkan dan meluruskan akhlak. Maka memuliakannya adalah suatu kehormatan bagi anak-anak kita jika ia menyampaikan risalahnya dengan baik.
Seorang murid dituntut untuk melaporkan kepada gurunya jika berhalangan mengikuti pelajarannya. Adapun di pesantren-pesantren Islam, seorang guru memegang kekuasaan penuh terhadap proses belajar mengajar. Ia bebas menentukan materi, waktu dan jumlah hadirnya dalam majelis ilmu.
Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam pendidikan islam yaitu :
1. Memiliki sifat zuhud dan mengajar karena mencari keridhaan Allah.
Guru memiliki kedudukan yang mulia dan dimuliakan. Ia memiliki tugas-tugas yang sesuai dengan kedudukannya, ia harus memiliki atau menjadi zahid yang sesungguhnya, melaksanakan tugas pengajaran karena mencari keridhaan Allah semata anpa harus menunggu balasan uang atau pangkat. Tidaklah tujuan seorang guru melainkan mengharap ridha Allah dalam menyebarkan ilmu dalam proses belajar mengajar.
Namun ada juga para guru yang membantu mencukupi kebutuhan hidup mereka dengan menjual buku-buku bagi siapa yang menginginkannya.
Dan telah berabad-abad lamanya bahwa para ulama mengajarkan ilmu mereka dan tidak sekalipun menerima upah dalam kegiatan belajar mengajar. Namun setelah berlalu masa-masa itu muncul lah sekolah-sekolah yang menentukan taraf pendidikan begitu pula pengajarnya sehingga ditentang oleh banyak kalangan para ulama, mereka mengatakan bahwa hal itu akan menghilangkan tingkat kezuhudan dan wara' seorang guru.
Akan tetapi yang kita yakini ialah hal tersebut bukanlah suatu yang luput daripada mengharap ridho Allah dan zuhud di dunia, melainkan seorang guru itu sekalipun ia zuhud namun juga membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
2. Seorang guru harus suci dan bersih.
Seorang guru hendaknya suci badan dan anggota tubuhnya, menjaga diri dari perbuatan dosa, suci jiawanya dengan membebaskan diri dari perilaku sombong, riya', dengki, permusuhan, pemarah, dan sifat-sifat tercela lainnya. Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Dua macam umatku akan celaka; orang yang berilmu tapi jahat, dan orang-orang yang beribadah tapi bodoh, sebaik-baik orang adalah orang yang berilmu tapi baik, dan seelek-jelek orang adalah orang berilmu tapi jahat." (Hadist).
3. Ikhlas dalam menjalankan tugas.
Keikhlasan guru dalam melaksanakan tugasnya merupakan sarana yang paling ampuh untuk kesuksesan para muridnya dalam proses belajar.
Azhari Mulyana
-
March 05, 2018
Edit this post
Setelah kekuatan muslim dipatahkan oleh reconquista Spanyol, peradaban bangsanya juga ikut
dihancurkan. Setiap hari, hampir satu juta buku dibakar di lapangan Granada.
Pada 1556-1598 M, kurang dari dua ribu volume kertas yang dapat diselamatkan dan dikumpulkan oleh Raja Philip II dan para penerusnya dari perpustakaan Arab. Hasil pemungutan sisa-sisa itu menjadi bahan pokok untuk membangun perpustakaan Escorial (sampai saat ini masih berdiri kokoh tidak jauh dari kota Madrid).
Pada paruh awal abad ke-17 sultan Maroko, Syarif Zaidan melarikan diri dari ibukota, mengirimi koleksi perpustakaannya dengan kapal menuju Marseille, namun di tengah perjalanan ia dibajak dan kapalnya jatuh ke para perompak Spanyol, mereka mendapatkan barang rampasan berupa buku dan alat-alat tulis berjumlah sekitar tiga atau empat ribu volume yang kemudian disimpan oleh pelayan Raja Philip III di Escorial. Berkat koleksi itulah menjadikannya salah satu perpustakaan terkaya dengan manuskrip-manuskrip Arab.
Salah satu koleksi perpustakaan tersebut telah menyebutkan dan memperkenalkan sejumlah murid Ibnu Rusyd yang kemudian banyak dinukil oleh Ernest Renan (pakar bahasa-bahasa Semitic, sejarawan dan filsuf Perancis).
Diantara muridnya yang paling berpengaruh ialah Ibnu Tumlus, biografi dan interpretasi mengenai Ibn Tumlus telah ditulis oleh Dr. Fouad ben Ahmed (pakar filsuf Maroko, dosen filsafat di pasca sarjana Dar El Hadith El Hassania, Rabat) berjudul "ابن طملوس الفيلسوف والطبيب" terbitan penerbit Dar el-Aman Rabat-Maroko, Kalima Publishing Tunis, Editions El-Ikhtilef Al-jazair, dan Editions Difaf Beirut tahun 2017.
dihancurkan. Setiap hari, hampir satu juta buku dibakar di lapangan Granada.
Pada 1556-1598 M, kurang dari dua ribu volume kertas yang dapat diselamatkan dan dikumpulkan oleh Raja Philip II dan para penerusnya dari perpustakaan Arab. Hasil pemungutan sisa-sisa itu menjadi bahan pokok untuk membangun perpustakaan Escorial (sampai saat ini masih berdiri kokoh tidak jauh dari kota Madrid).
Pada paruh awal abad ke-17 sultan Maroko, Syarif Zaidan melarikan diri dari ibukota, mengirimi koleksi perpustakaannya dengan kapal menuju Marseille, namun di tengah perjalanan ia dibajak dan kapalnya jatuh ke para perompak Spanyol, mereka mendapatkan barang rampasan berupa buku dan alat-alat tulis berjumlah sekitar tiga atau empat ribu volume yang kemudian disimpan oleh pelayan Raja Philip III di Escorial. Berkat koleksi itulah menjadikannya salah satu perpustakaan terkaya dengan manuskrip-manuskrip Arab.
Salah satu koleksi perpustakaan tersebut telah menyebutkan dan memperkenalkan sejumlah murid Ibnu Rusyd yang kemudian banyak dinukil oleh Ernest Renan (pakar bahasa-bahasa Semitic, sejarawan dan filsuf Perancis).
Diantara muridnya yang paling berpengaruh ialah Ibnu Tumlus, biografi dan interpretasi mengenai Ibn Tumlus telah ditulis oleh Dr. Fouad ben Ahmed (pakar filsuf Maroko, dosen filsafat di pasca sarjana Dar El Hadith El Hassania, Rabat) berjudul "ابن طملوس الفيلسوف والطبيب" terbitan penerbit Dar el-Aman Rabat-Maroko, Kalima Publishing Tunis, Editions El-Ikhtilef Al-jazair, dan Editions Difaf Beirut tahun 2017.
Azhari Mulyana
-
March 03, 2018
Edit this post
selama lebih kurang 800 tahun di tanah Eropa. Penaklukkan dilakukan dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki, nyawa bukan lagi hal yang ditakutkan hilangnya, darah bagai keringat yang bercucuran, anak istri dan seluruh sanak keluarga ditinggalkan demi menegakkan panji-panji ilahi. Semata-mata hanya kepada Allah menjadi simbol kekuatan hingga membuat mereka tak gentar menembus perisai musuh.
Banyak sejarawan orientalis, terutama yang tidak terima akan penaklukkan Islam di Eropa menyatakan bahwa bangsa Moor telah menjajah mereka. Tapi apakah sebenarnya arti penjajahan? Menjajah berarti mengeksploitasi sumber daya alam maupun manusia, sementara umat muslim menaklukkan Andalusia demi meningkatkan dan memajukan peradaban bangsanya, terbukti pada abad 10 sampai 13 Masehi adalah puncak kejayaan bumi Andalusia. Banyak ilmuwan, filsuf dan ulama muncul bahkan kegemilangan mereka bisa menandingi Baghdad sebagai pusat keilmuwan termaju di Timur ketika itu. Jelas keliru yang menyebutnya sebagai bentuk dari penjajahan.
Namun yang sangat disayangkan, seiring berjalannya waktu para sultan dan penguasa muslim semakin lupa dengan niat ikhlas leluhur mereka. Nafsu lebih dikedepankan, agama bukan lagi tujuan semata. Dinasti Nashriyah (Dinasti terakhir di Andalusia berkuasa mulai 1232-1492 M, atau disebut Nasrid dan Bani Ahmar) sering bergonta-ganti sultan, hingga kecerobohan dilakukan oleh Ali Abu al-Hassan dengan menolak membayar upeti yang sudah lazim juga menyerang wilayah Castile (ketika itu dikuasai oleh Raja Ferdinand) bagai membangunkan singa-singa Spanyol. Sejak kejadian tersebut, Raja Ferdinand dan istrinya, Ratu Isabel mulai bergerak dan merencanakan pengambilalihan kekuasaan kota Granada.
Ali Abu al-Hassan diketahui memiliki gundik kristen yang lebih disayang daripada istrinya, 'Aicha el-Hurrah (dalam beberapa riwayat disebutkan bernama Fatimah, bukan Aicha). Karena cemburu, 'Aicha mempengaruhi anaknya, Sultan Muhammad Abu Abdullah XII agar mengadakan pemberontakan terhadap sang ayah demi mendapatkan kekuasaan. Pemberontakan pun terjadi hingga akhirnya sang ayah menjadikan ia sebagai penggantinya menguasai Granada. Namun sebagai pemuda berumur 25 tahun dan belum berpengalaman dalam memimpin, ia bertindak ceroboh pula dengan mencoba menaklukkan kota Lucena, hingga akhirnya kalah dan ditawan oleh penguasa kristen.
Ali Abu al-Hassan sesaat menggantikan sang anak, lalu menyerahkan kekuasaan kepada saudara kandungnya bernama Muhammad al-Zaghall.
Sementara itu, raja Ferdinand melihat peluang besar dengan menawan Abu Abdullah, sang raja menjanjikannya kekuasaan atas kota Granada jika ia berhasil mengalahkan dan merebut kota tersebut dari sang paman, Sultan Muhammad al-Zaghall. Akhirnya Abu Abdullah menerima tawaran tersebut tanpa menyadari niat licik dari sang raja. Terjadilah pertempuran dua sultan bersaudara di tanah Andalusia dan dimenangkan oleh Abu Abdullah.
Tidak lama setelah menduduki kembali istana Alhambra, Raja Ferdinand memintanya agar menyerahkan kota tersebut. Barulah Abu Abdullah sadar akan maksud dan tujuan sang raja hingga membuatnya menyesal sampai akhir hayat. Tak bisa dihindari, sebulan setelah permintaan sang raja, kota Granada pun dikepung oleh 10.000 tentara berkuda. Sultan Muhammad Abu Abdullah menolak untuk berperang karena permintaan istri dan demi anaknya agar tetap bertahan hidup.
Pada Desember 1491 Masehi, Sultan Abu Abdullah menyerahkan kunci istana Alhambra, Raja Ferdinand dan Ratu Isabel pun menyetujui beberapa syarat yang diajukan oleh sultan diantaranya memberikan kebebasan masyarakat muslim menganut agamanya.
Pada 2 Januari 1492, orang-orang Castile mulai memasuki Granada, mereka menggantikaan bulan sabit di menara-menara kota itu menjadi salib. Lenyaplah sudah seluruh kekuasaan Islam di bumi Eropa.
Dari rentetan sejarah ini, dapat disimpulkan bahwa tangisan Sultan Muhammad Abu Abdullah XII ketika terakhir menoleh ke istana Alhambra di sebuah dataran tinggi berbatu (dikenal dengan nama El Último Suspiro de Moro berarti desahan terakhir sang Moor), bukanlah semata-mata karena penyesalan atas dirinya yang telah menusuk saudaranya, Al-Ghazall dari belakang, melainkan ia juga harus menelan pahitnya takdir dengan mewarisi kekuasaan yang telah kacau balau dari para pendahulunya.
Tampak saat paruh kedua abad 13, Spanyol mulai menggencarkan upaya reconquista, kristenisasi dan penggabungan kembali Spanyol. Hingga pada penghujung abad 13 banyak kaum muslim yang telah tunduk kepada kristen (mereka disebut mudéjar) dan diwajibkan membayar upeti kepada raja-raja kristen. Kaum mudéjar itu banyak yang melupakan bahasa Arab dan malah mengadopsi dialek Romawi hingga lama kelamaan berasimilasi dengan orang kristen. Itu terjadi karena perpecahan yang terjadi akibat konflik internal dan eksternal dari Dinasti Umayyah menjadi dinasti-dinasti kecil yang berdiri sendiri dengan kekuatan kecil sehingga dengan mudah raja-raja kristen menundukkan kembali wilayahnya.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
Author
- Azhari Mulyana
- Rabat, Morocco
- Azhari Mulyana, pemilik nama pena La Kougnir, dilahirkan di kota Langsa, Aceh 11 Mei 1995. Ia menyelesaikan pendidikan di MTS Ulumul Quran kota Langsa tahun 2010 dan MAS di sekolah yang sama tahun 2013. Ia pernah melanjutkan studi di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, jurusan Bahasa dan Sastra Arab tahun 2013. Namun, setelah genap setahun menempuh jenjang sarjana di UIN, lelaki penyuka es degan ini lulus beasiswa penuh dan melanjutkan studi di Kerajaan Maroko. Hingga saat ini ia sedang bergelut di jenjang S2 jurusan Islamic Studies di Université Qarawiyyin, Dar El Hadith El Hassania, Rabat. Selain itu, ia telah menulis sebuah novel berjudul "Dari Sabang Sampai Maroko (Sang Pujangga Cinta & Penakluk Afrika Utara-Andalusia)" yang diterbitkan pada tahun 2017.
Blog Archive
Spesial Lebaran
La Fête du Mouton (Seluk Beluk Lebaran Idul Adha di Maroko)
Gema takbir membahana ke seantero jagad raya. Kalimat suci yang dilantunkan indah dan syahdu itu, begitu menyejukkan hati setiap insan ...
Hot Posts
-
Gema takbir membahana ke seantero jagad raya. Kalimat suci yang dilantunkan indah dan syahdu itu, begitu menyejukkan hati setiap insan ...
-
1. Al-Qiraat Secara Bahasa Secara bahasa al-qiraat berasal dari istilah Bahasa Arab yaitu bentuk jama’ dari قِرَاءَة , yang be...
-
وأجملُ منك لم تراه قَطُّ عَين وأطيبُ منك لم تَلِدِ النساءُ خُلِقتَ مُبَرَّءاً مِن كُلِّ عَيبٍ كأنك قد خُلِقتَ كما تشاءُ قمرٌ .. قمرٌ ...
-
Andalus, Surga Yang Dijanjikan, Bukan Permata Yang Hilang (Berdasarkan kisah perjalanan intuitif Dr. Husayn Mu'nis) Berdiri di ...








